10 July 2026
Home / Figure / Jemmy Chayadi Dari Dunia Insinyur ke Sustainability

Jemmy Chayadi Dari Dunia Insinyur ke Sustainability

Tampil enerjik, Jemmy Chayadi menerima tim Padmanews di kantornya Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) Oasis Djarum Kudus. Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation ini didampingi Deputy Program Director Fransisca Berty Andriani dan Deputy Program Manager Redi J Prasetyo.

Mengenai namanya yang tertulis Chayadi, Jemmy sempat berseloroh bahwa namanya itu sering tertukar dengan nama Cahyadi. Nama Jemmy Chayadi itu kalau di-search kadang keliru dengan Jemmy yang lain, yang belakangnya Cahyadi bukan Chayadi.

Jemmy pernah mengecek juga nama Jemmy Cahyadi itu, dan ternyata yang bersangkutan bekerja di perusahaan asuransi. “Makanya saya sering bercanda gini : kalau pas telepon saya mungkin saja dikira mau tawarin asuransi hahaha.. Ternyata kemudian bilangnya, eh saya telepon mau tawarin bantu tanam pohon…”.

Jemmy lahir di Jakarta pada tanggal 2 Mei 1978. Ia sekolah di SMA Kristen 1 Jakarta. Ini sekolah yang sama dengan Chief Operating Officer (COO) PT Djarum Victor Hartono. “Oleh karena sama-sama alumni, saya jadi konek dengan Pak Victor”. Jemmy kemudian kuliah S1 (Bachelor of Science in Mechanical Engineering) di University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat di bidang studi Teknik Mesin. “Saya itu suka mobil. Saat itu di AS lagi berkembang mobil listrik. Jadi saya juga ikut terlibat di riset projek mobil listrik di kampus. Waktu itu baterenya masih gede-gede banget. Saya ikut juga lomba-lomba mobil listrik antar kampus di Amerika Serikat, ” tutur dia.

Setelah lulus, ia kemudian kerja sebagai insinyur di perusahaan Shure di kota Chicago, Amerika Serikat. Ini adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang audio. “Kami memproduksi mikrofon, ear sets, wireless systems dan lain-lain. Saya bekerja sebagai quality engineer. Pembuatan produk baru itu kan selalu ada kriteria kualitas, baik secara teknik, mekanikal, maupun elektrikal. Juga harus bisa melewati berbagai tes, meliputi tes mekanik, tes suara, tes bahan supaya tidak gampang terpengaruh panas atau kelembaban. Nah saya yang bertugas merancang tes-tes kualitas itu,” jelasnya.

Ketika kerja inilah Jemmy juga mengambil S2 (Master of Manufacturing Industrial Technology and Operations) di Illinois Institute of Technology-Chicago, ini bidang Teknik Industri.

CSR di IKEA

Setelah lima tahun, Jemmy kemudian pindah kerja. Kali ini ia ke IKEA di kota Shanghai, China. Di sinilah pertama kali dia keluar dari dunia insinyur, masuk ke dunia corporate social responsibility (CSR). Menurut dia, IKEA merupakan sebuah perusahaan yang memiliki budaya yang sangat menarik dan luar biasa.

Ketika interview dengan managing director Asia Pasifiknya, Jemmy merasa sangat cocok. “Dia kemudian tanya, Jemmy kamu tahu gak corporate social responsibility atau CSR itu apa? Lalu saya jawab, wah jujur saya baru pertama kali denger kata ini hahaha… Kami kemudian sama-sama ketawa. Tapi dia terus bilang, jangan khawatir nanti kami ajarin,” kata Jemmy.

Setelah join, Jemmy kemudian belajar dari nol tentang corporate social responsibility ini. Ia harus mempelajari yang namanya IWAY (IKEA Way), yang merupakan kode etik atau standar persyaratan mínimum IKEA terkait lingkungan, situasi sosial, kondisi kerja dan bagaimana perusahaan melakukan CSR. Dan ternyata pengetahuan itu melengkapi ilmu insinyurnya.

“Kalau membuat produk itu kan harus bagus. Dulu itu kalau melihat sebuah produk selalu diperbandingkan kualitasnya. Misal antara produk Jepang dan China, mungkin produk dari Jepang dinilai lebih premium dan lebih baik kualitasnya. Namun dengan berjalannya waktu, semua produk itu akhirnya memiliki kualitas yang hampir sama”.

Jemmy menjelaskan, pada akhirnya perbandingannya adalah apakah sebuah produk memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan atau tidak. “Misal apakah ketika produk tersebut dibuat memakai terlalu banyak bahan kimia berbahaya atau tidak? Bagaimana dengan pemakaian energi, air, dan penanganan waste-nya? Apakah pekerjanya dibayar dengan baik atau tidak? Nah kebutuhan lingkungan dan sosial ini akhirnya menjadi pelengkap penilaian produk yang sangat penting, dari tadinya produk hanya memakai penilaian kualitasnya bagus atau tidak, sekarang sudah tidak cukup lagi,” jelasnya.

Unsur-unsur lingkungan dan sosial di IKEA ini kemudian melengkapi ilmu insinyur Jemmy terhadap suatu produk. Bahkan, tambahnya, kedua teknik itu jika dicampur lama-lama menjadi sustainability. “Dunia sustainability sekarang ini merupakan perpaduan dari berbagai unsur yang ketika berada dalam suatu produk itu semua harus baik. Jadi tidak bisa cuma kualitas saja baik, tetapi produk tersebut harus diproduksi dengan cara yang bertanggung jawab, aman, dan berkelanjutan”.

Tim Sustainability

Jemmy di IKEA dari tahun 2006 hingga 2009. Ketika pulang ke Indonesia tahun 2009, Jemmy kemudian mulai masuk ke dunia sustainability. Ia lalu bekerja di kelompok perusahaan Raja Garuda Mas, yang banyak bergerak di manufaktur berbasis sumber daya alam. Ia mulai bekerja di industri kehutanan, industri kelapa sawit, industri minyak dan gas.

“Saya ada beberapa bidang yang ditangani, dari corporate communications, strategic planning sampai business development, tetapi akhirnya yang paling fokus adalah pada bidang sustainability itu. Jadi saya membangun sustainability dari segi kebijakan dan strategi”.

Ia kemudian masuk ke anak-anak perusahaan juga. Yang terakhir adalah anak perusahaan yang bergerak di hutan tanaman industri dan produksi kertas. Jemmy membangun tim sustainability, dan merancang kebijakan pengelolaan hutan berkelanjutan atau disebut Sustainable Forest Management Policy (SFMP). Misal di wilayah hutan tempat produksi dinilai perlu ada konservasinya. “Jadi bagaimana menjaga wilayah konservasi, harus menanam apa, lalu bekerja sama dengan stakeholder apa. Juga harus memperhatikan lingkungan masyarakat, biodiversity, kesehatan dan keselamatan pekerja. Jadi saya bangun kebijakan sustainability, kemudian timnya juga, lalu sustainability report juga “.

Keluar dari perusahaan tersebut, Jemmy sempat vakum bekerja di perusahaan. Ia lalu mendirikan konsultan untuk sustainability. Ia membantu perusahaan-perusahaan kelapa sawit membangun tim sustainability mereka.

Gabung Djarum

Suatu ketika saat bermain bulu tangkis bareng, Victor Hartono bertanya bagaimana kabar kantor. “Saya jawab, saya sudah gak ngantor lagi. Saya sudah bangun perusahaan konsultan sendiri. Pak Victor cuma bilang, oh oke”.

Minggu berikutnya ternyata Victor Hartono mengontak dan meminta kesediaan Jemmy bergabung ke Djarum dan membantu mengurusi sustainability kelompok perusahaan. Tahun 2017 Jemmy kemudian bergabung dengan Djarum. Ia memandang Djarum sudah melakukan banyak hal baik dalam operasional bisnis, maupun melalui berbagai Program Bakti-nya Djarum Foundation.

“Sekarang saatnya menerapkan prinsip sustainability dan mengintegrasikan ke dalam bisnis dan program Djarum.” Jemmy percaya bahwa pihak swasta bisa memberikan andil besar dan hal-hal positif untuk masyarakat dan juga negara. “Saya gabung dengan Djarum, karena bisa ada vehicle untuk memberikan dampak-dampak yang besar tersebut, disini perusahaan bisa ikut aktif bersama-sama membangun Indonesia menjadi negara yang besar dan maju”.

Hingga kini sudah hampir sepuluh tahun Jemmy bergabung dengan Djarum. Cukup banyak yang dilakukannya, termasuk di Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF). Jemmy kini menjabat Head of Sustainability dan juga Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation.

Kontribusi Positif

Secara pribadi Jemmy merasa bersyukur karena sudah mendapat kesempatan melakukan kontribusi yang positif dengan semua yang dia kerjakan. Tidak hanya berdasarkan dari sisi bisnis yang diukur dari sisi finansial, tetapi juga berkontribusi pada persoalan sosial dan lingkungan. “Setidaknya bisa ikut berperan untuk membuat dunia lebih baik”.

Dia merasakan bahwa kontribusi di BLDF ini sangat nyata, sehingga dirinya sangat excited. Ia bahkan masih sangat mengingat mitra pertama yang diajak dalam pemilahan sampah.

“Waktu itu sekitar tahun 2018 saya sama Pak Victor ketemu pihak manajemen KFC di Jakarta. Waktu itu punya ide untuk memilah sampah dan mengurangi pembuangan sampah organik ke TPA Kudus. Kemudian disetujui untuk memulai memilah sampah di KFC Kudus. Jadi saya melihat lahirnya perjalanan inisiatif ini. Sekarang mitra kami sudah ada 413 dan terus bertambah, dari restoran, hotel, sampai perkantoran, semua ikut terlibat di pengelolaan sampah organik Kudus”.

Ditambahkannya, “Ini adalah sebuah legacy, sebuah peninggalan, yang pada saat akhirnya bagaimana saya mungkin saja tidak melihat hasil akhirnya. Namun jika diibaratkan sebagai anak, legacy ini seperti anak yang sudah tumbuh dewasa. Ini jadi kepuasan tersendiri buat saya. Ujungnya adalah kembali lagi pada percakapan awal dengan Pak Victor waktu saya gabung Djarum, yang sama-sama satu visi, yakni untuk Indonesia yang lebih baik”.

Di dunia sustainability, Jemmy melihat bahwa banyak anak-anak muda sekarang yang sadar lingkungan, dan banyak yang ingin bekerja di dunia sustainability. “Dulu gak ada pekerjaan sustainability ini, dan juga tidak banyak perusahaan yang peduli dengan persoalan sustainability. Saya gembira sekarang sudah banyak penerusnya yang melanjutkan perjuangan ini. Saya tahu perjuangan ini panjang seperti maraton. Dan saya cuma bisa berkarya dan membangun fondasi yang terbaik di masa ini,” tutur dia.

Di Djarum dia membentuk tim, yakni Strategy and Sustainable Development (SSD). Yang kemudian dia rangkum menjadi tim Sustainability, yang tugasnya untuk melayani segala kebutuhan, pengembangan, dan perjalanan sustainability Djarum dan perusahaan-perusahaan afiliasinya. “Dari awal saya diberikan ruang yang seluas-luasnya untuk mencari solusi-solusi sustainability yang bisa diterapkan di Djarum, dengan harapan Djarum bisa menjadi model panutan yang baik yang bisa dicopy dan direplikasi oleh perusahaan perusahaan lain di Indonesia,” ucapnya.

Menurut dia, Victor Hartono sebagai seorang pemimpin sangat tahu bahwa sustainability harus maju berbarengan dan terintegrasi dengan perkembangan bisnis. Bahwa bisnis juga tidak akan sustainable kalau tidak didukung oleh unsur-unsur lain, seperti lingkungan, pendidikan, sosial, olahraga dan budaya. Semua harus terintegrasi untuk menopang bisnis yang berkelanjutan. Jemmy menceritakan pernah suatu ketika Victor Hartono mengajaknya mencari candi-candi. “Hah candi? Ternyata Pak Victor mengajak barangkali masih ada candi besar di Indonesia yang masih tertimbun di bawah tanah, dan bisa ditemukan dengan menggunakan teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging). Mungkin pembicaraan tentang eksplorasi candi atau konservasi macan tutul Jawa ini kedengarannya agak random. Tapi Pak Victor sangat meyakini bahwa hal-hal seperti melestarikan warisan budaya dan menjaga keseimbangan ekosistem juga sangat penting bagi keberlanjutan bisnis, dan semua ini harus terus ikut tumbuh bersama dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development), supaya kita semua bisa terus maju menuju masa depan Indonesia yang lebih baik”. (BP)

About Edy