22 April 2021
Home / Art / Auf, Owner Batik Gesek Godong: Berharap Tiap Hari Wong Semarang Berbaju Batik

Auf, Owner Batik Gesek Godong: Berharap Tiap Hari Wong Semarang Berbaju Batik

”MOSOK batik tulis kok regane satus ewu. Ra ngandel, aku ora percoyo!” kata seorang ibu dengan nada sedikit kasar sembari melemparkan kain batik ke wajah si pedagang kaki lima di Pasar Semawis, malam itu.

Bukannya marah, si pedagang tetap gigih menjelaskan bahwa batik yang dia tawarkan benar-benar batik tulis. ”Benar, Ibu. Ini benar-benar batik tulis. Coba Ibu lihat sebentar. Ini bahan batiknya. Ini batik yang sudah jadi. Dan ini batik tulis yang sudah jadi dan yang saya tawarkan ke Ibu.”

Si Ibu terdiam, sembari bergumam. ”Apa benar ini batik tulis. Kok bisa murah harganya ya…” 

Narasi di atas hanya sepenggal cerita ”duka” yang dialami Auf, owner Batik Tulis Gesek Godong Semarang di awal menekuni usahanya. Saat pameran di Plaza Simpanglima, ada seorang Bapak yang mati-matian menyatakan bahwa batik yang ditawarkan Auf bukan tulis. Tapi batik print.

”Jangan ajari saya tentang batik. Saya punya satu lemari berisi baju dan kain batik tulis. Paling murah harganya Rp 500 ribuan. Ini kok Rp 150 ribuan?”

Meski mati-matian menyatakan yang dijual Auf bukan batik tulis, anehnya si Bapak itu selalu membeli bahkan memborong batik dari galeri Auf setiap bulan. ”Sekali belanja, Bapak itu habis jutaan rupiah hehe… Dunia memang aneh,” kata Auf.

Ada lagi cerita aneh sejenis. Seorang bapak mengajak istri dan keluarganya ke kampung kelahiran Auf, di Pamekasan, Madura. Dia ingin membuktikan bahwa batik yang dijual Auf adalah benar-benar batik tulis, bukan batik cap atau printing.

”Sesampai di sana, Bapak itu memang memborong batik tulis langsung dari para perajin atau pedagang lokal. Alasannya, batiknya benar-benar batik tulis. Sebelum pulang, si Bapak itu bagi-bagi uang kepada para perajin batik tetangga saya. Katanya, kasihan. Sudah kerja keras dan tekun, tapi karyanya dihargai murah. Namun kalau sudah sampai ke tangan para pedagang besar di kota-kota besar, di butik-butik, harganya bisa berlipat 10 hingga 100 kali dari harga kulakan.”   

Sebenarnya, Auf juga menjual kain batik di atas Rp 1 juta. Bahkan dalam pameran tingkat nasional dan internasional harganya bisa mencapai Rp 5 juta – Rp 10 jutaan. ”Yang harganya mencapai Rp 5 juta – Rp 10 jutaan, proses pembuatannya bisa mencapai 3 hingga 6 bulan. Tergantung tingkat kesulitan.”

 Untuk Semua Kalangan

Lebih jauh, Auf, pria kelahiran Pamekasan, Madura 16 Mei 1982, itu mengaku resah. Sebab, batik tulis itu adalah benar-benar kekayaan bangsa Indonesia yang kini mulai terpinggirkan. Batik tulis menjadi demikian sakral dan terkesan hanya untuk kalangan berduit yang mampu dan pantas mengenakannya.

”Padahal yang membuatnya adalah rakyat jelata, harganya di tingkat perajin pun sangat terjangkau. Namun mengapa ketika dijual di butik dan swalayan harganya bisa selangit. Sehingga kalangan menengah ke bawah tidak mampu membelinya. Ini kan ironi,” keluhnya.

Bahkan, saking galaunya, dia pernah membuat status di WhatsApp (WA), seperti ini. #Petantang petenteng jalan ke sana ke sini, ngakunya NKRI harga mati, tapi passionnya mulai dari kepala sampai ke kaki produk luar negeri. Apaan tuh!

Karena keinginannya begitu kuat agar batik tulis bisa memasyarakat, maka dia menjual produknya dengan mulai harga Rp 100 ribuan.

”Saya tidak merusak harga pasaran. Saya hanya menjual batik tulis dengan keuntungan tidak terlalu banyak. Tapi kalau semua kalangan bisa membeli dan mengenakan serta kemudian mencintai batik tulis yang notabene produk sendiri, apa salahnya.”

Bahkan, karena saking murahnya, oleh sejumlah pengusaha batik di Semarang, Auf dianggap merusak harga. Namun strategi marketing yang digunakan Auf ternyata justru mendapat sambutan dari pasar. Pada awal-awal mencari pasar, dua hari Auf berjualan secara PKL (pedagang kaki lima) di Jl Gergaji, belakang Mapolda Jateng, saat momentum hari Krida setiap Jumat dan car free day (CFD) setiap Minggu.

”Hasilnya sangat signifikan. Dagangan saya lumayan laku. Bahkan berjualan batik tulis model PKL-an selama 2 hari itu, ibaratnya cukup untuk memberi makan keluarga, yakni istri dan anak selama satu bulan. Ahamdulillah, ini hasil awal berdagang batik tulis yang luar biasa,” ujarnya.

Klasik Kontemporer

Kini, bersama, Syarifah, istrinya, dia membuka galeri di Jl Sriwijaya, Genuk Baru V RT 05/RW 06 No 105 Semarang. Beragam produk unggulan batiknya antara lain Batik Tulis Gesek Godong, inovasi seni tekstil dari daun kering. Batik tulis Semarangan kontemporer. Batik tulis klasik modern. Ekoprint (seni tekstil dari getah daun atau tanin daun). Batik kartun camcam (karakter kartun bermacam-macam) dengan tema : Penjual Lunpia, Mainan Jadul, Kebun Binatang, Tugu Muda, Warak Ngendog, pete dan terong, dll.

”Kebetulan saya tinggal di Jl Sriwijaya, dekat dengan Pasar Peterongan. Selain gesek godhong, saya juga membuat batik tulis peterongan (pete dan terong).”

Pada 2018, Auf mencoba membuat batik kontemporer dengan metode gesek. Dia menemukan dedaunan sebagai ciri khas batik produksinya. Hampir semua daun yang memiliki tekstur dan ada tulang daunnya, bisa dijadikan bahan untuk menjiplak dengan teknik gesek.

”Saya menggunakan daun duku, mangga, nangka, palem, jati, bodhi, waru, kelengkeng, melati air, pepaya, dan masih banyak lagi daun dari pepohonan yang tumbuh di pinggir pantai. Dedaunan itu bisa menampilkan serat-seratnya. Saat saya gesek hasilnya bisa meninggalkan tekstur yang unik di atas kain katun bahan dasar batik. Akhirnya, metode itu saya namakan Batik Gesek Godong,” jelasnya.

Batik Gesek Godong ini tidak bisa diulang sama persis. Hal ini yang membuat batik ini semakin unik. Sebab, pewarnaan bisa sama, namun ukuran dan letak daun tidak bisa sama.

Pagi proses pembuatan, siang pengeringan di bawah terik matahari, sore proses viksasi (penguncian warna). Batik Gesek Godong ini melewati 6 kali proses pencucian, sehingga benar-benar tidak luntur dan siap dipasarkan. ”Jadi konsep produksi batik ini sangat Indonesia banget. Yakni, gotong royong. Karena setiap tahapan itu dilakukan oleh orang yang berbeda.”

Auf berharap Batik Gesek Godong ini benar-benar bisa menjadi salah satu ikon Kota Semarang. Dengan batik itu, dia menciptakan seni kontemporer modern yang diharapkan bisa dinikmati atau dipakai seluruh kalangan. Tidak hanya pejabat namun juga rakyat.

”Ke depan Batik Gesek Godong ini motifnya adalah ”isen-isene” Kota Semarang. seperti warak ngendog, tugu muda, simpang lima, lawang sewu, kota lama, banjir kanal, pantai Marina, warung semawis, kawasan pecinan, goa kreo, asem arang (asal kata Semarang), dsb.”

Jika motif Batik Gesek Godong sudah Semarang banget, maka Auf berharap ke depan setiap hari warga kota Lunpia ini mengenakan baju batik tulis. Para turis, baik itu wisatawan dalam negeri terlebih lagi wisatawan luar negeri saat jalan-jalan di Semarang melihat bahwa warga Kota ATLAS ini benar-benar sangat mencintai batik tulis bermotif isen-isenane Kota Semarang. ”Sehingga merekapun tak segan-segan dan ikut larut membeli dan mengenakan baju batik saat berada di Semarang. Sekaligus mereka saat pulang juga membawa oleh-oleh yang murah khas Semarang, yakni baju batik tulis bermotif semarangan.” (Ali)