13 June 2024
Home / Lifestyle / Laguna Greenhouse: Rangga Mengejar Value dengan Pertanian

Laguna Greenhouse: Rangga Mengejar Value dengan Pertanian

Mengapa memilih bertani?

Pertanyaan ini membuat pendiri dan pemilik Laguna Greenhouse Stefanus Rangga Santoso tersenyum. Pria asal Kudus yang sebenarnya memiliki basis pendidikan desain interior itu kini memang lebih memilih untuk bergelut dengan budi daya melon.

Dan kelahiran 31 Januari 1994 itu memiliki jawaban pas untuk pilihannya saat ini. “Sebenarnya jika dirunut ke belakang cukup panjang. Sejak SMA, saya bertiga dengan teman sudah suka kerja. Ya jadi agen perumahan, agen asuransi dan lain-lain,” tuturnya memulai cerita.

Sampai suatu ketika mereka membahas kenaikan harga cabai yang waktu sampai Rp 120 ribu per kilogram. “Kami betul betul tertarik waktu itu. Kok bisa ya naik sampai segitu,” ucapnya.

Mereka kemudian mengecek ke pasar, dan menjumpai fakta bahwa biasanya harga cabai cuma sekitar Rp 15 ribu per kilogram. Ketika dihitung, HPP cabai per kilogram cuma Rp 10 ribu per kilogram, tapi bisa laku sampai Rp 120 ribu per kilogram.

“Namun di hati kami juga timbul pertanyaan, kalau harga cabai bisa setinggi itu, mengapa hidup petani kok tetap susah?”. Kemudian karena berniat memodernkan penanaman cabai, mereka bertiga membuat greenhouse kecil ukuran 3×6 meter.

Tapi karena belum paham bagaimana bertani cabai, proyek itu gagal. Lagian saat itu bertepatan dengan Rangga pergi ke Malaysia untuk studi. Jadi ditinggalkanlah proyek cabai itu.

Di Malaysia, Rangga juga kerja part time di restoran. Setahun kemudian ia pindah ke Singapura. Sambil studi di Raffles Design Institute Singapura. Pilihan desain interior sesuai dengan keinginan orang tua yang ingin dia sekolah berdasarkan kompetensi, bukan cuma teori.

Selain studi selama tiga tahun, dia juga kerja sebagai agen properti di Era Singapura. “Nah ketika selesai studi, saya bingung mau terus di sana atau pulang”.

Ia kemudian ketemu Johan, teman keluarga, yang memang sudah berusaha di bidang pertanian sejak lama. Pernah menanam tebu hingga 180 hektare, karena sudah bekerja sama dengan pabrik pabrik gula. Sayang, ketika panen Pemerintah melakukan impor gula, sehingga usahanya gagal.

Kemudian bersama Johan, Rangga menyewa lahan di Baturetno Wonogiri seluas 10 ha. “Masih murah, satu hektare cuma Rp 2 juta. Kemudian saya trial satu hektare, setengah untuk cabai dan setengah lagi untuk bawang merah”, tuturnya.

Sambil bolak balik ke Brebes, Rangga belajar dan mencatat apa saja yang dilakukan petani pada tanaman bawang merah mereka. Kadang mereka mengalami situasi waktu panen harga justru anjlok, atau pas gagal panen justru harga meningkat. Dia melihat bahwa nasib petani ternyata selalu dalam situasi kurang baik.

Stefanus Rangga Santoso

Kemudian muncul keinginan untuk mengatasi fluktuasi ini. “Saya berpikir HPP harus di bawah harga bawang merah terendah, yakni sekitar Rp 4 ribu hingga Rp 6 ribu per kg. Saya bisa gak HPP di bawah Rp 4 ribu?”.

Rangga kemudian mencatat biaya menanam bawang merah per hektare itu sekitar Rp 90 juta hingga Rp 120 juta. Yang paling mahal adalah biaya bibit umbi. Biasanya kalau pas murah sekitar Rp 25 ribu per kg, tapi kalau pas mahal mencapai Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu.

“Jika katakanlah harga bibit umbi Rp 50 ribu per kg, kebutuhan untuk satu hektare adalah 1,5 ton, maka biaya bibit sudah Rp 75 juta”, tuturnya. Itulah yang membuatnya mencari substitusinya, dan ternyata setelah ketemu biaya bibit cuma Rp 7 juta hingga Rp 8 juta saja.

Kemudian ia juga menata perawatan tanaman oleh petani dengan memperhatikan kebutuhan pupuk, serapan tanah dan lain lain. “Cara petani ngasi pupuk juga ternyata tidak ada dasarnya. Sehingga bisa terjadi yang terserap tanah cuma 20 persen saja”.

Kemudian dia juga memperhatikan faktor biaya tenaga kerja. Biasanya tenaga kerja cabut rumput juga cukup mahal. Padahal ada obat semprot khusus rumput, dimana bawang merahnya tidak terpengaruh. Penggantian tenaga kerja ke obat semprot ini bisa menghemat Rp 10 juta.

“Akhirnya saya bisa memangkas biaya produksi penanaman bawang merah dari sekitar Rp 120 juta menjadi hanya Rp 38 juta per hektare,” ucapnya.

Namun kendala tetap ada, yakni musim hujan. Jika hujan dipastikan 80 persen penanaman bawang merah pasti gagal. Untuk mengatasi hal itu, Rangga kemudian membuat greenhouse dari bambu. “Yah tapi gejolak tetap ada. Kalau ada angin kencang, bambunya beterbangan”.

Tapi dari pengalaman bertani ini Rangga melihat bahwa di desa yang orang masih kebanyakan pakai sepeda, orang yang ikut kerja dengannya dalam 1,5 tahun sudah bisa cicil sepeda motor, bisa membetulkan rumahnya.

“Saya jadi melihat value lain. Tidak hanya keuntungan saja, tetapi saya juga dapat kesenangan karena pekerjaan saya ini ternyata juga bisa membantu orang lain”, tuturnya. Jadi, tambahnya, kalau saya bisa lebih besarkan lagi tentunya bisa membantu lebih banyak orang.

Problem Mendasar

Namun Rangga ternyata kemudian harus berhadapan dengan problem mendasar dunia pertanian. Dengan berjalannya waktu selain sulit mengubah mindset para petani yang sudah tua, dia juga menjumpai bahwa tidak ada regenerasi pada dunia pertanian.

“Tahun 2018 saya diundang Dinas Pertanian untuk share pengetahuan. Yang cukup besar itu di Temanggung. Yang datang 500 petani, rata rata di atas 55 tahun, yang muda cuma delapan orang. Dan yang dianggap muda itu usia 35 sampai 40 tahun”.

Menurutnya, sulit dengan kondisi ini mewujudkan cita cita menjadi lumbung pangan. Jika data itu mewakili seluruh Indonesia, tak ada regenerasi petani seperti ini, bisa bisa sepuluh atau lima belas tahun lagi kita krisis petani.

Kemudian Rangga berdiskusi dengan ayahnya, yang menyarankan kalau Rangga ingin menggeluti dunia pertanian tidak bisa dengan konsep tradisional. “Saya masih gengsi, maunya usaha pakai uang sendiri. Saya merasa kalau dibantu papa, kalau nanti sukses itu sebab papa saya. Tapi kalau harus dengan pertanian modern memang butuh dana besar”.

Ayahnya tetap menawari untuk memberi modal. “Cuma kamu ya harus profesional dan tanggung jawab. Kamu bikin proposal usahanya, model bisnisnya bagaimana, mbalikinnya kapan, silakan riset, kata papa saya”, tutur Rangga.

Saat itu Rangga punya mentor, namanya Haryono. Orang Semarang yang usaha di Bekasi sebagai importir pulp.  Ketika Rangga bercerita, Haryono berkomentar, “Kamu itu bodoh dan sombong. Saya itu liat kamu kayak saya berjuangnya. Nah kalau kamu dalam posisi punya fasilitas dan kemudian bisa mengembangkan lebih besar lagi, kan gak apa apa. Apakah mau tukeran hidup sama saya? Aku mau kok tuker hidup sama kamu, punya semangat sama tapi punya privilege yang beda”.

Haryono kemudian menyarankan, “Sudahlah kalau kamu masih merasa gengsi. Ambil saja bantuan papamu sebagai utang. Kalau sudah berhasil, balikin”. Akhirnya Rangga melaksanakan itu.

Ayahnya memberi saran bahwa kalau ingin usaha tani, tidak bisa dilakukan dengan terlalu banyak variabel yang mengganggu. Bagaimana caranya yang tadinya tidak bisa dikontrol menjadi bisa dikontrol. Misal, cuaca bagaimana mengatasi gangguan cuaca terhadap tanaman.

 Ia kemudian riset dan pergi mencari teknologi yang tepat dan berkualitas untuk pertaniannya. Dan ketemu dengan greenhouse teknologi Israel. Seperti diketahui pertanian Israel merupakan yang terbaik di dunia.

Dia memutuskan untuk membeli struktur bangunan yang terbaik dan berkualitas, supaya bisa mencontoh jika selanjutnya harus manufaktur sendiri. “Soalnya kalau beli lokal, saya tanya kenapa konstruksi begitu, kenapa ada lengkungan itu, jawabnya cuma biasanya begitu”.

Rangga yang paham arsitektur tentu saja butuh jawaban ilmiah, dan itu ditemuinya pada produk dengan teknologi Israel itu. Dia dijelaskan aerodinamisnya, ada ventilasi, ketebalan yang dibutuhkan, tekanan udara yang ditentukan, dan sebagainya.

“Dia juga garansi struktur greenhouse ini mampu menahan terpaan angin (wind load) hingga 60 km/jam. Mereka pasang sensor. Jika di bawah batas angin itu struktur ambruk, mereka akan ganti”, tutur Rangga. Akhirnya Rangga mengambil greenhouse dengan struktur, komputerisasi, irigasi dengan teknologi Israel ini.

Itu ketemu setelah searching dan juga berbagai kunjungan, di antaranya ke Vietnam. Rangga melihat petani Vietnam sangat makmur. Di desa yang yang dikunjunginya dimana mana terlihat greenhouse.

Rupanya Pemerintah Vietnam mendukung sepenuhnya petani. Memberikan pinjaman dan berbagai kebutuhan petani, pusat riset, edukasi, kemudian juga mensupport mereka dengan teknologi bertani dari Israel.

“Jadi petani mau tanam apa, pemerintahnya menyediakan, mau konsultasi ada konsultannya, perdagangan juga diatur oleh pemerintah sehingga tidak ada fluktuasi harga. Hebat sih. Tapi kalau setelah sekian tahun mereka tidak bisa mengembalikan pinjaman dan bantuan itu, mereka dipenjara”, kata Rangga sambil tertawa.

Dan ketika semua struktur dan teknologi greenhouse dibeli dari salah satu agen di Indonesia dan siap di lahan di Kudus, ternyata juga masih ada kendala. “Jadi setelah pemasangan dan penanaman selama dua setengah tahun trial saya burning money. Tapi yang juga paling sulit adalah faktor tenaga manusianya”.

Laguna Greenhouse, Kudus

SDM Spesialis

Menurut Rangga, SDM kita tidak seperti di negara lain, misal Thailand, yang sebelum menjalankan teknologi pertanian canggih, ada edukasi untuk para petani. Lulusannya adalah sangat spesifik. Mereka adalah ahli duren, ahli kelengkeng, ahli melon. SDM seperti ini yang nantinya akan mampu menangani secara mumpuni usaha pertanian modern.

Rangga sendiri sejak awal terlibat dalam usaha pertaniannya di Laguna Greenhouse, karena dia harus membangun budaya kerja yang diinginkannya. Dia juga harus memberi motivasi para stafnya. “Awalnya memang berat. Namun lama lama mereka akhirnya bisa mengikuti. Dan kini Laguna jalan dengan 16 staf, yang memiliki passion kerja bagus. Mereka harus mengecek ribuan tanaman melon tiap hari”, ucapnya.

Pilihan ke bertani buah, khususnya melon, karena menurut data, pasar buah Indonesia sekitar Rp 150 triliun per tahun, baru terpenuhi Rp 70 triliun. Dari jumlah itu, sekitar 80 persen masih impor. Pisang dan nanas Sunpride yang arealnya 30 ribu hektare hanya memenuhi 3 persen dari market share. “Jadi pasar buah ini masih sangat besar”, tandasnya.

Namun menurut Rangga dalam bisnis yang esensial bukan hanya mencari keuntungan, tetapi juga bagaimana supaya kita bisa mengejar value. “Kita perlu melihat bisnis sebagai alat untuk memecahkan masalah orang lain atau solving other people’s problem.” Dia mencontohkan adanya gojek, grab, Tokopedia dan lain lain adalah bagian dari memecahkan masalah orang lain.

Rangga melihat di pertanian ini ada problem regenerasi. Maka dia perlu menunjukkan bahwa masih ada generasi muda yang berminat pada pertanian. Juga perlu menjadi sukses agar bisa jadi contoh yang lain.

“Kita perlu menunjukkan bahwa pertanian juga bisa dilakukan dengan teknologi modern agar ada regenerasi. Jika ada usaha pertanian yang sukses juga bisa mendorong regenerasi”.

Rangga mengubah sawah seluas 1,3 hektare menjadi greenhouse atau rumah tanam. Laguna Greenhouse miliknya kini menjadi pemasok melon premium dengan kapasitas produksi 3,7-4 ton melon per 20 hari. Harga jual melon premium itu rata-rata Rp 40.000. Omzet Rangga dari perniagaan melon premium Rp 148 juta-Rp 160 juta per 20 hari.  (bp)