
Bicaranya runut dan tenang. Kalimatnya tertata. Gesturnya kalem. Dengan semua itu Chris Dharmawan seakan hendak mengajak lawan bicaranya untuk berdialog dengan intens. Dan memang perbincangannya dengan tim Padmanews di Galeri Semarang miliknya di kawasan Kota Lama Semarang sore itu berlangsung intens dan gayeng.
Chris yang arsitek mengungkapkan keterlibatan dan kecintaannya terhadap dunia seni rupa, khususnya kontemporer. Dan tentu juga perjalanan mengasuh Galeri Semarang serta keinginannya memajukan seniman di Semarang.
Ia juga mengungkapkan peran besar ayahnya yang membentuk karakter dirinya seperti sekarang ini. Di sela semua itu ia juga masih terlibat aktif dalam kehidupan sosial di masyarakat, di antaranya adalah di Pirukunan Warga Sindoro Sumbing.

Chris mengawali kisahnya dengan perkenalannya terhadap dunia seni rupa ketika masih anak-anak. Sejak kecil dia sudah suka sekali dengan dunia seni. Ketika masih sekolah dasar, sebagai kado ulang tahun oleh ibu dia dihadiahi buku koleksi lukisan Bung Karno. Itu tahun 1968. “Wah senengnya bukan main. Sejak saat itu aku suka sekali melihat lukisan-lukisan Lee Man Fong, Affandi, Basuki Abdullah dan pelukis terkenal lain, tuturnya. Ini kemudian menjadi inspirasi. Ketika SMP, dia membeli kanvas, membuat spanram sendiri, dipaku-paku. Lalu melukis, meniru lukisan yang ada di bukunya Bung Karno itu.
Sejak SD, jika ditanya pakde atau pakliknya kalau besar nanti mau jadi apa? Jawabnya selalu: arsitek. Padahal anak-anak SD biasanya menjawab belum tahu. Ini dia menjawab, arsitek. Sampai SMP dan SMA juga, kalau ditanya selalu dia jawab arsitek.
Dunia Arsitektur

Begitu masuk perguruan tinggi, Chris secara yakin cuma mendaftar di Jurusan Arsitektur, tidak ada pilihan lain lagi. Hasilnya? Di Universitas Diponegoro diterima, Universitas Gadjah Mada diterima, dan di Universitas Parahyangan juga diterima.
Waktu itu banyak temannya di SMA Loyola yang ke Universitas Parahyangan, sehingga dia pun ingin masuk ke Parahyangan. Tetapi ayahnya ternyata ingin dia masuk ke UGM. “Bapak memang benar-benar nasionalis tulen, dulu bergabung di PNI. Bapak bilang, pokoknya kamu tidak boleh sekolah di sekolah swasta yang mayoritasnya non-pribumi. Kamu harus nyampur di lingkungan pribumi”. Setelah terjadi tawar menawar, akhirnya dua-duanya dia masuki, dengan perjanjian masuk ke UGM dulu.
Chris sempat kuliah di Parahyangan tiga minggu, bahkan sudah punya kartu mahasiswanya juga. Tetapi karena ayahnya ingin dia ke UGM, maka diprioritaskannya di UGM. Tahun pertama, semua mata kuliah yang diambil lulus. Dia kemudian mikir, jadi atau tidak pindah ke Parahyangan? Setelah dipikir ulang, di UGM juga sudah banyak teman. Sayang juga kalau harus membuang waktu setahun dan mengulangi lagi. Dan dia tidak merasa menyesal dengan keputusan ini.
“Ternyata bapak bener. Aku lebih mudah bergaul dan tidak menjadi eksklusif. Kalau eksklusif, mungkin aku tetap saja kalau ngumpul ya kumpulnya sama yang non-pri. Dulu di SMA, meski dari SMA Loyola, masih ada juga yang kumpulnya sama teman non-pri semua. Kalau aku jadi ke Parahyangan, bisa jadi aku akan eksklusif seperti itu. Itulah sebabnya bapak maunya aku membaur,” ucapnya. Ayahnya ternyata sudah bisa membayangkan, kalau Chris kerja nanti tidak bisa eksklusif terus, karena mereka itu minoritas.
Dia kemudian terbiasa membaur tanpa ada hambatan. Sementara teman lain mungkin masih ada hambatan dan dikotomi. Chris sejak awal tidak pernah merasa berbeda. Ayahnya selalu menekankan, karena minoritas, anaknya harus membaur. Jadi sekarang ini Chris hidup di Indonesia dengan tidak pernah merasa sebagai minoritas.

“Dengan teman-teman yang Jawa pun akhirnya tidak membedakan. Sama Bram (Bramantyo, teman dari SMA Loyola, red) misalnya, bahkan tidak terpikirkan ada perbedaan. Di kantor, kalau cari karyawan, tidak keinget sama sekali harus yang Cina atau Jawa. Karyawanku yang pegang duit malahan yang berjilbab,” tambahnya.
Di dunia arsitektur, sebelum lulus Chris sudah nyambi bekerja. Setelah lulus kemudian mengembangkan diri ke dunia development. Membebaskan tanah, terus membangun. “Tidak besar-besar seperti Graha Padma sih hahaha… Kalau membangun ruko ya sebelas biji saja terus pindah ke lokasi lain”. Walaupun kecil-kecilan, aktivitas sebagai developer jalan sampai sekarang. Di Cirebon ada, kemudian di Tegal, Magelang, dan Jogja. Yang di Cirebon agak lama, karena ada tiga lokasi pekerjaan.
Sampai kini pun, dunia desain tidak pernah dia tinggalkan, dan masih terus mengembangkan desain. Diungkapkannya, kecenderungan desain seusia dia ini biasanya mandek. Tetapi dia merasa desainnya masih berjalan. Ini efek dari seni rupa. Chris memang selalu melihat dan terlibat dengan dunia seni rupa yang selalu bergerak. Kebetulan dunia seni rupa yang digeluti seni kontemporer, yang artinya masa sekarang. “Sekarangnya besok itu kan bergeser dari sekarangnya sekarang. Misal desain mobil Kijang. Tadinya kotak saja. Kemudian terus bergeser dan berubah seperti yang kita lihat sekarang ini”.
Hal ini akan berkaitan dengan wawasan. Nah, di dunia arsitektur jika seorang arsitek tidak bergerak, dia akan kelihatan dalam wawasannya. Di dunia seni rupa kebetulan Chris eksis terus, mengadakan pameran, menyeleksi karya, diskusi dengan seniman, mengkritisi dan masuk akal tidak dunia seniman itu. Nah di arsitektur juga sama. Selalu bergeser. Dia selalu menikmati perubahan itu.
Bagi banyak orang, dunia seni rupa dan arsitektur jauh, tetapi buat dia berhubungan erat. Di situ ada perasaan tentang artistik, tentang kekuatan akan sebuah karya yang diterjemahkan ke dalam komposisi, unity, warna dan nilai-nilai akan keindahan. Apalagi sejak masa kecil dia sangat menikmati karya-karya Lee Man Fong yang bergaya naturalisme dan Affandi yang goresannya sangat ekspresif, itu ternyata sangat berpengaruh dalam kehidupannya sebagai arsitek.
Dunia Seni Rupa

Tahun 1990-an awal, ketika sudah bekerja dan punya duit sedikit, dia sudah mulai berani membeli lukisan. Pertama beli langsung memborong 40 lukisan lebih, soalnya tadinya milik sebuah galeri yang tutup. Bertiga, dengan Ridwan Muljosudarmo dan Hariyanto Yuwono, dia membelinya. Ada lukisannya Lee Man Fong, S. Sudjojono, Dullah, Affandi dan lain-lain. Kemudian dibagi tiga, dan sampai sekarang masih banyak yang dia koleksi.
Tahun 1995 Chris berteman dengan teman-teman Ridwan di Magelang. Saat itu mereka berlima, suka ngobrol bareng di Magelang. Waktu itu dr. Oei Hong Djien Sp.PA, atau dikenal dengan panggilan akrab OHD adalah seorang kolektor dan kurator seni rupa Indonesia terkenal asal Magelang yang menjadi mentor mereka lagi senang-senangnya karya seni. Mereka selalu bertanya ke dia, seniman mana yang karyanya layak koleksi.
Dia lalu menunjukkan siapa saja orangnya. Nah segeralah mereka berburu. Seminggu sekali mereka bareng-bareng naik mobil berburu lukisan ke Jogja. Karena masih baru dan sedang belajar, selalu saja ada tingkah konyol mereka. “Kalau ketemu seniman yang coretannya kami belum mudeng lalu surung-surungan, wis kowe wae sing tuku hahaha…”.
Mereka juga ke studio Nasirun, lukisannya gede-gede. Mereka bingung, terus beli yang kecil karena tidak enak hati kalau tidak membeli. “Nasirun kan orangnya baik, yo wis satus seket ewu wae,” tutur Chris. Kemudian ketika pulang ke Magelang lukisan itu ditunjukkan ke Oei Hong Djien. “Reaksinya ternyata wah bagus. Kami jadi makin semangat”. Itu awalnya.
Galeri Semarang
Tahun 2001 di Semarang Chris bertemu Handoko. Waktu itu balai lelang-balai lelang di Jakarta sudah mulai hidup. Ada Larasati, Borobudur, dan Masterpiece. Ketika sudah ada lelang, maka kemudian sudah ada pasar untuk karya-karya Affandi dan lain-lain, maupun untuk karya seni kontemporer. Selain tentu saja ke Balai Lelang Christie’s dan Sotheby pertama di Singapura. Mereka sudah mulai lebih kenal dengan karya-karya yang dilelang.
Ternyata karya Nasirun pun laku bagus di Jakarta. Karyanya setinggi dua meter yang dibeli Rp 6 juta ternyata bisa laku Rp 20 juta. Handoko yang punya naluri bisnis hebat langsung mengajak membuat galeri. Itu tahun 2001. Mereka lalu mengajak Hendra Setiadji. Hendra bilang, “aku yang pegang duit, yang urusan lukisan dan lain-lain kamu sama Pak Handoko ya…”.

Pameran pertama galeri adalah sketsa karya-karya Pak Widayat di Jalan Dr Cipto (lokasi Galeri Semarang sebelum akhirnya pindah ke Jalan Taman Srigunting No 5-6 Semarang). Kemudian secara rutin dalam setahun galeri mengadakan empat lima kali pameran. Waktu itu lagi ramai pameran-pameran tunggal. Heri Dono, Eddie Hara, Agus Suwage. Agus Suwage waktu itu masih murah Rp 50 juta, namun ketika sudah booming harganya mencapai Rp 500 juta.
Chris mengungkapkan, kemampuan untuk meramalkan apakah seorang seniman akan menghasilkan karya-karya bagus menjadi sangat penting. Dia kemudian banyak belajar kepada kurator-kurator, untuk mengetahui prospek dan karya seni tadi. Ini mengasah kemampuannya semakin tajam, semakin tahu mana kira-kira seniman yang prospektif. Pertama dipilih dulu mana seniman yang akan diajak pameran, lalu memilih karya-karya mereka, baru kemudian menentukan harga. “Soalnya kalau keduwuren ya tidak pantes. Ini semua usaha untuk membuat pamerannya selalu bagus. Hal itu berlangsung terus sampai sekarang”.
Tahun 2005 setelah empat tahun kerja bareng, Hendra dan Handoko merasa capek, dan memutuskan berhenti. “Lha wis piye maneh, wis kebacut mlaku akhirnya dengan berat hati aku lanjutkan sendiri”. Untungnya dia menikmatinya, dan juga mencari dan mengumpulkan karya-karya yang dia suka untuk koleksi pribadi dan tidak dijual. “Bisa saja selera untuk pribadi berbeda dengan yang untuk galeri, karena sifatnya yang personal,” tambahnya.
Dia mengakui kalau di dunia seni kontemporer tidak punya seniman favorit. Jadi lebih melihat kepada karyanya. Menurutnya, bisa saja dia senang dengan karya yang orang lain tidak suka. Sebaliknya jika banyak orang suka, dia bisa jadi tidak suka.
Dijelaskannya, taste terhadap karya juga sebenarnya sangat biasa. Pada awal biasanya orang suka lukisan aliran naturalisme, tetapi nanti kemudian berkembang tidak sekadar pada visual yang cantik. Namun lebih bisa merasakan. Karena sudah terlalu sering melihat karya banyak seniman, kepekaannya memang rada berbeda dari orang lain. Baginya, lukisan yang tampilannya beraliran naturalisme sekali justru pada suatu titik barangkali sudah tidak terlalu menarik lagi.
Akses Luar Negeri
Yang menandakan Chris punya akses ke luar negeri adalah balai lelang. Setiap tahun masing-masing dua kali mengadakan lelang. Christie’s melelang Mei dan November, sementara Sotheby April dan Oktober. Jadi setahun ada empat kali lelang, dan mereka selalu menghubunginya agar menyertakan lukisan untuk dilelang. Tidak setiap kali Chris memberikan atau menyertakan lukisan, namun itu tetap menjadi hubungan yang baik. Atau kadang dia datang ke pelelangan itu.
Jika memilih karya lukisan secara benar, harganya bisa berlipat-lipat. “Kalau kita milih, kemudian diikutkan lelang itu seperti kita sedang diuji. Kalau ternyata laku beberapa kali lipat, maka pilihan kita itu ternyata bener”.
Bagi Chris kecintaan terhadap seni rupa atau karier itu memang sangat personal. “Uripku itu kan wis menyatu dengan itu. Galeri ini kalau sepi kan sebenarnya tombok, karena harus mengeluarkan biaya operasional besar. Namun itu sudah gak kepikir. Soalnya inginnya gimana bikin pameran yang bagus. Sebisa mungkin tidak usah tombok, tapi kalau harus tombok masih terobati oleh kepuasan yang lain. Kalau pameran bagus, biasanya banyak diliput, ditulis di koran, kemudian banyak orang berkunjung,” jelasnya.

Menurutnya, perupa itu antara pemikiran dengan produk yang dihasilkan selalu berproses. Kalau dia bisa mengikuti perkembangan seni rupa kontemporer, maka bisa dikatakan berkembang. Namun mengeksekusi sebuah karya jadi bagus juga menjadi problem lain lagi. Proses itu yang harus diperhatikan. Memang dibanding Jogja, anak-anak muda Semarang masih ketinggalan.
Ketika ditanya kenapa tidak memajukan seniman Semarang, Chris menjawab bahwa memajukan seniman bukan hanya memamerkan karya mereka. Dia merasa kalau memamerkan karya bagus seniman luar, mereka bisa melihat, belajar, berdiskusi dan tukar ilmu. Ini juga dalam rangka memajukan para seniman Semarang. Dan ternyata hubungan galeri ini dengan para seniman Semarang tetap baik. Selanjutnya bagaimana mereka akan memanfaatkan keberadaan galeri ini. “Syukurlah juga ada Jurusan Seni Rupa di Unnes Semarang, yang bisa menghasilkan seniman yang bagus”.
Keahlian Chris memang kemudian menjadi setara dengan kurator. Namun ia dengan rendah hati merasa belum layak menjadi kurator. Dia bahkan tidak berani menyebut diri sendiri sebagai kurator. Peran kurator itu menjembatani antara karya seni dengan pemirsa. Dalam sebuah pameran perannya misal membuat tema, memilih seniman, menulis tentang konsep karya di katalog. “Aku tidak merasa sampai memiliki peran seperti itu, karena kalau pameran aku selalu memakai kurator,” tuturnya.
Kehidupan Sosial
Di sela dua kehidupan, di dunia arsitektur dan seni rupa, Chris juga tidak melupakan kehidupan bersosial. Dia terlibat aktif di Pirukunan Warga Sindoro Sumbing (Pirass). Itu LSM di Parakan yang merangkul semua golongan. Ceritanya tahun 1998 terjadi krisis moneter. Banyak proyek mandek dan gaji dipotong hingga 50 persen. Di Parakan terjadi ketegangan antara pribumi dan non-pribumi. Rumah-rumah keturunan Tionghoa dibalangi, gereja-gereja dilempari batu.
Dengan beberapa teman non-pri di Parakan, dia kemudian masuk ke kantong-kantong masyarakat. Mereka masuk ke Kauman yang merupakan basis NU. Mereka juga datang ke anak-anak muda. “Kami masuk dan berdiskusi terutama persoalan bagaimana sih sebenarnya pribumi melihat non-pri. Dan ternyata banyak yang secara teknis salah kaprah. Kalau ada tetangga belakang rumah kesripahan, tidak datang. Yang datang cuma amplopnya. Kalau ronda tidak mau nyampur. Ini kemudian berefek pribumi memandang non-pri dengan negatif. Itulah yang kami dialogkan dan jelaskan,’’ katanya.
Perbedaan-perbedaan itu pada akhirnya mencair. Terus mulai bicara enaknya bagaimana menyikapi kondisi sekarang? Waktu itu ekonomi mandek, rakyat menderita. Kemudian mereka mendirikan LSM itu, yang mengumpulkan duit dari masyarakat. Uang itu kemudian didepositokan dan bunganya untuk membangun kantor Pirass.

Kemudian juga membentuk koperasi, yang memberikan pinjaman hampir tanpa bunga kepada orang-orang yang sangat membutuhkan. Pinjamannya kecil, cuma Rp 500 ribu, Rp 1 juta. Lalu mereka mengangsur. Ternyata banyak yang macet. Tetapi karena niatnya memang hendak membantu ya sudah tidak apa-apa. Mereka juga membuat program pendampingan kepada petani tembakau, mengawal kebijakan Pemerintah Kabupaten. Jadi sifatnya edukasi dan advokasi. Meski lingkupnya cuma di Parakan, tetapi artinya cukup besar untuk masyarakat. Kalau Lebaran mereka mengadakan paket sangat murah. Mereka mencari data lapangan orang yang betul-betul tidak mampu lewat para RT, dan kemudian diberi bantuan. “Aktivitas ini salah satu hal yang membuat aku sadar bahwa kehidupan sosial itu penting,” ucapnya. (BP)
Padmanews.Id Online Lifestyle News





