30 May 2026
Home / Education / SMK PIKA: Membentuk Ketrampilan dan Karakter Siswa

SMK PIKA: Membentuk Ketrampilan dan Karakter Siswa

Iva nampak tekun mengerjakan pengamplasan pigura yang dipegangnya. Tangan kanannya maju mundur dengan lembut mengamplas tepi pigura. Ketika dirasa sudah cukup halus, dia kemudian menghampiri guru pembimbing untuk memeriksakan pigura lukisan viner.

Namun ternyata oleh gurunya, bagian tengah lukisan dinilai belum halus. Iva kemudian kembali ke meja kerjanya, mengambil mesin pengamplas, dan kemudian mulai memperhalus bagian tengah lukisan itu. Iva merupakan salah satu dari sekian siswa kelas dua yang sedang praktek di bengkel kerja SMK PIKA, yang beralamat di Jalan Imam Bonjol 96 Semarang.

Teman-temannya yang lain juga sedang mengerjakan berbagai produk buatannya. Sementara di sisi bengkel lain para siswa kelas satu sedang berlatih melakukan pekerjaan kayu dasar. Mereka ada yang sedang menggergaji, mengetam, atau membuat lubang.

Kakak kelas mereka yang kelas tiga sudah terbagi dalam beberapa grup yang masing-masing membuat satu set perabot. Mereka sudah diperbolehkan menggunakan berbagai mesin modern yang dimiliki PIKA. Itulah kegiatan sehari-hari para siswa.

Menurut Kepala SMK PIKA Bruder FX Marsono SJ MPd yang didampingi Waka Bidang Hubungan Mayarakat dan Industri St Dwi Hartanto SE MPd, fokus PIKA adalah pendidikan. Jadi PIKA yang dahulu masih ke produksi, training, pendidikan, sekarang fokus ke pendidikan. Ada dua unit, yakni Akademi  Teknik PIKA yang punya dua jurusan, Teknik Furnitur dan Desain Interior. Satunya SMK dengan satu jurusan yakni Teknik Furnitur.

Unit Produksi sekarang ada di bawah SMK. Sehingga konsep teaching factory sekarang berjalan, sehingga para siswa bisa terlibat langsung dalam proses produksi. Integrasi antara dunia industri dan dunia pendidikan bisa berlangsung.

Di SMK PIKA kepala sekolah dibantu enam wakil kepala sekolah, yang masing-masing mengurusi kurikulum, kesiswaan, bengkel pendidikan, sarana prasarana, hubungan masyarakat, dan unit produksi. Kurikulum menangani segala sesuatu tentang sistem pembelajaran. Kesiswaan berfungsi pada pembentukan karakter siswa. Bengkel pendidikan berkaitan dengan pembelajaran yang 50 persen praktek.

Setiap tahun SMK PIKA menerima 60 anak. Selama tiga tahun siswa menerima pendidikan di sekolah, kemudian tahun keempat magang di perusahaan mebel. ‘’Tahun ini kami punya partner 20 perusahaan tempat siswa praktek kerja industri. Wilayahnya tersebar dari Jakarta sampai Surabaya. Mayoritas atau sekitar 50 persen masih di Semarang. Para siswa akan magang selama enam bulan,” kata Bruder Marsono.

PIKA punya relasi yang baik dengan dunia usaha dunia industri (DUDI). Sebelum magang, siswa dibekali kemampuan menggunakan mesin auto CAD (menggambar desain produk dengan komputer) dan mesin CNC. Tiga bulan dilatih, kemudian dikirim ke tempat magang.

Kemudian siswa juga dilatih membuat surat lamaran pekerjaan ke perusahaan, setelah humas menghubungi industri. Bahkan banyak perusahaan yang mengontak PIKA agar siswa magang di perusahaan mereka. Info ini lalu disosialisasikan ke siswa, kemudian siswa membuat lamaran, lalu dipersiapkan MoU antara siswa dan perusahaan. Pekerjaan nanti sesuai dengan bidang siswa. “Mereka tidak akan disuruh membuat kopi atau kirim surat”.

Setelah magang, para siswa akan membuat laporan seperti skripsi. Siswa didampingi dua guru, yang mengawal sisi teknis dan tata bahasa. Mereka dibimbing sampai selesai membuat hasil magang dan kemudian diuji. Kemudian mereka akan dites oleh sekolah dan perusahaan. Hasilnya? Ada yang langsung direkrut. Masa enam bulan itu menjadi masa anak mengenal perusahaan, tetapi juga menjadi masa perusahaan untuk mengenali siswa yang bersangkutan.

Sangat Terbatas

Memang Teknik Furnitur SMK PIKA masih sangat terbatas, sehingga lulusannya sangat dibutuhkan oleh industri mebel. “Sebelum wisuda saya bahkan biasanya menyediakan aula untuk perusahaan melakukan perekrutan siswa di tempat. Perusahaan presentasi dan langsung melakukan rekrutmen,” katanya.

Namun begitu PIKA mensyaratkan bahwa kondisi kerja di perusahaan perekrut harus lebih baik daripada Unit Produksi PIKA, supaya anak ada yang baru untuk dipelajari. Sehingga selain bekerja, anak kemudian memang bisa belajar dengan lebih baik.

Mayoritas lulusan bekerja di tiga kota besar, Surabaya, Jakarta dan sekitarnya, dan di Semarang. “Sebenarnya tahun lalu ada yang hendak diterima sebuah perusahaan di Austria. Tetapi karena terbentur peraturan di Austria yang tidak mempekerjakan anak-anak, maka tidak jadi’’.

Fokus PIKA ke depan adalah menjadi pusat teknologi perkayuan yang kompeten dengan anak didik yang humanis, berhati luhur, dan punya jiwa kepedulian terhadap lingkungan hidup. Anak yang dilatih, seratus persen percaya kepada Tuhan, seratus persen menggunakan bakat dan tenaganya. Fasilitas PIKA bisa dikatakan sederhana jika dibandingkan dengan perusahaan, tetapi jika dibandingkan dengan sekolah lain, maka PIKA sudah sangat cukup untuk melatih anak mencapai kompetensi.

‘’Namun kami juga menyadari sebagai sebuah sekolah tidak akan mampu mengikuti perkembangan teknologi yang terus ter-up date. Itulah sebabnya kami menggandeng perusahaan sebagai tempat para siswa magang, belajar sesuatu yang baru,’’ tuturnya.

Di sekolah anak dididik untuk praktek. Ngetam bukan sesuatu yang bisa dibayangkan. Itu harus dikerjakan, baik siswa cowok maupun cewek. Di kelas satu mereka diajarkan hal-hal manual. Ini lebih ke sense of quality, mereka tahu bahan yang bagus, bagaimana membuat sambungan yang baik. Tiap anak punya peti alat.

Di sini dibentuk karakter siswa, dalam kesabaran mengetam, merasakan menggergaji, ketelitian ukuran, tidak takut kena debu, membuat lubang pen dan sebagainya. Semua harus merasakan pengalaman kena gergaji, tergores, ini tidak bisa terbeli.

Di kelas dua, mulai belajar sense of efficiency and productivity. Mereka diajari membuat beberapa barang sederhana, misal nampan, book stand, rak handuk, kursi lipat dan lain-lain. Mereka mulai menggunakan mesin juga.

Di kelas tiga, mereka merasakan sense of team work. Satu kelas dibagi beberapa kelompok, terdiri dari tiga empat orang. Mereka mendesain dari awal sampai menentukan harga. Mereka membuat satu set meja makan, kitchen set, dan lain-lain. Kelas empat sense of entrepreneurship, mereka belajar mandiri di luar sekolah. Itu pendidikan praktek, selebihnya teori.

Kurikulum

Tahun 2008 SMK PIKA baru bergabung dengan kurikulum pemerintah. Sebelumnya PIKA mandiri, karena pendirinya dari Swiss, Bruder Paul Wiederkehr SJ berprinsip siswa lulus harus bisa kerja dan tentu saja tetap dibekali karakter. Dulu PIKA bisa 70 persen praktek, 30 persen teori, tidak kenal ujian nasional. Kenalnya cuma modul. Jadi seperti pelatihan betul. Setelah gabung pemerintah, kurikulum jadi 50 persen praktek dan 50 persen teori. Masuk dari jam 07.00 hingga jam 16.00.

Konsep teaching factory juga menjadi fokus. Membawa budaya industri ke pembelajaran siswa. Contohnya anak-anak masuk sekolah harus finger print, demikian juga saat pulang. Yang lupa bisa kena poin. “Memang lupa itu biasa, tetapi kedisiplinan bisa dibentuk”.

Sementara budaya perusahaan di sekolah juga harus sesuai standar perusahaan juga. Produk harus laku terjual. Itulah sebabnya dikembangkan sense of quality, sense of efficiency and productivity, sense of team work, dan sense of entrepreneurship. Ini seperti tangga yang harus ditapaki oleh para siswa.

‘’Ini supaya anak-anak tidak kaget ketika kerja. Bahwa pesanan produk juga ada target selesai berapa hari. Menggergaji keliru, tidak bisa kita bilang tidak apa-apa dengan alasan masih belajar. Kan bisa merugi, karena proses untuk mengeringkan kayu itu saja sudah butuh biaya banyak”.

Di Indonesia SMK PIKA merupakan salah satu dari delapan sekolah yang dikelola para romo dan bruder Yesuit. Beda yayasan tapi punya semangat yang sama. Di seluruh dunia berjumlah 805 sekolah setingkat SMA. Semangat yang menyatukan  adalah 4C, yakni competence, compassion, conscience, dan commitment.

Anak yang sekolah di PIKA diajari supaya kompeten. Bukan hanya dari sisi otak tetapi tangan juga harus terampil, bisa membuat perabot, bisa ngetam, bisa mengoperasikan mesin.

Pintar saja tidak cukup, tapi harus punya kepedulian atau bela rasa terhadap orang lain, terhadap sesama, terhadap lingkungan hidup. Apalagi terhadap orang-orang kecil yang membutuhkan bantuan. ‘’Jadi sisi hatinya itu juga kami olah, bukan hanya sisi otak dan tangan,’’ katanya.

Namun juga perlu ditambah dengan jujur. Pintar, terampil, punya kepedulian, tetapi juga jujur yang merupakan sesuatu yang langka saat ini. Lalu siswa juga perlu memiliki komitmen. Harapannya, ketika siswa lulus dari PIKA akan terbentuk dari sisi karakter dan ketrampilan. “Hati, tangan , dan kepalanya semua jalan”.

PIKA berdiri tahun 1953. Awalnya bernama Keboen Kajoe, didirikan seorang bruder Yesuit dari Belanda, Br Joseph Haeken SJ, bukan merupakan sekolah resmi tapi merupakan bengkel yang memperbaiki berbagai perlengkapan dari gereja, susteran, atau lembaga pemerintah. Dalam perjalanan membuat berbagai produk  terus, tapi ternyata tidak bisa mencukupi permintaan yang semakin banyak.

Lalu muncul ide untuk membuat sekolahan untuk mendidik anak-anak muda Indonesia supaya mereka menjadi ahli kayu, sehingga bisa mendirikan perusahaan mebeler dan sebagainya. Bruder Paul Wiederkehr SJ dari Swiss pada tahun 1969 datang. Tahun 1973 berdiri sekolah resmi. Metode pendidikan mengacu langsung ke Swiss, sehingga bisa 70 persen praktek dan 30 persen teori.

Tadinya cuma mampu satu kelas dengan 25 siswa, padahal yang pengin masuk banyak sekali. Sekarang tiap angkatan dua kelas. Hingga kini sekitar 1600-an siswa sudah diluluskan oleh PIKA. Para alumni memiliki hubungan yang baik. Dalam hal magang, para alumni terlibat aktif karena ada mereka di berbagai perusahaan. Juga ada alumni yang memiliki sendiri perusahaan mebeler bagus. “Mereka siap membantu adik kelasnya”.

Alumni juga mengisi jam pelajaran di SMK PIKA, sehingga siswa memperoleh ilmu langsung dari industri. “Kami cuma menyiapkan snack dan makan siang hehehe,” katanya. Para alumni juga menyediakan bea siswa untuk adik-adik kelas yang kurang mampu melalui rekening bea siswa IKA PIKA. Semester lalu ada 16 anak mendapat bea siswa alumni. (bp)