Inisiatif Program Bakti Lingkungan Djarum Foundation dimulai pada tahun 1979, diawali dari kebutuhan yang sangat mendasar, yakni pada saat itu kondisi Kudus yang terasa gersang dan panas. Maka solusi yang dibutuhkan adalah action yang cepat dan tepat, yaitu menanam pohon.
“Karena kebutuhannya riil, maka solusinya juga harus riil,” jelas Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) Jemmy Chayadi kepada tim Padmanews di kantornya, Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) Djarum Oasis Kudus, baru-baru ini.
Dia kemudian menjelaskan, seiring dengan perkembangan BLDF, dimulai dari program penanaman pohon di area perkotaan Kudus berkembang menjadi penanaman pohon di area perbukitan Patiayam dan lereng Gunung Muria, yang mana pada saat itu kondisinya mengkhawatirkan akibat dari penggundulan hutan di masa lampau.
Lalu inisiatif BLDF terus berlanjut dengan melakukan penanaman pohon-pohon trembesi di sepanjang jalan tol di pantura, karena memang jalur pantura merupakan salah satu jalur transportasi dan distribusi paling padat di pulau Jawa, jadi akan lebih nyaman jika di jalur tersebut dinaungi oleh pohon trembesi yang bisa menurunkan suhu sampai dengan 4 derajat Celcius di bawah tajuk pohonnya, dan tentunya bisa mengurang emisi yang dihasilkan oleh kendaraan yang lewat. “Wilayah semakin luas, sehingga sampai saat ini kami sudah menanam lebih dari dua juta pohon”.
Jemmy menandaskan bahwa itu sebenarnya bukan suatu hal yang sangat inovatif, tetapi sangat simpel. “Kudus panas, kita tanam pohon. Gitu aja. Kami belajar bahwa ini memang salah satu solusi yang cocok untuk kita lakukan di Indonesia, sehingga akhirnya kami menanam terus”.
Jemmy percaya ini adalah suatu gerakan atau movement untuk menjadikan lingkungan kita menjadi lebih baik. Dan itu memang tidak bisa dilakukan sendiri. “Bakti Lingkungan Djarum Foundation sendiri memiliki lima pilar, ada program terrestrial, marine & coastal resilience, biodiversity conservation, waste management dan youth empowerment, semua itu memiliki interkoneksi dan berkesinambungan,” jelasnya.

Menurut dia, masalah lingkungan adalah tantangan yang sangat pelik dan membutuhkan solusi yang terintegrasi. Solusi yang holistik. “Jadi kami selalu bilang, kami tidak stop hanya di menanam pohon. Kami juga harus melihat ekosistem, melihat biodiversity. Tenyata urusan sampah juga ada hubungannya sama tanah, sama air, dan juga ekosistem”.
Ketika sedang penanaman pohon di Gunung Muria, justru kemudian diketahui bahwa di situ masih ada macan tutul Jawa. Untuk menjaga macan tutul Jawa, lanjutnya, caranya adalah dengan menjaga gunung. Bagaimana cara menjaga gunung? Ya menanam pohon. “Jadi untuk peduli dan terlibat dalam penanganan lingkungan ternyata memang butuh solusi yang holistik,” ucapnya.
Jemmy menyebutkan bahwa dampak jika macan tutul Jawa itu punah, maka ekosistem di Pulau Jawa juga bisa rusak. Sedangkan, tambahnya, Pulau Jawa ini dihuni sekitar 150 juta penduduk. Lebih dari separo penduduk Indonesia. Dan ekonomi nasional lebih dari 50 persen berkonsentrasi di Jawa. “Resiko dari macan tutul Jawa punah itu luar biasa, seharusnya diwaspadai sebagai potensi ancaman keamanan nasional.”
“Akhirnya dari Muria program ini kami lebarkan ke seluruh Jawa. Program Kementrian Kehutanan yang bernama “Java-Wide Leopard Survey (JWLS)” atau Survey Nasional Macan Tutul Jawa termasuk yang kami bantu, sekalian mengajak tujuh perusahaan lain,” jelasnya.
“Kemudian kami melihat tidak hanya area Terrestrial atau hutan yang perlu dilindungi, tapi juga area Coastal atau pesisir laut yang semakin banyak tantangan. Sehingga kami juga menanam mangrove di Semarang, Demak dan Rembang. Saat ini sudah ditanam lebih dari satu juta mangrove.” Kalau ekosistem Gunung Muria dan pesisir utara Jawa Tengah rusak, bisa jadi Kudus dan sekitarnya banjir, otomatis transportasi dan distribusi produk akan terganggu.
Soal Sampah
Tidak berhenti sampai di situ. BLDF kemudian juga sampai pada urusan sampah pada tahun 2018. Mereka melihat lagi di Kudus ini ada kebutuhan mendasar, yakni dalam pengelolaan sampah. “Masalah sampah ini juga ada hubungannya dengan banjir. Kalau sampah menumpuk, kualitas hidup dan perekonomian masyarakat juga akan terganggu. Dan ini akan berpengaruh juga kepada operasional perusahaan,” katanya.
Kemudian diketahui bahwa 60 hingga 70 persen sampah di Kudus adalah sampah organik. “Nah kita itu kalau mau cari solusi jangan setengah-setengah. Apa nih masalah yang terbesar? Oh ini sampah organik masalah terbesarnya. Gak ada yang sentuh, bau dan dianggap tidak ada nilainya. Oke kita pilih itu”.
Menurutnya, BLDF memang hadir untuk mencari solusi dan bukan sekadar memfoto ulang. Jadi yang dianggap dampak terbesar dari masalah sampah adalah komponen sampah organik. “Lalu mulailah kami belajar soal sampah organik. Kemudian dimulai bekerja dengan satu mitra, hingga sampai sekarang mencapai 413 mitra yang telah berkomitmen memilah dan mengolah sampah organiknya bersama kami,” ungkapnya.
Kerja Maraton
Menurut Jemmy, semua pilar ini dari tahun 1979 berupa penanaman pohon, pelestarian macan tutul Jawa, sampah organik, dan generasi muda adalah kerja maraton yang sangat panjang waktunya. “Hasil tanam pohon sejak tahun 80-an itu sudah bisa kita nikmati sekarang. Kudus terasa lebih adem, dan jalanan menjadi teduh. Saya jadi ingat ada jargon the best time to plant a tree was twenty years ago. The second best time is today. Karena semua ini memang projek long term, seperti pohon tidak bisa tanam hari ini, besok langsung gede,” katanya.
Menurut Jemmy, persoalan sampah ini juga long term. Oleh karena itu sangat membutuhkan keterlibatan generasi muda, supaya estafet ini bisa jalan terus.
Menurutnya, perubahan behaviour dan mindset memang tidak bisa instan. “Semua hal harus paralel. Mulai dari kampanyenya, mengajak semua pihak aktif dalam pemilahan sampah. Kami baru saja ada meeting dengan para stakeholder di Pendopo Kabupaten Kudus, baik dari pihak pemerintah daerah, LSM maupun swasta, saya melihat sekarang ini semua sudah lebih sinkron”.


Dulu di awal-awal ada pihak yang setuju dan ada yang merasa keberatan. “Kini semua sudah setuju soal pemilahan sampah ini. Semua orang kini lebih aware dengan pentingnya pemilahan sampah, ” ucapnya.
Yang kedua, lanjutnya, adalah nilai dari sampah itu sendiri. Kebanyakan orang tadinya melihat bahwa sampah yang memiliki nilai adalah hanya sampah yang bisa di-recycle, misal botol minuman kemasan. Padahal jika tanpa pemilahan dan masih tercampur sampah organik, maka nilai sampah recycle juga menjadi rendah. Jadi dengan pemilahan sebenarnya membantu untuk meningkatkan nilai ekonomis sampah tersebut. Rasio dari waste recycle ini juga menjadi lebih tinggi. “Dan jangan dilupakan, sampah organik juga bisa diolah menjadi kompos, yang tentu saja ada nilainya. Jadi balik lagi, kuncinya ada di pemilahan”.
Pada akhirnya masyarakat bisa melihat bahwa meski dengan pemilahan ini memang awalnya akan lebih merepotkan, tetapi ternyata memberikan nilai ekonomis baik dari sampah organik, sampah recycle, dan sampah yang lain.
Jemmy memberikan sampel sebuah gerai restoran di Jakarta mitra BLDF yang level urusan pemilahan sampah ini sudah sangat bagus. Pihaknya semula membantu mengolah sampah organik restoran itu. Awalnya mereka mengirim 2 – 3 ton sampah organik dari dapur mereka.
Dalam proses tersebut, mereka kemudian mulai memilah sampah organiknya. “Ini yang sampah jeruk, ini yang tulang ikan, dan lain-lain. Ini sudah satu tingkat level lebih baik lagi pemilahannya. Yang tadinya sampah organiknya campur, kemudian dipilah lagi. Akhirnya mereka dapat pihak yang mau ambil. Dan yang ambil itu ternyata mau bayar karena sudah terpilah rapi. Pada akhirnya mereka rencana bikin CV atau PT buat ngurus jualan sampah organik itu,” tuturnya.
Jadi yang semula mereka anggap tidak bernilai dan mereka buang saja ke BLDF, ternyata setelah dilakukan pemilahan, sampah organik jadi memiliki nilai ekonomis. “Ini memang contoh dari pemilahan yang lebih dalam lagi, tetapi ini membuktikan bahwa pemilahan seperti ini bisa dilakukan, dan bisa menghasilkan uang. Dan ini juga jadi bukti kepada para staf dapur yang biasanya keberatan melakukan pemilahan”.
Mitra BLDF sudah membuktikan bahwa pemilahan itu bisa dilakukan. “Perubahan paradigma seperti ini memang harus terus didorong prosesnya, karena memang perjalanan masih panjang. Saya berharap apa yang ada di Kudus ini bisa menjadi model. Jadi jika ada tamu yang studi banding, maka mereka bisa melihat bahwa Kudus bisa menjadi model, ” jelasnya.
Jika sudah melihat ada yang bisa, maka diharapkan lebih banyak lagi lebih berminat untuk mencoba. “Jadi BLDF tidak harus kemana-mana, tapi modelnya itu bisa dikloning dimana-mana”.
Dijelaskannya pula, sebelum membawa perubahan kebiasaan untuk pemilahan ini ke masyarakat, BLDF memulainya dari “rumah” sendiri, yakni para karyawan pabriknya. Sebanyak kurang lebih 60.000 karyawan diedukasi soal pemilahan sampah.
Di pabrik sigaret keretek tangan (SKT) misalnya, dilakukan edukasi dengan cara memutar informasi pemilahan lewat speaker pabrik secara berulang-ulang. “Merah untuk sampah apa saja, terus yang hijau untuk sampah organik. Terus diputar, sampai mereka paham dan dilaksanakan sehari-hari,” jelasnya. Mereka ternyata kemudian aktif menanyakan setelah mereka memilah, apakah petugas Pemkab akan mencampur sampah itu kembali. “Ya kami jawab, karena Djarum yang menginisiasi program ini, maka Djarum akan menyediakan armada untuk mengangkut sampah-sampah organik yang sudah dipilah ini,” katanya.
Khusus untuk armada pengangkut sampah organik, kini Djarum punya sepuluh truk. “Saat itu kami yakinkan para karyawan bahwa mereka tidak akan sia-sia memilah. Mereka memang patut khawatir, karena selama itu penanganan sampah memang selalu dicampur”.
Bakti Lingkungan Djarum Foundation kemudian juga membangun fasilitas Pusat Pengolahan Organik (PPO). Di sini sampah organik disortir, dicacah, dan difermentasi selama 6 bulan bersama starter kompos dan teknologi VRM Biologik, dan hasilnya adalah tanah topsoil atau lapisan tanah teratas. PPO ini mampu mengelola hingga 50 ton sampah organik per hari. Kapasitasnya sendiri mencapai lebih dari 100 ton.
Semua area produksi perusahaan yang sudah memilah kemudian sampah organiknya diolah di PPO dulu. Setelah upaya di internal berhasil, mulailah BLDF mengajak Pemda, rumah sakit, hotel, dan berbagai komunitas di Kudus.
Tim BLDF kemudian melakukan presentasi bahwa aktivitas pemilahan sudah berhasil diterapkan di internal perusahaan. Armada juga sudah disiapkan, sehingga sampah-sampah organik itu akan diambil jika tidak ada yang mengambil. Masyarakat juga tidak perlu jauh-jauh membuang ke TPA.
Rupanya mereka meyakini bahwa BLDF kalau melakukan sesuatu tidak pernah setengah-setengah. Dan itu terbukti dalam perjalanan waktunya, sehingga semakin banyak masyarakat atau komunitas yang terlibat.
Membangun Kemitraan
Jemmy menjelaskan, ketika mulai membangun kemitraan ini memang menghadapi karakter yang berbeda-beda. Yang dijumpai mulai dari pemilik restoran, penjual soto, perorangan, institusi, sampai perumahan dan perkantoran. “Masing-masing membutuhkan pendekatan yang berbeda-beda”.
Namun mereka kemudian menjadi senang ketika tahu bahwa ada yang mengambil sampah organik mereka. Ini mengurangi banyak hal, misal kerepotan mengurus sampah organik, bau, harus bayar biaya pengambilan. “Syaratnya mereka cuma harus memilah saja”.
Kemudahan-kemudahan yang didapat itu pada akhirnya bisa mengubah behaviour, bahwa dengan pemilahan sampah mereka bisa mendapatkan benefit. “Seperti gerai restoran mitra di Jakarta tadi juga mempromosikan apa yang sudah dilakukan sampai mencapai zero waste, sampai mereka dapat award dari Kementerian Lingkungan Hidup. Saya bilang ke mereka, lho yang urus sampah elu itu gua, kok elu yang dapat award hahaha….”.
Pada akhirnya para mitra ini bisa mendapatkan banyak hal, selain nilai ekonomis, juga nilai sosial dan nilai lingkungan. Mereka sadar bahwa gerakan ini bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, restorannya, institusinya, dan masyarakat sekitarnya. Lebih jauh, tambahnya, sampah organik yang diolah di PPO mengurangi beban sampah yang dikirim ke TPA. Ini menjadi kontribusi sosial BLDF.

Nah kemudian BLDF juga sampai pada pengembangan partisipasi generasi muda atau youth empowerment. Karena kami melihat generasi muda memiliki pemikiran-pemikiran yang terbuka dan kreatif, sehingga Djarum Foundation juga bisa belajar. Mereka adalah generasi yang aktif di dunia digital dan bisa menggerakkan masyarakat luas. Mereka juga yang menjadi generasi penerus.
Untuk meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap pentingnya pemilahan sampah di Kabupaten Kudus, maka tahun 2022 dibentuk gerakan generasi muda berbasis digital “Kudus ASIK (Apik Resik)”. Inisiatif ini merupakan bentuk sinergi bersama pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman, dan Lingkungan Hidup (PKPLH) yang turut dimasukkan ke dalam rencana aksi daerah.
Jadi Bibit
Jemmy juga menceritakan sebuah contoh, ada pedagang buah yang sampahnya diambil oleh BLDF. Sampah itu berupa biji-bijian, misal biji buah mangga atau nangka. “Biji itu tidak hanya kami olah sebagai sampah, tetapi kemudian juga kami jadikan bibit-bibit. Nilainya kemudian menjadi lebih panjang. Bibit-bibit tadi menjadi pohon, terus pohon itu kami tanam di Gunung Muria atau di Patiayam”.
Ketika proses ini diceritakan kepada si pedagang buah, mereka baru sadar dan senang karena sampah biji buah-buahan mereka ternyata memiliki implikasi yang lebih panjang. “Ini memang tidak bisa diuangkan, tetapi mereka merasa puas karena bisa turut berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan Djarum Foundation,” tutur Jemmy.
Siap Darling
Berkaitan dengan Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan), Jemmy melihat bahwa generasi sekarang ini memiliki kesadaran lingkungan yang lebih tinggi. Oleh karena itu ketika melihat manfaat dari sadar lingkungan ini, mereka kemudian lebih siap untuk berpartisipasi. Pada akhirnya semua kesadaran ini diharapkan menular.
“Kesadaran lingkungan semakin tinggi, kesadaran memilah sampah semakin tinggi, kesadaran menjaga pohon semakin tinggi, kesadaran tidak membakar sampah dan lain-lain semakin tinggi. Ini semua bisa membawa kepada kehidupan yang lebih baik,” ucapnya.
Memang, tambahnya, akan berat kalau harus seratus persen orang memilah sampah. Namun paling tidak sudah mulai bergerak dari business as usual. “Yang mulai memilah sampah sekarang misal sudah 2 persen. Kira-kira nanti bisa 20 persen gak ya? Mungkin saja bisa. Dari 20 persen ditargetkan lagi jadi 50 persen. Berlanjut begitu terus-menerus, karena ini adalah kerja maraton,” tuturnya.
Yang dilakukan kemudian adalah mengajak yang lain untuk juga bergerak. Tentu dengan kapasitas, kemampuan, dan porsi masing-masing. “Ada yang bilang saya mampunya menangani sampah recycle, oke. Saya mampunya menggerakkan ibu-ibu PKK, silakan. Saya influencer, saya menggerakkan anak-anak muda, juga silakan. Yang penting semua ikut gerak,” ucapnya.
BLDF juga bergerak dari yang tadinya satu mitra dengan sampah organik sedikit, lama-lama menjadi 50 ton per hari. “Saya percaya, yang influencer itu tadinya cuma menggerakkan generasi muda satu orang, kemudian satu RT, lama-lama bisa banyak RT. Gerakan ini butuh waktu, asal arahnya benar. Keluar dari business as usual. Soal target 20 persen atau 50 persen, itu tergantung kita sendiri,” ucapnya.
Semua itu perlu kolaborasi, karena BLDF tidak bisa sendiri. Setelah berjalan jika ada yang ingin belajar dipersilakan. Pada intinya BLDF sebagai salah satu stakeholder bersama dengan Pemkab ingin berpartisipasi aktif untuk membangun Kudus yang lebih baik, lebih bersih, dan lebih sejahtera buat kita semua.
Perubahan Perilaku
Semua hal yang dilakukan BLDF pada dasarnya kerja maraton yang membutuhkan konsistensi. Jadi meskipun kadang terasa lambat, namun harus terus berjalan. “Kami menghadapi banyak orang dengan banyak sifat. Ada yang sudah diminta memilah tetapi tetap saja ada yang mencampur sampah,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa BLDF juga sudah melewati waktu yang panjang, sejak tahun 1979 waktu zamannya mendiang Pak Bambang Hartono dan Pak Budi Hartono memulai inisiatif lingkungan. Pada waktu itu simpel saja gerakannya BLDF adalah menanam pohon. “Dengan melihat perjalanan itu, saya jadi melihat program macan tutul Jawa dan masalah sampah organik ini seperti anak-cucunya program menanam pohon BLDF. Sebenarnya kita waktu itu bisa saja stop di penanaman pohon. Tapi karena masalah lingkungan semakin kompleks dan butuh solusi holistik dan berkelanjutan. Kita harus bergerak terus. Mungkin lima tahun lagi ngobrol, ada lagi hal hal baru yang harus dilakukan”.

Untuk saat ini, tambah Jemmy, karena lokasi di Kudus, maka solusi yang dihasilkan adalah yang efektif di Kudus. Dengan memiliki model seperti ini, ia berharap semakin banyak stakeholders yang ikut terlibat dan bergotong royong.
“Perubahan dimulai dengan menimbulkan kesadaran diri dulu. Kemudian muncul kepedulian, lalu merasa ikut bertanggung jawab dan terakhir berkomitmen. Ini sudah dilakukan BLDF. Awalnya sadar ada masalah lingkungan di Kudus. Ada kesadaran dan tanggung jawab mencari solusi, dan akhirnya bekerja menanam pohon. Makin lama kesadaran makin meningkat, komitmen dan yang ditangani semakin banyak, ” ujarnya.
Kemudian mulailah BLDF mengajak pihak lain. “Kalau ngajakin yang lain kita belum mengerjakan sendiri, itu bakal susah. Jadi kami sudah ngasi contoh dan bukti, yang Pak Victor Hartono selalu bilang ingin menjadi business influencer, sehingga kita bisa mengajak perusahaan-perusahaan lain untuk mengkloning di rumah, desa, kota, kabupaten mereka masing-masing”. Semakin banyak yang mengkloning baik untuk urusan sampah, air bersih, sanitasi, konservasi macan tutul Jawa, atau rumah sederhana, Jemmy percaya bahwa semua ini akan memberikan dampak positif kepada Indonesia yang lebih baik.(BP)
Padmanews.Id Online Lifestyle News





