22 April 2021
Home / Top News / Kemeriahan Cap Go Meh di Singkawang

Kemeriahan Cap Go Meh di Singkawang

Singkawang. Menyebut nama kota di Kalimantan Barat ini yang tergambar adalah kemeriahan perayaan cap go meh, dan tentunya adalah festival tatung. Maka mengadakan perjalanan ke Singkawang di saat perayaan itu sungguh mengasyikkan.

Dari Semarang kami terbang ke Pontianak. Sesampai di kota itu, kami dijemput tour leader lokal, dan kemudian menikmati makanan di Rumah Makan Akuang. Sajiannya adalah nasi campur ala Jakarta berisi cashiu (babi merah) dan babi putih. Lucunya, jika orang luar menyebutnya nasi campur ala Jakarta, maka orang Pontianak mengatakan itu nasi ayam.

Ada beberapa objek wisata yang kami kunjungi. Di antaranya adalah Rumah Panjang, yang merupakan rumah adat Dayak Betang. Kemudian juga Gereja Katedral Santo Yoseph, dan Monumen Tugu Khatulistiwa. Gereja Katedral Santo Yoseph dibangun dengan perpaduan model desain bangunan Romawi dan Timur Tengah. Sepintas, bangunan terkesan mirip dengan Basilika Santo Petrus di Vatikan. Namun, ornamennya bernuansa Dayak tampak dominan di sana. Pantaslah jika disebut sebagai salah satu gereja termegah di Indonesia. Bahkan disebut sebut  ebagai gereja terbesar di Asia Tenggara.

Kami juga berkunjung ke Tugu Khatulistiwa. Seperti diketahui Kota Pontianak identik dengan khatulistiwa. Kota ini menjadi salah satu kota yang dilalui garis khatulistiwa, garis lintang nol derajat atau biasa disebut sebagai equator. Di kota inilah dibangun sebuah menara yang diberi nama Tugu Khatulistiwa, sebuah menara yang di bangun oleh tim ekspedisi geografi yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda.

Tugu Khatulistiwa terletak di Jalan Khatulistiwa, Kecamatan Pontianak Utara, Kalimantan Barat. Menuju tugu ini dapat ditempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Pontianak. Tugu ini dibangun pada tahun 1928 dengan menggunakan ilmu astronomi. Pengukuran yang dilakukan oleh para ahli geografi saat itu tanpa menggunakan alat-alat yang canggih seperti satelit maupun GPS. Para ahli ini hanya berpatokan pada garis yang tidak smooth (garis yang tidak rata atau bergelombang) dan berpatokan pada benda-benda alam seperti rasi bintang.

Ke Singkawang

Lepas siang kami melanjutkan perjalanan ke Singkawang. Dengan menggunakan bus kecil perjalanan ditempuh selama empat jam. Malam di Singkawang kami menyaksikan pawai lampion yang terlihat indah di Jalan Diponegoro Singkawang.

Suasana sungguh padat penonton. Pawai juga diisi atraksi barongsai dan parade mobil mobil hias. Puas menyaksikan pawai, kami kembali ke Hotel Kahyangan yang merupakan resort hotel, terletak 20 km di luar Kota Singkawang. Esoknya kami menikmati city tour di Kota Singkawang. Dalam kesempatan itu kami mengunjungi vihara tertua di Singkawang, Vihara Tri Dharma Bumi Raya. Vihara Tri Dharma Bumi Raya berdiri sejak tahun 1878, sehingga diyakini sebagai tempat peribadatan umat Tri Dharma tertua di Singkawang.

Kota ini dahulu menjadi tempat persinggahan orangorang Tionghoa yang ingin menambang emas di Monterado, Kabupaten Bengkayang. Ketika itu, sekeliling Kota Singkawang masih berupa hutan belantara.

Menurut kepercayaan orang Tionghoa, setiap hutan konon memiliki roh penjaga yang melindungi kawasan itu, sehingga vihara untuk peribadatan terhadap Dewa Bumi Raya (Tua Peh Kong) dibangun sebagai pelindungnya.

Setiap Imlek dan Cap Go Meh tiba, vihara ini ramai didatangi ribuan umat Tri Darma. Mereka tidak hanya datang dari Kota Singkawang, tapi juga dari kota lain di Kalbar dan kota-kota besar Indonesia bahkan dari luar negeri. Sebelum berkeliling kota menjalankan ritual membersihkan kota dari roh jahat, semua tatung atau loya (dukun Tionghoa) dari dalam dan luar Kota Singkawang wajib meminta restu Dewa Bumi Raya di vihara ini.

Tempat lain yang kami kunjungi adalah Rumah Marga Tjhia. Bangunan yang dihuni oleh keturunan langsung Xie Shou Shi (Tjhia Siu Si) yang merupakan generasi keenam ini mengadopsi gaya ala timur dan barat. Bahan bangunan rumah ini sebagian besar menggunakan kayu ulin (belian) wajar saja jika bangunannya kokoh dan tegap berdiri.

Bangunan rumah yang berdiri pada tahun sekitar 1902 ini memiliki dua ruangan besar yang terdapat di bagian depan dan di bagian belakang, di setiap ruangan itu terdapat ukiran, ornamen, dan juga kaligrafi emas masing-masing di ambang pintu. Terdapat juga lahan kosong atau aula utama di tengahtengah halaman rumah itu seperti arsitektur bangunan rumah tradisional China – Si He Yuan yang artinya “halaman yang dikelilingi bangunan di  eempat sisinya”.

Tak lupa kami mengunjungi Gereja Santo Fransiskus Asisi, yang merupakan gereja pertama di Kalimantan (1885). Juga menjadi paroki pertama di Kalimantan Barat. Pada tahun 1909 paroki pindah ke Pontianak, tetapi gereja tetap bertahan hingga sekarang. Dan saat ini diasuh oleh Romo Tan yang berusia 91 tahun.

Festival Tatung

Esoknya kami merasakan kemeriahan perayaan cap go meh. Peringatan cap go meh terasa semakin ramai dan

menarik dengan adanya festival tatung. Mereka adalah para peserta perayaan yang melakukan sayat dan tusuk diri.

Ratusan tatung berbaris rapi sambil berparade dalam perayaan festival cap go meh Singkawang. Meski banyak

juru foto mengabadikan mereka, mereka tetap fokus dengan atraksi ekstremnya.

Untuk menunjukkan kekebalan tubuhnya ketika dimasuki roh dewa atau leluhur, mereka menyayat diri dengan benda-benda tajam, seperti pisau atau mandau, senjata tajam khas Kalimantan. Beberapa dari mereka ada pula yang mencoba mengiris lidah sedangkan yang lainnya menusuk-nusukkan kawat dan jarum berukuran besar ke mulut dan pipi.

Tatung dalam perayaan festival Cap Go Meh Singkawang merupakan atraksi utama yang paling dinanti-nantikan.

Kehadiran tatung dalam perayaan hari ke-15 Imlek ini pula yang menjadikan nama Singkawang mendunia.

Oiya jangan lupa jika ke Singkawang sempatkan untuk menikmati sajian masakan lezat di Rumah Makan Along yang berada di Jalan Saman Bujang. Pemiliknya Koh Along, pria keturunan Tionghoa berusia sekitar 50 tahunan dengan tato di pundak. Dia tak banyak bicara selagi sibuk memasak dengan tungku arangnya, meski sebenarnya termasuk pria ramah. Menu daging babi menjadi menu utama rumah makan ini. Masakan yang bisa dipilih Sam Chan Asam Manis, Semur Daging Babi, Kwetiau Babi, Iga Babi Bakar, Okra Rebus, Kuah Asam Manis, Nasi Goreng Babi dan Es Jeruk Besar. (bp)