
“Ngartun itu ibadah”. Itu kata kartunis Jitet Kustana. “Sama juga dengan menulis, itu juga ibadah. Kalau sampeyan menulis jalan rusak dan kemudian walikota memperbaikinya, nah sampeyan dapat pahala. Aku bikin kartun soal kasus Lapindo, besoknya keluarga korban lumpur Lapindo dapat santunan, aku dapat pahala. Itu semakin lama terkumpul, dan pada waktunya akan ada balasan untuk kita”. Karena alasan ibadah itulah, Jitet melakoni hidup sebagai kartunis dengan rasa suka dan penuh keikhlasan.

Jitet mengungkapkan kepada tim Padmanews, menggambar kartun merupakan cara mengekspresikan dirinya. Tentu untuk tujuan yang baik dan positif. “Kartun itu bahasa visual yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan. Juga bahasa yang universal”. Dia menyaksikan kerusakan lingkungan yang terus terjadi, polusi semakin parah, perang terus berlangsung melibatkan banyak negara.
Yang tidak adil, korbannya adalah anak-anak. “Semua itu akan ditanggung generasi yang akan datang”. Kartun, menurutnya, bisa dipakai untuk selalu mengingatkan akan persoalan itu, sehingga semua bisa diminimalkan. Juga untuk mengawal bumi ini dari kerusakan. Jitet terus konsisten menyuarakan problem besar ini dalam kartun-kartunnya.
Dan, hingga kini Jitet sudah mengantongi sekitar 180 penghargaan kartun tingkat dunia. Terakhir, ia menjadi kartunis terbaik 2018 versi Cartoon Home Network International yang berbasis di Norwegia. Atas prestasinya, Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid) memberikan penghargaan sebagai penerima penghargaan internasional terbanyak.
Senang Menggambar
Perjalanan kartun Jitet cukup panjang. “STM gak lulus, gelut terus. Adik banyak, jadi diputuskan biaya untuk adik-adik. Setahun jadi kuli di Jakarta, jadi tukang peres baju. Setahun, pabrik tutup karena terbakar,” tuturnya.
Ia menganggur beberapa bulan. Ayahnya yang memiliki semangat kaki lima tinggi menjadi risau melihat anaknya menganggur. Ia kemudian membelikan Jitet kios buku bekas di dekat Bioskop Indra Semarang.
“Sambil menggambar, aku jadi bisa membaca apa saja yang aku mau. Bisa baca komik yang aku suka. Baca Asterix dan Obelix yang ditulis René Goscinny dan digambar oleh Albert Uderzo. Menikmati komik strip Peanuts karya Charles M. Schulz, juga kartun strip karya Guillermo Mordillo,” tuturnya.
Sambil menunggu konsumen buku datang, Jitet punya banyak waktu membaca dan menggambar, kebetulan menggambar kartun adalah hobinya. Sampai suatu ketika dia berjumpa dengan Kartunis Slamet Bajuri yang kemudian memperkenalkan pada komunitas kartun Semarang, yang tergabung dalam SECAC (Semarang Cartoon Club).
Di sinilah ia berjumpa dengan para kartunis senior, Yehana SR, Darminto M. Sudarmo, Gunawan Pranyoto, Koesnan Hoesie, Prie GS. Eddy PR dan yang lain. Pada 1987 kartun pertamanya dimuat di Harian Suara Merdeka. Ia kemudian belajar banyak, tak hanya melatih keahlian tetapi juga membuka akses untuk kompetisi internasional.
Yehana yang punya usaha kerajinan kemudian menawarinya pekerjaan. Pagi hingga sore dia jadi perajin, malam dipakainya menggambar. Kios buku bekas itu akhirnya dilanjutkan oleh adiknya. Jitet mengirim kartun-kartunnya ke berbagai koran, dan majalah. Ia juga rajin mengikuti kompetisi internasional.
Di tahun 1990 dia berhenti bekerja sebagai perajin, karena bekerja di koran Kartika di Semarang. Ia tetap mengikuti berbagai kompetisi dunia di berbagai negara. Setahun kemudian dia pindah ke Majalah Humor (1991-1994), lalu pindah lagi ke Majalah Raket (1994 – 1998). Sempat setahun lepas, ia kemudian masuk ke Mingguan Senior (1999-2005). Dan akhirnya bekerja di koran Kompas (2005-2016) di bawah arahan kartunis besar GM Sudarta. Setelah sebelas tahun bekerja di Kompas, ia memutuskan keluar dan menjadi kartunis lepas.
Alasan keluar dari Kompas, pertama karena merasa sudah tua. Ia juga sudah hampir 30 tahun hidup di Jakarta, sementara keluarga tetap di Semarang. Memang banyak yang menyangsikan apakah dia bakal bisa hidup, karena di Kompas kan gaji gede.
Namun, menurutnya, hidup itu simpel. Dan kemudian dia melihat fakta-fakta bahwa dia bisa bersandar pada kartun. Bikin komik juga diyakininya bisa bagus. Ketika bikin komik yang diberi pengantar oleh Gus Mus, sampai dicetak ulang lima belas kali.
“Jadi bikin karikatur tidak jelek, komik tidak jelek, bikin ilustrasi juga gak jelek. Kartun, baik kartun strip maupun kartun politik juga gak jelek. Jadi apa yang harus ditakuti? Kalau mau pun aku pindah ke Tempo, kemungkinan besar diterima. Namun itu tidak aku lakukan, karena tidak ingin ada yang sakit hati. Bahkan ketika itu Indonesian Observer juga sudah menawari, namun tidak kuambil”
Kenapa Jitet begitu yakin ingin mandiri? “Begini, kalau kita dikasi waktu satu tahun bisa menggambar tiga saja yang bagus, kemudian menang lomba dan meraih hadiah 5 ribu dolar AS, pasti cukup untuk hidup. Dan alhamdulilah aku sering menang. Itu yang sering kusampaikan kepada teman-teman. Mau gaji berapa per bulan? Rp 5 juta ? Gambar satu saja yang bagus, kalau menang hadiah itu cukup bahkan lebih untuk setahun…”
Setelah itu waktunya bisa dipakai untuk main atau piknik. Itu kan simpel. Hidup menjadi bebas. Tidak lagi diperintah atau ditekan. Bisa tidur kapan pun mau.
Ide Kartun
Secara teknis, ide kartun Jitet dihasilkan dengan melakukan pelesetan, misal menggambar Patung Liberty, tetapi apinya diganti dengan daun. Kemudian pemutarbalikan logika, misal dulu anjing menggigit orang, sekarang akan lucu kalau orang menggigit anjing. Kemudian juga didasarkan pada parodi, misal menggambar Monalisa dengan tubuh gendut. Lalu analogi, misal dengan menyamakan negara dengan bahtera Nabi Nuh.
“Dalam kasus pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi, aku menggambar Patung Liberty, yang menggambarkan kebebasan, diiris-iris”.
Jitet menegaskan bekerja dengan jujur sangat penting. Kalau akan lebih bagus jika pengerjaannya dengan hati. Dengan teknik gambar yang bagus, ide yang bagus, dan kejujuran maka akan dihasilkan pekerjaan kartun yang baik pula.
Menurutnya, ada ide yang biasa saja, hanya lewat, namun ada yg benar benar great. “Jadi biasanya sudah kupilih, sebelum kutuangkan di kertas. Seperti menghasilkan anak-anak, semua karya itu aku cintai,” katanya. Jitet menyatakan, sangat kagum sama Gusti Allah. ” Dia karikaturis top, padahal cuma secuil yang dibagi pada semua orang. Hasilnya sangat lucu”.
Pencapaian Terbesar
Pencapaian terbesar dalam kariernya adalah pameran di Belgia, tepatnya di European Cartoon Center (ECC) Kruishoutem, Belgia. Kartunis Eropa pada kumpul. Mereka semua orang hebat, “Sayang mereka pada lupa menyiapkan regenerasi”. Ia juga mengajukan untuk anggota Federasi Kartun Eropa. ” Kan keren, Federasi Kartu Eropa perwakilan di Semarang,” katanya sambil terkekeh.
Keinginan supaya ada regenerasi membuat Jitet dan teman temannya mendirikan sekolah kartun Gold Pencil. Meski di Semarang, namun sekolah ini dikenal di dunia. Anak didik juga ikut kompetisi di Brazil atau Turki. Memang ini kerja bakti, namun semangat supaya ada pengganti ketika dia sudah tiada mendorongnya senang untuk tetap mengelola sekolah di Jalan Nakula II No 5 Semarang ini.
“Terbuka untuk umum, bagi yang berminat bisa langsung mendaftar. Terutama untuk SMP dan SMA .Menggambar kartun itu gampang. Sama dengan teks, kartun itu rangkaian dari teks-teks ini. Bagian dari u, e, o dan lainnya. Kelas berlangsung selama 5 bulan, dengan pertemuan seminggu sekali. Biaya pendaftaran Rp 500 ribu dan uang bulanan Rp 200 ribu.
Targetnya bikin berbagai tema, sampai pada tingkat pengidean. Selain itu juga dibukakan akses internasional. Jika ada kompetisi dengan sebuah tema, anak didik akan didorong dan didampingi untuk ikut kompetisi. “Jadi targetnya bukan cuma bisa gambar, tetapi ikut dalam kontes internasional”. Mereka juga diundang ke berbagai sekolah. ” SMP 17 itu kan gurunya Ratno, aku mengajari dia untuk mendidik generasi muda kartun. Akhirnya SMP yang lain pada iri dan minta diajari menggambar kartun juga,” ucap Jitet. (BG)
Penghargaan yang diraih :
Juara 2 Kompetisi di Yugoslavia
GrandPrize di ajang Seoul International Cartoon Festival – Korea Selatan (1997)
GrandPrize di ajang Cordoba International Cartoon Festival – Spanyol (2000)
GrandPrize di ajang Syria International Cartoon Contest – Suriah (2005)
Golden Prize di ajang The 9th Kyoto International Cartoon Exhibition – Jepang (2010)
Penghargaan Leprid sebagai kartunis dengan penghargaan internasional terbanyak
Padmanews.Id Online Lifestyle News

















