
Seorang remaja berusia 15 tahun menangis di anak tangga pojokan gedung olahraga. Ia menangis karena baru saja kalah bertanding bulutangkis. Itu terjadi tahun 1970an. Adalah Robert Budi Hartono yang kemudian memberi nasehat remaja tadi agar tidak putus asa. Bahkan Budi Hartono juga menawarinya untuk ikut bergabung dan berlatih di PB Djarum. Dan kemudian dunia menyaksikan remaja yang berlinangan air mata itu tumbuh menjadi legenda bulutangkis Indonesia dengan prestasi kaliber dunia. Dialah Liem Swie King.
Swie King sendiri mengenang seperti dikutip dalam buku Setengah Abad PB Djarum, Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia, Budi Hartono, pemilik Djarum merupakan pribadi yang menyenangkan dan layak jadi panutan. “Pak Budi sebenarnya tidak begitu jago main bulutangkis, tetapi selalu memiliki pandangan jauh tentang gaya permainan kita, di mana kurangnya dan bagaimana memperbaikinya. Pak Budi Hartono berjiwa besar dan selalu berpikir positif, termasuk bila kita kalah. Akhirnya kita terbawa berpikir positif, terus berlatih meningkatkan prestasi,” kata Swie King.

Kisah King adalah kisah awal berdirinya PB Djarum, yang dimulai pada tahun 1969. Banyak air mata kesedihan maupun kebahagiaan tertumpah mewarnai kiprah klub bulutangkis yang berawal di Kudus, Jawa Tengah ini. Kini PB Djarum telah menggapai usia 50 tahun dan sepanjang lima dekade itu, air mata kesedihan telah bertransformasi menjadi air mata prestasi PB Djarum bagi bulutangkis Indonesia.
Kisah kesedihan dan kebanggaan ini mengemuka dalam acara puncak perayaan Perjalanan Emas Bulutangkis – HUT Ke-50 PB Djarum di GOR Djarum Jati, Kudus baru-baru ini. Ratusan atlet, legenda bulutangkis Indonesia, dan alumni PB Djarum hadir. Beberapa di antaranya adalah Christian Hadinata, Hastomo Arbi, Hariyanto Arbi, Alan Budikusuma, Sigit Budiarto, Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, Hendrawan, Susi Susanti, dan lainnya. Mereka saling berbagi kisah perjalanan bersama PB Djarum dan karir bulutangkis mereka.
Hanya Permulaan
Di hadapan para legenda dan alumni PB Djarum ini, President Director Djarum Foundation Victor R Hartono menyebutkan usia 50 tahun PB Djarum hanyalah permulaan. Victor berharap kiprah PB Djarum bisa melampaui 100 tahun atau bahkan lebih, sehingga bisa semakin mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

‘’PB Djarum akan tetap eksis selama kita yakin dan bertekad kuat untuk menyatukan Indonesia. Ini sesuai dengan iktikad besar PB Djarum membantu kejayaan sport untuk persatuan Indonesia. Kita tidak bisa bersatu dalam kesengsaraan sport, tetapi kita bisa bersatu dalam kejayaan sport,’’ ujar Victor.
Sejak tahun 1969 hingga sekarang, komitmen PB Djarum tidak pernah berhenti untuk melahirkan bibit-bibit baru berbakat di cabang olahraga bulutangkis. Perkumpulan yang semula hanya dimaksudkan untuk kebutuhan olahraga para karyawan Djarum ini terus melakukan inovasi demi prestasi bulutangkis Indonesia.
Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan program pencarian bakat Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis. Ajang ini telah melahirkan putera berbakat, Kevin Sanjaya Sukamuljo yang saat ini menjadi ganda putera peringkat satu dunia.

Selain itu, untuk menciptakan iklim berkompetisi yang berkualitas, Djarum juga menggelar berbagai kejuaraan bulutangkis untuk berbagai kelompok usia, baik skala nasional maupun internasional. Di antaranya adalah Djarum Superliga Junior, Djarum Sirkuit Nasional, dan Djarum Superliga Badminton. “Dengan demikian Indonesia selalu memiliki stok pebulutangkis berkualitas yang mampu meraih kejayaan di panggung bulutangkis dunia”.
Harumkan Indonesia
Pendiri PB Djarum Budi Hartono menegaskan keinginannya untuk terus memperjuangkan eksistensi bulutangkis nasional. Sejak awal mendirikan PB Djarum, Budi Hartono sudah melihat bahwa Indonesia paling menonjol di cabang olahraga bulutangkis. ‘’Saya pikir mengapa tidak, kalau kita bisa menyumbangkan sesuatu untuk Indonesia melalui bulutangkis, kebanggaan nasional, menggalang persatuan,” katanya.

“Mari kita terus dukung bulutangkis nasional, karena bulutangkis memang layak kita banggakan sekaligus kita perjuangkan eksistensinya. Kita sudah sama-sama melihat bagaimana bulutangkis mampu mempersatukan Indonesia, dan mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia,’’ tambahnya.

Semangat meraih kejayaan ini disebarkan dari Kudus ke seluruh penjuru dunia melalui jejaring alumni dan legenda PB Djarum. Banyak alumni PB Djarum yang telah gantung raket kemudian berdiaspora ke berbagai daerah hingga mancanegara. Contohnya adalah Fung Permadi, yang sekarang menjadi Manajer Tim PB Djarum. Ia pernah didapuk sebagai pelatih nasional Taiwan hingga 2006, sebelum akhirnya kembali ke Tanah Air.
Kemudian ada pula Minarti Timur, peraih medali perak Olimpiade Sydney tahun 2000 yang pernah menjadi pelatih Timnas Filipina. Juga ada peraih perak Olimpiade Barcelona 1992, Ardy B Wiranata, yang menjadi pelatih Kanada.

Kesuksesan legenda PB Djarum juga merambah ke aspek-aspek lain di dunia bulutangkis. Misalnya Hariyanto Arbi yang kini menggeluti bisnis yang tak jauh dari dunia bulutangkis. Dengan bendera bisnisnya, pemilik julukan “smash 100 watt” ini memproduksi berbagai apparel bulutangkis.
Terpisah Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin menyebutkan, ke depan PB Djarum ingin memperbaiki ekosistem bulutangkis Indonesia. “Kami akan terus memperbaiki ekosistem bulutangkis, mulai pelatih, atlet dan pihak terkait lain supaya prestasi bisa tumbuh subur,” katanya kepada awak media.
Ia menandaskan atlet-atlet Indonesia secara teknik luar biasa. Namun demikian mental dan karakter harus lebih dididik. Jangan sampai gangguan dalam hal mental dan karakter ini mengganggu karier ke depan.

Rangkaian perayaan usia emas PB Djarum diawali dengan peluncuran empat buku yang mendokumentasikan berbagai cerita dan perjalanan prestasi atlet PB Djarum yang mewarnai dunia bulutangkis Indonesia. Kemudian juga digelar talkshow “Perjalanan Emas Bulutangkis” yang dibagi dalam empat segmen, yakni Sejarah Lahirnya PB Djarum, Ekosistem Bulutangkis Indonesia, Bulutangkis Mempersatukan Indonesia, dan Dulu Berjaya, Sekarang Tetap Berjaya.

Puncak acara HUT Ke-50 PB Djarum diisi dengan pemberian penghargaan berupa liontin emas kepada tokoh-tokoh dan 28 legenda PB Djarum yang telah berjasa mengharumkan nama bangsa di kancah bulutangkis internasional serta berhak masuk Hall of Fame PB Djarum. Di antara sesepuh PB Djarum yang memperoleh penghargaan adalah almarhum Goei Po Thay, yang diwakili oleh anaknya Z. Hendra Setyadji yang merupakan Dirut PT Graha Padma Internusa. Dukungan juga diberikan kepada atlet difabel yang akan berlaga di cabang para badminton di level internasional, Suryo Nugroho dan Leani Ratri Oktila berupa voucher blibli.com dan tiket.com sebesar total Rp 100 juta. Perayaan juga diramaikan oleh penampilan kesenian para atlet muda PB Djarum. Tampil juga grup band yang terdiri dari Sigit Budiarto, Andreas Adityawarman, dan Bandar Sigit, serta Tontowi Ahmad sebagai vokalis. Hadir ikut meramaikan adalah penyanyi Sammy Simorangkir. (BG)
Padmanews.Id Online Lifestyle News





