22 April 2021
Home / Lifestyle / Eric, Kolektor Mainan Robot Dari Gundam hingga Iron Man

Eric, Kolektor Mainan Robot Dari Gundam hingga Iron Man

Memasuki ruangan itu seperti memasuki “surga” mainan robot. Itu adalah kamar dimana Eric Pranata Hadisurya menyimpan ribuan mainan robotnya di rumahnya. Koleksinya tertata rapi dalam sebuah lemari besar, bahkan sampai di atap lemari. Kemudian ada di dalam dua rak berdiri, serta beberapa rak yang menempel di dinding. Juga dipenuhi berbagai mainan robot.

Di kamar itu juga ada meja kerja yang dipenuhi botol-botol cat. Ini jadi tempat Eric untuk memperindah tampilan koleksi dengan mengecatnya memakai kuas maupun air brush. Tak hanya di kamar ini, di ruang tamu pun dia memanjang beberapa koleksi ukuran besar (35 cm) di atas meja. Koleksinya terdiri dari robot dan action figure Gundam, Macross, Ultraman, Godzilla, Kamen Rider, robot jadul seperti Getter Robo, Mazinger Z. Kemudian juga ada Iron Man dan Saint Seiya. “Kalau koleksi robot Jepang yang paling umum adalah Gundam,’’ katanya.

Menurutnya, Gundam juga terdapat dalam beberapa pilihan, untuk pemula sampai kolektor dewasa. “Untuk kolektor dewasa umumnya membeli action figure yang lininya sekarang ini bernama metal build dan robot spirits,’’ tambahnya. Sementara model kit dibagi beberapa grade juga, dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit.

Grade model kit, lanjut Eric, adalah SD atau super deformed atau cebol, high grade (HG) dengan skala 1/144, master grade (MG) berskala 1/100, perfect grade (PG) dengan skal 1/60, mega size berskala 1/48, dan HY2M dengan skala 1/12.

Eric mengenal robot pertama kali waktu masih sekolah di SMP Domenico Savio Semarang pada 1995 (tidak meneruskan dan 1998 pindah ke Australia). Mainannya adalah Gundam, yang waktu itu banyak ditemui di toko mainan Big Bang. Pertama kali melihat mainannya di rumah Revano (kini arsitek, putera arsitek senior Johnny Hendrawan, red). Sejak itu mencoba beli satu dua, tetapi hasilnya jelek dan selalu hancur.

“Karena tidak pernah mainan dan belum ada youtube yang memandu pembuatannya. Motong pakai gunting biasa, padahal seharusnya pakai gunting khusus. Prosesnya juga asal-asalan, lem pakai alteco hahaha…,” kata ayah dua anak ini.

Waktu pindah ke Sydney, Australia sebenarnya sudah meninggalkan mainan itu. Namun di sana justru ketemu toko mainan, dan mulai beli satu dua. Waktu itu juga belum terlalu populer seperti sekarang. “Tujuh tahun cuma beli 20 mainan”.

Pulang ke Indonesia tahun 2006 masih meneruskan hobi mengoleksi Gundam, sampai kemudian muncul hot toys, yakni Iron Man. Kemudian juga mulai merambah ke model kit lain, seperti Transformers. Saat muncul video game Super Robot War, yang merupakan kumpulan robot-robot Jepang dari pertama hingga terkini, kesukaan terhadap Gundam makin menjadi. Ada juga Geta Robo dan Shogun Geta. Selera juga merambah ke action figure, yang pada awal-awal tetap pada produk yang dari Jepang, lalu ke Hong Kong juga.

Di Semarang ada toko Gundam, Unicorn Toys di sekitar Gedung Batu. Dulu beli online dari luar negeri sangat gampang, bisa beli berapa saja. Sekarang dibatasi, sebulan hanya boleh beli tiga mainan. “Ini karena Pemerintah berusaha untuk menekan impor. Pemicunya adalah viral seorang kolektor mengimpor banyak mainan, dan ditahan Bea Cukai. Karena marah, si pemilik menghancurkannya. Lalu Pemerintah mengeluarkan keputusan mengimpor itu maksimal tiga per bulan per customer”.

Sejak Kecil

Waktu kecil ia suka menonton film tentang robot-robot, namun masih belum ada mainannya. Sekarang sudah ada dengan teknologi dan akurasi yang bagus. Dulu ada tapi kepalanya masih besar, jadi tidak proporsional. Kesenangannya yang utama adalah sudah memiliki semua robot itu, dan teknologinya selalu diperbarui, sehingga bisa mengoleksi lagi.

Dulu yang terkenal hanya beberapa pabrik, sekarang sudah makin banyak pabrik mainan, bahkan di China, baik yang berlisensi maupun tidak. Mereka punya ciri khas masing-masing, desain dengan karakter masing-masing, mainan yang bisa berubah bentuk, dibuat dan dibentuk sendiri, serta dibuat gagah dengan berbagai aksesori.

Robot Jepang ada yang SD atau super deformed, yang memiliki badan kecil dan kepala besar, kemudian oleh China dibuat mainan yang ukurannya normal dan proporsional. “Kebanyakan produk yang dijual Jepang ini sekarang adalan buatan China, yang membedakan cuma lisensinya saja. Mau yang KW atau orisinal’’. Tetapi bedanya pun sekarang tipis. “Bagi saya, kalau barangnya beda ya saya beli”.

Gundam sekarang tidak hanya model kit, namun juga ada yang sudah jadi dan model besinya. Lininya adalah metal build, namun oleh China dibuat KW-nya sebagai model kit. Bentuknya sama. Harganya hanya seperenam produk Jepang. “Sudah ada warnanya dari sana, tapi masih bisa diberi warna sendiri”.  Biasanya memang line art-nya berwarna putih. Nah bagi yang suka membangun dan mewarnai (customized) Gundam ada kompetisi Gundam Builders World Championship.

Eric menuturkan untuk mengecat perlu masker, karena proses pengecatan bisa memakai kuas atau air brush. Kalau bidangnya besar pakai air brush, kalau kecil pakai kuas. Namun biasanya dia beli Gundam, terus dirakit, yang polos ditambahi aksesori dan diampelas, lalu dimasukkan lagi ke kotaknya. “Ngecatnya lagi entah kapan, hahaha…”. Aksesori bisa dibeli yang sudah jadi di Gundam, tetapi jika ingin bikin sendiri juga bisa pakai plastic sheet (fla plate) yang kemudian dipotong dan dibentuk sendiri sesuai keinginan kustomisasi.

Sekarang semua pembelian kebanyakan pre-order. Bujet yang harus disediakan juga berbeda-beda. Hot toys seperti Iron Man setinggi 35 cm sekitar Rp 6 juta. Gundam juga ada yang bakal keluar, harga sekitar 95 ribu yen, tapi masuk masuk Indonesia bisa berharga sekitar Rp 17,5 juta. Ini Metal Structure Nu Gundam, yang merupakan salah satu desain terbaik dari hasil survei penggemar.

Sudah pesan? Eric hanya tertawa. Menurutnya, semoga dia bisa mendapatkannya, karena di Indonesia nantinya hanya ada sepuluh. Dan ini merupakan karakter terakhir Gundam. “Gundam memang berat di isi cerita. Pesan dari pembuatnya sebenarnya dalam sekali, yakni antipeperangan. Perang itu tidak ada yang bener tidak ada yang salah. Kedua sisi pasti rugi”. Orang Jepang memang sangat suka menyampaikan pesan-pesan yang mengingatkan. Misalnya Godzilla, yang mengajak untuk memperhatikan pentingnya lingkungan. Eric juga mengoleksi semua anime robot-robot itu. Ia juga mengoleksi Macross, yakni robot yang bisa berubah jadi pesawat. Selain itu, ia juga memiliki buku-buku komik Gundam dan lain-lain. Untuk Gundam yang pertama, dia menjelaskan, awalnya adalah animasi, kemudian dibuatlah filmnya. Namun sang penulis ternyata tidak puas. Maka dibuat ulang lewat manga, dan disesuaikan dengan perkembangan jaman. “Sayangnya sekarang pesan-pesan yang dalam sudah tidak ada lagi, dan Gundam hanya menjual mainan kepada penggemar”. (BP)