1 April 2026
Home / Figure / Sekilas Anthony Hocktong Tjio

Sekilas Anthony Hocktong Tjio

Saya kelahiran dari satu marga kecil dalam lingkungan tertutup yang masih tulen dalam budaya Tanglang di Surabaya. Sejak kecil berpendidikan Tionghoa dan mengikuti segala upacara kekeluargaan yang nyata asli dari Tangshua.

Tjio merupakan marga yang konon pernah menguasai perdagangan di daerah Pabean dan pendiri klenteng Surabaya yang tertua di Kampung Dukuh.

Sewaktu kecil saya sering menyaksikan orang-orang tua dari keluarga yang pulang kembali ke Tangshua, dan mendengarkan cerita mengenai leluhur dan kampung halaman yang secara sistematis disampaikankan kepada keturunan yang ditinggalkan di perantauan ini.

Akhirnya di tahun 1981, saya diajak orang tua untuk napak tilas kampung leluhur di Cuanciu, Hokkian. Ternyata, di satu pedesaan kami itu masih ada sedikitnya 10.000 sanak famili di sana, kanan kiri Tjio, dan dari nama tengah mereka bisa jelas siapa mereka yang harus saya sebut ngKong, nCek, atau saudara, yang hampir semuanya pernah hijrah di Surabaya dan kemudian kembali.

Bukan saja begitu, di perkampungan sekitarnya, tidak peduli marga apapun, mereka juga punya cerita yang sama, dari orang tua mereka masih ada sanak famili yang tinggal di Indonesia.

Gairah Sejarah

Cuanciu, sekarang Quanzhou, merupakan titik tolak Jalur Sutra Maritim yang penuh sejarahnya, selama beberapa hari disana, saya sempat menelusuri kawasan itu atas antaran seorang paman yang dahulu sewaktu kami masih kecil pernah tinggal bersama di Pabean Surabaya.

Dari sini, mulailah saya tertarik untuk menyelidiki “The rise and fall of

Maritime Silk Route”, yang terus berlanjut menjadi gairah pribadi selama hampir 25 tahun ini mempelajari sejarah Tiongkok pada umumnya dan kebudayaan Tionghoa pada khususnya.

Saya beruntung dikaruniai fasih dalam bahasa Tionghoa, baik klasik maupun umum sehingga  bisa dipakai untuk banyak membaca bahan-bahan sejarah yang asli di perpustakaan di Tiongkok. Sering pula dalam berbagai kesempatan saya  menghadiri seminar dan masih bisa berdebat dengan profesor di sana juga.

Walau sudah hampir 50 tahun saya berdomisili di Amerika, setiap saat saya masih merasa dalam kehidupan budaya Tanglang, orang Hokkian. Kini selama 8 tahun terakhir saya telah menggantungkan stetoskop, saya sering menulis tentang pengetahuan sejarah Tionghoa yang tujuannya sebagai pendokumentasian pengertian pribadi dan  juga guna diterbitkan.

*Anthony Hocktong Tjio, adalah kontributor rubrik “Food Story” di majalah Padmanews. Ia pernah menulis tentang sejarah Lunpia, Tahu Pong dan Ba Cang.

About Edy