28 April 2026
Home / Education / Karangturi Choir : Tidak Sekedar Bernyanyi

Karangturi Choir : Tidak Sekedar Bernyanyi

“Hahahahaha hihihihihi huhuhuhuhu hehehehehe hohohohoho…”

Kutipan di atas bukanlah suara orang tertawa. Itu adalah nada melengking merdu dari siswi siswi SMP Karangturi yang sedang latihan paduan suara. Mereka duduk berjajar dengan posisi tubuh tegak. Terus berulang dan makin lama nadanya makin tinggi….

Di depan mereka adalah sang pelatih, Petrus Wahyu Eramoko atau lebih dikenal dengan panggilan PW, memandu mereka dengan tangannya lincah menyentuh tuts piano. Setelah pemanasan itu, latihan kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan beberapa lagu.

Menurut PW, kepada anak-anak itu selalu ditekankan bahwa paduan suara tidak sekadar menyanyi. Ada nilai-nilai yang harus dijunjung bersama. Namanya saja paduan suara, katanya, sehingga untuk padu yang berarti bersatu, anak-anak harus, pertama, saling menghargai satu sama lain.

Kemudian, mereka juga harus disiplin. Sebab jika latihan ada yang datang terlambat, pasti bikin suasana tidak enak. Lalu mereka belajar bertoleransi, mau menyanyikan lagu-lagu Kristen tapi juga bisa menyanyikan lagu Islami, maupun agama lain. Di paduan suara ini juga yang ikut dari berbagai etnis.

Nilai lain adalah kemandirian. Mereka harus bisa rias sendiri, lalu jika pergi kompetisi di luar negeri juga harus bisa mengurus diri sendiri. Dalam paduan suara, para siswa juga dituntut untuk konsekuen dalam membagi waktu. “Untuk ikut sebuah lomba, dibutuhkan waktu persiapan lama. Konsekuensinya harus mau dan pintar membagi waktu,” katanya.

Ada juga nilai-nilai berorganisasi, karena mereka harus membentuk kepanitiaan ketika menghadapi sebuah lomba. Selain itu, ada hal lain yang bisa dilakukan, misal jual makanan, jual pakaian bekas untuk membantu teman lain.

Penanaman nilai-nilai tersebut selama latihan berbuah indah. Karangturi Choir memperoleh banyak penghargaan dan juara dalam berbagai lomba, baik di dalam maupun luar negeri. Terakhir pada tahun 2018, dalam kompetisi di Italia, Karangturi Choir menyabet emas dalam kategori folklore dan kategori di bawah 16 tahun.

Suka Menyanyi

Tentu semua tak lepas dari tangan dingin PW mengelola para siswa berlatih untuk mengejar prestasi. Kecintaannya untuk melatih itu didasari pada kesukaannya menyanyi. Kata orang sejak SD sudah punya bakat menyanyi. Ketika sekolah di SMA 3 Semarang, sewaktu ikut Paskibar sebagai ekstrakurikuler sore hari dia mendengar dari sebuah ruangan ada orang-orang yang sedang bernyanyi.

“Kok bagus, lalu saya ketemu ibu gurunya dan ikut gabung. Setelah dites, ternyata lulus dan boleh masuk,” tutur pria kelahiran Semarang 6 Januari 1971 ini. Bakat menyanyi semakin berkembang di SMA. Setelah lulus, ia bergabung dengan paduan suara di lingkungan tempat tinggalnya di Kaligarang untuk kegiatan koor gereja.

Kebetulan waktu itu pas konduktor paduan suaranya menikah. Teman-temannya bingung siapa yang bakal memimpin waktu menyanyi di gereja. “Saya lalu ditunjuk, karena dianggap anak baru kok bisa menyanyi,” kata PW. Terpaksa ia berani-beranikan meskipun dengan gemetaran, karena sebenarnya dia tak punya dasar menjadi dirigen.

Setelah menikah, ternyata si dirigen pindah, sehingga akhirnya PW dipasrahi tugas itu. “Mau tidak mau, saya harus belajar memimpin paduan suara dengan benar. Saya ikut kursus, ambil master class, juga lihat senior-senior,” katanya.

Pada tahun 1990an itu pula, PW diminta untuk melatih paduan suara di SD Bernardus Semarang. Setelah memiliki jam terbang cukup, ia kemudian diminta untuk melatih hampir semua sekolah di Yayasan Pangudi Luhur, di antaranya SMP Domenico Savio, Don Bosco, dan lainnya.

Di tahun 1992 ia juga diminta menjadi asisten pelatih di SMA 3. Pada waktu itu sekolah tersebut punya track record paduan suara yang termasuk tua.

Pada tahun 1997 PW juga ikut mendirikan kelompok paduan suara untuk lomba antargereja di Semarang, yang ternyata bisa meraih juara ketiga. Oleh Romo, paduan suara itu diberi nama Suara Surgawi (Passusu). “Sampai sekarang latihan dua kali seminggu, tiap Selasa dan Jumat. Anggotanya gonta ganti, ada yang menikah, pergi atau pindah. Yang tidak ganti cuma saya,” ucap PW.

Ketika tahun 2000 gurunya yang di SMA 3 meninggal, PW masih terus mengajari untuk lomba dan pentas. Jam terbang terus bertambah. Ia kemudian juga menangani Fakultas Hukum Undip untuk persiapan lomba.

Suatu ketika ia mendapat telepon dari Irawan Nirwanto dari Sekolah Nasional Karangturi. Saat itu Irawan menjabat sebagai wakil kepala sekolah SMP. PW diminta untuk melatih paduan suara SMP Karangturi menghadapi lomba di IKIP (sekarang Unnes, red). Hasilnya bisa menyabet juara satu.

“Pak Irawan cerita, dulu kalau lomba, SMA Karangturi selalu ketemu SMA 3 dan tidak pernah menang. Akhirnya saya ingat, ternyata Pak Irawan itu konduktornya Karangturi hahaha,” tutur PW.

Direktur Eksekutif Yayasan Pendidikan Karangturi saat itu, Harry Santoso meneleponnya dan meminta dia untuk melatih paduan suara Sekolah Nasional Karangturi, karena Karangturi ingin mengubah image. Ingin mengangkat olahraga dan seni. Di olahraga, basket sudah mengontrak orang untuk melatih. Seni ingin diangkat supaya image hedonis bisa hilang. Itulah sebabnya sekolah ingin mengembangkan paduan suara. “Kata Pak Harry, kalau perlu bikin konser, atau kompetisi ke luar negeri. Ini tentu sesuai dengan harapan saya,” kata PW. Ditambahkannya, karena pada tahun 2005 itu skala paduan suara hanya berkutat di tingkat regional dan nasional saja. Tidak ada pengembangan lagi.

Diminta Penuh

Ia kemudian juga diminta penuh menangani paduan suara Sekolah Karangturi, dengan konsekuensi melepas kepelatihan di kain sekolah. Maka pelatihan siswa di Pangudi Luhur diberikannya kepada adik kelas, Andika. “Jadi sampai sekarang, saya sudah 13 tahunan full melatih di Karangturi,” tutur PW.

Dalam penilaiannya, Karangturi ternyata memang mementingkan pendidikan yang tidak hanya mengembangkan intelijensia siswa. Di paduan suara butuh sumber daya untuk berkorban, harus ada dana, orangnya banyak, juga pengorbanan waktu. Menurutnya, di paduan suara tidak bisa instan, selalu butuh waktu dan proses yang panjang. Untuk satu lagu saja butuh waktu latihan yang lama. Dan tidak semua sekolah mau mengurusi hal seperti ini. Tetapi support sekolah terus diberikan.

Ketika tahun 2007, Karangturi ikut lomba ke Thailand, ini satu-satunya sekolah di Semarang. Waktu itu cuma bisa meraih juara kedua (perak) untuk kategori anak-anak. “Saya kemudian tahu, ternyata rugi kompetisi ke luar negeri kalau cuma ikut satu kategori. Satu minggu lomba, setelah itu sudah, karena cuma ikut satu,” tuturnya.

Maka tahun berikutnya di Malaysia, Karangturi ikut tiga kategori dan meraih juara pertama. Capaian ini tentu membuat bangga, apalagi hal ini kemudian mendorong sekolah lain untuk mengirimkan paduan suara di kompetisi luar negeri, misal SMP Domenico Savio dan perguruan tinggi seperti Undip, Unika, dan Udinus. “Yang pertama kali dan yang “membakar” adalah Karangturi,” katanya. Predikat juara dan menyabet emas terus berlanjut. Tahun 2009 menang di Malaysia, 2010 berjaya di China, 2012 jagoan di Amerika Serikat, 2014 di Hongkong, 2016 di Korea Selatan, dan 2018 di Italia.

Tak hanya itu, setelah berjalan beberapa tahun, cap Karangturi hedonis juga perlahan hilang. “Kalau ada yang bicara paduan suara, ingatannya pada Karangturi. Itu jadi semacam brand bagi Karangturi. Kalau ada acara-acara, misal acara agama Budha, Imlek, di yayasan anak cacat, tak jarang mengundang paduan suara kami,” tuturnya.

Menurutnya, keberhasilan ini juga ternyata menjadi daya tarik calon siswa untuk mendaftar. Beberapa anak dari Bali atau Kalimantan menyatakan ingin masuk Sekolah Karangturi karena ingin bergabung dengan paduan suaranya. “Yayasan tahu ini, sehingga mensupport supaya menarik siswa masuk ke Karangturi,” ucapnya. Kemudian tak hanya jadi peserta, Karangturi juga mengadakan lomba paduan suara, yang tingkat nasional sudah kelima kali. Selain itu juga menyelenggarakan tingkat internasional, Karangturi International Choir Competition pada November 2019 nanti. “Jurinya tiga dari nasional, dan dua dari luar negeri,” katanya. (BG) ”

Check Also

Tim Graha Padma Kunjungi SMK-SMK Binaan Djarum Foundation

Tim dari Perumahan Graha Padma beberapa waktu lalu mengadakan kunjungan ke sejumlah SMK di Kudus. …