21 April 2026
Home / Figure / Prie GS : Menjawab Kegelisahan Disorientasi

Prie GS : Menjawab Kegelisahan Disorientasi

Gurauan orang yang mampu menertawakan dan mengolok-olok dirinya sendiri

Supriyanto Gendut Sudarsono atau Prie GS. Menyebut nama ini orang akan menyematkan berbagai atribut kebisaannya. Kartunis, wartawan, penulis, pembicara, dan motivator. Kalau ditanyakan kepadanya mana yang lebih pas untuk menyebut dirinya, Prie menjawab, “Aku ini kan mata duitan, jadi kalau ada duit disuruh jadi apa saja mau hahaha”. Tentu Prie bergurau. Khas Prie GS. Gurauan orang yang mampu menertawakan dan mengolok-olok dirinya sendiri.

Dan, obrolan tim Padmanews dengannya berlangsung gayeng dan penuh tawa di rumahnya yang nyaman dan asri di Jalan Candi Kalasan Selatan II No 1003 Manyaran Semarang. Prie menceritakan “penderitaan orientasi”-nya yang terlalu panjang, mencari “status” yang pas bagi dirinya.

“Kita ini orang-orang yang mengalami penderitaan orientasi masyarakat dunia berkembang. Setelah 20 tahun sebagai kartunis, baru saya sadar kalau skor sebagai kartunis tidak bisa bagus. Walaupun sudah merasa sok sukses, diundang pameran di sana sini. Untunglah kemudian ada ketercerahan orientasi yang sifatnya gradual” kata pria kelahiran Kendal 3 Februari 1964 ini.

Nah, menurut Prie, generasi sekarang harus dicegah dari ketercerahan orientasi yang gradual, karena waktunya lama. Dan dengan waktu yang lama begini tidak semua mau bertahan. Apalagi anak-anak muda kini yang tingkat prosesornya selalu cepat. Mereka tidak cukup sabar.

Prie memulai karier di Harian Suara Merdeka ketika tahun 1987 direkrut sebagai kartunis. Namun oleh Pemimpin Redaksi saat itu, Soewarno, selama tiga tahun karikatur karyanya tidak pernah ada yang dimuat. Alasannya dianggap belum relevan, dan belum sejajar dengan kebesaran Suara Merdeka. “Saat itu, aku memang marah dalam hati, karena persoalan ego kesenimanan, dan juga waktu itu masih muda,” tuturnya.

Sebenarnya waktu itu pun dia juga sudah mendapat honor yang lumayan dari kartun-kartun yang dikirimnya ke Harian Pos Kota. Sehingga, jika menuruti ketersinggungan, bisa saja pindah ke media lain. “Untunglah, aku waktu itu sudah punya kalkulasi how to manage people. Jadi kalau aku kalah managing people di Suara Merdeka, di mana-mana aku akan kalah”. Mungkin juga, tambahnya, hal itu muncul karena sudah biasa rekasa (susah), sehingga kontemplasi itu muncul.

“Tetapi setelah ditelaah, rupanya aku salah tafsir terhadap Pak Warno. Rupanya itulah cara beliau menunjukkan pesan-pesan beliau. Baru setelah 25 tahun sadar bahwa aku bukan kartunis yang excellent”.

“Pertobatan” Prie ini terjadi justru ketika pameran kartun di Tokyo atas prakarsa Japan Foundation. Seorang kritikus Jepang yang diharapkannya memujinya, ternyata justru memuji GM Sudarta dari Kompas. “Dan aku selalu frustrasi mengikuti GM, karena kualitas aristokrasi gambarnya yang tidak bisa kukejar”.

Mulai Menulis

Di akhir 90-an, Prie kemudian mulai menulis, meski diakui karena keterpaksaan. “Karena respon terhadap kartun yang menyatakan gambarmu kok jelek. Aku menginginkan skor kartun 9, ternyata faktanya cuma 6. Waktu itu aku menolak fakta ini”. Menurut Prie, problem seperti ini sebenarnya bisa selesai kalau talent scouting sudah ada di negara kita sejak dini. Jadi problem seperti yang dihadapinya itu seharusnya sudah rampung sejak SMP.

Ternyata, respon terhadap tulisan-tulisannya luar biasa. “Skorku 8 untuk menulis”. Menentukan skor diri ini kelak diajarkan oleh Prie dalam kelas-kelas yang mengeksplorasi dan mencari kemampuan diri seseorang. “Karena biasanya kita terbelenggu oleh basa basi serta ketidakenakan sebagai orang timur. Terserah orang lain, merasa tidak enak mengukur diri sendiri. Di kelas ini kita ajarkan untuk percaya diri memberi skor kemampuan diri”.

Kesadaran akan kemampuan menulisnya bernilai 8 itu dilihat Prie dari tingkat ekspresi yang terakomodasi dengan sangat memuaskan hati. “Pokoknya kalau tingkat ekspresi sampeyan memuaskan hati itu skornya terserah sampeyan hehehehe ..”. Ia menghasilkan banyak buku, di antaranya adalah Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia, Waras di Zaman Edan, Hidup Ini Keras maka Gebuklah!, novel motivasi Ipung, dan lain-lain.

Ternyata, kepenulisan juga merupakan sasaran antara yang mengantarkannya kepada kepercayaan diri baru bahwa orang yang menulis seperti itu pasti layak untuk dimintai ceramah. Dan itulah awalnya. Ia diminta ceramah di kampung, yang sebenarnya waktu pertama kali takut untuk datang. Ia kemudian melihat reaksi pendengarnya yang sepertinya serius mendengarkan isi ceramahnya.

 “Aku kemudian merasa layak untuk berbicara menurut yang aku pikirkan. Gak pakai teori, tetapi gesturku yakin”. Gestur itu bukan karena menguasai ilmu, namun lebih karena menikmati situasinya. “Pokoknya gayanya meyakinkan”.

Menurutnya, alam tidak langsung mendidiknya menjadi pembicara. Ia menjadi moderator dalam berbagai forum. “Modalnya tidak usah pintar, tetapi cukup dengan modal goblok. Aku ini penanya yang agresif sebagai moderator. Nah bertanya itu kan cukup bermodalkan goblok saja”. Di forum-forum itulah Prie berdampingan dengan doktor dan profesor. “Ini jadi seperti kuliah yang aku tidak perlu bayar”.

Prie mengenang dalam sebuah diskusi ia pernah disalahkan sebagai moderator yang too much talking. “Ini terjadi karena ada audiens yang belum hapal gayaku. Padahal aku diundang itu ya disuruh untuk talk too much hahaha…”

Pada sebuah diskusi ketika memoderatori Ali Mufiz, saat itu Gubernur Jateng, seorang tokoh terkenal menginterupsi Prie, “Ini apa maunya, moderator kok ngomongnya ngalor ngidul…” Seluruh forum menjadi tegang. Pak Ali Mufiz pun tegang, karena tidak tega kalau Prie sampai dipermalukan.

Namun Prie kemudian merespon dengan kata-kata yang tidak disangka oleh seluruh audiens di forum itu. “Bapak ibu sekalian, maafkan saya karena saya bukan moderator yang baik karena banyak omong. Namun justru karena itulah panitia mengundang saya. Dan saya dibayar mahal. Karena dibayar mahal, saya berjanji tidak hanya akan ngomong ngalor ngidul, tetapi juga utara, selatan, barat, dan lain-lain”.

Seketika gerrrrr…ruangan menjadi cair dipenuhi tawa. Setelah selesai acara, si penanya tadi justru datang dan merangkul dirinya, “Kowe kuwi sakjane sapa tho gus?”.

Prie juga mendapat tawaran dari TVRI Jawa Tengah untuk memandu acara Obrolan Simpang Lima. “Di acara ini tidak ada tokoh yang tidak mau kuundang, karena mereka menikmati curiosityku (rasa ingin tahu, red), selain tentu guyonan. Curiosity ini menyemangati orang lain”. Dua tahun mengelola program itu menjadikannya pintar, dengan mengambil ilmu-ilmu tamunya.

Namun dalam perjalanannya, Prie juga pernah puasa menjadi moderator selama dua tahun, untuk kemudian pindah fase. “Aku kemudian mengetahui bakatku menggambar 6, menulis 8, dan ngomong ternyata 9”.

Mulai saat itu kalau diundang sebagai pembicara, ia menanyakan jumlah honor. “Mengapa aku menanyakan honor? Saat itu aku mulai diundang sebagai pembicara di Jakarta. Nah ini tidak bisa lagi hanya bilang monggo sak kersa, karena aku mulai memasuki suatu industri”.

Ia pun menjumpai bahwa angka Rp 10 juta pertamanya sebagai pembicara yang dirasakan sangat luar biasa ternyata untuk ukuran Jakarta dianggap kecil. “Waktu itu masih di Smart FM. Dan ternyata kemudian honor berlipat-lipat ketika memandu acara di Metro TV”. Ia juga kemudian menjadi pembicara di berbagai perusahaan, seperti Pertamina yang nyaris tiap tahun mengundangnya.

Honornya sudah puluhan juta tiap jam, akomodasi lengkap, difasilitasi helikopter karena di offshore. “Kuwi yen tak jaluk mentahane, mungkin yang kudapat lebih banyak hahahaha…”. Tetapi Prie menandaskan bahwa intinya bukan di uang. “Pada akhirnya kuketahui, oh tempatku ternyata di sini, berdasarkan indikator-indikator itu”.

Ia juga mengenang, saat Dahlan Iskan menjadi menteri BUMN, diadakan seminar dengan pembicara Sofyan Djalil, Sugiarto, dan Prie. Mereka didapuk untuk menceramahi para Dirut BUMN. “Ketika aku naik panggung, pandangan mereka bukan karena kagum, tapi heran. Orang aneh ini siapa? Ana cah cilik mrene hahaha”.

Namun ternyata ceramah Prie diterima dengan baik. “Padahal aku omong semauku. Dasi sampai dicopot semua, karena ger-geran”. Sejak saat itu undangan ke acara BUMN itu sampai sekarang tidak pernah berhenti. Ia juga menjadi penceramah di banyak institusi dan instansi, misal Mabes TNI Angkatan Laut, Telkom, Coca-Cola, Indonesia Power, Bank Indonesia, PLN, Telkomsel, dan lain-lain.

Kelas Prie GS

Menurut Prie, apa yang dikisahkannya ini bukan melulu tentang dirinya. Tetapi lebih pada persoalan orientasi besar bagaimana seseorang untuk menemukan bakatnya saja susahnya tidak karuan. “Setelah umur 40 tahun baru ketemu. Itu yang ketemu, lha kalau yang gak ketemu-ketemu bagaimana?” ucapnya.

Itulah sebabnya ia kini menyelenggarakan Kelas Prie GS. Ini adalah jawaban atas kegelisahannya terhadap disorientasi yang dialaminya selama puluhan tahun. Dia ingin agar anak-anak sekarang tidak perlu menghadapi disorientasi terlalu lama. Di kelas itu peserta diajari mengeksplorasi diri untuk bisa mematahkan disorientasi tadi. Mereka juga diajari memberi skor dirinya sendiri.

“Awal mula buka kelas itu pokoknya jalan dulu, gak ada kurikulum. Pokoknya aku bicara seharian saja semauku. Fasilitas seadanya. Bahkan sampai sekarang pun tidak pakai kurikulum hahaha…..”. Nyatanya kelas itu diminati peserta, dan hingga sekarang sudah memasuki angkatan ke-21. Bahkan, kata Prie, ada beberapa orang yang ikut lebih dari sekali. “Katanya cuma untuk ngobrol sama aku”.

Prie pun mengakui semakin bertambah usia, rasa sentimentilnya pun meningkat. Ia jadi lebih mencintai kotanya, Semarang. Dan dia pun memutuskan untuk lebih banyak stay dan beraktivitas di Semarang, dibanding di Jakarta. “Kalau bisa membuat aktivitas di Semarang, dan diminati oleh banyak orang dari luar kota, maka pasti sakti hehehe…” Dan, Prie sudah membuktikan “kesaktian” itu. Kelas Prie GS yang diadakan setiap bulan dan  masuk angkatan ke-21, selalu dipenuhi peserta dari Jakarta, kota-kota lain, bahkan dari luar Jawa. “Padahal setiap orang membayar mahal, Rp 2,5 juta, untuk sehari ngobrol sama aku,” tuturnya. Selain itu, undangan sebagai pembicara juga terus mengalir. (BG)