Kiem Tjong
“Namanya juga hobi. Jadi ya terus ditekuni dan dinikmati’’. Demikian dikemukakan oleh Kiem Tjong atau Setiarsa Kumala yang kini berusia 67 tahun, dan masih terus menyukai mobil-mobil klasik (vintage)-nya. Sudah 20 tahun Pak Tjong, begitu dia biasa dipanggil, menyukai mobil-mobil kuno. Hal ini juga terdukung oleh usahanya dalam jual beli mobil sejak tahun 1972.

‘’Jadi masalah mobil memang paling hobi. Selain juga suka motor’’. Ia mengisahkan awal cintanya kepada mobil VW. Pertama waktu buka bengkel, sekitar 15 tahun lalu dia mendapatkan mobil VW Combi tahun 1974. Sejak itulah ia senang sekali menekuni hobi di mobil VW, karena ternyata perawatan mobil VW tidak serumit yang dikira orang. ‘’Spare partnya juga mudah didapat, lain dengan mobil-mobil muscle Amerika’’. Apalagi sekarang banyak dibuat event-event yang membuat orang menyukai VW.



Sebenarnya koleksi mobil vintage miliknya cukup banyak, tetapi sekarang sebagian besar sudah dijual. Tinggal yang intinya saja yang disukainya sebanyak empat mobil, yakni VW Combi tahun 1974, VW Safari tahun 1973, VW Kodok 1302 S tahun 1971, dan Mercy tahun 1974. ‘’Semuanya saya sukai’’.

Yang sangat diperhatikan oleh Kiem Tjong adalah ia sangat menjaga orisinalitas mobil-mobil kesayangannya itu. Sehingga keaslian mesin, interior, dan eksterior sangat dipertahankannya. Ia memamerkan mesin yang terawat bersih, interior retro, dan tentu saja penampilan luar mobil yang terjaga.

VW Combi dan Kodok menurutnya sangat empuk dikendarai, yang tentu berbeda dengan VW Safari yang bertipe jip. Menurutnya, paling enak memang Combi. Ia beralasan kalau pas ke luar kota terkesan luas dan bisa memuat banyak.

Kebisaan Merawat
Kesenangan pada mobil vintage ini diwujudkan dengan kebisaan dan kebiasaan untuk merawat. Perawatan meliputi kebersihan dan juga mengganti onderdil yang sudah tidak betul. ‘’Sehingga suatu saat kita hendak berangkat touring, mobil itu sudah ready’’. Ia bahkan punya montir pribadi yang mengurus mobil-mobilnya, mulai dari dulu ada Mini Rover hingga VW.

Dengan VW Combi ini, bersama anggota lain Volkswagen Semarang Club, ia sering touring ke berbagai tempat tujuan, bahkan sudah pernah touring ke Madura. ‘’Saya selalu pergi hanya berdua dengan istri saya. Teman-teman lain ada yang bertiga atau berempat, bahkan bawa montir. Saya berdua saja. Yang penting waktu mau berangkat kita siapkan semua, mulai rem yang harus dikontrol, mesin harus dicek semua, busi ganti baru,sehingga siap bepergian’’.
Hanya untuk VW Kodok tidak pernah dipakainya ke luar kota.’’Soalnya istri saya tidak suka naik Kodok’’. Karena tidak seperti Combinya yang memiliki AC double blower, Kodok ini tidak terpasang AC.
Namun, menurutnya, mobil-mobil Eropa itu memang beda. Kita duduk saja sudah terasa beda, karena joknya memakai per dan serabut kelapa. Jok dengan per memberikan ruang untuk kelenturan dan udara. Ini tentu berbeda dari mobil-mobil Jepang sekarang, yang memakai busa yang tidak bisa empuk natural dan terasa lebih panas.
Pemilik VW Combi ini, yakni Pak Ivo (80-an), juga antik. Dia tidak akan melepas nobilnya kalau tidak diyakininya bahwa pembeli bakal merawat mobil VWnya dengan baik. Padahal yang berminat juga banyak, di antaranya juga teman-teman gereja. ‘’Jadi ketika sudah saya beli, kemudian Pak Ivo ditanya mana mobil VW-nya, dijawab lagi dipinjam teman’’.

Diceritakannya, waktu itu suatu saat VW Combi itu dibawa ke bengkel milik Kiem Tjong, yang tertarik dan berniat membelinya. Tetapi hanya dijawab, ‘’nanti saja kalau mau dijual kukabari. Kutanyakan anakku dulu’’. Anak perempuan Pak Ivo bisa menyetir karena latihan memakai VW Combi itu. Nah kebetulan dia adalah murid berenang Kiem Tjong. Dan ternyata anaknya mengizinkan, sehingga akhirnya Pak Ivo menjualnya ke Kiem.
Dirawat Spesial
Dan memang kemudian Kiem merawatnya secara spesial. Ketika hujan, mobil dilift di bengkel dan dicuci bersih pakai sabun. Besoknya dilift lagi , dan kali ini dilap dengan air dan minyak tanah di bagian bawahnya. Kebetulah ketika sedang melakukan perawatan itu, Pak Ivo datang berkunjung. ‘’Wah gila, sampai bagian bawah dilap dan pel semua. Padahal saya tidak pernah segitunya,’’ kata Pak Ivo.
Untuk VW Safari didapat dari Pamulang, Jakarta. Kiem Tjong waktu itu ingin punya seri VW: Combi, Kodok, Golf, dan Safari. Waktu datang ke Pamulang bersama istri, mobil Safari ini terparkir di depan. Kiem Tjong tertarik dengan penampilannya. Sang istri ternyata juga tertarik. ‘’Wah saya seperti dapat dukungan hehehe…’’. Setelah negosiasi yang terjeda satu hari, akhirnya terjadi deal. Bahkan mobil itu dibawakan ke Semarang oleh pemiliknya.
VW Combi sudah ikut beberapa lomba di Jambore Nasional, misal di Yogyakarta, Kudus. Pun mobil-mobilnya yang lain, VW Safari, VW Kodok, maupun Mercy. Berbagai penghargaan berhasil diraih, misalnya The Best Engine dalam VW Contest, di Tasikmalaya, The Best Resto Custom di Boyolali, The Best Original di Kuningan, dan masih banyak lagi. Baginya, naik ke atas panggung menjadi kebanggaan tersendiri. Menerima penghargaan dan tropi di panggung seakan menjadi pengakuan akan kesukaan dan kecintaannya terhadap mobil-mobil vintage yang disayanginya. ‘’Saya pernah menunggu untuk bisa naik panggung menerima penghargaan, sampai akhirnya ketinggalan kereta….hahaha akhirnya terpaksa beli tiket lagi,’’ tuturnya. (BG)
Padmanews.Id Online Lifestyle News





