22 April 2021
Home / Food Story / Kue Bulan Tiong Ciu Pia

Kue Bulan Tiong Ciu Pia

Orang Tionghoa  di sepanjang masa merupakan masyarakat petani pemuja rembulan. Setelah berjerih payah menggarap ladang di bawah terik matahari, mereka santai beristirahat di malam bulan purnama sambil mengenang sanak famili maupun kampung halaman asal mereka di kejauhan. Dengan demikian juga sering menitipkan harapan harapan mereka kepada rembulan supaya diberkahi kebahagiaan dalam percintaan, kerukunan rumah tangga, panen yang berlimpah, banyak rejeki, banyak anak dan keturunan.

Dibanding matahari yang sudah pasti muncul setiap hari, mereka harus menunggu tibanya waktu bulan purnama setiap tangggal 15 imlek dimana mereka  memuja kemurahan Dewi Rembulan karena diberkahi turun hujan yang menyuburkan tanah pertanian sehingga menghasilkan panen yang berlimpah.

 Rembulan yang kebetulan juga tampaknya jauh lebih besar dan terang sewaktu panen, sebelum mereka mengerti itu sekedar fenomena alam dimana bulan sedang mendekati bumi dimusim rontok, dianggap pertanda bekal kemakmuran. Ini menambahkan perasaan syukur dan riang gembira di bawah bulan purnama sehingga perlu dirayakan secara besar besaran yang menjadikan tradisi Tiong Ciu yang sekarang disebut Festival Bulan.

Tiong artinya bertepatan, Ciu adalah panen, yang jatuh pada bulan purnama pada tanggal 15 bulan ke 8 Imlek. Karena masa panen di musim rontok,Tiong Ciu pada umumnya diartikan “Di pertengahan musim rontok”.

Adat rakyat jelata merayakan panen ini kemudian menjadi upacara para raja bersembahyang pada Dewi Rembulan di malam Tiong Ciu. Sejauh 3000 tahun lalu, Maharaja Dinasti Zhou membawa seluruh keluarga dan pejabat tingginya, menyuguhi kue basah, semangka dan labu kuning kepada Dewi Rembulan. Upacara itu diteruskan dari dinasti ke dinasti.

Setiap festival Tionghoa tidak ketinggalan satu makanan khas yang sudah menjadi ketentuan. Ada 3 perayaan besar dalam setahun Imlek, pertama tama makan ronde pada hari raya Cap-go-meh, kedua makan bacang pada hari raya Peh-cun dan ketiga, Tiong Ciu dirayakan dengan kue bulan.

Terlalu banyak penafsiran asal muasal Tiong Ciu Pia sehingga menarik perhatian sejarawan Tiongkok jaman sekarang untuk meluruskan riwayatnya. Memang bukan pula suatu hal yang mudah untuk memastikan cerita mana yang benar dan mana yang kurang bisa dipercaya. Satu hal yang pasti, kue bulan itu bukan merupakan makanan yang dikenal masyarakat petani ribuan tahun yang lalu karena kue atau pia itu adalah hasil impor di kemudian hari.

Makan umbi talas atau bentul itulah yang asli dari semuanya. Sekitar 3000 tahun yang lalu, sewaktu petani panen gandum, di saat yang bersamaan tanaman talas dan bentul juga sedang berbuah di rawa-rawa yang siap diambil begitu saja. Selain menjadi bahan pangan tambahan juga bisa diolah menjadi berbagai hidangan kue kue pedesaan. Kisah itu juga tidak lepas dibumbui kepercayaan dan cerita sejarah yang bersangkutan dengan Tiong Ciu.

Pembuatan Pia

Pia dibuat dari adonan tepung dan air yang diisi ramuan pasir kacang hijau dan gula di dalamnya, lalu dipipihkan dan dipanggang menjadi bentuk kue. Ini bukan dari semula dibuat untuk merayakan Tiong Ciu, itu adalah bahan suguhan buat sembahyang pada Dewa Petir.

Dipercaya kue pia ini merupakan suatu modifikasi dari roti atau nan yang asalnya dari Persia. Yang dibawa kembali oleh Zhang Qian, duta besar Tionghoa Han Barat sewaktu diutus ke Sogdiana pada abad 2 Sebelum Masehi. Dia member tambahan isi biji wijen, kenari dan manisan kering dari sana yang menjadikan kue pia Barbar, ho-pia, penamaan yang berarti kue asal dari orang Persia yang berkumis lebar.

Selama 800 tahun kue ho-pia terus menyebar menjadi camilan biasa di kalangan ibukota Chang’an, Xi’an sekarang, sampai suatu malam Tiong Ciu di masa kejayaan Tionghoa Tang di abad 8 Masehi.

Seperti biasa pada malam Tiong Ciu tersebut, Maharaja Tang Xuan-zong dan Rani Agung Yang Gui-fei bersama keluarga dan pejabat tinggi beramai-ramai merayakan Festival Bulan di Summer Palace, Hua-qing-gong di Lishan. Di atas mejanya tersedia banyak buah-buahan tradisi untuk festival bulan  labu kuning, semangka, buah anggur dan lain lain, juga dihidangkan berbagai camilan kue-kue dan pia.

Yang Gui-fei  sambil menikmati acara tarian yang disukai, sambil mengambil sebiji pia dan hanya dicicipi sedikit, ternyata pia tersebut merasakannya sangat enak dan dia menyukainya, terus berbisik kepada Maharaja, “Pia apa ini?”. Sang Raja segera menanyakan pada orang orang disitu, tidak ada yang mengenalnya sehingga kokinya dipanggil menghadap. Kokinya menerangkan bahwa kue itu adalah kue barbar, ho-pia, kue biasa di kalangan rakyat jelata, hanya saja memang belum pernah masuk istana.

Maharaja merasa kue pia yang membuat selir kesayangannya menyukainya tetapi mempunyai nama yang kurang angggun,pia barbar, yang artinya pia orang berkumis meminta Gui-fei, selirnya, member nama yang pantas.

Sementara itu Gui-fei mengangkat pia dengan 2 jari mungilnya dan membandingkannya ke terang bulan di langit, lalu keluar dari mulutnya.”Pia Bulan”. Maka sejak saat itu juga resmi kelahiran Kue Bulan, Tiong Ciu Pia.

Ada juga legenda Pia Bulan semasa revolusi Tionghoa menjatuhkan kekuasaan Tartar Mongol di abad 13. Pada akhir kekuasaan Tartar Mongol di Tiongkok, rakyat memberontak atas kekerasan pemerintahnya, dimana ada seorang pemberontak yang bernama Zhang Shi-cheng menggunakan adat makan Tiong Ciu Pia. Dia menyelipkan kertas tulisan di dalam setiap pia yang diedarkan untuk memanggil Tionghoa berontak bersama pada malam purnama. Dia yakin bisa berhasil  karena Mongol pantang makan daging babi yang merupakan isi pia pada jaman itu. Dengan demikian Mongol dijatuhkan oleh Tionghoa Ming.

Dari penyidikan sejarawan Tiongkok sekarang, tidak bisa menemukan ketulenan dasar legenda tersebut di atas. Sekian lama cerita yang menarik itu sudah menyebar ternyata hanya salah kaprah, sekarang sudah dinyatakan tidak bisa dipercaya, alias hoax.

Pada umumnya ada 2 pilihan Tiong Ciu Pia yang dijual sekarang. Yang pertama Tiong Ciu Pia khas Tanglang dari Hokkian yang merupakan keturunan asli ho-pia dari Dinasti Tang. Ini yang bentuknya seperti cakram, berkulit tebal putih yang di permukaan depannya ada cap merek atau tulisan merah. Berisikan coklat, keju, nanas, durian, campuran kenari mede dan apa saja.

Kedua, Tiong Ciu Pia khas Hongkong, kreasi orang Kanton yang merupakan silinder pendek, berkulit tipis warna keemasan, ada ukiran di permukaan depannya. Berisi lumpur biji teratai atau kacang merah, bisa ada satu atau dua kuning telor asin di dalamnya. Ini merupakan yang terpopuler karena sejak awal abad lalu dibawakan oleh orang Hongkong yang sudah menyebar ke segala pelosok dunia.

Kue bulan yang bulat melambangkan keutuhan keluarga, bagi bagikanlah seperempat irisan kue bulan kepada keluarga dan teman teman dan menikmati keindahan bulan purnama bersama sama, beginilah tradisi kerukunan Tiong Ciu.

Untuk kesehatan umum konsumen, Tiong Ciu Pia jaman sekarang sudah tidak lagi memakai bahan minyak babi, sehingga tidak pantang untuk memakannya dalam merayakan Festival Bulan bersama. (Anthony Hocktong Tjio, penggemar dan penegak ketepatan sejarah)

(Disadur oleh C.N.Hendarto)