9 July 2026
Home / Event / Guyub, Guyon, Goyang, Gayeng di Reuni SMA Loyola 1970

Guyub, Guyon, Goyang, Gayeng di Reuni SMA Loyola 1970

Area The Club Perumahan Graha Padma pagi itu dipenuhi warga senior. Mereka adalah para alumni SMA Kolese Loyola atau Keluarga Eks Kolese Loyola (KEKL) angkatan 1970. Hampir semua alumni berusia di kisaran 73 tahunan, namun mereka terlihat tetap bersemangat dan tangkas.

Kehadiran mereka bersama para istri dari berbagai kota ke Graha Padma dalam rangka reuni tahun 2025 ini, dikemas dalam Hepi-hepi Graha Padma. Pada hari pertama kehadiran, Jum’at (1/8), panitia membagikan tshirt untuk reuni esoknya, dan juga topi koboi dan perlengkapan untuk gala dinner. Para alumni kemudian dijamu makan siang di rumah makan Sentosa Live Seafood Graha Padma Semarang.

Hari kedua Sabtu (2/8) di keesokan hari, para alumni sudah berkumpul kembali di The Club. Mereka sudah mengenakan tshirt dan juga dibagikan ikat warna merah putih. Tak lupa mereka berkumpul untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan juga berfoto bersama.

Acara reuni juga dimeriahkan dengan iringan musik live dari grup Yayas Akustik. Beberapa alumni bahkan menyumbangkan suara mereka. Rupanya keasyikan mereka mengobrol begitu menyenangkan hingga tak terasa hari menjelang siang.

Para alumni kemudian “mengganyang” berbagai sajian makan yang merupakan makanan khas Semarang. Mereka benar benar dimanjakan dan bermemori kuliner menikmati Soto Bokoran, lalu disusul Mi Kopyok Pak Duwur. Kemudian juga masih ada sajian tahu pong Gajah Mada, dan nasi goreng babat.

Di tengah obrolan, mereka kembali mengingat masa masa sekolah dulu. Maka kata kata “Iki mbiyen ngene ngene…. ” Sambil menceritakan kejahilan temannya. “Lha kowe yo ngono.. ” Jawab si teman balas menceritakan kenakalan teman satunya. Lalu pecahlah tawa mereka….

Diawali Tahun 2016

Ketua panitia pelaksana Ogi Indra Yoga menjelaskan, reuni seperti ini diawali dengan pertemuan pada tahun 2016 di kantor Johannes Kotjo. Waktu itu tokoh tokoh pemrakarsa selain Kotjo adalah Inge Adrian, Hapsono, Z. Hendro Setyadji, dr Rudy Hendarto (alm), Winarno Broto dan Ogi sendiri.

Setelah itu setiap reuni mereka mereka ini yang berperan untuk mengadakan reuni. Pada periode setelah pertemuan hingga menuju ke reuni pertama tahun 2017, mereka mengumpulkan sebanyak-banyaknya data para alumni.

Reuni pertama tahun 2017 dihadiri sekitar 130 alumni bersama pasangan mereka. “Ini sangat sukses mengumpulkan kembali rekan rekan”, tuturnya. Acara diselenggarakan di Hotel Grand Candi Semarang. Aktivitas setelah itu adalah napak tilas ke SMA Loyola, kemudian juga ke Girisonta untuk nyekar para pastur.

“Jika sejak reuni pertama dan kemudian balik lagi reuni di Semarang tahun 2025 ini maka jarak waktunya sudah sewindu. Oleh karena itu bisa dikatakan reuni 2025 ini agak khusus. Apalagi sekarang berbarengan dengan perayaan HUT RI di bulan Agustus. Angka delapan itu jadi spesial”, kata Ogi.

Setelah reuni pertama, reuni tahun 2018 diselenggarakan di Ancol. Ini bisa dibilang sebagai reuni emas. “Itu kita hitung dari tahun masuk kami di SMA Loyola tahun 1968. Jadi persahabatan kita itu sudah dimulai sejak tahun 1968”.

Setelah beberapa reuni, dan sempat terhenti karena Covid, maka pada tahun 2023 diselenggarakan di Guci, Tegal. Kemudian tahun 2024 di Batu, Malang. “Waktu Covid, kita adakan reuni online. Kita bikin koor lagu Mars Loyola. Kemudian kita koor lagu Pamer Bojo hahaha… Itu jadi hiburan kita waktu Covid”, tuturnya.

Di reuni 2025 ini angkatan ini selalu tidak tanggung tanggung kalau bikin reuni, selain kulinernya juga selalu ada kesenian. “Itu sesuai dengan temanya sekarang ‘Guyub, Guyon, Goyang, Gayeng’.

Bagi Ogi, persahabatan dengan teman teman ini kemudian berubah menjadi persahabatan rasa persaudaraan. ” Kami itu selain ada grup WA alumni, juga ada grup bojo. Namanya bolo bolo Loyola, dan itu anggotanya adalah para istri”, ucapnya, sambil menambahkan dari reuni ke reuni persahabatan rasa saudara ini semakin meningkat.

Dari sekolah yang sama, nakal bersama dan sekarang relatif pada sukses. “Jika ada yang kurang beruntung atau lagi sakit, kami bersama saling membantu. Persahabatan juga tidak tersekat oleh suku maupun agama”.-

Country Party

Acara puncak reuni diselenggarakan gala dinner di Hotel Mahima dengan tema Country Party. Peserta sekitar 76 pakai topi koboi. “Sambil mengenang dulu waktu SMA kan film film yang kita tonton film koboi, kayak Franco Nero, Clint Eastwood”.

Sambil tertawa Ogi menyebut SMA Loyola itu kan letaknya di Teksas. ” Bukan Texas yang di Amerika sih, tapi Tengahe Karang Saru dan Sebandaran hahaha… “. Ditambahkan, setiap reuni punya tema. Ketika di Malang temanya Hawaii.

Hari ketiga (3/8) mereka melakukan trip ke Sam Poo Kong dan kemudian makan siang di Gama Awann Kosta. Dan kemudian mereka kembali ke kota masing-masing.

Dari Australia

Di reuni kali ini ada satu alumni yang datang dari jauh, dari Australia, yakni Charles Hendrarto Wibisono. Charles tinggal di Perth Australia. Ia menyebut hampir khusus datang ke Semarang untuk reunian. Charles sungguh berkeinginan untuk bisa hadir bertemu rekan-rekannya dari SMA Loyola.

“Alasan utama adalah karena saya sudah tua. Kemudian saya itu sudah mengidap beberapa penyakit. Kaki sudah operasi, punggung juga, dan saya ini sakit jantung. Tahun lalu saya juga kena stroke”.

“Mata menjadi tidak fokus dan hampir buta. Untung ada semacam mukjizat, setelah ditangani oleh dokter-dokter spesialis di sana. Ini saja setelah pulang dari reuni, saya masih harus bertemu dokter jantung saya”, ucapnya.

Namun ia ternyata juga harus memperpanjang paspor, yang tadinya mau diurus di Australia saja, namun tidak bisa. “Ternyata ada perubahan kebijakan politik luar negeri. Dulu itu di Perth bisa dapat paspor elektronik untuk sepuluh tahun. Sekarang tidak bisa lagi, dan dipangkas hanya lima tahun”.

Ditambahkan, kebijakan dimaksudkan untuk kemudahan mengontrol warga, namun bagi orang berusia lanjut seperti dirinya hal itu merepotkan. “Kalau bisa sepuluh tahun kan kayak jadi paspor seumur hidup. Siapa yang tahu apakah saya masih ada sepuluh tahun lagi”, tuturnya.

Charles kemudian mengurusnya di Jakarta, karena Pemerintah Australia banyak mendirikan pos pos di beberapa mal di Jakarta. (BP)

About Edy