28 April 2026
Home / Our Guest / Yudi Indardo : Semarang itu Barometer

Yudi Indardo : Semarang itu Barometer

Bagi ‘orang air minum’, Kota Semarang itu barometer. Demikian kata Yudi Indardo, Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Moedal Kota Semarang saat disambangi di kantornya Jl. Kelud Raya 60, Kecamatan Gajahmungkur.

“Jadi mengapa saya merasa tertantang berada di PDAM Kota Semarang, karena bagi ‘orang air minum’, Kota Semarang ini relatif sulit ‘ditaklukkan’ . Topografinya unik. Pantai ke bukit/gunung jaraknya dekat, ada dataran rendah, dataran tinggi dan kombinasi keduanya, kalau bisa taklukkan Kota Semarang dari sisi teknis pelayanan, ya bisa taklukkan kota lain di Indonesia,” ujarnya.

Dengan topografi yang unik, maka PDAM Tirta Moedal harus banyak menggunakan inovasi teknis, seperti salah satu contohnya penggunaan Pompa Pendorong (Inline Booster Pump). Pompa jenis ini sangat berguna untuk dapat mengalirkan air ke tempat-tempat yang tinggi, namun pemanfaatannya harus diperhitungkan benar karena punya dampak bisa menyedot aliran air di bagian hulunya, disamping proses mendorong airnya baru bisa efektif disaat pipa penuh. Jika ada kejadian mati listrik atau berhentinya proses produksi di Instalasi akan menyebabkan proses pemerataan aliran membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk daerah-daerah yang dilayani dengan Pompa Pendorong ini. Akibatnya tentu, resiko komplain pelanggan lebih tinggi.

“Namun di Semarang ini, kita punya Wali kota yang luar biasa. Nggak ada wali kota yang buka channel pengaduan masyarakat seperti di sini. Intinya bagus, masyarakat lebih dekat dengan Pak Wali sehingga dapat dengan cepat merespons kualitas layanan kami. Menurut saya ini menjadi tantangan luar biasa juga bagi kami.”

Yudi Indardo, sebelum dilantik sebagai Dirut PDAM Tirta Moedal oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Selasa (16/7/2019) adalah Dirut PD Pengolahan Air Limbah atau PD PAL Jaya DKI Jakarta.

Lulus S1 dari Jurusan Teknik Lingkungan ITB tahun 1991, serta lulus S2 untuk Master of Public Policy for Urban Infrastructure dari University of Southern California dan Magister Akuntansi dari UI, Yudi pernah bekerja di Konsultan Perencana Jaya, Jakarta.

Pernah ikut di salah satu perusahaan konsultan Jepang sebagai Adviser, dan pernah menjadi bagian dari Konsultan untuk Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), “Saya yang support untuk air minum dan air limbahnya kota Jakarta.”

Tirta Moedal PDAM Besar

Menurut Yudi Indardo, PDAM Semarang harusnya menjadi PDAM besar. Sebab, pelanggannya sudah 100 ribu ke atas. Ini sayang sekali, gerakannya agak stagnan. “Saya ingin PDAM Semarang sejajar dengan Surabaya yang selama ini jadi PDAM panutan,”tegasnya.

Dalam konsep air minum ada 4 K, yakni Kuantitas, Kualitas, Kontinuitas dan Keterjangkauan. Kuantitas adalah jumlah air minum yang bisa dihasilkan dari pengolahan air baku yang ada, untuk kemudian disalurkan ke masyarakat konsumen. Ketersediaan air baku  dan juga kehandalan debit mata air/ air artesis di sepanjang musim menjadi kunci tersedianya air minum dalam jumlah yang memadai secara kuantitas/ volumenya.

“Kualitas, harus memenuhi Standar Air Minum. Dari sisi Kontinuitas, di Semarang masih sekitar 30 persen yang alirannya berbagi, mengalir secara bergantian, Sedangkan Keterjangkauan adalah cakupan layanan air minum yang dapat diberikan terhadap total penduduk Kota Semarang. Perlu diketahui bahwa cakupan area terlayani (coverage area) kita baru mencapai sekitar 60 persen di Kota Semarang.”

Masih banyak daerah blank spot PDAM sehingga masyarakat mengambil air tanah. Akibatnya di beberapa area Semarang Tengah dan Semarang Utara, terus menerus terjadi penurunan tanah.

”Tirta Moedal saat ini sudah memiliki 175 ribu pelanggan, namun ini baru mencakup 60 persen pelayanan kita untuk penduduk di Kota Semarang. Kita amankan 4 K nya, dengan strategi didepannya menaikkan kapasitas produksinya,” tandasnya.

Sebagaimana ditegaskan Wali Kota Hendrar Prihadi saat melantik Yudi Indardo dan jajaran direksi, saat ini Tirta Moedal menjadi perhatian tingkat nasional. Terutama setelah keberhasilan pengembangan SPAM Semarang Barat dengan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), di mana saat ini sedang dalam tahap Pembangunan SPAM tersebut.

Hal ini dibenarkan oleh Yudi, proyek SPAM Semarang Barat, sumbernya diambil dari Waduk Jatibarang, 1000 liter per detik. “Itu proyek KPBU kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha, ada kontribusi pemerintah pusat, pemerintah kota, PDAM dan swasta. Jadi tidak hanya mengandalkan Pemerintah saja untuk pembangunan SPAM Semarang Barat.”

Menurut dia, dengan asumsi 1 liter per detik = 60 pelanggan, berarti Tirta Moedal bisa menambah 60.000 pelanggan. Artinya pelanggan saat ini 175 ribu + 60 ribu pelanggan, ada tambahan 30 persen pelanggan, sehingga coverage bisa naik menjadi 80 persen. Apalagi juga ada rencana pengembangan SPAM Pudak Payung berkapasitas 100 liter/detik dan SPAM Jatisari 200 liter/detik. Dengan tambahan kapastias produksi ini akan direncanakan juga pembenahan aliran yang belum mengalir 24 jam kontinyu.

Untuk Graha Padma aliran saat ini dari Kaligarang dan bilamana SPAM Semarang Barat beroperasi, kemungkinan Graha Padma akan menjadi area switching untuk dilayani SPAM Semarang Barat. Rencana SPAM Pudak Payung untuk melayani sebagian Semarang Selatan dan SPAM  Jatisari untuk melayani wilayah Mijen dan sekitarnya.

“Pelayanan melalui terbangunnya SPAM Semarang Barat akan dipakai sebagai momentum penanganan penurunan kehilangan air, yang saat ini cukup besar 38 persen, akibat pipa-pipa tua yang kita miliki cukup banyak. Dengan terbangunnya fasilitas pipa-pipa baru di SPAM tersebut, diharapkan dapat menurunkan tingkat kehilangan air secara total. Saya berharap fasilitas yang baru terbangun di Semarang Barat hanya memiliki kehilangan air di angka 20-an persen.”

“Saya mengajak teman-teman swasta untuk tidak hanya menggarap KPBU  atau B to B untuk pengembangan SPAM baru, tapi juga kami ajak untuk kerja sama B to B berbasis kinerja untuk menurunkan TKA (Tingkat Kehilangan Air). Ini kan duit yang hilang. Saya ajak swasta masuk. Mereka bisa turunkan berapa, dari 38% menjadi 25% misalnya. Kita berbagi saja atas potensi pendapatan dari air yang bisa diselamatkan dan nantinya setelah 15 tahun, hasil rehabilitasi jaringan yang dibangun swasta itu menjadi milik Tirta Moedal,” jelasnya.

Saat ini sudah ada beberapa pemain besar yang tertarik menangani TKA di PDAM Semarang. Mereka juga tertarik menangani Semarang karena salah satu pertimbangannya “jika bisa menangani Semarang, bisa jadi referensi yang baik untuk mereka, dan saya yakin PDAM lain di seluruh Indonesia akan mencari mereka”.

Ini kerja sama B to B jangka menengah – panjang yang saling meguntungkan.

“Kalau mengandalkan duit kita PDAM dan APBD (PMP), bisa lama walau secara teknologi dan keilmuan kita mampu, tapi dikejar waktu. Lagipula ini duit yang hilang, kita berbagi saja, investasi perbaikan dan pembenahan sistem jaringan dari mereka. Kita saving investasi untuk program PDAM lainnya.

Mengenai kualitas air PDAM Tirta Moedal, Yudi menegaskan bahwa setiap Instalasi Pengolahan PDAM, dimanapun, didesain bisa untuk diminum. Memang kualitas standar PDAM itu untuk air minum. Lalu mengapa air PDAM tidak bisa untuk diminum saat sampai ke pelanggan, karena yang sampai ke pelanggan saat ini adalah air bersih. Penurunan kualitas air terjadi saat di distribusikan melalui jaringan pipa kita yang relatif sudah banyak yang tua, korosif dan bocor sehingga menyebabkan polutan masuk secara infiltrasi. Sebagai ilustrasi,”Umur Tirta Moedal itu sudah 109 tahun. Mata air Moedal  sejak tahun 1911 dan ada bangunan Reservoir Siranda yang dibangun tahun 1912”.

Kini PDAM juga tengan berencana memasang 10.000 smart water meter (meter air pintar) secara bertahap. Meteran jenis ini akan dipasang di titik-titik kritis pelayanan, sebagai alat ukur pemakaian volume air sekaligus sebagai alat monitoring digital kelancaran aliran di titik-titik tersebut.

Dengan alat ini, PDAM dapat secara cepat mengetahui kinerja aliran pelanggan di daerah tertentu yang dipasang meteran pintar ini, apakah aliran terganggu atau lancar tanpa pelanggan harus mengadu terlebih dahulu. Diharapkan pengaduan pelanggan dapat ditekan. Minimal kita dapat lebih responsif dengan cepat menjawab dan mengatasi pengaduan pelanggan yang timbul karena tidak lancarnya aliran, yang selama ini mayoritas disampaikan ke kanal-kanal pengaduan yang ada. Harganya smart water meter ini memang mahal, tapi semoga berharga untuk sebuah upaya peningkatan layanan.

Pelayanan pelanggan dari sisi teknis harus diimbangi dari sisi administrasinya. “Seperti kita juga mensosialisakan pemanfaatan baca meter mandiri oleh pelanggan guna efektifitas penagihan pemakaian air, juga sebagai langkah antisipatif di masa pandemi Covid ini. Kita belajar banyak saat awal pandemi Covid, dimana petugas baca meter tidak dapat melalukan tugasnya dan volume tagihan hanya diperkirakan berdasarkan tagihan rata-rata 3 bulan sebelumnya. Peningkatan volume pemakaian air bersih di saat Covid terakumulasi secara riil saat petugas dapat membaca kembali meter air di bulan sesudahnya. Secara adminstrasi kemudian diselesaikan dengan mekanisme cicil semampunya pelanggan terhadap akumulasi pemakaian air yang terjadi (dibuktikan dengan foto status angka meter pelanggan).

Tarsisius Wintoro, seorang pelanggan Tirta Moedal memberikan apresiasi kepada jajaran direksi karena masih nguwongke pelanggan.

“Tempat saya tidak mengalir seminggu. Saya telepon ke nomor pengaduan. Diterima oleh operator yang masih manusia, bukan robot dan lain waktu melakukan komplain lewat nomor WhatsApp PDAM Tirta Moedal dan juga dijawab operator atau manusia. Ini artinya PDAM Tirta Moedal masih nguwongke pelanggannya. Dan, ketika sehari berikutnya air belum mengalir, saya dikirim satu tangki air bersih, gratis. Terima kasih telah memberi pelayanan yang prima kepada kami,”kata Wintoro.

Yudi membenarkan, direksi menempatkan petugas untuk memantau semua saluran/ channel pengaduan PDAM, termasuk medsos PDAM dan juga Walikota untuk dapat langsung meresponnya. Kecuali pelanggan itu DM Pak Wali, namun biasanya DM itu juga dikirim ke direksi PDAM.

“Kami harus memverifikasi setiap pengaduan di wall kami dan Pak Wali. Begitu valid, maka kami segera mengirim petugas ke pelanggan yang mengadu. Sesungguhnya, kami juga menjadi hafal akun-akun mana yang masuk kategori hoax atau sekadar meramaikan jagad medsos.” (Ali)