22 April 2021
Home / Art / Congrock 17 Ingin Jadi Virus

Congrock 17 Ingin Jadi Virus

Kau bunga di tamanku

Di lubuk hati ini

Mekar dan kian mewangi

Melati pujaan hati

Bersemilah sepanjang hari

Mewarnai hidupku

Agar dapat kusadari

Artimu bagiku

LAGU ”Kau Seputih Melati” memenuhi atmosfer Dacon Stage, Graha Padma, Selasa (28/5). Para pengunjung yang menunggu bedug buka puasa tiba pun ikut menyenandungkan lagu lawas milik Dian Permana Putra itu. Disusul lagu ”Puasa” (Bimbo), ”Dengan Nafasmu” (Ungu), ”Yen Ing Tawang Ono Lintang” (Waljinah), dan ”To Love You More” (Celine Dion).

Personil Congrock 17

Aransemen lagu-lagu beragam genre dan era itu dibesut secara apik oleh Congrock 17. Maka, apapun lagu yang didendangkan Pipit Dila, Vita Maheswari, Marco Manardi, dll, itu menjadi begitu easy listening di telinga kita. Bahkan, menjadi aneh ketika kita tidak ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan Congrok 17, paling tidak berdendang lirih, minimal ikut ”rengeng-rengeng” alias bersenandung.

Mungkin brand Congrock 17 begitu asing di telinga generasi millenial. Sebab, generasi sekarang tengah digempur beragam genre terkini seperti electronic dance music (EDM) atau musik dansa elektronik, musik klub, yakni berbagai genre musik elektronik perkusif yang dibuat sebagian besar untuk klub malam, rave, dan festival-festival.

Wajar jika kaum millenial lebih suka mendendangkan lagu-lagu Heroes (We Could Be), Clarity, Faded, Animals, Wake Me Up, Alone, Lily, Closer, Don’t You Worry Child, Outside, I Want You to Know, Le Me Love You, dan masih banyak lagi.

Belum lagi gempuran lagu-lagu indie yang notabene bukanlah suatu genre musik, melainkan sebuah gerakan musik yang bebas dan mandiri, tidak bergantung pada sebuah label musik atau sebagainya. Contohnya Fiersa Besari, Fourtwnty, Banda Neira, Payung Teduh, Mocca, dan Endah n’Rhesa. Barangkali sebagian dari kita sudah akrab dengan lagu ”Akad” (Payung Teduh), ”Aku Tenang” (Fourtwnty), ”Waktu Yang Salah” (Fiersa Besari), dll.

Grup Ajaib

Tanggal 17 Maret 1983, Suluh, Bogie, BJ Haryanto, Hari Djoko Santoso, Ricky, Widowati, dan Marco Manardi, berkumpul. Sebagian besar mereka adalah mahasiswa Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang  yang ngobrol tentang musik keroncong. Jadilah mereka mendirikan Keroncong Remaja 17.

Ajaib, grup yang mereka dirikan itu bertahan sampai sekarang, ya bertahan selama 36 tahun. Wow. Sebuah prestasi yang fantastis untuk sebuah grup musik.  Meski dalam perkembangannya, sejumlah nama ikut masuk di dalam grup itu. Sehingga grup itu terdiri atas Suluh (flute), alm Bogie (gitar), B J Haryanto (melodi, leader guitar, backing vocal), Hari Djoko Santoso (cello, koordinator), Ricky (banjo), Widowati (vokal), Marco Marnadi (vokal), Sastro Pramuji (vokal), Marius Hendra (vokal), Abraham Ricky Reinold (banjo-backing vokal), Darmaji (cello), Sumartono (banjo), Ferry Dharyadi (drum-perkusi elektrik), Hendi Catur Prasetyo (keyboard), Herie Syahrie (bass), Andrianto (biola), Yono Kancil (cuk), dan Rivai (flute).

Marco Manardi

Menurut Marco, sebutan Congrock 17 itu tercipta ketika mereka manggung pada 1986 di ajang Sejuta Bintang di GOR Jawa Tengah (kini Ciputra). Penontonnya waktu itu sangat responsif. Lagu ”Rek Ayo Rek” (Mus Mulyadi) sampai ”I Want to Break Free” (Queen) dibawakan dengan irama keroncong, tapi dengan tempo yang cepat dan cenderung ngerock membuat banyak penonton yang mengatakan ”Keronconge nge-rock, ik”.

”Sejak saat itulah kami menamakan grup Keroncong Remaja 17 menjadi Congrock 17.”

Penuh Liku

Lebih jauh Marco menambahkan, sejak awal didirikan, Congrock 17 konsisten di jalur keroncong modern. Namun, caranya itu yang membuat komunitas keroncong asli (murni) menentang jalur yang dipilih. Tak pelak, Congrock sempat dikucilkan musisi-musisi senior. Salah satunya dengan cara dipersulit tampil di festival.

”Perjalanan kami penuh liku. Oleh para senior (para buaya keroncong-red), Congrock 17 dinilai merusak tatanan musik keroncong karena tidak mengikuti pakem. Sejak 1983 hingga 2003, kami berjuang terus untuk bisa eksis di tengah masyarakat. Dan, selama rentang waktu itu pula keberadaan kami tidak diakui oleh para buaya keroncong.”

Setelah perdebatan yang cukup lama, akhirnya Congrock 17 bisa diterima di asosiasi. Congrock 17 diakui sebagai musisi keroncong kreatif.

”Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Kelly Puspito, Bapak Anjar Any, dan Ibu Waldjinah yang mendukung perjuangan Congrock 17. Waktu itu Pak Kelly mengatakan yang tetap mempertahankan pakem biarlah begitu, yang ingin kreatif dan mengikuti zaman jalan terus,” kenangnya.

Terlebih ketika itu ada Ki Narto Sabdo juga sedang melakukan Revolusi Gamelan. Puncaknya, pada sidang HAMKRI 2003 di Jakarta. ”Saya bicara cukup keras dengan para buaya keroncong. Bahwa yang membunuh keroncong secara pelan-pelan itu ya, para buaya keroncong itu sendiri. Sebab, mereka tidak mau menerima perubahan zaman. Termasuk juga membuat keroncong bisa dikaji secara ilmiah. Kalau sesuatu tidak bisa diilmiahkan, maka sulit untuk bisa mendunia.”

Contohnya, musik Blues bisa mendunia karena musik itu bisa mengikuti selera zaman, namun tetap tidak menghilangkan ruh musik itu sendiri. Musik India bisa mendunia karena mau berkembang mengikuti zaman.

”Kalaupun ketika itu dan hingga saat ini keberadaan kami dianggap sebagai virus, kami ikhlas saja. Kami rela disebut virus, namun virus yang baik. Virus yang mengajak anak-anak muda menyukai musik keroncong.”


Dan, nyatanya budayawan sekelas Djadug Feriyanto juga terinspirasi Congrock 17 untuk jenis musik yang digunakan untuk pegelaran seni dan budayanya.

Sedekah Musik

Menurut Hari Djoko S, mengapa Congrock 17 bisa bertahan selama 36 tahun hingga saat ini, karena nawaitu awalnya adalah ingin bersedekah musik. ”Sedekah tidak melulu berujud uang, namun juga tenaga dan karya. Termasuk bersedekah musik, bersedekah karena menyenangkan orang lain, menggembirakan orang lain, menghibur orang lain. Itu konsep awalnya, sehingga kami bisa bertahan sampai detik ini,” jelas Hari.

Bahkan, lanjut dia, dengan manajemen profesional namun penuh kekeluargaan, juga ikut menjadikan Congrock 17 bertahan dari gempuran zaman. Jika ada job, pihak manajemen atau koordinator selalu menyisakan uang (setelah dibagi anggota) untuk ditabung.

”Tabungan ini menjadi semacam simpanan yang wajib kami miliki sehingga jika sewaktu-waktu ada anggota kami yang membutuhkan bisa meminjam. Dan, selama bertahun-tahun hal itu terbukti efektif. Banyak anggota yang memanfaatkan uang tabungan sisa manggung, jika dalam kondisi tertentu.”

Karena perjalanan Congrock 17 cukup lama, yakni lebih dari tiga dekade, tentu karena faktor alam (misalnya ada personel yang meninggal dunia-red), maka butuh regenerasi. ”Soal regenerasi, bukan hal yang baru. Lihat saja penyanyinya semuanya baru,” ujar Marco yang mantan jurnalis koran sore di Jateng ini.

Meski masuk katagori grup jadul, namun Marco, Yanto, dan personel lainnya berharap Congrock 17 tetap bisa menjadi salah satu virus (kiblat) bagi kawula muda. ”Biarkan mereka (kawula muda) berkreasi sendiri-sendiri. Ada komunitas seperti kami yang di Palembang. Di Malang ada komunitas Kerocong MU (Malang Utara). Kami sangat berharap bisa memberi warna bagi perkembangan musik di Indonesia. Kami beharap ada grup-grup baru, yang punggawanya kaum muda Indonesia, jenis musiknya apa saja, namun pakemnya Congrock,” harap Marco. (Ali)

About admin