Memasuki gerbang rumah arsitek senior Ir Johnny Hendrawan Satria di Jalan Guntur No 17 Semarang memang seperti memasuki rumah untuk liburan di pegunungan. Pohon-pohon cemara berjajar mengelilingi rumah sepanjang pagar. Bangunan dua tingkat bergaya tropis ini memiliki nama yang terpasang di wajah rumah bagian atas: Cote d’Azur.

Memasuki pintu utama, pandangan mata kita langsung tembus ke halaman belakang rumah. Bahkan perbukitan Papandayan dan juga Gunung Ungaran langsung terlihat. Tak ada sekat antara ruang tamu, ruang makan yang posisinya lebih rendah, dan ruang santai di belakang yang lebih rendah lagi.
Konsep terbuka ini ditunjang oleh kontur tanah yang berjenjang dan menurun ke belakang. Ini membuat pandangan dari pintu utama tak terhambat untuk menikmati pemandangan taman dan kolam renang yang apik di halaman belakang, juga keindahan pemandangan gunung nun jauh di sana.
Ruang tamu yang luas juga menjadi ruang santai. Satu set drum ada di satu sudut ruang itu. Juga sebuah piano dan organ. Siap dimainkan tuan rumah dan para tamunya yang datang untuk bermain musik dan menyanyi bersama. Beberapa lukisan dan juga patung-patung seni menghias ruang tamu itu. Salah satu dindingnya diekspose dengan bata berwarna coklat kemerahan. Di dinding bata inilah foto keluarga dipasang.
Ruang makan seperti menjadi penghubung antara ruang tamu dengan beranda belakang yang dibuat untuk bersantai. Di sinilah Johnny dan para tamunya melewatkan waktu menikmati pemandangan air biru di kolam renang, yang dipadu taman yang apik, dan tentu saja Gunung Ungaran.
“Rumah bagi saya merupakan tempat tinggal sekaligus tempat berlibur,” kata Johnny. Sehingga dulu sempat foto keluarga tidak dipasang. ”Soalnya kalau dipasang kan kelihatan kalau rumah hahaha…,” tambahnya, tapi lama lama ya dipasang juga. Bagi Johnny rumah juga jadi tempat santai bersama teman-teman. Ini tentu tak lepas dari memori masa kecilnya. Dia sering diajak piknik ke daerah pegunungan, sehingga sangat suka rumah-rumah bergaya villa.
Dan memang kemudian rumahnya menjadi base camp bagi teman-teman, baik sesama alumni SMA Loyola Semarang 1974 maupun teman kuliah di ITB Bandung. Rekan-rekan alumni SMA Loyola bisa rapat dengan santai, sehingga rumah menjadi tempat berkumpul. “Kalau ada waktu kami saling kontak, lalu kumpul untuk nyanyi-nyanyi bersama,’’ tuturnya. Para anggota Mata Semarang Photography Club juga menjadikan rumahnya sebagai tempat untuk foto, karena kebetulan dahulu Johnny adalah bendahara klub Mata.
Lahan Impian
Rumah itu dibangun dari tahun 1993 hingga 1995. Bangunan utama sekitar 700 meter persegi, di atas lahan seluas 1.400 meter persegi. Tadinya lahan itu diinginkan oleh kliennya dan dia diminta untuk meninjau. Waktu itu Johnny sudah membatin, “Wah di semarang ternyata ada lahan yang seperti ini, bagus juga ya”. Namun klien itu ternyata kemudian membeli lahan di Tambora. Johnny selalu punya ingatan terhadap tanah ini, namun saat itu belum mampu membelinya. Itu tahun 1988.

Ketika sudah merasa mampu, dia ingat tanah itu lagi. “Saya cari-cari info, ternyata punya orang Jakarta. Wah gak ada harapan nih…”. Namun suatu ketika dia justru bertemu dengan pemiliknya di sebuah bank di Semarang. Namun dijawab, “sudah terjual”. meskipun demikian orang itu meminta nomor telepon Johnny.
Tak selang lama pemilik tanah itu telepon dan menanyakan apakah dia masih berminat terhadap tanah itu. Sebenarnya sempat heran juga, katanya sudah terjual. Akhirnya setelah tawar menawar, tanah tersebut terbeli. Dia mengumpulkan uang lagi kemudian dibuat pagar dahulu. Saat itu dia masih tinggal di Tanah Mas. Karena sering banjir, maka diputuskannya untuk segera membangun di lahan itu.
Gambar pun disketsa dulu, pokoknya jalan duluan. Namun demikian semua tetap dalam perencanaan yang matang. Dikerjakan pelan-pelan, dan akhirnya setelah 2,5 tahun rampung. “Akhir 1994 selesai dan awal 1995 diresmikan,’’ katanya.
Seperti Villa
Menurutnya, kalau soal arsitektur ibaratnya dia tidak sedang memasak pizza atau pecel, tetapi dia membuat masakan yang dianggapnya enak. “Yang jelas saya ingin rumah ini seperti villa. Jadi ketika di rumah seperti sedang berlibur,’’ ucapnya. Dijelaskannya, dalam mendesain rumah selalu bergaya santai, jarang desain yang yang megah atau gagah-gagahan. “Kecuali tentu saja kalau klien meminta, ya harus saya kerjakan, karena komitmen terhadap profesi”.

Waktu kuliah di ITB dia diajarkan berbagai tipe desain, namun yang sulit adalah membuat terobosan untuk menemukan gaya sendiri. “Sulit memang, karena sudah ada gaya Jepang, Spanyol, Victoria, nah kita mau kemana?”
Menurutnya, lay out juga merupakan refleksi dari seorang arsitek. Ada yang orangnya efisien, maka desainnya efisien. Yang senang gagah, bisa saja desainnya selalu gagah. “Arsitek dan seniman Eko Prawoto memiliki desain yang unik, sudah pasti kepribadiannya juga unik,” tuturnya. Ditambahkannya, bahwa dirinya berbeda dengan Eko. Johnny mendesain dengan merencanakan sampai sekecil-kecilnya, sementara Eko menikmati proses.
Tipe desain untuk rumahnya sendiri adalah Indonesian tropical modern, dengan sirkulasi dan pencahayaan yang enak. “Saya ingin ada Indonesian touch. Saya tidak menyebut Jawa atau Bali. Pokoknya orang yang ke sini bisa merasakan suasana Indonesia”. Menurutnya, di Indonesia banyak kayu dan tanah liat, sehingga pilihan warna pun cenderung ke sana.
Di arsitektur, Johnny lebih memilih bahan alam dan tidak mau terjebak oleh bahan industri yang populer saat itu. “Karena kalau populer saat itu, sepuluh tahun lagi pasti sudah ganti. Bahan alamiah lebih long lasting, supaya selalu up to date”. Kemudian bangunan rumah juga dikonsep terbuka, sehingga ke arah selatan bisa menyaksikan Gunung Ungaran. Dan suasana seperti inilah yang paling dia sukai. “Jadi saya tempatkan meja makan dan juga kamar tidur yang bisa melihat pemandangan gunung yang bagus itu”.
Ditegaskannya, udara yang masuk harus bisa keluar, sehingga ventilasi rumah ada di empat arah. Ke kanan dan kiri, muka dan belakang, semua terbuka. “Kebanyakan ruang juga menjadi terang. Saya suka ada cahaya matahari yang menerobos ke ruangan. Itu keindahan dari Tuhan yang harus kita manfaatkan”.
Diceritakannya, ketika kuliah di ITB dulu dia suka sekali melihat pohon cemara. Ketika membeli lahan tersebut, langsung ditanami cemara dulu dengan membayangkan posisi rumah kira-kira ada dimana. Ternyata kemudian, rumah tidak ada nyamuk. Ada yang bilang kalau di hutan cemara, nyamuknya sedikit. “Tapi yang jelas karena di sekitar sini, tidak ada air selokan yang menggenang. Kemudian karena rumah terbuka, angin mengalir. Selain itu katanya rumah yang ada kolam renangnya juga jarang nyamuk”.

Hampir semua ruangan di rumahnya Johnny menyukainya. Dia juga punya ruangan khusus untuk mendengarkan musik, sekaligus untuk bekerja dengan komputer. “Saya tidak terlalu menyukai home theatre, karena tidak terlalu betah nonton film terlalu lama. Lebih suka menikmati lagu-lagu. Sehingga ini menjadi ruang audio”.
Dulu, memang dia paling getol membeli perangkat audio yang high-end. Namun lama-lama semakin canggih harganya semakin mahal. Ia menahan diri dari membeli audio yang canggih itu. “Lha speaker yang bagus bisa mencapai Rp 4 miliar, kan gak bener juga kalau diteruskan hehehe…”. Namun saat itu dia tetap mengikuti perkembangan audio dengan membaca. Jika ada yang harganya tidak terlalu mahal, baru membeli.
Mengenai kata Cote d’Azur di dinding depan atas rumah, Johnny menuturkan itu artinya untaian permata biru. Ini adalah daerah pantai Mediterania Prancis. Tempat yang indah ini selalu dalam kenangannya seusai berkunjung ke sana. “Semua karya saya selalu saya beri nama, terkadang juga mengambil istilah dari bahasa Sansekerta. Kami juga pernah pergi ke Sorento, AS, kemudian rumah keluarga kami di Bandung kami beri nama Sorento. Memperlakukan rumah dengan memberi nama tentu berbeda jika hanya memberi nomor . “Ada keterikatan jiwa dan raga dengan rumah tersebut”. (BG)
Padmanews.Id Online Lifestyle News





