Alih generasi dalam bisnis atau perusahaan memang memiliki permasalahan yang krusial dan juga berbagai persoalan yang harus diatasi. Solusi yang diambil juga harus tepat untuk mengakomodasi antara generasi lama dengan generasi baru.
Topik itu jadi perbincangan menarik dalam Insightful Talk Show “Keberlangsungan Bisnis Lintas Generasi”, yang diselenggarakan di resto Sentosa Live Seafood Graha Padma baru-baru ini.
Hadir sebagai pembicara Amit Ramesh Jethani, Direktur PT Platinum Sinema ( Anak usaha PT. Tripar Multivision Plus Tbk (MVP)) dan Direktur Marketing Tong Tji Josia Soeharto. Talk show dipandu host Larasati.

Acara ini merupakan rangkaian dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Z. Hendro Setyadji, Direktur Utama PT Graha Padma Internusa dan Amit Ramesh Jethani, untuk pendirian bioskop Platinum Cineplex di Perumahan Graha Padma. Dan juga acara Tenant Gathering.
Dalam talk show, Amit yang merupakan generasi kedua dalam perusahaannya menyampaikan, generasi yang lebih senior tidak bisa memaksakan kepada penerus apa yang menjadi pandangannya. Tapi tetap harus mendampingi, dan melihat siapa di antara keluarga yang memiliki passion untuk menjalankan bisnis di masa mendatang. Jika tidak ada, maka perlu disiapkan profesional.
Sementara Josia yang merupakan angkatan lama menegaskan, untuk keberlangsungan bisnis dua kata saja yang bisa dipegang. “Kuncinya : rukun dan makmur. Itu kata kunci yang harus ditekankan. Saya setuju dengan Pak Amit, bahwa harus dipersiapkan semuanya. Kemudian yang terlibat harus punya passion yang sama”.
” Kalau gak punya passion lebih baik keluar, pegang saham saja dan nikmati hasil. Yang punya passion yang boleh mengurus bisnis, supaya jalan terus. Tapi, baik yang punya passion dan tidak punya passion jangan ribut”.
Menurut Josia, di masa sekarang jika perusahaan ingin maju, bukan lagi anak ngikut orang tua, tetapi orang tualah yang ikuti anak. “Kalau anak disuruh ngikutin kita, itu berarti mundur. Kalau anak ikut kakek nenek, itu berarti lebih mundur lagi. Jadi yang betul adalah kita ikuti anak, tetapi tetap harus punya passion yang sama”.
Jadi, tambahnya, diatur supaya yang punya passion benar-benar dipersiapkan dengan baik. “Profesional juga perlu direkrut jika memang diperlukan” katanya.
Gaya Manajemen
Menurut Amit, tantangan besar dalam bisnis lintas generasi adalah dalam gaya atau style manajemen. “Generasi tua sebenarnya kaya akan pengalaman, sementara generasi muda terkadang merasa tahu segala hal, meskipun terkadang tidak benar juga. Nah menjembatani perbedaan style ini sangat perlu”.
Perbedaan generasi, menurut Josia, memang menjadi titik kritis bagi keberlanjutan bisnis. “Namun itu bukan jadi justifikasi, karena setiap orang punya karakter yang berbeda. Saya melihat generasi sekarang atau gen z dan juga nanti generasi berikutnya, semakin ke depan mereka itu punya pemikiran yang lebih pragmatis”.
” Ini tentu beda dengan generasi lama, yang kalau mikir lama karena banyak sekali pertimbangan yang dipikirkan. Kalau anak sekarang, udah kita jalan, ini ada peluang sudah jalan dulu. Dampaknya? Ya nanti dulu”, tambah Josia.
Ia menambahkan, pada generasi lama jika dirasa perlu memberi loan, maka kita kasih loan terhadap relasi bisnis. “Kalau dalam istilah Chinese, kita cengli lah. Yang artinya toleran atau jangan dibuat rumit dalam berbisnis. Tapi anak muda sekarang gak bisa seperti itu, mereka gak mau kasih loan. Kalau mau gini, kalau gak mau kita kasih orang lain”.
“Tapi mereka tidak berpikir tentang hubungan, kemudian jaringan yang harus dibina. Kadang-kadang kita punya supplier lima misalnya. Anak muda sekarang pasti akan melihat mana yang terbaik dan termurah”.
“Ketika mereka ambil keputusan mengambil yang termurah, saya tidak akan omong jangan. Okelah kita ambil, kita kasih porsi 60 persen, tapi yang lain ini juga oke lho meski agak mahal. Ambillah dan kasih 20 persen”.
Kenapa harus begitu? ” Kan kita tidak tahu apakah supplier yang paling murah ini akan berlangsung lama? Kalau suatu saat dia bangkrut dan tutup, kamu mau dapat supplier dari mana? Kalau minta ke yang kedua, dia sudah sakit hati sama kamu, kemarin kamu tolak barangnya. Itu yang terkadang tidak terpikir “.

Josia berharap hal seperti tidak perlu menjadi masalah yang besar asalkan generasi lama bisa berdiskusi dengan generasi berikutnya. “Anak muda biasanya memiliki nalar bagus, asalkan kita kasih pendapat yang jelas”.
Jadi kemudian generasi lama bisa mendorong generasi muda untuk lebih kencang, namun dengan muatan-muatan pemikiran yang lebih luas. “Kita yang tua kayak pesawat besar, luas pemikiran tapi lambat. Sementara anak muda kayak pesawat jet, kenceng. Nah ini yang harus kita kolaborasikan”.
Amit menambahkan, generasi lama memiliki pengalaman business cycle yang naik turun, sementara generasi muda baru tahunya naik saja atau turun saja. “Pengalaman generasi lama itu sangat penting untuk ditularkan kepada yang lebih muda”.
Soal Teknologi
Soal peran teknologi dalam pengaruh bisnis, Amit melihat bahwa dalam bisnis yang ketat kompetisi dan margin tipis, teknologi sesuatu yang harus dipunyai dan dikembangkan. Ini tentu berbeda pada industri yang sifatnya monopoli.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penerapan teknologi juga perlu hati-hati. Jika para karyawan tidak bisa efektif mempergunakan juga tidak ada hasil yang optimal. “Kadang-kadang generasi muda juga terlalu memaksakan penggunaan aplikasi baru tanpa melihat apakah karyawan bisa menerima dan bisa bekerja lebih cepat. Perlu dicek dulu dan tidak memaksakan kepada karyawan, karena justru bisa tidak ada hasil”.

Soal teknologi ini, Josia mencontohkan bahwa di Tong Tji banyak karyawan generasi tua. “Jadi yang sudah kerja 5 tahun pun itu termasuk baru. Ada yang sepuluh tahun dan lebih yang sampai sekarang masih kerja. Ketika bicara teknologi, maka mau tidak mau itu harus kami pakai. Teknologi akan membuat kita bekerja lebih efisien”.
Namun ia juga berpendapat, penerapan teknologi jangan sampai menjadi kontra produktif, dan menjadi tidak efektif. “Teknologi jadi kontra produktif jika kita paksakan segera. Orang orang lama biasanya sudah mapan dengan pola kerja yang ada, sehingga tidak bisa mengikuti. Meskipun mau tidak mau kita tetap harus mengarahkan”.
“Lintas generasi ini tidak hanya menyangkut pewaris inter generasi, tetapi juga melibatkan karyawan. Sebuah unit usaha tidak akan bisa maju tanpa karyawan atau profesional yang ada di dalamnya. Jadi selain alih generasi kepemilikan perusahaan, inter generasi orang-orang yang membantu kita dalam perusahaan juga harus dipikirkan “.
Josia menegaskan kepada yang muda perlu ditekankan budaya hormat kepada yang lebih tua, meskipun yang muda itu memiliki kedudukan sebagai direktur. “Ada orang-orang yang sudah kerja lama sebelum kamu masuk. Ini harus ditekankan, karena biasanya kalau perusahaan jatuh ke anak, hubungan dengan karyawan menjadi kacau. Karyawan merasa sudah lebih lama dan lebih tahu tentang perusahaan dibanding si anak yang baru masuk”.
Josia mencontohkan di Tong Tji ada orang-orang lama yang mungkin tidak bisa terlibat dalam pemakaian teknologi baru. Namun mereka itu bagus dalam pemikiran. Sehingga cara mengatasinya adalah dengan menyiapkan orang yang paham teknologi untuk menjadi asisten mereka, tetapi hal hal strategis tetap di tangan orang lama itu.
“Saya sendiri memahami sistem namun tidak bisa mengoperasikan semua software. Namun saya tetap belajar, sehingga saya tetap bisa membuat keputusan memakai sebuah software. Misal ini software bagus karena bisa mengatasi ini dan itu. Selain tentu saja bisa me-manage orang-orang yang mempunyai keahlian teknologi “.
.

Amit sangat setuju bahwa sistem dan teknologi memang harus dipahami oleh karyawan. ” Kami pernah pakai sebuah sistem dari India yang berfungsi untuk mencatat berbagai data di Cineplex, seperti penjualan minum dan lainnya. Setelah satu tahun ternyata tidak ada hasil apa apa. Ketika ditanya, karyawan menjawab kami tidak tahu bagaimana mengoperasikan sistem ini…hahaha bayangkan satu tahun tidak jelas”.
Masa Transisi
Soal suksesi Amit memang merasakan sendiri sekarang ini sedang dalam situasi transisi dengan mertua, Raam Punjabi, juga dengan iparnya.Ia berharap generasi lama membiarkan generasi muda meskipun membuat kesalahan. Juga memberikan kesempatan untuk jalan sendiri, meskipun di dalam perusahaan.
“Jangan terlalu dicampuri. Biarkan generasi muda berkembang untuk menemukan konsep bisnisnya sendiri. Kalaupun toh bikin salah, mereka bisa belajar dari kesalahan itu dan segera memperbaiki”.
Hal lain yang perlu diperhatikan, tambahnya, adalah objektivitas dalam berpikir dan bertindak. Kalau subjektivitas yang keluar, maka kedua generasi tidak akan pernah ketemu dalam dialog mereka. “Tidak bisa berpatokan pada style menjalankan bisnis. Yang harus sama-sama diperhatikan adalah angka, sehingga setiap periode tertentu bertemu yang dibahas adalah angka”.
Josia juga mengakui bahwa di perusahaannya, generasi lama dan yang muda sering ” berbantah-bantahan” dalam hal pekerjaan, meskipun setelah itu ya jalan atau makan bersama.
“Terkadang saya setuju beberapa hal, dan setuju untuk mencoba yang diusulkan yang muda. Namun perlu diingat juga bagi generasi tua, jika nantinya jalan itu tidak berhasil, jangan sampai yang tua bilang ‘nah tu kan, apa gua bilang. Papa sudah ngomong seperti ini dan ini’. Jika seperti itu bisa bisa bubar”.
Anak bisa saja kemudian memutuskan keluar dan mengaktualisasikan dirinya di tempat lain. “Jadi kita harus support, membiarkan saat membuat kesalahan. Katakan saja biasa, atau cincai lah bisnis suatu saat rugi. Lalu ulurkan tangan untuk membantu bangkit dan memperbaiki. Namun bisa jadi juga anak kita berhasil, dan kita harus ngasi apresiasi”.
Josia mengungkapkan Tong Tji sekarang sudah masuk ke generasi keempat. Mereka sudah bicara bareng dan mulai berpikir untuk menjual saham ke publik atau initial public offering (IPO).
“Secara pohon, semakin banyak generasi maka akan semakin banyak orang. Semakin banyak kepala maka akan semakin banyak masalah. Maka kami mulai berpikir untuk IPO. Tentu sebuah IPO yang sehat ya. Bukan IPO yang sekadar cari uang, tetapi IPO yang bisa membuat perusahaan ini semakin besar “.
Ke depan, tambah Josia, perusahaan membutuhkan juga kontrol dari publik, meskipun masih tetap ada pemegang saham utama. ” Lama lama perusahaan akan dikelola oleh para profesional dan pemilik benar-benar hanya menjadi share holder . Dengan demikian sampai ke generasi berapa pun, perusahaan akan tetap jalan”. (BP)
Padmanews.Id Online Lifestyle News





