
PT Graha Padma Internusa, developer Perumahan Graha Padma, akan mempersembahkan sebuah ikon baru di Semarang, tepatnya di wilayah Semarang Barat. Ikon itu adalah sebuah distrik pusat bisnis atau central business district (CBD) yang akan dibangun di areal bekas pabrik baja PT. Inti Steel seluas 27,57 ha.
CBD disebut juga sebagai kawasan bisnis terpadu, diperuntukkan sebagai pusat bisnis, niaga, komersial, dan rekreasi di kota besar. Itulah sebabnya CBD juga menjadi ikon dari kota di mana kawasan itu berada.
Salah satu alasan dibangunnya sebuah CBD adalah untuk memusatkan semua kegiatan bisnis, ekonomi, dan rekreasi dalam satu kawasan yang mudah dijangkau oleh masyarakat.
Dengan akses yang didukung oleh layanan transportasi umum terpadu dari dan menuju CBD, masyarakat diharapkan bisa dengan mudah menjangkau kawasan CBD. Pemusatan kegiatan-kegiatan yang memutar roda perekonomian ini juga diharapkan dapat mengurangi kemacetan. Ini karena masyarakat yang bekerja dan berekreasi terpusat dalam satu area
CBD Graha Padma ini memiliki akses utama masuk di kawasan Jrakah yang akan tembus langsung ke kawasan lama di Krapyak (Hanoman). Posisi gerbang utamanya yang berada di pertigaan Jrakah membuatnya dapat diakses dengan mudah melalui pintu exit tol.
Manager Teknik Perencanaan PT. Graha Padma Internusa Tri Wikandari yang didampingi Kepala Bagian Perencanaan / Arsitek Dandun Dwianantyo S menjelaskan, begitu mau memasuki kawasan disambut gerbang atau bukaan jalan 67,16 meter. Jalan masuk ini 8 lajur, empat masuk dan empat keluar, dilengkapi pedestrian 2×4 meter, yang kemudian melebar menjadi 2×8 meter. Boulevar 4 meter.
Ada juga fly over yang akan menghubungkan CBD dengan Perumahan Graha Padma. Panjang fly over 443 meter, dengan ketinggian di ujung wilayah CBD 21 meter dpl. Fly over ini akan dibangun di atas rel kereta api, dengan beda tinggi antara rel kereta api terhadap jalan tertinggi adalah 21 meter. View yang bisa dinikmati adalah kawasan Perumahan Graha Padma, Bandara Ahmad Yani, dan laut.

Area CBD ini diproyeksikan menjadi kawasan komersial (mall, pusat hiburan, perkantoran), SOHO, dan residensial (hotel, hunian, apartemen) yang megah, ikonik, penuh inovasi, serta memiliki nilai investasi. Juga dilengkapi dengan fasilitas sosial seperti active park, lake area yang merupakan kolam pengendalian air, dan green area atau open space.
Taman di antara dua bangunan mall di dekat pintu fly over akan memiliki sculpture berciri khas Jateng. Selain itu, tambah Tri Wikandari, di bawahnya akan ada terowongan yang menjadi area penghubung di antara kedua mall tadi.
“Ini adalah area komersial yang menjadi centre of interest. Owner PT Graha Padma Internusa menginginkan tempat ini bisa diakses dengan mudah oleh umum,” kata Dandun. Sehingga orang yang tidak belanja di mall pun bisa bersantai di connecting tunnel.
Mall pun nantinya bukan mall biasa, tetapi digagas lebih ke thematic mall. Selain itu juga akan dilakukan penghijauan area.
Gandeng Urbane Indonesia
Tak tanggung-tanggung dalam menggarap CBD ini, Graha Padma menggandeng tim perancang urban dari Bandung, Urbane Indonesia, yang didirikan Ridwan Kamil (sekarang Gubernur Jawa Barat). Perusahaan ini telah memenangkan berbagai penghargaan perancangan dari dalam dan luar negeri.
Urban Design Director Urbane, Ismail Reza menggambarkan rancangan urban CBD yang didukung dan diakomodasi oleh pemilik. Menurut Reza, merancang CBD jangan hanya berpikir soal bangunan, tetapi harus berpikir tentang manusia yang akan tinggal dan beraktivitas di sana.

“CBD adalah the future, maka harus kita pikirkan efisiensi, situasi bangunan yang semua naik ke atas, orang yang tinggal, bekerja dan bermain. Sehingga kawasan ini harus menjadi destinasi. Jadi tidak bisa sekadar mengcopy resep kebanyakan developer. Harus punya keunikan, dan ini yang diinginkan owner,” tuturnya.
Dalam pandangan Reza, kontur tanah lokasi CBD yang tinggi merupakan kelebihan. Di ketinggian itu bisa melihat pemandangan Perumahan Graha Padma, Bandara Ahmad Yani, dan juga laut. “Ini bisa menjadi high light”.
Konteks posisi Graha Padma secara keseluruhan yang berada di sebelah bandara merupakan posisi yang sangat jarang. “Ini posisi yang ikonik. Setiap orang yang akan mendarat pasti melihat kawasan Graha Padma,” katanya.
Ini semua, menurut Reza, menjadi bahan pertimbangan untuk mendesain kawasan CBD Graha Padma. “Jadi bukan sekadar buat bangunan. Tapi bagaimana orang bisa bergerak, bisa jalan, bisa mengakses CBD dengan mudah. Kontur diatur supaya orang berjalan dengan mudah, sembari disuguhi tempat tempat yang memungkinkan beristirahat”.
Sebagai gambaran, di Hong Kong tadinya ada area yang tidak laku dijual, karena tidak ada orang yang berjalan melewati kawasan itu. Kemudian diambil kebijakan untuk membuat pintu-pintu MRT di area – area yang mati itu.
“Jadi orang yang berjalan kaki itu memiliki dampak luar biasa. Lagi jalan, ada toko keren, mampir dulu. Lagi jalan, lapar, berhenti karena ada restoran. Ini tentu beda dengan jika pakai mobil, karena mikirnya pasti saya dari sini mau ke sana,” tuturnya.
Jadi, tandasnya, kekayaan kota atau kekayaan urbanisme adalah itu. Orang jalan menemui sesuatu yang menarik minat mereka, ketemu orang lain, kenalan, dan lain-lain. “Hal-hal ini juga bisa jadi pegangan pengembangan CBD Graha Padma”.
Kaitannya dengan posisi sebagai destinasi, Reza menegaskan, fungsi-fungsi besar seperti mall sudah tidak bisa hanya gedung yang nantinya diisi banyak tenant. Sebab kalau itu yang dipikirkan, maka akan sama saja dengan tempat-tempat lain.

Urbane menyampaikan gagasan CBD Graha Padma nantinya bisa dikreasi berbagai hal yang bisa jadi ciri khas yang dikemas untuk mall tematik yang akan dibangun. “Jadi kita lihat ke dalam saja apa yang kita punya, dan itu jadi bahan pengembangan tematik kita”.
Apalagi tren mall sekarang adalah bukan lagi sebagai tempat belanja, tetapi tempat leisure, makan, hang out dan ketemu sama orang. “Tema-tema ini harus dibreakdown dulu, baru kemudian diterapkan dan ingin membuat bangunan yang seperti apa…”.
Itulah sebabnya dua mall yang akan dibangun di CBD Graha Padma nanti tetap mempertahankan spirit owner, tetap bisa melihat Perumahan Graha Padma dan Bandara Ahmad Yani. Selanjutnya adalah bagaimana memanfaatkan kontur lahan untuk apartemen dan hotel, yang didesain di tengahnya terdapat sawah. “Inilah cerita inovasi itu,” ucap Reza.
Tematik area di bawah dekat rel kereta api lebih hijau. Gedung hotel dan apartemen bisa menggunakan atap rumput. Ada kolam dan ada kawasan hijau berupa sawah. Kenapa sawah? “Kembali ke keinginan menjadi destinasi, berapa banyak sih kesempatan orang datang ke mall untuk merasakan panen atau menanam padi juga? Bayangkan anak-anak memotong padi pakai ani-ani, terus makannya Kentucky Fried Chicken. Itu unik sekali, itulah the future…”.
Bayangkan pula, tambahnya, ada saung kecil di tengah sawah dan orang di situ mengerjakan pekerjaan dengan fasilitas Wi-Fi, dan di sebelah sana ada mall. Atau ini, mengajak meeting klien di tengah sawah sambil ngopi Starbucks.
“Itulah sebabnya dalam membangun destinasi, pemikiran harus holistik. Tidak bisa hanya membangun gedung yang ikonik. Bangun gedung kalau tidak tahu isinya ya percuma. Bikin event, kalau cuma standar juga percuma. Semua hal itu harus saling bersinergi,” kata Reza.
Sinergi itu meliputi pertama, konteks tempat yang unik. Kedua, desainer yang cukup gila, dan ketiga, owner yang bisa mengakomodasi. “Ini terjadi di sini, di Graha Padma. Tinggal diletakkan dalam satu wadah, CBD Graha Padma”. (bp)
Padmanews.Id Online Lifestyle News





