24 April 2026
Home / Inside / Di Balik Warna-warni dan Keteduhan di Graha Padma

Di Balik Warna-warni dan Keteduhan di Graha Padma

Coba bayangkan, Anda memasuki kawasan perumahan mewah, namun gersang, tanpa taman, tanpa pepohonan peneduh, tanpa tebaran bunga warna warni, dan tanpa dedaunan yang hijau menawan. Barangkali Anda akan mengernyitkan dahi.

Ya, sebuah kawasan permukiman tak hanya berisi rumah berjajar yang ditata rapi. Ada komponen yang oleh awam dianggap tidak penting, namun sebenarnya sangat vital. Komponen itu bernama nursery. Di perumahan Graha Padma, nursery dianggap sebagai salah satu departemen yang ”harus ada”. 

Penjaga gawangnya adalah Joko Santoso. Jabatan pria kelahiran Blora, kelahiran tahun 1977 itu adalah pengawas nursery. Persemaian nursery di kamus Agrotani, adalah kegiatan pembibitan atau persemaian, tempat pertumbuhan sementara agar bayi tanaman tidak kaget dengan kodisi alam aslinya. Dengan nursery dapat mengurangi risiko kematian tanaman.

”Kegiatan di persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dari kegiatan penanaman tanaman. Oleh karena itu menjadi sangat penting dan merupakan kunci pertama di dalam upaya mencapai keberhasilan penanaman tanaman,” jelasnya.

Intinya, kata Joko, departemen yang dia pimpin itu memasok kebutuhan seluruh taman yang ada di kawasan perumahan Graha Padma. Yakni taman-taman, tanaman keras, pedestrian sepanjang jalan masuk ke cluster-cluster dan lain-lain. Sehingga Graha Padma benar-benar terkonsep sebagai perumahan yang holistik (dipikirkan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan segala aspek yang mungkin mempengaruhi tingkah laku penghuninya termasuk pendatang/tetamu).

Jadi, bicara perumahan tak hanya membahas hunian, interior dan eksterior, bentuk, model, dan pernik-pernik pendukungnya. Jika lokasi, bentuk rumah, dan harga sudah cocok, calon konsumen tentu akan mempertimbangkan keamanan, kenyamanan, keindahan kawasan, dan kesejukan. 

Maka sangat wajar apabila suatu saat di sebuah pameran perumahan, Anda akan mendengar pembicaraan seperti ini. ”Di Graha Padma, selain bentuk rumahnya bagus-bagus, lanskapnya juga mendukung banget. Nyaman untuk hunian, banyak tamannya, kalau pagi bisa jogging, sejauh mata memandang hijau menyergap, ditimpali warna warni bunga-bunga yang elok.”

Perbanyak Pepohonan dan Tanaman Bunga

Lebih jauh Joko menjelaskan bahwa tugas nursery antara lain memperbanyak pepohonan dan bunga-bunga serta tanaman lain pendukung. Untuk itu beragam tanaman bunga dan tanaman keras ada di kompleks Perumahan Graha Padma. 

Antara lain Bougenville (Bougainvillea Heliconia psittacorum), yakni spesies tanaman hias berbunga yang berasal dari Karibia dan Amerika Selatan. Bakung (Lili), yakni tanaman yang memiliki bunga berwarna putih, kuning, jingga, merah muda, merah, dan ungu.

”Ada Soka Jawa (Ixora javanica) tumbuhan pantai atau payau berupa pohon dengan ketinggian dapat mencapai 12 m. Dikenal di Pasifik dengan nama leva, toto, serta vasa. Juga ada pohon peneduh Cerbera Manghas Kingdom yang juga akrab dengan sebutan Cerbera Ki hujan, pohon hujan atau Trembesi (Asam) merupakan sebuah tumbuhan pohon besar, tinggi, dengan tajuk yang sangat melebar.”

Ada spesies Tabebuya. Tabebuya kuning atau pohon terompet emas adalah sejenis tanaman yang berasal dari Brasil dan termasuk jenis pohon besar. Seringkali tanaman ini dikira sebagai tanaman Sakura oleh kebanyakan orang, karena bila berbunga bentuknya mirip seperti bunga sakura.

”Saya bergabung di Graha Padma tahun 2006. Dan, Departemen Nursery ini sudah ada sekitar awal tahun 2000-an. Jadi Graha Padma memang sejak awal sudah memikirkan kesejukan dan kenyamanan bagi penghuninya. Terlebih banyak tanaman peneduh seperti Spathodea campanulata,” katanya.

Spathodea campanulata adalah pohon hujan adalah pohon asal Afrika yang biasa ditanam sebagai pelindung di taman atau tepi jalan. Karena kuncup bunganya yang mampu memuncratkan air, dalam bahasa Sunda tanaman ini dikenal sebagai ki acret dan dalam bahasa Jawa disebut crut-crutan. 

”Beragam tanaman keras seperti bintaro, trembesi, spathodea itu kami tanam untuk pedestrian jalan utama. Tanaman itu memang kami desain untuk peneduh pengguna jalan.”

Rumah Kompos 

Departemen Nursery memiliki lahan tempat pembibitan sekitar 1 hektare di belakang DaCon. Seperempat hektare-nya untuk rumah kompos dan selebihnya untuk lahan pembibitan itu sendiri.

”Bibit tanaman kami datangkan dari taman publik. Kemudian kami mempersiapkan polybag sebagai media tanam. Setelah itu tinggal menanam, antara lain pembibitan dengan cara stek dan sebagainya.”

Kotoran 47 rusa totol (axis axis) milik Graha Padma yang didatangkan dari Istana Bogor, menjadi penyumbang bagi rumah kompos. Ditambah kotoran sapi yang didatangkan dari Gunungpati. Seluruh daun rontok maupun hasil keprasan tim nursery terhadap pohon-pohon agar lebih rapi, semuanya masuk ke rumah kompos. 

Dia menambahkan, persemaian dapat dilakukan dengan jenis tanaman atau dengan jenis tanaman itu sendiri. Sebab, jenis tanaman ada yang cocok dengan metode persemaian dan ada yang tidak cocok.

Contoh penanaman secara langsung, berupa tanaman yang berbentuk biji-bijian. Pembibitan atau persemaian tidak perlu dilakukan, benih bisa langsung ditanam karena berukuran besar. Apabila benih yang terbilang banyak maka tanaman disarankan dilakukan persemaian.

Sesuai Cita-cita

Selama sekian tahun berkutat dengan sampah, kotoran rusa, kotoran kerbau, kompos, pembenihan, pembibitan, pergantian tanaman yang mati, regenerasi tanaman taman, dan sejenisnya tidak membuat Joko mati gaya alias bosan.

”Menjadi nursery ini memang sudah cita-cita saya sejak kecil. Dulu ya tidak tahu apa itu nursery. Namun, selepas lulus SMP, saya mendaftar di STM Farming sekolah pertanian di Ungaran, Kabupaten Semarang. Sebab, sejak kecil saya memang suka tanaman.”

Suami Isnaniah ini merasa hidupnya sesuai impian, setelah mendapat pekerjaan sesuai cita-cita sejak kecil. Sehingga ketika PadmaNews bertanya apa, bagaimana, mengapa, tentang seluk beluk pembenihan dan pembibitan, Joko yang mengaku pernah menimba ilmu dari orang-orang Paritama, ini dengan cermat menjawabnya.

”Misalnya, pemindahan ”penanaman bibit” berupa semai dari persemaian ke lapangan dapat dilakukan setelah semai-semai dari persemaian tersebut sudah kuat (siap ditanam). Untuk pohon Pinus merkusii, antara lain, harus menunggu setelah tinggi semai antara 20-30 cm atau umur semai 8 – 10 bulan,” jelasnya.

Dia juga secara gamblang menjelaskan tentang pengadaan bibit/semai melalui persemaian yang dimulai sejak penaburan benih merupakan cara yang lebih menjamin keberhasilan penanaman di lapangan. Menurut dia, selain pengawasannya mudah, penggunaan benih-benih lebih dapat dihemat dan juga kualitas semai yang akan ditanam di lapangan lebih terjamin bila dibandingkan dengan cara menanam benih langsung di lapangan.  Nah soal tanaman dan tanam menanam, Joko Santoso ini bisa disebut expert. Bahkan, ketika menghadapi musim kemarau, Joko dan staf-nya sudah langsung menstok bibit dan benih tanaman sebanyak-banyaknya. ”Di sini airnya kan payau. Jika kemaraunya panjang, banyak air payau yang disedot akar tanaman. Akhirnya banyak tanaman yang mati, dan itu harus diantisipasi jauh-jauh hari.” (ali)