28 April 2026
Home / Home / Ruang Publik di Rumah Sumbo Tinarbuko

Ruang Publik di Rumah Sumbo Tinarbuko

LAZIMNYA rumah adalah menghadap ke jalan raya. Namun tidak bagi rumah Dr Sumbo Tinarbuko M.Sn di Jl Sonopakis Lor No 15, Bantul, Yogyakarta. Suami dari Agnes Setia Wardhani SH yang oleh kalangan wartawan sebagai Doktor Pemulung Sampah Visual, ini tegas memberikan penjelasan.

”Rumah saya tidak membokongi atau membelakangi jalan. Sejak saya beli tahun 1994, kondisinya sudah seperti ini, yakni menghadap selatan,” jelasnya saat menerima tim reporter dan fotografer Padmanews di rumahnya, baru-baru ini.

Dia menjelaskan, barangkali pemilik lama sudah tahu bahwa di sebelah selatan ada situs Ambar Binangun peninggalan Sultan Hamengku Buwono (HB). Di situs itu ada kolam renang tempat mandi para putri keraton. Maka rumah ini dibangun menghadap selatan agar tidak membelakangi situs itu.

”Mengenai rumah yang membelakangi jalan raya, sebenarnya yang salah ya yang melihat. Yang salah ya perkembangan kota. Desa saya menjadi kota sejak kampus PGRI berkembang pesat dari IKIP menjadi universitas. Tak hanya dari Jogja, masyarakat Jateng, Jatim, Jabar, Jakarta, bahkan luar Jawa banyak yang masuk ke perguruan tinggi itu, akibatnya merangsek desa saya ini menjadi desa urban.”

Lebih jauh dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tersebut menambahkan, konsep rumahnya memang sengaja dipertahankan ”ndeso”, tetap agraris, selain menghindari kebisingan lalu lintas jalan raya. Dia mengaku hanya sedikit mengubah eksteriornya, justru yang lebih banyak interiornya. Tujuannya agar sesuai dengan keinginan istri.

”Istri ingin nyaman tinggal di rumah ini. Kebetulan saya juga tipe suami rumahan. Saya lebih nyaman kerja di rumah dari pada di kantor. Saya, istri, dan anak-anak ingin rumah ini semi kantor,” ujarnya.

Diwakafkan

Selesai S-2 (1998), lingkungan pergaulan Sumbo bertambah luas. Banyak tamu datang ke rumah, banyak wartawan (waktu itu Sumbo masih wartawan-red). Sehingga dia berfikir sebagian lahan harus diwakafkan untuk masyarakat atau ruang publik.

”Saya membuat Institute Sumbo dengan konsep Jawa, yang artinya, institut miliknya Sumbo (@institutesumbo). Maka saya jadikan 1/3 rumah saya menjadi ruang publik dan 3/4 ruang privat.”

Sesuai perkembangan waktu, semakin banyak yang bertamu di rumahnya. Baik untuk membahas proyek-proyek, diskusi, dll. Mereka datang dari berbagai kalangan pejabat, dekan, pembantu rektor. ”Seolah menganggap saya penting, padahal saya nggak penting,” ujarnya terkekeh.

Dia mengaku pernah diliput selama seminggu oleh media TV nasional. Mulai dari tidur sampai ke kantor sebagai Doktor Sampah Visual maupun kesehariannya sebagai dosen di ISI. Maklum, Sumbo dikenal giat memberantas sampah visual, seperti iklan luar ruang yang semrawut, pemasangan gambar parpol yang sembarangan, atau alat peraga kampanye yang merusak lingkungan.

Bukan Terminal

Rumah, menurut Sumbo, harus menjadi rumah yang sebenarnya, yakni home sweet home bukan house sweet house. Rumah benar-benar rumah, bukan terminal tempat mampir kencing atau penginapan hanya untuk tidur. Rumah ini perlu dirawat dan dibersihkan bersama. Ada kegiatan bersih-bersih rumah.

”Saya ugemi betul nasihat nenek. Rumah itu harus punya WC sendiri, meski belum ada ruang tamu. Jangan sampai membuat jemuran di depan rumah. Jangan sampai ”jeroan” kita dilihat orang lain. Selain itu rumah harus dibangun dengan konsep arsitektur yang bertumbuh.”

Sumbo menanam beberapa pohon/tanaman di dalam pekarangan rumah sesuai atau identik dengan nama atau dirinya. Antara lain, pohon Sumbo (pewarna-red), pohon pewarna alami. Ada pohon melati di dekat septiktank untuk menetralisir bau tak sedap. Ternyata, melati itu mengandung unsur spiritual atau identik dengan keberadaan Putri Ambar Binangun. Putri itu ya seperti putri keraton kebanyakan, wajah dan kepalanya menggunakan perhiasan, dadanya dililit kain kemben, tapi badan ke bawah bentuknya seperti ular.

”Di halaman belakang rumah ada sumur tua (oleh pemilik sebelumnya, rumah dibangun sekitar tahun 1940-an), yang airnya diduga kuat ada kaitannya dengan kolam mandi/kolam renang keraton. Di sana Putri Ambar Binangun mandi dan sebagainya,” katanya.

Bisa jadi rumah Sumbo antik karena jati kerok. Maksudnya, seluruh kusen, pintu, jendela, yang semua hampir sebagian besar terbuat dari pohon jati tua, itu hanya dikerok. Tanpa cat. Sehingga kelihatan teksturnya. ”Saya sengaja begitukan (dikerok). Sebab, lama kelamaan yang namanya kayu jati semakin keluar minyaknya,” jelasnya.

Anggota Dewan Penasihat Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) Pengda DIY dan anggota Badan Pengawas Periklanan Daerah (BPPD) Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) Pengda DIY, ini mengaku suka berburu barang antik.

”Saya menolak hal-hal yang sifatnya sofa dan AC. Sofa itu penyerap debu. Adapun pengganti AC, saya perbanyak angin-angin di rumah.”

Sumbo merasa beruntung dengan sinetron-sinetron dan FTV di televisi saat ini. Sebab, semuanya menghadirkan atau memamerkan modernitas. Sehingga banyak masyarakat yang menjual barang-barang antik untuk meniru budaya pop yang diperkenalkan televisi kita untuk memburu segala sesuatu yang berbau modernitas. ”Sehingga banyak orang yang menjual baran-barang antik, sehingga harganya bisa murah di pasaran,” katanya.

Rumah Repetisi

Rumah Sumbo yang berdiri di atas tanah seluas 300 m2, sebenarnya bukan rumah tumbuh, tapi rumah repetisi. Sebab, bangunan yang lama dan baru tidak ada bedanya. Hanya pengulangan saja. Semuanya berawal dari desainer yang kuat di komposisi.

”Yang penting anyep (sejuk) dulu. Tetap pertahankan penampakan rumah kampung yang versi Sumbo. Saya punya tukang yang luar biasa dahsyat. Namanya Pak Kamto. Dia ikut saya sejak 2004, sebelum terjadi gempa di Jogja (2005). Sehingga saya menyebutnya, ini rumahnya Kamto,” kelakarnya.

Tahun 2013, bermodal Rp 50 juta, Sumbo bertekad membangun bangunan baru yang sifatnya repetisi dari bangunan lama. Bangunan anyar dua lantai yang hingga tim Padmanews datang, itu belum juga kelaar. Alasannya, klise, biaya.

”Jika anak-anak (Angger dan Rayi-red) nanti sudah menikah dan meninggalkan rumah ini, saya akan jadikan rumah ini sebagai penginapan untuk kaum backpacker yakni Airbnb atau semacam homestay.”

Airbnb adalah jaringan pasar daring dan penginapan rumahan sejawat yang memungkinkan pengguna mendaftarkan atau menyewa properti untuk digunakan dalam jangka pendek. Harga sewanya ditetapkan oleh pemilik properti.

”Saya akan memberikan ruang kepada orang-orang dari dalam maupun luar negeri yang ingin tahu banyak tentang Yogyakarta versi saya. Penginapannya saya buat se-ndeso mungkin. Dalam hal sajian makanan, saya akan mendekonstruksi hal-hal yang bergaya Yogya kepada para backpacker itu. Saya menyebutnya kuliner agraris,” tandasnya.

Ramah Lingkungan

Konsep rumah Sumbo dibangun dengan cukup matang. Selain home sweet home, rumah itu juga ternyata ramah lingkungan. terbukti dari adanya 40 lubang biopori di halaman depan setiap tritisan ada 10 biopori. Tujuannya jelas, agar air hujan bisa langsung terserap ke dalam biopori.

Tak hanya itu di halaman juga tertanam beberapa jenis pohon yang semakin membuat sejuk dan asri penghuni dan para tetamu. Bahkan, pohon pisang kluthuk pun, ada. ”Itu pohon pisang kluthuk yang menanam adalah burung-burung. Tiba-tiba ada dan tumbuh. Ya saya biarkan menjadi rumpun.”

Sumbo yang mengaku pernah mengontrak rumah di daerah Nogotirto itu tak hanya menjadikan rumahnya home sweet home namun juga menghadirkan ruang terbuka (public space). 

”Saya dan istri itu wong omahan, suka tidur. Sebab, lebih enak makan masakan di rumah dari pada jajan, mahal dan belum tentu enak. Untuk itu rumah harus sejuk dan hidup, caranya dengan menghidupkan unsur kayu karena itu menghidupkan atau menghadirkan kesejukan,” kata Sumbo yang mengaku reinkarnasi (ruh-nya dulu) adalah dekorator candi.

Tak Punya Mobil

Barangkali terlihat aneh, seorang Sumbo tak punya mobil. Namun pada kenyataannya memang demikian. Di rumahnya, ada memang garasi, tapi tidak luas. Mungkin kalau di dalamnya ada sebuah mobil, tak banyak ruang tersisa. Di garasi rumah Sumbo ada Vespa Sprint keluaran tahun 1974 dan Honda bebek Supercup 1980. Kalaupun ada yang kekinian barangkali adalah sosok Honda Supra X 125 (2019) yang terkenal irit plus bandel.   ”Vespa Sprint dan bebek Supercup itulah harta karun saya sejak dulu. Saya memang tidak punya mobil. Saya mengajarkan anak-anak pola hidup sederhana. Sehingga di kampus banyak yang menjuluki saya Oemar Bakri hehehe…” (Ali)

About Edy