25 October 2021
Home / Figure / Tanto Hermawan: Hidup Itu Menanam dan Menuai Kebaikan

Tanto Hermawan: Hidup Itu Menanam dan Menuai Kebaikan

“Hidup itu menanam dan menuai hal yang baik, karena kalau kita berbuat kebaikan maka hal baik juga akan jatuh kepada kita dan keluarga kita”. Demikian dikemukakan oleh Tanto Hermawan, pengusaha dan juga Ketua Umum Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok Semarang.

Maka tak hanya berbuat sosial lewat aktivitas di Kelenteng Tay Kak Sie, Tanto juga berupaya agar dalam berusaha di bisnis juga bermanfaat bagi banyak orang. “Perusahaan utama kami di bidang garmen dan perikanan,  PT Holi Karya Sakti dan PT Holi Mina Jaya, bisa menghidupi banyak orang dan keluarga. Hal ini sangat membahagiakan karena kita jadi bermanfaat buat masyarakat”, tuturnya.

Kepada tim Padmanews, Tanto bercerita banyak tentang semua aktivitasnya di sosial dan bisnis. Bahkan sakit polio di kaki yang dideritanya sejak kecil seakan tak menjadi penghalang buatnya untuk menjalankan semua kegiatan dengan lancar. “Saya melihat kalau orang lain bisa berusaha, meski saya cacat saya juga harus bisa”, tandas pria kelahiran 6 November 1963 ini.

Maka sejak 1980 dia mulai belajar usaha di perusahaan keluarga. Ia banyak belajar dalam administrasi dan juga marketing. Hampir setiap hari keliling kota kota di Jateng, seperti Solo, Purwokerto, dan Jogja, untuk marketing bahan-bahan bangunan. “Oleh papa saya digaji Rp 25.000. Lumayan waktu itu, karena ongkos naik becak masih Rp 25 hahaha”, katanya.

Tiga tahun kemudian, ia mulai merintis usaha sendiri dengan mendirikan pabrik kunci, menempati lokasi di Majapahit Semarang. Dengan perusahaan MMWM ini ia memproduksi kunci cap Kuda. Waktu itu prospeknya bagus karena bersamaan dengan booming pembangunan perumahan. Di Semarang sendiri sedang dikembangkan wilayah perumahan di Tlogosari, Banyumanik, dan Tanah Mas. Pemasaran juga meluas ke Jawa Timur.

Pada pertengahan tahun 1980an pemerintah sedang menggalakkan usaha padat karya. Momentum itu diambil Tanto dengan mendirikan perusahaan garmen yang memproduksi sarung tangan. Apalagi memang ada perusahaan dari Taiwan yang sedang mencari order kemana mana. Salah satu perusahaan itu kemudian mengajak kerja sama Tanto.

Perusahaan sarung tangan itu mulai dengan 200 karyawan. Tantangan paling sulit dengan sumber daya manusia yang ada adalah mengubah kebiasaan dari masyarakat pertanian ke masyarakat industri. “Daerah Mranggen dan sekitarnya waktu itu hampir semua masyarakat petani. Jadi kalau pas lagi tanam atau panen di desa, mereka pada tidak masuk kerja. Jadi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya kerja di pabrik”, tuturnya.

Tanto kemudian mulai mendidik mereka dari awal, soal jam kerja dan kapan saja harus bekerja. Kepada yang muda muda, dia memberikan semangat untuk bekerja dengan baik. Jika sudah diperoleh bekal, bisa untuk membangun keluarga sendiri.

Namun memang menyadarkan mereka tidak mudah waktu itu. Apalagi kebutuhan waktu itu juga tidak banyak. Tidak perlu handphone, tidak butuh beli pulsa atau yang lain. “Kalau saya katakan kamu kan perlu persiapan untuk beli rumah juga, eh mereka jawab, oh kalau rumah sudah disiapkan orang tua pak, hahaha”, katanya tergelak. Bahkan makan, beras dan kebutuhan harian lain sudah disiapkan orang tua.

Belum lagi persoalan musim yang mengganggu. Jika hujan, jalan banjir dan becek, sehingga banyak karyawan yang tidak masuk. Sampai sampai teknisi Taiwan yang sedang di pabrik menanyakan kok pabrik sepi, apakah karyawan itu tidak ditelepon? Mereka tidak tahu, saat itu untuk pasang telepon bukan persoalan gampang.

“Saya cuma katakan, kalau hari biasa berangkat kerja manusia naik sepeda. Kalau hujan, sepeda yang naik orang hehehe”. Memang waktu itu kalau hujan jalannya berlumpur dari desa desa yang jaraknya 3 km dari Mranggen. Sehingga mereka praktis tidak bisa keluar desa.

Namun upaya kerasnya lama lama berbuah. Mereka semakin paham bagaimana bekerja dengan benar. Bahkan mereka kemudian menyadari gaji mereka juga bisa untuk membiayai orang tua.

Kesulitan lain adalah mendidik mereka untuk membuat sarung tangan yang presisi. “Kalau bikin baju geser ukuran sedikit 2 atau 3 milimeter tidak kelihatan. Tapi sarung tangan beda sekali. Beda jahitan sedikit saja langsung sarung tangannya miring dan terpuntir”. Untunglah kesulitan ini akhirnya juga teratasi.

Ketika akhirnya mereka berhasil melakukan ekspor perdana pada tahun 1991, para karyawan merasa bangga sekali. Karena untuk ekspor ini mereka kerja sekitar 36 jam. “Kami harus mengejar pengiriman kapal, karena kalau terlambat ditinggal”. Delapan bulan mengurus itu, Tanto cukup stres dan kurang tidur. “Berat badan saya sampai turun 11 kg”, katanya.

Bisnis Ikan

Pada tahun 1996, Tanto melihat ada peluang lagi terutama karena potensi hasil laut saat itu besar sekali. Ada tawaran dari China yang mengajak untuk bisnis ikan. Sejak membuka diri pada 1993, kebutuhan China akan produk dari luar cukup banyak. Pada tahun baru China, kota-kota harus menyiapkan konsumsi, termasuk ikan, untuk perayaan.

“Kebetulan kepala bidang perikanan kota Fuzhou, Provinsi Fujian  masih famili. Saya merasa beruntung dididik untuk belajar Bahasa Mandarin, sehingga komunikasi dengan mereka berjalan dengan mudah”.

Tanto kemudian menghubungi temannya yang punya usaha kulit di Surabaya. Ia menanyakan apakah punya kenalan yang tahu soal ikan. Kemudian ia ke Muncar, Banyuwangi, untuk mencari ikan layur. Ia juga ke Batang dan Pekalongan untuk mengumpulkan remang (belut laut).

Ekspor perdana remang sebanyak 20 kontainer dalam bentuk frozen. Pada awalnya alat dan tempat untuk proses Frozen masih menyewa. Sementara untuk ekspor layur, Tanto harus belajar banyak karena perut ikan layur tipis. Jadi kalau sampai dalam pengiriman tergesek bisa gores dan pecah. “Kalau didapat pakai pancing daerah silver di perut bisa mulus, tetapi kalau pakai jaring bisa luka. Harga bisa berbeda”.

Pada awalnya ia tidak tahu. Pernah pada suatu pengiriman ikan ikan itu dicampur saja dalam pengepakan. Sampai di tempat tujuan, pembeli komplain. Dia sampai rugi terus selama tiga tahun, karena pembayaran dikurangi. “Saya anggap saja pengalaman ini biaya belajar yang mahal”.

Tanto kemudian diundang ke China dan diberi tahu tentang spesifikasi barang yang bagus. Tidak boleh dicampur. Masing masing dengan spesifikasinya yang jelas. Setelah itu lama lama komoditi ekspornya berkembang dari satu ikan ke ikan yang lain.

Ia juga mendapati perilaku konsumen yang berbeda. Pada komoditas udang, jika ekspor ke Jepang dan Amerika Serikat, mereka maunya dibersihkan kepala dan lain lain. Tapi orang China maunya yang utuh, perut ikan juga harus mulus. Semakin besar ikan dan semakin mahal harga justru semakin diminati.

Pada tahun baru China selalu ada tradisi untuk selalu berkirim ikan, terutama di lingkungan pejabat. Kalau ada yang dapat kiriman ikan kakap merah 1,5 kg misalnya, maka dia akan memberikan kepada orang lain ikan yang lebih besar. Ikan kakap merah merupakan lambang hal baik. “Makin besar ikan, hoki makin besar juga. Makin bisa memberi, mereka makin senang”.

Sementara ikan layur bagi sebagian besar orang China merupakan makanan sehari hari, seperti ikan pindang kalau di masyarakat kita. Di daerah Beijing dan kawasan dingin lain, keluarga bisa beli layur di pasar, kemudian mereka masukkan ke dalam salju di depan rumah biar awet. Kalau butuh tinggal diambil. “Mereka saat itu membutuhkan layur banyak, jadi berapa pun dari Indonesia pasti mereka ambil”, tuturnya.

Tanto mengingatkan bahwa potensi pertanian, kelautan, perikanan kota sangat besar. “Jadi tinggal bagaimana kita mengolah dengan sebaik-baiknya. Bagaimana kita menjaga tanggung jawab kita kepada lingkungan. Itu yang penting”.

Dia mencontohkan di laut, terhadap nelayan kecil kita harus bertanggung jawab dan bekerja sama dengan mereka, selain bekerja sama dengan pemerintah daerah. Dengan nelayan Papua, Tanto menjalankan tanggung jawab itu. Bekerja sama secara baik dengan mereka. Kemudian setiap tiga bulan mengganti jaring yang dipakai untuk menangkap udang.

Aktivitas Sosial

Tanto bergiat sosial dengan melibatkan diri dalam pengurusan dan kegiatan Kelenteng Tay Kak Sie. Ia menjabat sebagai ketua umum yayasan, dan sekarang sudah memasuki periode kedua kepengurusan. Setiap periode selama lima tahun.

Kegiatan sosial besar kelenteng ada dua, yakni bakti sosial pada bulan ketujuh dan bakti sosial menyambut Imlek, berupa bantuan untuk sembahyang leluhur. Biasanya berupa sumbangan untuk para lansia guna sembahyang leluhur. “Bahkan ada sekitar lima puluh lansia yang tidak bisa jalan, kami jemput dan antar untuk sembahyang di kelenteng”, katanya.

Tanto menceritakan, ada orang Tionghoa yang datang ke Indonesia tahun 1900-an kemudian hidup dalam keterbatasan. Ada yang jadi tukang becak, tukang batu, dan lain lain. “Meski terbatas, orang-orang Hochia di Semarang iuran untuk mendirikan sekolah buat anak-anak mereka. Sekolah ini kelak jadi cikal bakal SMA Kesatrian,” katanya.

Menurutnya, mereka berprinsip sumur kalau ditimba akan semakin bening dan banyak airnya. Demikian juga berbuat kebaikan. Oleh karena itu dikumpulkan lah dana di masyarakat dan kemudian digunakan untuk kebaikan.

Di keluarga, Tanto juga berusaha mendidik kedua anaknya dengan baik dan benar agar berguna untuk keluarga dan masyarakat. Meski mereka sekolah di luar negeri, ia tetap meminta mereka pulang. “Saya bilang, kamu selesai sekolah harus kembali ke Indonesia, karena kamu warga negara Indonesia. Jadi tetap kembali dan membangun Indonesia”.

Jangan sampai, tambahnya, anak-anak salah jalan terperosok narkoba atau judi, sehingga ada yang orang tuanya sampai jual perusahaannya. Selain itu, Tanto juga mengajari anak-anaknya mengelola bisnis dengan benar. (bp)