24 July 2024
Home / Our Product / Pikirkan Masalah Banjir sejak Awal

Pikirkan Masalah Banjir sejak Awal

Tim Teknik Graha Padma

Secara teknik catchment area air yang masuk ke Graha Padma bisa dihitung, sehingga bisa diketahui harus membuat saluran seberapa lebar, kemudian juga bagaimana aliran air dibuang ke laut

Sejak dibangun pertama kali pada tahun 1995, di Perumahan Graha Padma sudah dipikirkan tidak boleh terjadi banjir. Demikian disampaikan oleh Tim Teknik Graha Padma, terdiri dari Candrayono, manager teknik pelaksanaan; Finand Pasa, koordinator pengawas; Sripuryanti, koordinator pengawas;Triwikandari (Tiwi), manager teknik perencanaan; Prasetyo Budi, Kabag infrastruktur, utilitas & surveyor kepada Padmanews baru-baru ini.

Candra mengungkapkan, secara teknik catchment area air yang masuk ke Graha Padma bisa dihitung, sehingga bisa diketahui harus membuat saluran seberapa lebar, kemudian juga bagaimana aliran air dibuang ke laut. “Itu semua harus dipertimbangkan,” katanya. Sebagai pedoman waktu itu adalah runway Bandara Ahmad Yani. Perumahan di atas runway 1,9 meter sehingga cukup aman.

Budi menambahkan, sejak awal pembangunan perumahan tim berasumsi bahwa runway bandara adalah sesuatu yang vital. Jadi pasti dijaga jangan sampai ada banjir di runway. Patokan lain adalah rel kereta api, yang juga tidak boleh terendam. “Kami juga mengecek langsung permukaan air di Marina. Kami mengawasi pasang surut air laut selama satu setengah bulan pada November-Desember”.

Dari pasang tertinggi kemudian ditarik ke rel kereta api. Tinggi rel itu 2,3 meter dari pasang tertinggi. Dan rel itu 1,9 meter dari tinggi runway. “Kemudian kami tentukan patokan bahwa BM kami sama dengan rel kereta,” kata Budi. Meskipun rel kemudian turun naik karena ada rel ganda, namun acuan 00 BM perumahan tetap dari rel.

Pada waktu pembangunan pertama di Blok B, pile lantai +80 dari 00. Dari pendataan di lingkungan sekitar, di Perumnas dan Tambakharjo, rata-rata elevasi lahan di area itu minus, di Tambakharjo -1,2 meter, sementara Perumnas -0,8. “Meskipun elevasi Graha Padma di atas lingkungan sekitar, namun drainase juga dipikirkan”.

Debit air yang masuk diperhitungkan. Untuk bisa menampung aliran supaya bisa lari ke laut, dipikirkan berapa luas dan juga lebar drainase. Yang terpenting adalah main drainage, seperti di PUK, lalu Kalimati yang kemudian digabung dengan Jumbleng.

Menurut Tiwi, upaya lain adalah di main road diberi buis beton lubang, di dalamnya ada batu kali dan ijuk sebagai resapan. Air dari permukaan akan masuk ke dalamnya. Selain itu juga ada program biopori. Setiap rumah diberi biopori, satu di halaman dan satu di pedestarian, terbuat dari pipa berdiameter 4 inchi sedalam satu meter. “Untuk keseluruhan di area perumahan sudah ada sekitar 500 biopori” katanya.

Pelaksanaan Pembangunan

Pada bagian lain Candra menjelaskan, tim teknik pelaksanaan bertanggung-jawab terhadap pembangunan infrastruktur, utilitas, bangunan, dan surveyor. Sementara pengerjaan proses pembangunan dilakukan oleh rekanan, bos borong, supplier. “Kami harus bekerja, memonitor, dan mengontrol tiga hal pokok, yakni kualitas, waktu, dan biaya,” tuturnya.

Dalam hal kualitas, hasil pembangunan diharuskan dengan hasil akhir yang secara mutu bisa diterima. Oleh karena itu untuk mencapai kualitas yang baik perlu proses yang terawasi dengan baik. “Pengawas secara umum sudah diberi pegangan. Apa yang sudah distandarkan bisa saja terjadi perubahan. Nah, perubahan ini yang kami awasi. Ada SOP, check list, pedoman setiap langkah harus dipertanggungjawabkan. Ada buku untuk itu,” jelasnya.

Dikatakannya, setelah SPK dikeluarkan dari Bagian Perencanaan, tim pelaksana diperintah membangun. Budi selaku surveyor bergerak. Tahapan ini juga punya lembar pertanggungjawaban terhadap setting lahan, infrastruktur, dan lain-lain. “Ada pegangan yang diberi oleh Bagian Perencanaan, dikapling berapa, tipe apa. Semua aspek tercatat,” tutur Candra.

Jadi, langkah demi langkah tercatat, mulai rapat fondasi, mulai dari bawah sampai bagian atas bangunan. “Semua terdokumentasi, dengan tujuan akhir adalah suatu hasil yang bisa dipertanggungjawabkan”.

Hal ini penting mengingat kalau di lapangan, hubungannya dengan manusia yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Jadi bisa saja instruksi yang dianggap sudah benar, terjadi penyimpangan. “Inilah yang kami sebut bahwa penyimpangan harus dikendalikan”.

Satu perubahan diatasi dengan satu analisa. Dicari dulu apa penyebabnya, kemudian disampaikan hal tersebut kepada pihak yang bertanggung jawab. Ada rapat koordinasi seminggu sekali khusus tim teknik lapangan, yang juga berkoordinasi dengan Bagian Perencanaan menyangkut spesifikasi, gambar kerja, ada perubahan keramik, dan lain-lain. Koordinasi juga bisa dengan tim arsitek, penghitung RAB, dan lainnya.

“Syukurlah selama ini selalu ada pemecahan masalah, dan tidak ada kendala sampai tidak bisa memecahkannya. Setelah koordinasi, biasanya urusan dengan rekanan clear,” kata Candra. Tiwi menambahkan, “Mengatasi persoalan di lapangan tidak perlu langsung ke Perencanaan. Jika tim pelaksanaan di lapangan sudah berupaya mengatasi dan tidak selesai, baru dibawa ke Perencanaan”.

Mengenai persoalan waktu, ketika tim lapangan mendapat SPK, selalu disertai time schedule. Ada tanggal awal dan akhir. Monitor dilakukan tiap Minggu lewat progres pembangunan. Perkembangan pembangunan juga dilaporkan ke direksi ketika rapat.

Kendala memang juga terjadi, karena dalam pekerjaan tidak semua berjalan lancar. Baik karena perubahan gambar kerja, cuaca, perubahan keputusan, atau faktor tenaga kerja yang berkaitan dengan jumlah atau keahlian. Hal ini biasanya dibahas dalam rapat, karena berhubungan dengan Marketing. Kaitannya dengan ketepatan serah terima dengan konsumen.

“Bisa juga sudah ditentukan tanggal serah terima, konsumen ternyata minta percepatan. Ini juga harus dibahas bersama Perencanaan. Selama waktu masih bisa, maka akan kami penuhi. Kalau tidak bisa, ya kami sampaikan tidak bisa. Pokoknya kami fair di depan,” kata Candra.

Yang ketiga, berkaitan dengan biaya. Ini dikendalikan berdasarkan yang tertulis di SPK, misal kapan harus dilakukan pembayaran. Progres dicek dulu, apakah sesuai dengan bobotnya. “Itu jadi dasar membuat termin”.

Candra menuturkan, ketiga aspek tersebut akan menghasilkan buku asbuilt drawing, merupakan hasil pembangunan berisi tahapan, spek, perkembangan lapangan, yang dibuat oleh rekanan. Jika ada penyimpangan dari gambar, rekanan harus menyesuaikan.

“Jadi tidak bisa gambar kerja dicopy begitu saja, karena belum tentu gambar kerja sesuai dengan kondisi di lapangan. Spesifikasi yang dikeluarkan perencanaan awal belum tentu juga sesuai. Jika ada revisi harus dicantumkan,” ucapnya. Buku ini dibuat rangkap tiga, untuk arsip, estate management, dan untuk konsumen. Dengan tiga hal tersebut, golnya adalah agar dari segi marketing bisa mendongkrak pemasaran. Apalagi konsumen sekarang sangat jeli, sehingga dengan menyelesaikan proses secara baik, konsumen bisa terpuaskan karena kualitas fasilitas, lingkungan, lokasi, pelayanan yang baik. “Ini sesuai salah satu visi misi perusahaan, menjadikan perumahan impian masyarakat dalam mutu dan pelayanan”. (BG )

About Eddy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *