1 December 2021
Home / Top News / Labuan Bajo, Wisata Pulau ke Pulau

Labuan Bajo, Wisata Pulau ke Pulau

Oleh : CN Hendarto

Berkunjung ke Labuan Bajo identik dengan kegiatan island hopping alias berwisata dari satu pulau ke pulau lain. Dan memang itulah pengalaman wisata kami selama menikmati kawasan Labuan Bajo.

Pulau-pulau ini terhampar di sepanjang Selat Sape yang memisahkan Bajo yang ada di Pulau Flores dengan Sumbawa. Rinca, Padar, dan Komodo adalah tiga pulau utama yang kerap dikunjungi para wisatawan Bajo.

Perjalanan wisata kami awali dengan menggunakan pesawat terbang dari Semarang – Denpasar. Kemudian dilanjutkan dengan transportasi udara dari Denpasar – Ende.

Di Ende, kota kecil berhawa sejuk, inilah kita bisa berwisata ke petilasan pengasingan Presiden Soekarno. Kota Ende di Flores ini juga dikenal sebagai tempat lahirnya Pancasila.

Kota di Nusa Tenggara Timur ini menyimpan sejarah dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Di sinilah Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno diasingkan selama 4 tahun 9 bulan. Selama pengasingan tersebut, Bung Karno merenungkan tentang Pancasila yang kini menjadi dasar negara Indonesia.

Soekarno dan keluarganya bertolak dari Surabaya ke Flores menggunakan kapal barang KM van Riebeeck. Setelah 8 hari perjalanan,  Soekarno akhirnya menginjakkan kaki di tanah Flores pada 14 Januari 1938 dan langsung dibawa ke rumah pengasingannya di Kampung Ambugaga.

Di rumah inilah Bung Karno bersama Inggit Garnasih (istri), Ibu Asmi (mertua), Ratna Djuani dan Kartika (anak angkat) menghabiskan waktu selama pengasingan. Rumah ini adalah pemberian dari Abdullah Ambuwaru. Setelah diangkat menjadi Presiden, Bung Karno meresmikan rumah itu sebagai Museum pada 16 Mei 1954.

Kondisi rumah ini masih terawat dengan baik. Saat memasuki halaman, kita akan melihat patung Bung Karno yang sedang berdiri. Di dalam rumah terdapat benda-benda peninggalan Bung Karno, seperti lukisan di dinding, akta nikah dengan ibu Inggit, berbagai macam perabotan rumah, serta dua tongkat yang biasa digunakan oleh Bung Karno. Kamar tidur Bung Karno terdapat di bagian tengah, berhadapan dengan 1 kamar tidur lain yang diisi mertua dan anak angkatnya.

Di Ende ini kami menginap satu malam di homestay. Perjalanan kemudian berlanjut mengunjungi Danau Kelimutu.

Tempat wisata ini berada di puncak Gunung Kelimutu dengan ketinggian 1.690 meter di atas permukaan laut. Danau Kelimutu terdiri dari tiga buah ‘kubangan’ atau kawah dengan warna yang berbeda-beda.

Selain dikenal dengan nama Danau Kelimutu, tempat wisata ini juga dikenal sebagai Danau Tiga Warna. Sebuah fenomena alam yang sangat menakjubkan karena tiga kawah dengan jarak yang berdekatan, namun memiliki warna air yang berbeda.

Warna air danau umumnya adalah merah, putih dan biru, namun bisa berubah menjadi hijau, hitam dan coklat, atau variasi warna lainnya. Uniknya, saat para peneliti mencoba mengambil air danau ini sebagai sampel, airnya bening tanpa warna.

Ketiga danau ini dipisahkan oleh tebing batu curam yang mudah longsor, sehingga wisatawan diharapkan mampu menjaga jarak aman saat berada di area sekitar danau. Kami mendaki banyak anak tangga untuk bisa menikmati pemandangan spektakuler ini.

Puas menikmati keindahan Danau Kelimutu, kami menuju Kota Labuan Bajo dengan jalan darat memakai Isuzu Elf. Kondisi jalan baik tapi rada sempit dan berkelok-kelok. Di perjalanan mampir menikmati wisata kampung adat Wologai.

Sampai di Labuan Bajo menuju rumah makan sea food di pinggir pantai. Setelah selesai, kami  lalu naik kapal phinisi. Rombongan kami menyewa dua kapal selama tiga hari.

Seperti kami sebutkan di awal, wisata di Labuan Bajo adalah berlayar menikmati laut, berkeliling dari satu pulau ke pulau  lain. Maka pada hari pertama, kami berlayar dari Labuan Bajo – Kelor – Manjarite – Rinca – Kalong Rinca.

Siapa yang tidak suka menjelajahi alam yang masih natural, belum banyak tersentuh peradaban? Di Flores, kita bisa menemukan destinasi wisata seperti ini di Pulau Kelor – pulau kecil dengan pasir yang putih dan tetumbuhan yang menghijau di bagian tengah, serta riak kecil ombak yang tenang.

Lokasi lain, Manjarite sebenarnya merupakan nama sebuah pulau tak berpenghuni. Pulau tersebut memiliki tepi laut yang amat jernih, minim arus, hanya sedikit gelombang.

Manjarite jadi salah satu spot favorit untuk wisatawan yang berlayar di kawasan Manggarai Barat, khususnya Taman Nasional (TN) Komodo. Pasalnya lokasi ini merupakan salah satu tempat snorkeling yang indah di kawasan ini.

Sementara Pulau Rinca adalah sebuah pulau kecil dekat Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Di pulau ini hidup berbagai jenis binatang seperti komodo, babi liar, kerbau dan burung.

Kemudian sesuai namanya, di Kalong Rinca kita bisa menikmati suasana sunset yang indah sembari menyaksikan ribuan kelelawar beterbangan di sekitar pulau itu.

Di hari kedua kami menuju Pulau Padar – Pulau Komodo dan Pink Beach.

Pulau Padar merupakan pulau terbesar nomor 3 di Kawasan Taman Nasional Komodo. Dibandingkan dengan Pulau Rinca, Pulau Padar memang lebih terlambat dikenal masyarakat. Namun, tetap saja pulau ini menjadi pulau yang sangat eksotis yang ada di Indonesia.

Pulau Padar Labuan bajo memiliki empat teluk yang dalam dan pasir pantai dalam berbagai warna, kebanyakan adalah pasir pantai berwarna putih.

Selain itu pun ada pasir pantai memiliki pasir abu-abu dan merah muda. Laut di sekitar pulau ini memiliki beberapa tempat yang populer untuk scuba diving dan snorkeling. Jadi jangan lewatkan saat pelancong berada di pulau ini.

Hari ketiga kami menikmati Taka Makassar – Manta Point – Gili Lawa Darat.

Berada di kawasan Taman Nasional Komodo, pulau kecil yang dikenal dengan nama Gili Lawa ini merupakan salah satu objek wisata Labuan Bajo yang terkenal akan keindahannya.

Bentang alam yang dimiliki Gili Lawa seperti eksotisme perbukitan yang dibingkai dengan birunya hamparan laut membuat destinasi wisata Labuan Bajo satu ini menjadi salah satu spot perburuan foto karena panoramanya yang sangat memukau.

Pada hari keempat ke Pulau Kanawa  – Labuan Bajo. Surga kecil bernama Pulau Kanawa dihampari laut biru sebening kaca, pantai dengan pasir putih tanpa noda, terumbu karang yang eksotis dan lanskap yang istimewa.

Tak kalah menarik dalam perjalanan ini adalah menikmati kehidupan di kapal phinisi. Pelancong dapat  duduk di geladak sambil menikmati gemericik suara laut. Menikmati kegesitan renang lumba-lumba di sekitar kapal.

Bila cuaca mengizinkan, wisatawan bisa melakukan snorkling, diving, dan mancing. Kapal phinisi  biasanya melayani satu, dua, atau tiga (rombongan).

Meski hanya kapal kayu, perlengkapan yang tergelar di ruang kendali ini terbilang canggih karena dilengkapi layar kecepatan kapal, radar cuaca, serta alat komunikasi dengan darat. (bp)