9 July 2026
Home / Art / Putu Sutawijaya Masuk Seni karena Cemburu

Putu Sutawijaya Masuk Seni karena Cemburu

Lukisan berjudul Looking for Wings karya perupa Putu Sutawijaya itu sebenarnya pernah diikutkan sebuah pameran di Jakarta, namun tidak laku. Sempat tersimpan di studio Jogja, lalu jadi korban gempa, dan pada akhirnya dibeli oleh seorang kolektor dari Jakarta.

Takdir kemudian membawa lukisan itu ke Balai Lelang Sotheby’s Singapura, dan ternyata terjual dengan harga fantastis. Looking for Wings (2002) terjual di balai lelang Sotheby’s dengan harga 114 ribu SGD (173 ribu USD) pada April 2007. Angka tersebut jauh di atas harga perkiraan yang hanya 7 ribu – 9 ribu SGD.

Para pengamat senirupa menyebut, peristiwa yang sering dikenal sebagai “Insiden Mei 2007” ini telah menjadi pemicu ledakan senirupa kontemporer Indonesia di Asia Tenggara.

Dan inilah cerita Putu mengenai peristiwa fenomenal itu serta perjalanan keseniannya kepada Tim Padmanews di studio Sangkring Art Space, Yogyakarta, baru-baru ini.

Tahun 2002 ia dan keluarganya tinggal di Bali dan punya anak pertama. Istri Putu, Jenni Vi Mee Yei, selalu mendesaknya untuk berkarya. “Mbok berkarya begitu lho, biar keliatan bertanggung jawab”. Waktu itu kegiatan Putu memang tidak jelas.

“Ketika istri saya protes seperti itu, saya pas lagi membaca novel Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata. Dan karena saya waktu itu memang sedang remuk, maka refleksi yang keluar pun remuk hahaha….”.

Ia kemudian melukis. Jadi beberapa gerakan. Orang yang bertopeng, orang yang diam, dan lain-lain. Figur yang dilukis ada yang pegang gelas minuman, karena dia menganggap terkadang orang butuh sesuatu untuk lebih percaya diri, salah satunya mungkin bir.

Satu seri karya Looking for Wings yang terinspirasi dari novel Sindhunata itu kemudian dikirim ke Jakarta, ketika ada tawaran untuk pameran. Ternyata tak laku terjual dan karya itu kemudian dikembalikan ke studionya di Jogja.

Ketika ada gempa Jogja tahun 2006, ia mengamankan lukisan itu karena rumah hancur. Ketika membersihkan dari debu ia dengan santai menyiram dengan selang air. Di luar dugaan ada kolektor dari Jakarta yang datang. Dia ternyata berminat membeli lukisan Looking for Wings itu. Akhirnya mereka deal harga.

Putu mengirimkan ke Jakarta. Ternyata perjalanan lukisan itu berlanjut. Lukisan itu oleh pemiliknya dibawa dan lolos di Balai Lelang Sotheby’s Singapura. Harga yang diraih benar-benar mengguncang dunia seni rupa kontemporer. “Di situlah pertama kali karya seni rupa kita terakses ke publik”.

“Saya waktu itu masih di jalan ditelepon oleh teman, Putu kamu mau denger gak nih hammer price.. Saya sih biasa saja waktu itu, karena menganggap lukisan itu bukan milik saya lagi. Saya diem aja, karena mau harga berapa pun kan milik yang punya”.

Sesampai di rumah, istrinya bersih bersih memasukkan semua lukisan ke dalam gudang. “Lukisan saya diroll semua dan dimasukkan ke paralon. Kenapa? Jawab istri saya, sudah jangan ngeluarin lukisan, besok pasti ramai orang datang”.

Dan ternyata benar. Putu kemudian menyadari insting istrinya. Peran Jenni, istrinya, memang vital dalam perjalanan berkesenian Putu.

Dalam manajemen pameran, Jenni juga mengontrol jadwal pameran. Kemudian juga mengatur kira-kira karya mana yang layak dikeluarkan. Di sisi marketing, Jenni juga memiliki relasi yang luas.

Putu merasa sangat beruntung, dan tidak menutup kemungkinan dia juga belajar manajemen kepada istrinya, baik manajemen waktu maupun manajemen kerja.

“Saya memang tidak pegang uang. Dari istri itu sehari cukup 50 ribu atau 100 ribu, buat beli rokok sama es dawet udah cukup itu hehehe..”.

Desa Angseri

Putu yang lahir pada 27 November 1970 berasal dari Desa Angseri, Tabanan Bali. Sebuah desa yang tak memiliki jalan raya, jalan masuk berbatu kerikil. Posisinya di antara tiga gunung, Gunung Batukaru, Gunung Sangeang, dan Gunung Adeng. Jajaran gunung itu membelah Bali utara dan selatan.

Di daerah itu ketika Putu kecil ternyata sudah muncul nama-nama besar, tetangga kampung yang menginspirasi dirinya. Ada Made Wianta, yang tinggal di desa sebelah, Desa Apuan. Di sebelah baratnya ada Nyoman Nuarta.

Putu kecil sudah tertarik dengan seni rupa, bukan karena faktor keturunan. ” Sebenarnya lebih karena perasaan cemburu. Dulu itu kan ada yang namanya Porseni, Pekan Olahraga dan Seni. Saya lari ndak mungkin. Sepak bola juga ndak bisa. Lalu saya melihat ada tiga teman SD yang selalu mewakili lomba melukisnya “.

” Mereka memang dari keluarga seniman. Saya kemudian melihat, seperti ini yang saya suka. Akhirnya sejak kelas 2 SD itu saya belajar menggambar, ikut kemana mereka pergi. Ikut pergi ke pura, karena di sana ada gambar-gambar wayang”.

Di luar dugaan, keluarga ternyata mendukung kesukaan Putu itu. Bapaknya membelikan kertas gambar. Ia seperti nyantrik sama teman-temannya itu selama tiga tahun. “Nah ketika kelas 5 SD, saya jadi peserta Porseni itu. Berarti kemudian ada empat orang yang jadi peserta. Saya lolos termasuk lima besar di tingkat Kabupaten Tabanan, dan mendapatkan hadiah”.

Putu menyadari kemudian bahwa kesenangannya memang di dunia seni. Kesenian itu kemudian berlanjut ke SMP. Apalagi waktu itu ada program majalah dinding, sehingga dia bisa ikut memamerkan karyanya.

Ia pun bertambah yakin. Ketika menyelesaikan SMP, pamannya yang selalu mendukungnya menyarankan dia untuk lanjut di SMSR (sekolah menengah seni rupa). Ia kemudian masuk ke SMSR Bali tahun 1987.

Putu merasa mungkin waktu itu dialah satu-satunya anak kampung dari Angseri yang belajar di SMSR Bali.

Dan ketika suatu saat bertemu kembali dengan ketiga teman yang dulu ikut Porseni, mereka pada heran kok bisa justru Putu yang menjadi seniman. Teman itu ada yang menjadi petani, kemudian ada yang menjadi guide bahasa Jepang.

Pasar Seni Sukowati

Di SMSR, selain belajar seni rupa, ia juga belajar membuat karya. Hasilnya kemudian dijual ke Pasar Seni Sukowati. “Itu sebenarnya yang membuat skill meningkat lebih cepat, karena terpacu ketika melihat orang lain bekerja dan melihat karya mereka. Bagaimana membuat karya dengan berbagai style. Ada style Ubud, ada style modern”.

Putu senang belajar style modern, namun ia juga belajar yang tradisi. “Itu suatu keuntungan ketika bertemu dengan teman kos yang rajin bekerja, juga tahu kebutuhan pasar itu seperti apa. Luar biasa Bali di akhir tahun 80-an itu”.

Jadi, tambahnya, selain belajar juga bisa mencoba alat tes terakhir, yakni pasar. Apakah karya bisa laku atau tidak. Pertama kali Putu membuat karya di rumah dan dititipkan kepada temannya. “Itu sewaktu saya kelas dua SMSR. Lukisan pertama kali laku Rp 3.000. Tahun 1988 cukup banyak itu. Bisa untuk membeli kanvas lagi, beli cat fondasi lagi”.

Bagi Putu peristiwa ini membuatnya semakin excited belajar dan membuat karya karya lain, selain tugas sekolah. Namun ketika kelas 4 SMSR, dia dengan sadar merasa harus berhenti untuk sekadar menjadi pemasok barang seni ke pasar. Ia bercita-cita ingin sekolah.

Dia ingin melanjutkan studi ke Jogja. Kenapa? Karena guru-guru dia di SMSR rata rata adalah tamatan ISI Jogja (dahulu ASRI). Dan mereka mengatakan, kalau ingin jadi seniman harus ke Jogja. Jadi tertanamlah mindset ke Jogja itu.

Ke Jogja

Sejak awal kelas 4, Putu sudah mempersiapkan untuk meraih cita-citanya ke Jogja itu. Dan pada akhirnya ia berangkat ke Jogja. Dari SMSR Bali ada 12 orang termasuk dirinya.

Waktu itu tes masuk ke ISI betul-betul sulit, termasuk tes bahasa Inggris, bahasa Indonesia. Jadi mengulang tes masuk sampai tiga empat kali sudah biasa. Maka ada teman yang sama sama menginap di Asrama Bali di Baciro mengatakan kepada Putu, “Kalau kamu keterima di ISI, aku gendong tiga hari”.

Ucapan itu justru memacu Putu untuk bersiap dengan serius. Menjalani tes, latihan, dan lain-lain. ” Ketika pengumuman, ternyata saya yang lulus. Ketika ketemu sama teman yang ngasi tantangan tadi, dia geleng-geleng kepala, kok malah kamu yang lulus hahaha”.

Ketika sudah masuk ISI, banyak hal dipelajari. Dia bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah. “Kuliah menjadi semacam kuali peleburan. Di situ kita juga mengenal apa itu kompetitif, sehingga mental harus diubah. Dulu sekolah di SMSR hanya punya satu buku, sekarang harus ditata, harus punya buku apa saja. Dunia membaca harus diubah, dan banyak hal lain yang harus saya ubah”.

Jogja diakuinya memiliki pengaruh yang besar dalam perubahan mindset dirinya. “Saya lahir fisik di Bali, tetapi ada kelahiran kedua di Jogja, yakni tentang pemikiran. Secara praktek juga, karena contoh banyak dari para orang besar”.

Putu menyebut bahwa di Jogja posisinya tidak berjarak dengan orang-orang yang diidolakan. ” Bisa ketemu dengan Pak Widayat, Pak Nyoman Gunarsa, dan juga bertemu dengan orang-orang yang bekerja sangat keras, yang habis mengajar mereka pulang berkarya”, tuturnya.

Ia merasa mendapatkan pendidikan secara langsung dari orang-orang yang hebat. Ada Fajar Sidik, Aming Prayitno, semuanya guru yang secara praktek diakui secara nasional dan internasional kekaryaannya.

Para Guru

Selain para guru di kampus, Putu juga punya sosok panutan di luar kampus. Dia adalah Made Wianta, yang dekat dengan seluruh anggota keluarga Putu, bahkan sekelas dengan kakak Putu. “Tapi sejak dulu memang saya sengaja tidak mau mendekat kepada Wianta. Saya menjaga jarak, dan menganggapnya sebagai guru imajiner”.

Namun Putu memperhatikan betul manajemen kerja Wianta, sistem dan banyak hal lain. Wianta memiliki sistem dokumentasi yang bagus. Putu juga melihatnya sebagai seniman yang memiliki entertain yang luar biasa. Dia juga memiliki pergaulan yang luas. “

Bagi Putu, menjadikan Wianta sebagai panutan dari jarak jauh justru bisa diambil hikmahnya. “Belajar secara imajiner justru bisa mempelajari banyak kesalahannya. Sementara kalau belajar secara dekat berhadapan langsung berisiko kita menjadi underbouw. Jadi secara batiniah dekat, ketika bertemu juga aman aman saja”.

Jika secara manajemen belajar imajiner kepada Wiyanta, secara keberanian Putu belajar secara langsung kepada Nyoman Gunarsa. “Pak Nyoman itu selalu bilang, sudah buat dulu karya, nanti risikonya dipertimbangkan kemudian. Kalau ada apa apa diperbaiki. Ini memang berbeda dengan Wianta yang rapi, terstruktur, dan penuh analisa dari awal”.

Gaya Lukisan

Mengenai gaya lukisan, Putu menjelaskan di ISI saat semester lima sudah diajarkan konsep dan dididik supaya punya kepribadian dan memiliki ciri khas sendiri.

” Sekarang saya melihat itu jadi tertawa. Ngapain dulu itu kita dipaksa harus berkepribadian, gila itu pendidikannya. Baru berapa tahun belajar seni rupa, dikejar-kejar kayak gitu, gimana gak stres. Makanya banyak yang terpental kena DO. Sebenarnya itu rada salah, karena tidak semua seniman kuat. Cuma bagi yang kuat pendidikan seperti itu memang penting”.

“Tuntutan untuk berkepribadian itu sebenarnya cara yang mustahil, tetapi itu adalah cara menghukum orang dengan tugas tugas lukis dan juga banyak tugas lain. Memang gila gilaan, tapi ketika tugas akhir (TA) di semester 14 kita sudah diharapkan mandiri secara style. Sejak semester lima hingga TA kita juga diharuskan ikut berbagai pameran, dan ini menempa dan mempercepat kemandirian itu”.

Putu menilai para dosen di ISI itu orang-orang yang hebat. Mereka berjiwa besar, dan menganggap murid mereka sebagai teman. “Ada Pak Eka (Yohanes Eka Suprihadi) yang grafisnya luar biasa, ada Pak Edi Sunaryo, ada Pak Sun (Sun Ardi) yang karyanya melampaui jamannya”.

Sejak semester lima hingga sembilan, para mahasiswa juga dilatih untuk unjuk karya di pameran gang tiap semester. Jadi teman bisa lihat, juga para dosen, dan tentu saja “membantai” karya yang dipamerkan.

Belajar dari Gunung

Mengenai lukisan lukisan gunung yang kemudian bisa menghadirkan pameran tunggal Guru Giri, Putu menceritakan punya pengalaman empat tahun keliling kaki gunung di Jogja. Ketika ditanya apakah ide dasar melukis gunung, ia menjelaskan bahwa ia ingin berguru kepada gunung.

“Menurut omongan orang, pekerja seni yang baik adalah pekerja seni yang mau dan siap menerima apa yang ada di sekitarnya sebagai modal bekal ke studio nantinya. Pengalaman di kaki Merapi mengajarkan pemahaman tentang lingkungan, bisa bersilaturahmi dengan warga sekitar, dan berkesimpulan oh ternyata Jogja itu indah”.

Putu kemudian melihat keindahan itu tidak dalam kerangka atau frame yang dia tetapkan sebelumnya.

Pengalaman di kaki Merapi inilah yang kemudian dijadikan Putu tempat berguru kepada alam. “Saya tidak tahu apakah menemukan spot artistik. Setidaknya setelah pulang dengan membawa karya, itu sudah sangat saya syukuri”.

Putu melihat bagaimana mereka menyelaraskan diri tinggal di daerah yang sensitif seperti itu. “Bagaimana mereka bisa membangun rasa bahagia dan penuh kepasrahan. Kita sebagai pekerja seni jadi merasa tidak ada apa apanya dibandingkan saudara saudara yang tinggal di kaki Gunung Merapi”.

Pelajaran dari sinilah yang membuat lukisan serial gunung menjadi pameran tersendiri. Pameran bertajuk Guru Giri, ini melengkapi perjalanan Putu dalam berguru. Dari guru offline, guru imajiner, dan kemudian guru gunung.

Belajar dari Garuda

Perjalanan berkesenian Putu pun berkembang, dari yang fokus ke pelukisan ekspresionis lalu menuju ke penceritaan. Dalam Pameran bertajuk Lelampah di Bentara Budaya akhir September lalu mulai ada patung, instalasi, sedikit narasi, dan melukis terstruktur.

Putu blusukan ke berbagai candi sebagai sumber inspirasi, ada Candi Kidal di Malang, Candi Rimbi di Jombang, dan Candi Kedaton di Probolinggo.

Putu menjelaskan, suatu ketika mencermati sebuah relief garuda di sebuah candi. “Gila ini, ternyata ada relief garuda sungkem kepada ibunya. Ini di salah satu dari sembilan relief di Candi Kedaton Probolinggo. Di relief abad XIV ini garuda mencium dengkul ibunya. Itu era Majapahit. Jadi tradisi sungkem sudah lama sekali dan terdokumentasi”.

“Dari situ saya sadar, sekali sekali perlu mengeksplor tentang bernarasi, saya perlu bercerita kembali. Dan ternyata responnya baik juga. Penyelenggaraan pameran tunggal di Bentara Budaya mendorong untuk eksplor, menjelajah teknik, dan semakin sabar karena akan membangun narasi”.

Sangkring Art Space

Putu juga menjelaskan mengenai studio seni yang didirikannya, yakni Sangkring Art Space yang berlokasi di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, tepatnya di Sanggrahan, Ngestiharjo, Kasihan. Kompleks itu berdiri pada tanggal 31 Mei 2007. Nama Sangkring diambil dari nama leluhur Putu.

Areanya terdiri dari tiga bangunan dengan berbagai fungsi, termasuk ruang pameran utama di gedung pertama yang luas, serta ruang untuk seniman muda dan karya instalasi di gedung lain.

Putu pernah menjadi ketua SDI atau Sanggar Dewata Indonesia tahun 2003. Dari situ ditemukan juga pengalaman mengatasi berbagai kendala, karena mengelola seniman dan juga organisasi seniman memang tidak mudah. Bagaimana harus mencari uang juga.

Putu kemudian menyadari bahwa kebutuhan ruang untuk seniman berbeda dengan kebutuhan ruang yang galeri sediakan. Kebutuhan ruang untuk seniman itu kemudian dia terjemahkan dengan susah payah dan banyak salah.

Tahun 2004 dia mulai membangun ruang untuk seniman itu. Setelah dikerjakan dua tahun, Sangkring Art Space Jogja itu rampung. Tanggal 31 Mei 2007 Putu meresmikan galeri Sangkring ini, yang saat itu merupakan bangunan gedung yang pertama.

Setelah dirinya bertemu dengan pasar dan ada rejeki, ia membeli lahan di belakang galeri itu. Dan kemudian membangun lagi. “Di tahun 2000- an itu seniman tidak mudah mencari ruang. Saya perlu punya ruang untuk perupa perupa yang lagi belajar membuat pameran. Dan tidak semua perupa memiliki kesempatan sama dengan segala perbedaan nasibnya”.

“Saya mencoba mengakomodir hal itu. Saya siapkan kamar kecil, sebagai sarana residensi seniman yang sedang pertukaran antarnegara dan lainnya. Saya siapkan tempat workshop, disediakan guru. Kemudian menjadi tempat pendidikan. Kalau ada rejeki kami share bisa untuk mengajak anak anak untuk tinggal di sini, belajar di sini”.

Dia mengingat di eranya, untuk menginap di suatu tempat itu susah sekali. “Itu jadi pembelajaran bagi saya untuk membangun, sehingga kalau teman datang ke Jogja bisa menginap di sini”.

Putu sendiri sangat aktif menerima pertukaran siswa kesenian dari Singapura, Malaysia, dan Jepang bahkan sejak sebelum Covid.

Hingga kini proses belajar membantu orang lain itu sudah dijalani selama 18 tahun, dan masih berlangsung.

Dan demi memperluas pertemuan pertemuan seniman seniman muda dengan yang sudah mapan, Putu juga sedang membangun tempat seperti Sankring ini di Bali. Studio dibuat lebih bagus, demikian juga tempat menginap labih baik. “Saya percaya, bagaimana pun canggihnya dunia digital, dunia seni tetap perlu bertemu secara fisik”.

Dengan perjalanan berkesenian yang panjang, Putu telah meraih banyak penghargaan dan juga terlibat dalam banyak pameran.  (BP)

About Edy