Sama sekali tidak menyangka bahwa di Kudus ternyata ada sekolah animasi yang sangat keren. Bukan hanya bangunan sekolah dan interiornya saja, tetapi juga kurikulum, proses belajarnya dan tentu saja produk animasinya. Ya, sekolah itu adalah SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus, yang merupakan sekolah animasi pertama yang berstandar internasional.
RUS memodifikasi pendidikan yang konvensional menjadi lebih menyenangkan dalam proses pembelajarannya. Ruang kelas didesain sangat apik dan mewah, jauh dari kesan membosankan. Seakan bukan sedang berada dalam kelas, lebih seperti di lobi hotel mewah. Ruang kelas memakai berbagai tema misal game, animasi hingga fotografi. Bahkan tempat relaksasi juga ada di ruang-ruang pembelajaran itu. Ini khas ruang kerja generasi milenial.
Fasilitas untuk mendukung siswa belajar dan mengasah ketrampilan animasi juga komplet. Ada ruang animasi, ruang recording dan sound editing, ruang color grading, mini theatre, dan masih banyak lagi. Untuk bersantai ada ruang olahraga dan tempat berdesain unik, seperti menggunakan kumpulan Vespa untuk membuat deretan meja, VW yang digantung sebagai tempat relaks, dan sebagainya.
Tak heran di sekolah yang juga punya bidang desain komunikasi visual dan rekayasa perangkat lunak ini, para siswa betah berlama-lama belajar. Bahkan ada yang belajar hingga jam 22.00, karena sistem pendidikannya yang memang menyenangkan. Apalagi RUS didukung oleh guru-guru yang mumpuni, baik dalam negeri maupun internasional. Salah satu pengajar adalah Woody Woodman dari Walt Disney. Woodman terlibat dalam pembuatan animasi Mulan (1998), Tarzan (1999), dan Brother Bear (2003).

Fasilitas megah SMK RUS itu berkat kontribusi Djarum Foundation, yang tidak sungkan-sungkan mewujudkan pendidikan yang lebih baik bagi para siswa, terutama di SMK RUS. Djarum memasok kebutuhan dan fasilitas software maupun hardware komplet, dengan harapan para siswa itu bisa menjadi animator berkelas dunia.
Awalnya Grafika
Namun demikian, seperti dikemukakan Kepala Sekolah SMK RUS Faruddudin, butuh perjuangan panjang dan kerja keras untuk mewujudkan SMK RUS seperti sekarang ini. Dijelaskan, SMK RUS pertama kali berdiri untuk konsentrasi grafika, karena yang mendirikan pertama adalah PT Sukun yang membentuk Yayasan Raden Umar Said. Sukun punya percetakan, dan pada waktu itu bisnis percetakan sedang bagus. Waktu itu di Kudus belum ada SMK, maka didirikanlah SMK RUS dengan dua jurusan, pre press dan produksi grafika.
Dalam perjalanan, percetakan kalah oleh digital. Dunia percetakan mulai surut. Teknologinya juga berubah sangat pesat, sehingga SMK kewalahan karena teknologi tinggi juga mahal. Kemudian banyak unit yang dipangkas. Repro dipangkas, desain langsung diprint tanpa melalui layout dan foto. Sehingga salah satu jurusan juga dipangkas. Tapi kemudian RUS menambah Jurusan Desain Komunikasi Visual tahun 2013, karena di Kudus belum ada yang buka. “Kolaborasi kami yang berlatar seni rupa dan Pak Agam yang IT cukup pas,” kata Faruddudin. Agam Amintaha adalah Kepala Prodi Animasi dan Kepala Studio SMK RUS.
Pada saat itu, Djarum Foundation yang sedang banyak membantu dunia pendidikan, ingin mengembangkan industri kreatif. Setelah studi banding sekolah animasi di Batam, dan melihat prospeknya bagus, kemudian dicarilah SMK di Kudus yang memiliki potensi animasi. Pak Primadi dari Djarum Foundation menganggap RUS ini yang paling pas karena memiliki DKV dan guru-guru yang mengajar seni rupa.
Tahun 2014 kepala sekolah dipanggil Pak Primadi, ditanya visi dan misi serta komitmen para guru. Ketika ditawari untuk buka program animasi, mereka masih memasukkannya di dalam DKV. Lalu Djarum Foundation mulai masuk membantu untuk pelatihan dan infrastruktur. Lama-lama dirasakan jika animasi hanya di dalam DKV, perkembangannya kurang pesat. Akhirnya diputuskan membuka Jurusan Animasi sendiri tahun 2016.
“Sebenarnya kami masih awam terhadap animasi. Tapi ketika ditanya pihak Djarum ya kami katakan siap,” tuturnya. Yang penting, tambahnya, pihak Djarum melihat bahwa kami bersungguh-sungguh dalam komitmen. Lalu para guru pun dilatih dengan bantuan tenaga-tenaga profesional dalam negeri maupun luar negeri. Dari Disney, Woody Woodman dan dari Jepang Matsubari. Kemudian juga ada BASE dari Bali, Pak Daniel. Juga diundang para profesional bidang khusus sketsa dan khusus ilustrasi.
Woodman mengajarkan basic drawing meliputi garis, arsir, anatomi manusia, kemudian juga story board. Spesialisasi Woodma di story board, dan dia yang membuat story board Mulan dan Tarzan. “Namun beliau itu grade-nya tinggi karena juga sebagai dosen di Lasalle Singapura, sehingga anak-anak agak keponthal-ponthal,’’ katanya. Sehingga SMK RUS juga mengundang dari ITB. Jadi sebelum masuk ke materi Woodman, anak-anak diajari dulu oleh dosen dari ITB.
26 Siswa
Pertama kali buka masuk 26 siswa dari 26 pendaftar. Mereka tidak punya basic apa pun di bidang animasi. SMK RUS menerapkan model pembelajaran inovasi, supaya anak ke sekolah dengan nyaman dan tidak terpaksa, atau ketakutan. Maka disediakan tempat yang nyaman. Guru-gurunya yang rata-rata muda lebih berperan sebagai teman dan fasilitator, bukan instruktur. “Belajar seperti bermain, bahkan kadang tidak kenal waktu. Setiap hari belajar dari pagi sampai jam 21.00 bahkan kadang jam 22.00. Karena mereka nyaman dan enjoy, ilmu menjadi lebih mudah diserap”.
Agam menambahkan, dari 26 kemudian dibagi dua. Yang dinilai secara minat tinggi, dipilih 13 siswa. Mereka khusus dididik di animasi tiga bulan full. Pelajaran matematika, bahasa dan lain-lainnya tidak diberikan. Sebenarnya pro kontra juga, sebab 13 anak-anak yang lain di kelas merasa dianaktirikan. Namun tetap jalan.
Siswa yang punya kemampuan menggambar bagus diarahkan menjadi konseptor, sementara siswa lain diarahkan sesuai minat mereka. Karena animasi 3D ini antara art dan teknologi fifty-fifty. Kemudian yang dididik di studio dikumpulkan lagi dengan teman-temannya yang di kelas. Satu anak mendampingi satu anak, dan ini ternyata lebih mudah dalam penularan ilmu.
Menurut Faruddudin, belajar satu semester, mereka sudah bisa membuat film. Dibuatlah teaser Pasoa dan Sang Pemberani sepanjang dua menit. “Ditarget Pak Primadi, kami sempat molor tiga bulan tetapi Djarum memaklumi. Kemudian ketika jadi dilaunching oleh Pak Triawan Munaf (Kepala Badan Ekonomi Kreatif, red) dengan sound track oleh Isyana Sarasvati. Kemudian ditantang untuk dibuat movie-nya meski hanya 22 menit. Ke-26 anak itu bekerja giat, meski molor dan selesai setelah 15 bulan tetap diapresiasi dan dilaunching di CGI Grand Indonesia.
Waktu itu rencananya sama Presiden, tetapi karena berbarengan dengan acara di Australia diwakili Teten Masduki. Reward lain, Pasoa ditayangkan di SCTV tanpa iklan. Semua dibayar oleh Djarum. Sebagai apresiasi positif terhadap kerja ke-26 siswa tadi.
Djarum kemudian menambah bantuan untuk pengembangan sekolah, dari 2014 hingga sekarang sudah dikucurkan sekitar Rp 51 miliar berupa pemenuhan kebutuhan sekolah. “Caranya juga luar biasa. Kami cukup lisan kebutuhannya apa, tanpa proposal, terus dibelikan, dan tinggal tanda tangan tanda terima,’’ katanya. Djarum hanya mengecek sejauh mana bantuan ini memberikan manfaat bagi kepentingan para siswa. Kalau siswa tidak mendapat manfaat, tentu saja pihak Djarum akan memberikan peringatan. Saat itu ada 16 sekolah yang mendapat bantuan, dan tidak semua masih mendapatkan bantuan sampai sekarang. Hanya sekitar lima saja di Kudus yang masih dibantu.
Diserbu Pendaftar
Pada tahun kedua, pendaftar luar biasa, hampir 200 calon siswa.Yang diterima hanya 72. Tahun ketiga 300-an, datang hampir dari seluruh Indonesia, mulai Papua sampai Aceh. Diterima 108 untuk tiga kelas. Sebenarnya tadinya cuma terima 72, tetapi animo masyarakat dari luar kota yang tinggi membuat pihak sekolah menambah kelas. Tahun ini yang mendaftar 500-an dari Aceh – Papua juga, dan cuma bisa diterima 108 untuk tiga kelas.
Setelah berhasil membuat Pasoa, semua hasil karya kemudian berdasarkan proyek. Di antaranya dari PFN, berupa sebagian episode Si Unyil. Kemudian juga dari berbagai industri. “Penilaian kelayakan belajar anak berdasar kelayakan jual. Ini riil. Karena berdasar proyek, maka harus laku, baru kemudian dinilai. Kalau belum laku, ya harus revisi”.

Hal itu juga akan menjadi portofolio ketika mereka lulus. Sebagian besar siswa angkatan pertama sudah punya catatan nama mereka di berbagai film animasi. Cukup kuat untuk melamar pekerjaan. Apalagi banyak perusahaan yang sudah memesan mereka ketika masih kelas dua.
Dijelaskan, bahwa untuk biaya operasional dan perawatan sekolah yang besar sekali harus ditanggung pengurus sekolah sendiri. Karena dari BOS tidak mencukupi, biaya sekolah juga tidak cukup, maka kemudian dilakukan teaching factory, yang kemudian menjadi proyek percontohan di Kemendikbud.
Model pembelajaran berdasarkan teaching factory berarti praktik siswa berdasarkan proyek. Jadi studio di dalam sekolah. Semua order pekerjaan yang mengerjakan adalah para siswa sebagai praktik mereka. Ini juga menjadi tolok ukur kompetensi siswa dan ada profit masuk. Nah, hasil proyek inilah yang dipakai untuk biaya operasional.
Model ini cocok untuk sekolah vokasi. Tuntutannya lulus harus siap kerja. Ketika siswa lulus siap kerja, maka mental juga harus disiapkan mental pekerja atau industri. Sehingga budaya yang dibangun juga harus budaya industri. “Problemnya buat SMK ketika harus berbudaya industri adalah pada guru. Ketika lulus perguruan tinggi, mereka tidak berbekal budaya industri meskipun kompetensinya bagus”.
Solusinya kemudian sekolah menggandeng industri, dan kini memiliki sekitar 25 mentor dari industri dan alumni untuk menggalakkan budaya industri. Perusahaan dari Yogyakarta digandeng. Jadi semua guru dan siswa harus ber-mind set industri. Ketika siswa masuk gerbang sekolah, mind setnya bukan masuk sekolah, tetapi masuk ke industri. Maka dibuat SOP industri, di sekolah ada jalur evakuasi, jalur untuk berjalan siswa, guru juga harus mengikuti. Ketika masuk studio, juga harus siap untuk bekerja.
Kemudian ada jadwal yang meliputi normatif adaptif yang merupakan teori, jam pertama hingga jam 16.00, lalu jam 17.00 hingga jam 22.00 masuk praktik studio dengan mind set industri bergabung dengan para mentor. Dan ternyata di industri animasi memang jam kerja mulai jam 10.00 sampai jam 22.00, misalnya seperti di MD, yang bahkan meeting jam 21.00.
Agam menambahkan, Pasoa menjadi pembuka teaching factory. Setelah Pasoa muncul, kemudian berdatangan pemesanan untuk membuat produk animasi bagi perusahaan. Unyil adalah pesanan dari PFN, kemudian Jay Subiakto memesan film dokumenter tentang Banda, perjalanan jalur empat mengapa Spanyol datang ke Nusantara. Ada adegan-adegan yang harus dibuat animasinya.
Kemudian ada pekerjaan dari Singapura, berupa animasi belajar menghitung untuk anak-anak di sana. Lalu dari Bandara Changi untuk menyambut natalan. Pekerjaan juga datang dari China, Kanada. Juga dari Saloka Tuntang untuk promosi. Kemudian juga ada pesanan edukasi lalu lintas kepada anak-anak dari Toyota Astra Motor. “kalau kita jalan kaki di trotoar ternyata harus di sisi kanan, supaya bisa mengawasi kendaraan yang berlalu lalang”. Juga dari Djarum. Biaya pembuatan sekitar Rp 100 juta per menit, tergantung kerumitan produk.
Menurutnya, teaching factory diterapkan di kelas dua. Kelas satu masih belajar basic secara umum.
SMK RUS juga sedang mengembangkan jaringan SMK, yang meliputi sekitar 20 sekolah. Kemudian membuat proyek animasi yang dikerjakan oleh SMK-SMK di Indonesia. Harapannya film ini nantinya bisa dipasarkan secara global. “Ini yang kami inginkan untuk memajukan industri animasi nasional. Lagian kita kan punya industrinya, pendidikannya, yang formal SMK yang nonformal training centre”.
Sekarang ini industri menyatakan kekurangan manpower animasi, namun dari SMK dikemukakan bahwa jumlah lulusan cukup banyak. Ternyata masalahnya adalah standar kualifikasi yang ditetapkan terlalu tinggi untuk para lulusan SMK. Jadi ketika ada lowongan, anak-anak tidak berani mendaftar masuk.
Memang Kemendikbud juga sudah memberikan silabus yang lengkap, mulai studi animasi, motion graffic dan sebagainya. Namun jika semua itu dipelajari, tentunya tidak mendalam. “Makanya kami di sini fokus pada animasi 3D”. Ini pun masih bisa dipecah lagi dalam berbagai divisi pada spesialisasi jurusan masing-masing. Contohnya konsep, yang menggambar dan membuat karakter. Lalu ada story board. Kemudian modelling artist, yang membuat konsep dua dimensinya menjadi patung tiga dimensi. Ada texturing yang memberi tekstur warna. Rigging yang membuat tulang-tulang agar bisa digerakkan. Ada layout, menata kamera, dan lain lain.
Dan di industri jika membuka lowongan yang dicari animator, konseptor, modeller artist, lighting artist, bukan dicari yang bisa animasi 3D. Jadi yang dicari spesialis di bidang masing-masing. “Itulah sebabnya di sekolah kami, pembelajaran di kelas 1 general atau basic, kelas 2 fokus spesifik pada yang diminati berdasarkan real project. Di kelas 3 siswa akan kumpul dengan beberapa teman untuk membuat sebuah proyek akhir. “Hasilnya memang bisa memenuhi keinginan industri. Siswa sendiri sejak awal sudah memiliki minat, apakan menjadi kompositor, editor, atau yang lain.” Itu yang membedakan SMK RUS dengan SMK lain. “Kami memang menyiapkan siswa kami lulus untuk langsung bisa bekerja”. (BG)
Padmanews.Id Online Lifestyle News






