30 May 2026
Home / Figure / Michael Bambang Hartono: ANAK SEKARANG PANDAI

Michael Bambang Hartono: ANAK SEKARANG PANDAI

Anak sekarang pandai-pandai. Pernyataan ini dikemukakan oleh Michael Bambang Hartono, saat dimintai komentar soal generasi milenial. ‘’Anak sekarang pandai-pandai. Sistem pendidikan kita sudah baik, teruskan saja,’’ kata Bambang kepada tim PadmaNews, Sabtu (8/2/2020).

Di temui di sela-sela Reuni Akbar 90 Tahun Sekolah Nasional Karangturi di kampus sekolah Karangturi yang berada di lingkungan Perumahan Graha Padma, Bambang tampil bersahaja. Kehadiran orang paling kaya se Indonesia total kekayaan 38 miliar dollar sekitar Rp 508 triliun, versi Majalah Forbes 2019) ini bagaikan magnet bagi peserta reuni yang lain.

Begitu masuk ke gedung pertemuan yang menampung lebih dari 5.000 alumni hingga duduk di baris pertama,

banyak alumni yang datang untuk bersalaman, foto selfi, ngajak foto bersama, dan ngobrol ke sanakemari. Dan, dia melayani dengan sepenuh hati, tidak terlihat sekadar basa-basi. Tokoh nasional ini yang juga sangat familiar dan rendah hati.

Bahkan, di sela-sela acara, dia tetap mau diajak keluar gedung tempat reuni itu untuk foto bareng adik-adik angkatannya. Bambang juga tampil sangat sederhana dan bersahaja. Dia ‘’patuh’’ dengan aturan panitia reuni yakni mengenakan baju putih lengan panjang dan celana warna hitam, seperti dress code yang dikenakan alumni Karangturi lainnya.

Menjawab pertanyaan PadmaNews soal persaingan global di era milenium, Bambang menyatakan optimistis bahwa generasi penerus Bangsa Indonesia akan tetap bisa memenangi persaingan global. ‘’Kita tetap hebat.’’

Ya, di tengah kesibukannya yang luar biasa, Bambang Hartono tetap hadir sebagai peserta RAK 90. ‘’Mengapa tidak? Ini reuni 90 tahun sekali. Saya angkatan tahun 1960,’’ jelasnya. Michael Bambang Hartono (Bahasa Hokkian:Oei Hwie Siang), lahir di Kudus, Jawa Tengah, 2 Oktober 1939. Artinya, pada 2 Oktober 2020 nanti dia sudah berumur 81 tahun. Dia adalah salah satu pemilik perusahaan rokok kretek Indonesia, Djarum.

Ayahnya, Oei Wie Gwan, pada April 1951, membeli sebuah pabrik rokok kretek kecil bernama Djarum Gramophon, dan menamainya menjadi Djarum. Bambang dan adiknya, Robert Budi Hartono, mewarisi Djarum setelah ayah mereka meninggal pada tahun 1963. Sepeninggal ayahnya, Bambang dan Budi bahu membahu mengibarkan bendera Djarum sampai ke luar negeri. Saat ini Djarum mendominasi pasar rokok kretek di Amerika Serikat.

Selain industri rokok, Bambang dan Budi merupakan pemegang saham terbesar dari Bank Central Asia (BCA). Melalui Farindo Holding Ltd, keduanya menguasai 51 persen saham BCA. Mereka juga memiliki perkebunan sawit seluas 65.000 hektare di Kalimantan Barat sejak tahun 2008, serta sejumlah properti di antaranya pemilik Grand Indonesia dan perusahaan elektronik.

Selain sekolah Karangturi, Bambang Hartono juga alumnus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, yakni di Fakultas Ekonomi dan Bisnis mulai tahun 1959.

Ulet dan Gigih

Perusahaan rokok Djarum tumbuh dan berkembang di bawah keuletan dan kegigihan kedua bersaudara tersebut. Djarum melakukan ekspor pertama pada tahun 1972. Saat ini, Djarum adalah salah satu merek rokok terbesar di Indonesia, dengan pangsa pasar 19 persen pada tahun 2012. Ketika bisnis rokok terus berkembang, grup ini

mulai berekspansi ke bidang lain, mendirikan perusahaan elektronik merek Polytron pada tahun 1975. Grup itu juga memperluas bisnisnya seperti minyak kelapa sawit, pembuatan kertas dan menara komunikasi.

Bambang Hartono dan Budi Hartono mulai masuk ke bisnis perbankan melalui Haga Bank dan Hagakita Bank. Di bawah perusahaan yang terdaftar di Mauritius FarIndo Investments dalam sebuah konsorsium dengan Farallon Capital, mereka mengambil alih 51,15% dari Bank Central Asia pada tahun 2002.

Selain dari bisnis yang disebutkan di atas, grup Djarum juga mengendalikan beberapa pusat perbelanjaan dan bangunan di Jakarta, termasuk Grand Indonesia, Hotel Indonesia, dan Menara BCA. Perusahaannya juga aktif dalam usaha internet, mengendalikan situs web e-commerce Blibli.com dan salah satu komunitas online terbesar di Indonesia, Kaskus. Budi juga merupakan owner Perumahan Graha Padma Semarang.

Atlet Bridge

Di kancah olahraga internasional, nama Bambang juga moncer. Dia merupakan atlet bridge. ‘’Bridge adalah cara melatih diri dalam mengambil keputusan dan pengambilan risiko yang baik. Paman saya memperkenalkan olahraga bridge pada masa pendudukan Jepang di Indonesia,’’ kata Bambang kepada CNBC Indonesia.

Sebagai pendukung utama olahraga bridge di Indonesia sekaligus presiden Federasi Bridge Asia Tenggara, dia adalah penerima penghargaan dari Federasi Bridge Dunia pada tahun 2017 atas dukungannya dalam menjadikan bridge sebagai salah satu olahraga yang dilombakan di Asian Games.

Dia mewakili Indonesia di Asian Games 2018, memenangkan medali perunggu bersama timnya di ajang tim Supermixed sehingga menjadikannya pemenang medali Asian Games Indonesia tertua. Dia adalah bagian dari tim Indonesia yang memenangkan medali perunggu di World Bridge Games 2008 di Beijing, World Team Championships 2009 di Sao Paulo, dan World Series Championships di Philadelphia.

Hobi Kuliner

Walaupun menyandang predikat orang terkaya di Indonesia selama 11 tahun berturut-turut, Bambang tak kehilangan selera pada masakan tradisional. Kepada CNBC Indonesia, Bambang bercerita banyak dan penuh semangat soal kuliner dan jajanan makanan favorit.

Apalagi mengenai menu sarapan favoritnya jika berada di Kudus, Jawa Tengah.”Kalau pagi-pagi itu saya selalu cari lentog, enak sekali itu,” ungkap Bambang. Lentog adalah makanan seperti lontong sayur yang beralaskan daun pisang. Satu porsi lentog terdiri dari irisan lontong, tahu, tempe, dan sayur nangka.

Selain Lentog, Bambang mengaku lebih suka jajanan rakyat yang ada di pinggir-pinggir jalan, bukan makanan yang fancy favorit beberapa masyarakat kelas menengah atau kelas atas lainnya. “Saya suka sate kambing dan sop kambing. Itu saya makan paling tidak sekali atau dua kali seminggu.”

Namun Bambang agak sedih karena kini ia agak susah menikmati jajanan-jajanan favorit. Hal tersebut dikarenakan semua orang mengenal wajahnya sejak turut serta dalam Asian Games 2018. “Jadi, enggak bisa diam-diam lagi. Semua menyapa, waduh. Kalau begini mesti pakai wig atau brengos (brewok) buat menyamar besokbesok,” ujarnya disusul dengan tawa.

Ini bukan artinya ia keberatan dikenal atau disapa banyak orang. Bambang hanya ingin menikmati makanan kesukaan dengan tenang layaknya masyarakat pada umumnya. “Kalau sekarang banyak minta foto-foto,” ungkapnya.

Baru-baru ini Bambang melirik olah raga sepak bola. Dia membeli klub Sepak Bola Como 1907. Eh ternyata tujuannya sangat mulia.’’Tujuan saya membeli Klub Sepakbola Como 1907 adalah untuk membantu PSSI melatih atlet-atlet sepak bola muda,’’ katanya.

Dia bahkan berharap semoga nanti bisa menjadi pemain sepak bola yang tangguh bagi Indonesia.‘’Asal tidak dikatakan eksploitasi anak-anak oleh KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia).’’ (ali)