30 May 2026
Home / Home / Rumah Josia Soeharto, Suka-suka yang Penting Nyaman

Rumah Josia Soeharto, Suka-suka yang Penting Nyaman

Memasuki rumah yang dibangun sekitar tahun 1960an itu terasa teduh. Bangunan di Jalan Sinabung Buntu No 5 Semarang yang masih terintrusi gaya arsitektur Barat itu dipenuhi pohon-pohon besar di sekeliling rumah. Berdiri di lahan seluas 510 m2, bangunan rumah memiliki luas 450 m2 terdiri dari dua lantai.

Terdapat empat kamar besar, dua dengan kamar mandi dalam. Masih ada dua kamar mandi luar. Kemudian masih ada paviliun untuk asisten rumah tangga sekeluarga. Rumah memiliki tiga teras, satu di depan, belakang, dan di lantai dua. Dilengkapi pula dengan gazebo di halaman depan yang luas. Garasi plus halaman bisa muat empat mobil.

Ruang tamu seperti menyatu dengan ruang untuk tamu dekat dan keluarga. Hanya disekat lemari besar terbuka, yang di tengahnya ada akuarium besar juga. Terasa tenteram memandang ikan-ikan indah di dalamnya.

Di ruang keluarga lantai bawah itu terdapat sebuah piano besar di samping tempat duduk. Sementara ruang keluarga di lantai dua menjadi semacam home theatre untuk menikmati film-film favorit.

Pemilik rumah, Direktur Marketing Tong Tji Josia Soeharto mengungkapkan memang sengaja menanam pohon-pohon kayu keras yang bermacam-macam. Ada mangga, rambutan, dan durian.

“Di setiap ruangan rumah ada jendela besar yang cukup banyak. Ada di ruang keluarga, ruang makan, dan kamar, sehingga kami bisa melihat hijau tanaman di luar. Pohon-pohon ini juga mencapai ketinggian di lantai dua, sehingga pemandangan hijau tetap terlihat di atas,” tuturnya.

Teras di lantai dua di bagian belakang rumah bahkan punya view sebagian Kota Semarang, terutama perkampungannya. Josia suka ada void antara lantai satu dengan lantai dua, sehingga meskipun dua lantai tetap terhubung, komunikasi anggota keluarga tetap lancar.

Sementara itu, halaman belakang juga dilengkapi kolam ikan koi sepanjang 3 meter dengan lebar satu meter.

Rumah di kawasan atas Kota Semarang ini dibeli tahun 2009. Kondisinya waktu itu sangat jelek, tetapi Josia sangat suka bentuk bangunannya. Setelah renovasi selama enam bulan, bentuk klasik semi Eropa ini bisa dinikmati.

Posisi rumah di jalan buntu menjadikan suasana lebih tenang dan lebih memiliki privasi. Di lingkungan itu hanya terdapat tujuh rumah, dan sebagian dihuni oleh ekspatriat.

Interior Rumah

Menurut Josia, interior rumah ditata dengan suka-suka. Baginya yang penting rumah terasa nyaman. Misal dia lebih menyukai mebeler Jawa klasik yang besar besar, tapi istrinya Johana S Haroen, lebih menyukai mebeler kayu minimalis untuk sofa. Akhirnya kedua keinginan dipadukan di ruang keluarga.

“Akhirnya gado-gado, meskipun dari sisi pakem desain interior mungkin tidak cocok,” kata Josia terkekeh. Interior kamar ketiga anaknya, Amadea Susan Soeharto, Andersen Stefanus Soeharto, dan Amanda Stefani Soeharto juga berbeda-beda terserah mereka.  “Bagi kami sekali lagi, yang penting nyaman”.

Josia memang membutuhkan kenyamanan tinggal di rumah. Menurutnya, adalah kenikmatan tersendiri duduk di kursi goyang sambil memandangi ikan-ikan di akuarium. “Istri saya bilang, awalnya saya lihat ikan, lama-lama ikan-ikan itu yang lihat saya, lha ketiduran hahaha…”.

Sebagai pekerja keras yang terus keliling ke berbagai tempat dan menginap di berbagai hotel bagus, ia tetap menganggap rumahlah tempat yang paling nyaman. “Meskipun rumah kita mungkin saja tidak sebagus hotel-hotel itu”.

Mungkin saja, tambahnya, karena di hotel tidak ada anjing, burung, atau tanaman. Ya, selain suka tanaman dan ikan, Josia juga suka memelihara anjing dan burung. Lebih kurang seratus burung meliputi perkutut, puter, dan oceh-ocehan.

Pak Ikhrom, suami asisten rumah tangga mereka, juga hobi burung dan tanaman. Sebagian burung dan tanaman di halaman depan rumah adalah milik Ikhrom. Kepada keluarga Ikhrom, Josia memang memberi keleluasaan. Anak-anak Ikhrom juga merasa homy. Mereka bisa belajar di ruang utama rumah. Bisa ikut membaca buku-buku koleksi, baik komik maupun ensiklopedia. Dan kebetulan mereka juga suka anjing. “Pernah ada anjing kami yang mau kami kasih ke orang, mereka bilang jangan pakde,” tutur Josia.(bp)