21 April 2026
Home / History / Perjalanan Panjang Prestasi PB Djarum

Perjalanan Panjang Prestasi PB Djarum

Mulanya adalah keprihatinan Victor Hartono, President Director Djarum Foundation, terhadap kemeredupan prestasi bulutangkis Indonesia saat itu. Victor memiliki pemikiran, permasalahan bulutangkis saat itu adalah menaikkan lagi posisinya. Dan untuk mengangkat kembali bulutangkis menjadi olahraga penting adalah tidak mungkin jika tanpa fasilitas. Maka dibangunlah GOR Djarum sebagai upaya menyiapkan infrastruktur olahraga yang baik bagi para atlet.   

Berdiri di atas lahan seluas 43.207 meter persegi, GOR PB Djarum Jati Kudus terlihat sangat representatif dan asri. Area yang dibangun pada 2004 dan diresmikan pada 27 Mei 2006 ini memiliki kompleks bangunan seluas 29.450 meter persegi, terdiri dari gedung olahraga seluas 4.925 meter persegi dengan 16 lapangan bulutangkis.

Terbagi dalam 12 lapangan beralaskan kayu, sisanya beralaskan vinil (karet sintetis) yang dilengkapi dengan tribun penonton. “Tadinya saya pikir 16 lapangan cukup. Tapi saya kilas balik kok rasanya kurang ya hahaha…kalau saya boleh ulang, saya akan tambahkan beberapa lagi,’’ kata Victor.

Kompleks ini juga memiliki pusat kebugaran, serta fasilitas penunjang latihan lain yang dipergunakan para atlet, seperti ruang fisioterapi, fitness dan massage. Selain juga ruang pertemuan, ruang perkantoran, ruang komputer, ruang audio visual, dan perpustakaan.

Bangunan GOR terletak tidak jauh dari asrama tempat para atlet tinggal, berjarak sekitar 25 meter. Di asrama itu atlet putera dan puteri dipisahkan dalam dua gedung. Masing-masing gedung dua lantai yang digunakan sebagai tempat tinggal anak didik PB Djarum putera dan puteri, mulai kelompok usia 11 hingga 19 tahun.

Secara keseluruhan ada 40 kamar, dengan masing-masing 20 kamar di tiap gedung. Tiap kamar dihuni minimal dua orang. Selain fasilitas mes yang nyaman, juga terdapat fasilitas dapur dan ruang makan yang terletak di bagian lain gedung. Rumah pelatih juga didirikan pada lahan seluas 312 meter persegi di kompleks dekat asrama atlet. Tak heran, dengan standar internasionalnya itu, GOR PB Djarum di Jati disebut-sebut sebagai pusat pelatihan bulutangkis yang terbaik di Asia.

Suasana asri di sekitar area tinggal ini disebabkan banyak pohon rindang yang terawat dengan sangat baik. Saat ini mes PB Djarum di Jalan Jati Kudus ini dihuni sekitar 80 atlet, keseluruhan adalah atlet puteri/putera. Sementara atlet putera di bawah usia 13 tahun tinggal di mes Kaliputu, Kudus.

Di bagian-bagian area gedung terdapat tulisan-tulisan motivasi yang dibingkai dan ditempel di dinding. Juga Hall of Fame dan potongan berita tentang kesuksesan jebolan PB Djarum di masa lalu, serta foto-foto masa kejayaan alumni PB Djarum.

Di luar gedung ada semacam Hall of Fame seperti yang ada di Hollywood Amerika Serikat. Di sana tercantum nama atlet-atlet yang pernah berkontribusi mengukir tinta emas untuk PB Djarum sejak beberapa dekade silam.

Keseluruhan ada tujuh plaza taman kejuaraan dunia, yakni Olimpiade, Thomas Cup, Uber Cup, World Championship, All England, Ranking Satu Dunia, dan Sudirman Cup. Misal di Plaza All England terdapat nama Kevin Sanjaya bersama pasangan ganda puteranya, Marcus Gideon terpajang. Nama mereka bersanding dengan legenda Djarum lain, seperti Christian Hadinata, Sigit Budiarto, hingga Mohammad Ahsan.

Cinta Bulutangkis

Menurut Kepala Admin PB Djarum yang juga Ketua Umum PBSI Kudus Eddy Prayitno, eksistensi dan prestasi panjang PB Djarum dimulai oleh kecintaan Robert Budi Hartono, CEO PT Djarum, terhadap olahraga bulutangkis serta kegemaran karyawan PT Djarum bermain dan berlatih bulutangkis. Pada tahun 1969 brak atau tempat karyawan melinting rokok di Jalan Bitingan Lama (sekarang berubah jadi Jalan Lukmonohadi) No 35 Kudus, pada sore hari digunakan untuk tempat berlatih bulutangkis di bawah nama Komunitas Kudus.

Dalam buku Setengah Abad PB Djarum, Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia dikutip, setelah kegiatan olah raga sore hari itu terselenggara rutin, muncul ide untuk mendirikan klub bulutangkis. Pemrakarsanya adalah   Budi Hartono, Margono, dan Thomas Budi Santoso. Mereka kemudian mendirikan klub PB Djarum. Dari situlah lahir atlet muda berbakat, Liem Swie King, yang meraih prestasi demi prestasi secara gemilang. Prestasi nasional pertama King adalah sebagai juara tunggal Putera Junior di Piala Munadi.

Dua tahun kemudian PB Djarum Semarang diresmikan, dan pada tahun yang sama Liem Swie King mencapai final All England. Namun dia dikalahkan oleh Rudy Hartono. Hal itu tidak memupuskan semangat King, dan dua tahun kemudian di 1978 King menjadi pemain PB Djarum pertama yang menjuarai Tunggal Putera All England. Tahun berikutnya King kembali meraih juara All England. Dan pada 1981 Liem Swie King menjadi juara All England untuk kali ketiga. Pada saat yang sama Kartono/Heryanto menjadi Juara Ganda Putera All England.

Dengan berbagai prestasi itu, maka pada 1982 Goei Po Thay kemudian membuka sarana bulutangkis terpadu di Kaliputu, Kudus. Pada 1984, Indonesia kembali merebut Thomas Cup. Tujuh dari delapan anggota tim Thomas berasal dari PB Djarum. Di tahun yang sama Kartono/Heryanto kembali menjadi Juara Ganda All England.

Setahun berikutnya PB Djarum Jakarta diresmikan, menyusul kemudian PB Djarum Surabaya pada 1986. Dengan dukungan Christian Hadinata, pusat pelatihan di Jakarta diputuskan sebagai tempat latihan pemain ganda (putera, puteri, dan campuran). Tahun 1989 ini pula di Kejuaraan Dunia, tunggal putera Ardy B Wiranata meraih runner up. Kemudian terjadi unifikasi antara PB Djarum Kudus dengan PB Djarum Jakarta, menjadi PB Djarum.

Pada 1991 Ardy B Wiranata meraih Juara Tunggal Putera All England. Ia adalah orang Indonesia keempat yang mampu menjadi juara All England. Setahun kemudian Alan Budikusuma meraih medali emas Olimpiade. Pada saat sama Eddy Hartono/Gunawan menjadi Juara Ganda Putera All England.

Prestasi kemudian berlanjut diraih para pemain PB Djarum. Tahun 1993 juara All England Tunggal Putera oleh Hariyanto Arbi, dan Piala Dunia melalui Tunggal Putera Alan Budikusuma. Tahun berikutnya Hariyanto Arbi Juara All England Tunggal Putera. Gunawan/Bambang Suprianto menjuarai Ganda Putera All England. Tahun 1995 Hariyanto Arbi meraih Juara Kejuaraan Dunia Tunggal Putera.

Lalu perunggu Olimpiade Atlanta dimenangkan oleh Ganda Putera Antonius/Denny Kantono (1996), Sigit Budiarto/Chandra Wijaya menjadi Juara Dunia (1997), Perak Olimpiade Ganda Campuran melalui Trikus Haryanto/Minarti Timur (2000), lalu Sigit Budiarto/Chandra Wijaya menjuarai All England (2003). Pada 2004, berbarengan dengan pembangunan GOR bulutangkis di Jati, perunggu Olimpiade Athena dipersembahkan oleh Eng Hian/Flandy Limpele.

Generasi berikut adalah ganda campuran Tontowi Ahmad (Owi) dan Liliyana Natsir (Butet) yang meraih juara di Olimpiade Rio 2016, Kejuaraan Dunia 2017, dan Indonesia Open 2018. Kemudian Kevin Sanjaya bersama pasangannya, Marcus Gideon, berhasil meraih juara Indonesia Open 2018, Asian Games 2018, dan Japan Open 2018. Di tingkat yunior, ada pasangan ganda puteri Febriana Dwipuji Kusuma dan Ribka Sugiarto yang berhasil meraih gelar juara di ajang Asia Junior Championship 2018.

Pembinaan Atlet

Eddy menjelaskan, bagi yang ingin bergabung di pelatihan klub PB Djarum, sebelumnya para calon atlet diwajibkan mengikuti tahapan seleksi. Seleksi awal untuk para calon atlet yang akan dibina meliputi faktor umur, tinggi badan, bakat, kemampuan intelektual, keseimbangan psikologisnya, kemampuan teknik dasar, serta sejauh mana dukungan yang diperoleh dari orang tua.

Bila berhasil lolos seleksi awal, calon atlet sudah bisa diputuskan untuk mengikuti kegiatan pelatihan di klub PB Djarum. ‘’Setelah itu setiap tahun akan dilakukan seleksi kelanjutan, misalnya dalam kemampuan bertanding. Jika memang kemampuan bertanding tidak pernah meningkat, maka PB Djarum akan memulangkannya,” tuturnya.

Atlet di PB Djarum tidak serta merta dari kecil hingga besar. Ada kemungkinan baru setahun dia kena degradasi. Jadi jika dilihat dari latihannya dan prestasi di kejuaraan, kalau dianggap masih mumpuni ya terus dibina bahkan sampai menjadi pemain nasional. Jika setahun dua tahun mereka stagnan, atau mereka malas dalam latihan dan prestasi, maka terpaksa didegradasi.

PB Djarum memang memberlakukan sistem promosi-degradasi dalam tahapan pelatihan para calon atletnya. “Ini untuk meningkatkan iklim kompetitif di kalangan atlet. Sehingga dengan kegagalannya, atlet bisa diberi kesempatan memperbaiki diri atau mengembangkan karier di bidang lain. Biasanya ada klausul tertulis untuk pemulangan ini, sehingga setiap orang tua atlet tahu sejak awal,” katanya.

Bagi yang kemudian mendapat bea siswa bulutangkis, akan memperoleh peralatan, sepatu, kaos, makan, tempat untuk tidur, ikut kejuaraan, pengiriman atlet ke luar negeri dan lain-lain yang diback up Djarum. Untuk pendidikan mereka biaya sendiri. Dijelaskannya, PB Djarum sejak dini sudah menanamkan visi kepada seluruh atletnya, agar selain mencetak keberhasilan di arena pertandingan juga berhasil di bangku sekolah.

Memang diakui membagi kegiatan antara latihan bulutangkis dan sekolah bukan tugas yang mudah bagi para atlet PB Djarum. Apalagi mereka kebanyakan masih duduk di bangku SD, SMP, dan SMA. Untuk menyelaraskan dua kegiatan tersebut, PB Djarum bekerja sama dengan Depdikbud, sehingga kegiatan latihan bulutangkis dan sekolah bisa dijalani para atlet dengan baik, tanpa mengganggu satu sama lain.

Kerja sama berupa pemberian dispensasi waktu di sekolah untuk para atlet. Mereka diberikan izin untuk memulai waktu belajarnya di sekolah tidak seperti siswa lain pada umumnya. Para atlet juga diberi kemudahan memperoleh izin meninggalkan sekolah pada saat mereka harus mengikuti kejuaraan.

“Jam 10 atlet SD baru berangkat sekolah. Yang SMP sekolahnya seminggu hanya dua tiga kali. Mereka ada kemudahan dari sekolah, dan diberi kesempatan belajar sendiri dan diberi tugas-tugas. Jadi bagi yang hendak menjadi pebulutangkis, prioritasnya adalah sebagai atlet PB Djarum, dan biasanya ini juga sudah sepengetahuan orang tua’’. Sekolah yang sudah diajak kerja sama oleh PB Djarum untuk mendukung kemampuan akademis para atletnya adalah SD Glantengan, SD Kanisius SMP Taman Dewasa, SMP Kanisius dan SMA Kanisius.

Diakui dalam mendidik calon atlet, biasanya ada kendala pada pencarian bibit, karena banyak klub di Indonesia seperti Jaya Raya, Mutiara di Bandung yang juga membina atlet. Jadi semacam “rebutan” dengan mereka.

Kepala Admin PB Djarum Eddy Prayitno

Dalam pencarian atletnya, PB Djarum mengadakan audisi umum dan talent scouting. “Perekrutannya kita bikin heboh supaya masyarakat tertarik. Kita dompleng cara Indonesian Idol dalam mencari bakat penyanyi. Kita ingin talent terbaik,’’ kata Victor (Setengah Abad PB Djarum, Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia).

Dalam audisi ini PB Djarum menurunkan tim pencari bakat dan sejumlah atlet alumni PB Djarum yang berprestasi. Langkah ini dilakukan untuk menggiatkan ketertarikan masyarakat berkarier di bulutangkis.

Audisi ada di 8 kota, 4 di  Jawa dan 4 di luar Jawa. Finalis nanti di Kudus biasanya pada September. Tahun lalu pendaftar 5000 lebih, setelah seleksi sampai di Kudus, yang lolos cuma 23 atlet putera puteri. “Audisi ini untuk U15, U13 dan U11,” kata Eddy. Talent scouting dilakukan di kejuaran-kejuaraan dan pelatih melihat apakah ada atlet yang bagus dan kebetulan masih di klub kecil sehingga cukup mudah untuk direkrut.

Ada juga dari luar negeri yang mengirimkan atlet untuk belajar di PB Djarum. Bisa latihan di Kudus, dengan catatan dikenai biaya 75 dolar per hari. Dari Australia, Taiwan, India, maksimal dua bulan dan di bawah usia 19 tahun.

Dampak Prestasi

Keberhasilan meraih prestasi biasanya dampaknya dirasakan langsung oleh para atlet. Kevin Sanjaya kontrak dengan Yonex per tahun 2 juta dolar AS. Belum kalau kejuaraan dapat hadiah, dan iklan-iklan lain, bonus dari Djarum juga. Owi-Butet dapat dari Menpora 5 miliar rupiah, dari Djarum dapat rumah di Graha Padma Rp 1,5 miliar dan uang Rp 1 miliar. Itu jadi sejarah atlet di Olimpiade dengan bonus terbesar di Indonesia.

‘’Bulutangkis memang menjanjikan,” kata Eddy. Dia melihat, Pemerintahan Jokowi sangat memikirkan apresiasi terhadap para atlet. Bonus langsung diberikan, ada yang dijadikan PNS. Contoh lain, pada tahun lalu Djarum Foundation mengadakan malam penghargaan untuk para atlet binaan PB Djarum. Total sekitar Rp 1,2 miliar dikeluarkan Djarum Foundation untuk mengapresiasi para atletnya yang berjuang di Asian Games 2018.

Mereka juga tak hanya berhenti sebagai pemain. Sejak 90-an Hargiono ada di Luksemburg sudah 25 tahun sebagai pelatih. Banyak pemain PB Djarum yang kemudian pergi ke luar negeri. Yang sudah tidak bisa berkembang di prestasi sebagai pemain, mereka kemudian menjadi pelatih di luar negeri, seperti Kanada, Amerika, India dan lain-lain.

Tinggal para atlet tadi passionnya kemana, kalau sebagai pelatih maka oleh PB Djarum mereka diarahkan sebagai pelatih. Banyak pelatih nasional yang jebolan dari PB Djarum, seperti Hayom Rumbaka, Ellen Angelina, Hastomo Arbi, Fung Permadi. Fung sejak kecil bersama PB Djarum, kemudian dia ke pelatnas. Kalah bersaing dengan teman-temannya akhirnya dia ke Taiwan. Malah bisa berkembang. Bahkan pernah mengalahkan atlet pelatnas.  Toni Gunawan di Amerika sempat jadi juara dunia.

Hariyanto Arbi (yang bersama Hastomo Arbi, Edi Hartono di PB Djarum) pemilik Flypower, tadinya dibina dari nol, jadi pemain dunia. Setelah pensiun buat bisnis penyedia alat-alat olahraga. Alan Budikusuma juga jadi wirausaha dengan Astec.

Eddy melatih di Djarum sejak 1982. Dulu ia atlet, kemudian pelatih dan akhirnya menjadi pengurus PB Djarum sampai sekarang. Di Djarum sudah 40 tahun. Sejak melatih dia melihat Hariyanto Arbi merupakan contoh perjuangan atlet yang paling menarik. Seangkatannya ada juga Lioe Tiong Ping, Ferry Gunawan dan Hendrawan. Keempatnya punya prestasi di Djarum saat usia remaja. Di antara mereka Hariyanto paling bawah prestasinya. Namun dia memiliki semangat yang luar biasa. Pas di puncak semangatnya, dia cedera. Lututnya keluar tulang tumbuh, sehingga akhirnya dioperasi dua-duanya. Dia harus istirahat.

Setelah dioperasi, dengan semangat yang justru semakin besar, maka semakin tinggi prestasinya. “Kami sebagai pelatih memberi motivasi. Dia komit dengan dirinya sendiri. Karena merasa tertinggal dari teman-temannya, dia kemudian latihan secara luar biasa, bahkan menambah porsi latihan sendiri. Mentalnya sungguh luar biasa di usianya yang sekitar 15 tahun itu. Berhasil mengatasi trauma pasca operasi,” tuturnya. Sementara Manajer Tim PB Djarum Fung Permadi ketika ditemui sedang menyaksikan latihan para atlet menyatakan kebanggaannya terhadap PB Djarum. Dia merasakan komitmen yang tidak pernah putus dari PB Djarum untuk memberikan nilai lebih pada nilai-nilai kita sebagai Bangsa Indonesia melalui bulutangkis. Sebagai pemain di PB Djarum tahun 1983-1994 dia merasakan komitmen yang luar biasa PB Djarum. ‘’Melalui arahan dari Pak Victor Hartono, kami selalu mencari atlet-atlet bulutangkis baru yang nantinya bisa menyumbangkan sesuatu untuk kejayaan Indonesia,” ucapnya. (BG