22 April 2021
Home / Lifestyle / Ajaklah Anjing Bicara

Ajaklah Anjing Bicara

Pepatah mengatakan anjing sahabat terbaik manusia. Dan Eko Prijono (74) sudah membuktikan dengan merasakan dan berkawan dengan anjing selama puluhan tahun. Pilihan memelihara anjing disebabkan oleh kerisauan saat peristiwa kerusuhan tahun 1998.

Saat itu istri dan anaknya yang masih kecil tinggal di Yogyakarta. Sementara dia sendiri yang sedang berdinas di TNI Angkatan Laut tidak ada di rumah. Maka ia pun mulai mencari anjing untuk menjaga rumah. Lalu ia pergi ke K-9 mencari anjing yang terdidik.

Ia memilih untuk memelihara anjing jenis Rottweiler. Mengapa Rottweiler? Karena jenis anjing ini terlihat macho, gagah sekali, dan tenang. “Kalau Herder atau Doberman itu berisik sekali. Saya kan tinggal di kampung, jadi kalau berisik takut mengganggu tetangga,” katanya.

Pertama kali mendapatkan Rottweiler di Tegal, ia sangat tertarik melihat anjing itu punya bekas luka yang merupakan penanda perjuangannya melindungi tuannya. Kemudian pembelian pertama berlanjut pada pembelian-pembelian berikutnya. “Tetapi karena tidak tahu sama sekali tentang Rottweiler, maka kalau ikut pameran yang dimainkan lima ya cuma dapat nomor lima, main enam ya dapat nomor enam hahaha…,” tuturnya.

Akhirnya ia berusaha mencari informasi. Namun tidak ada yang memberi tahu dia. “Begitulah bisnis anjing, dan hal itu terjadi sampai sekarang”. Hal ini mengakibatkan dia sempat “cuci gudang” sampai tiga kali. Setelah dibeli dan ternyata tidak bagus, terpaksa “dibuang”. Padahal harga anjingnya sekitar 10.000 euro per ekor.

Setelah belajar, lama kelamaan Eko paham. Ia kemudian berjanji kepada dirinya, siapa pun yang membeli anjing darinya akan dia ajari, diberi anjing yang bagus, dan harga yang miring. “Kecuali dia bilang, saya cuma punya uang segini, ya dapatnya menyesuaikan anggaran,” ucapnya.

Anjing Romawi

Dalam proses belajar mengenali Rottweiler, Eko juga membaca bahwa jenis anjing ini pada abad ke-14 yang memelihara adalah tentara Romawi, Italia. “Jadi anjing ini memang luar biasa dan diajak menjelajah ke mana mana,” katanya.

Suatu saat pasukan Romawi sampai di Kota Rottweil, Jerman. Pada waktu itu penduduk kota tersebut hidup dengan menjual berbagai macam daging. Persoalannya, setiap pulang habis berjualan ke daerah lain mereka selalu dirampok di jalan. Penduduk Rottweil ini kemudian melihat anjing-anjing gagah milik pasukan Romawi. Mereka kemudian memintanya. Oleh pasukan Romawi, anjing itu kemudian dilatih untuk menjaga.

Sejak saat itu para penduduk Rottweil mengajak anjing itu saat berjualan. Uang hasil jualan dimasukkan ke kantong kemudian dikalungkan di lehernya. Anjing itu kemudian berjalan di depan sambil menarik gerobak. Aman …dan sejak itu anjing Rottweiler mulai berkembang biak di Jerman.

Eko yang kemudian mulai serius memelihara, betul-betul mulai mencari Rottweiler yang bisa menang jika ikut pameran. Anjing-anjing miliknya pun dilatih dengan giat, diajak lari di trek daerah Gunung Ungaran. Di atas kemudian ada yang memanggil si anjing. Biasanya pelatih yang memanggil ini yang paling dekat dengan anjing itu. Sementara pelatih lain akan menutupi kekurangannya.

Sore hari anjing-anjing itu diajak bicara. “Dari 12 ekor, ada empat pelatih yang mendekati anjing dan mengajak bicara. Cara ini diketahui Eko setelah ia membeli seekor Rottweiler dari Kroasia bernama Pavel. Setelah sekian jam penerbangan ke Indonesia, dia masih harus dibawa jalan darat ke Malang untuk ikut pameran. Anjing itu di dalam kandangnya saja dan tidur.

Untuk mengeluarkan Pavel, ternyata pendampingnya mengajak bicara, “Ayolah Pavel, keluarlah…mereka para penonton itu sangat bangga kepadamu”. Sambil dielus-elus, Pavel segera saja keluar dan berpose dengan gagah. Ketika dibawa pulang ke Semarang, Pavel juga hanya terpekur saja di kandang. Darco, pemilik lama, meminta ijin untuk mengajaknya bicara.

Dari luar pintu mobil Darco hanya memanggil, “Pavel…”. Mengenali suara itu, Pavel langsung keluar. Mengapa bisa begitu? Kata Darco, “Ajaklah duduk anjing, bicaralah, elus bulunya. Bulu anjing itu penghantar. Jadi jika kita belai dengan baik, maka dia akan menunjukkan kejinakannya kepada kita. Dia tahu betul mana yang lips service dan mana yang benar-benar sayang sama dia”.

Sejak saat itu sampai sekarang, Eko meminta para pelatihnya untuk mengajak anjing-anjingnya bicara. Dia juga semakin tahu psikologi anjing-anjingnya yang sudah mencapai 30 ekor. Rottweiler yang sudah berlatih lama, dan naik mobil pertama, pada saat pameran harus ditampilkan pertama. Kalau turun mobil, dia juga harus diturunkan lebih dulu. “Itu sifatnya memang begitu, semacam minta diprioritaskan,” kata Eko

Ketua KRI

Karena kecintaannya itu Eko juga pernah menjabat dua kali sebagai ketua Klub Rottweiler Indonesia (KRI) yang adalah satu-satunya Klub Himpunan Trah Rottweiler yang diakui oleh Perkumpulan Kinologi Indonesia (Perkin) di Indonesia, maupun oleh International Federation Rottweilerfreinds (IFR) di dunia International.

Founding father KRI adalah IGK Manila, dan sekarang memiliki perwakilan di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali, Pekanbaru, dan Medan. Ada sekitar 600 anggota, dengan ribuan anjing peliharaan.

Setiap ajang pameran biasanya dilombakan kelas anakan A (usia sampai 6 bulan) baik jantan maupun betina. Lalu kelas anak B, sampai usia 9 bulan, dan kelas anakan C sampai usia 12 bulan. Kemudian kelas remaja 18 bulan dan kelas dewasa 24 bulan.

Selain itu ada kelas pekerja. Nah kelas yang terakhir ini harus punya ijazah, karena ada peraturan kelas pekerja harus mengambil kualifikasi BH (begleithunt). Ujiannya di antaranya diminta jalan bersama pelatih, terus disuruh stop, sementara pelatih jalan terus. Kemudian si anjing dipanggil dan harus lari mendekat.

Selama bergaul dengan anjing Rottweiler, Eko bukannya tidak pernah mengalami masalah. Pernah dia punya anjing yang ternyata memang galak. Si anjing ini menggigit tak hanya anak pelatih, tetapi juga menggigit istri Eko.

Tapi peristiwa ini juga memberikan tambahan pengalaman baginya. Jika ada orang digigit anjing, maka dijahit maksimal 80 persen saja. “Air liur anjing itu jahat. Kalau bekas luka ditutup semua, justru membuat air liur tak bisa keluar, sehingga menyebabkan abses,” katanya.

Istrinya mengalami itu. Akhirnya Eko membawanya ke Jerman, dan di sana jahitan dibuka lagi dan dijahit ulang hanya 60 persen. Besoknya sudah lebih baik.

Pengetahuan lain yang dibagikannya adalah hati-hati dengan anjing yang matanya kocak (tidak tenang), karena biasanya anjing seperti ini suka menggigit. Namun demikian terlepas dari semua persoalan kegalakan satu dua anjingnya dulu, Eko mengakui memperoleh kepuasan batin bergaul dan memelihara anjing Rottweiler ini. “Ada rasa bangga memiliki Rottweiler yang bagus dan memiliki hubungan dengan anjing-anjing itu,” katanya. (BG)