26 May 2024
Home / Education / SMA Nasima Semarang: Membuka Diri bagi Siswa Semua Agama

SMA Nasima Semarang: Membuka Diri bagi Siswa Semua Agama

Sebagai sekolah yang bersemboyan nasionalis agamais, sebenarnya Sekolah Nasima yang dikelola Yayasan Pendidikan Islam Nasima, juga membuka diri kepada siswa dari semua agama dan juga budaya yang berbeda-beda.

“Sejak awal, Sekolah Nasima terutama jenjang SMA, sudah mengumumkan menerima juga siswa dari agama yang berbeda beda, selain Islam”, tutur Kepala Sekolah SMA Nasima Eni Setyaningsih kepada Tim Padmanews di ruang kerjanya baru baru ini.

Dijelaskan, jika nantinya ada siswa misalnya beragama Katolik, maka sekolah akan memfasilitasi dengan menyediakan guru yang sesuai dengan kebutuhan agamanya. Jika nantinya yang masuk adalah siswi, maka tentu akan disesuaikan juga. Yang mana tidak ada keharusan baginya untuk memakai jilbab.

Pada kesempatan itu Eni menjelaskan, visi Sekolah Nasima adalah membimbing Insan Indonesia berilmu dan berakhlak al karimah. Cuma memang pengembangannya disesuaikan dengan masing masing jenjang dari SD sampai SMA.

Di SMA punya ciri khas yang berbeda dari jenjang sebelumnya, yakni ada program eksplorasi lingkungan. Ini adalah salah satu perwujudan nasionalis agamais yang merupakan akronim Nasima.

 “Kami tidak hanya fokus ke agama saja tapi juga ingin agar anak anak punya rasa cinta tanah air. Itu diwujudkan dengan program eksplorasi lingkungan tadi”, tuturnya

Jika di TK, SD, SMP ada eksplorasi lingkungan dan live in, di jenjang SMA lebih luas lagi. Untuk SMA punya program explore, live in, expose, jelajah Nusantara (ELEJN). Para siswa diajak untuk tinggal dengan masyarakat di luar Pulau Jawa. Biasanya untuk kelas 11.

 “Mereka benar benar berbaur dengan masyarakat di sana, tinggal dan beraktivitas bersama mereka selama lima hari”.

Yang terakhir sebelum pandemi, anak anak pergi ke Padang. Mereka mengenal dan tinggal bersama masyarakat sana, mengenal budayanya. Jadi tidak hanya menikmati tempat wisatanya saja.

Eni Setyaningsih, kepala sekolah SMA Nasima Semarang.

Penanaman Karakter

Sekolah Nasima memang lebih mengedepankan penanaman karakter kepada para siswa, sehingga Sekolah Nasima lebih dikenal sebagai sekolah pionir pendidikan karakter.

Pada jenjang kelas 10 diberikan penanaman karakter kepemimpinan. Sekolah yang terakhir selama pandemi bekerja sama dengan Kodim untuk mendidik anak berjiwa pemimpin.

Penanaman karakter itu tercermin dalam core value Nasima Yes. Ini meliputi: nasionalis, agamais, santun komunikatif, integritas kuat, makmur berkelimpahan, aktif bekerja sama, yakin terbaik, empatik, dan siap bertanggung jawab.

Slogan itu terpampang di banyak sudut sekolah, supaya siswa hapal dengan nilai nilai ini. Sekolah juga mengharuskan guru supaya dalam pendidikan bisa mengintegrasikan dengan penanaman karakter.

Penanaman karakter itu diterapkan dengan melakukan berbagai rutinitas baik pagi, siang maupun sore. Di awal belajar, para siswa melakukan ikrar. Kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Nasima, hymne Nasima.

Ada doa bersama, baca asma ulhusna, dan di Hari Jumat ada tahlil. Pada Sabtu, khusus untuk guru, ada kegiatan mujahadah.

Menjelang siang, siswa diajak sholat Duha, didampingi wali kelas atau guru. “Meskipun sholat Duha bisa dilakukan sendiri, namun kami ingin mengajarkan kepada para siswa bacaan yang benar, serta manfaat sholat Duha”, tuturnya.

Kemudian sholat Duhur juga berjamaah, dan zikir bersama juga. Manfaatnya ternyata terbawa sampai ke rumah. Ada orang tua yang melaporkan anaknya sekarang menjadi imam dan juga memimpin zikir di rumah.

Dalam hal makan pun ditanamkan pembinaan karakter. Makan siswa disediakan oleh sekolah, sehingga siswa diajarkan untuk hemat. Kemudian juga disediakan sejumlah siswa di meja kantin.

Ciri Khusus

Soal kurikulum yang dipakai adalah kurikulum nasional. Namun demikian ada juga ciri khusus, yakni pengajaran Bahasa Mandarin. “Kenapa Bahasa Mandarin? Karena kita ingin anak anak mengglobal. Kita tahu banyak perusahaan yang berusaha di Indonesia ini membutuhkan tenaga kerja yang bisa berbahasa Mandarin”.

Yang patut disyukuri adalah sekolah memiliki guru yang juga menawarkan bea siswa kepada para siswa untuk belajar ke China maupun Taiwan.

Lalu ada English Conversation for Youngster (ECY). “Jadi dalam pelajaran Bahasa Inggris ada dua, yang satu umum, satunya khusus conversation saja”, katanya.

Diharapkan siswa tidak hanya bisa menulis dan membaca, tetapi juga lancar berbicara Bahasa Inggris dengan ECY ini. Sekolah juga mengundang native speaker selama sebulan dia berbaur dengan guru dan siswa, sehingga siswa bisa mengasah kemampuan berbahasa Inggrisnya.

Selain itu ada juga baca tulis Al-Quran (BTA) yang bekerja sama dengan Ummi Foundation, yang memiliki metode khusus membaca Al-Quran.

Siswa diajarkan membaca Al-Quran dengan tartil, tajwidnya benar, yang selalu dipantau perkembangannya. Jadi pihak Ummi juga datang ke sekolah untuk memantau perkembangan belajar siswa ini.

Ketika kelas 12, diadakan kataman Al-Quran karena wajib bagi jenjang kelas ini untuk katam. Sementara kelas di bawahnya yang masuk dalam pendidikan tahfiz juga diuji di depan forum waktu kataman itu. “Orang tuanya kami undang juga. Jika mereka ingin ikut menguji kemampuan anaknya menghapal Al-Quran diperbolehkan”.

Kemudian siswa juga diajarkan teknologi informasi komunikasi (TIK). Bedanya dengan sekolah lain, di Nasima TIK diajarkan sebelum jenjang SMA. Di SMA pengajarannya lebih mengkhususkan agar mereka bisa membuat desain (majalah) sendiri, membuat web sendiri atau membuat program tertentu.

Dengan bisa membuat majalah, berarti mereka sudah mampu membuat sebuah produk, sehingga ini bisa menjadi nilai plus bagi para siswa itu.

Selama pandemi, kegiatan belajar dilaksanakan secara luring dan daring. Di kelas ada internet dan web cam, sehingga para siswa yang belajar dari rumah bisa ikut mendengarkan penjelasan dari guru dan juga bertanya langsung.

Aneka kegiatan dan prestasi SMA Nasima Semarang.
Kegiatan pembelajaran di kelas.

Wali kelas ada di dalam kelas mendampingi saat siswa belajar. “Jadi wali kelas itu berkantornya di dalam kelas masing-masing”.

Studi Imersi

Setiap tahun ada studi imersi yang biasanya dijalankan dengan student exchange. Sekolah Nasima bekerja sama dengan beberapa sekolah di luar negeri dan mengirimkan siswa untuk belajar di sana.

Sekolah biasanya menawarkan kepada siswa karena pembiayaan oleh orang tua. Namun sampai saat ini minatnya cukup tinggi, karena para siswa ingin punya pengalaman baru di negara lain.

SMA Nasima bekerja sama dengan Udinus juga menerima kunjungan siswa maupun mahasiswa dari luar negeri. “Biasanya dari Jepang. Mereka mengajarkan budaya negaranya kepada para siswa di sini”.

Kaitannya dengan prestasi sebenarnya sudah ada siswa yang sampai taraf internasional. Tim tari Ratoh Jaroe pada 2018 mampu menjadi juara I pada even International Mask Dance Festival di Andong Korea Selatan.

Kemudian Muhammad Ghitrif GP, peserta didik kelas XII IPA SMA Nasima mewakili Indonesia dalam Olimpiade Ekonomi Internasional 2019 di St Petersburg, Rusia, dan berhasil meraih medali perak. “Sekarang dia sudah kuliah di UI mengambil Fakultas Ekonomi”.

Eni juga menjelaskan sejarah Sekolah Nasima, berdiri tahun 1994. Pendirian dimulai dengan TK, lalu SD, SMP baru kemudian SMA. Kampus SMA ini yang paling baru karena SK berdirinya di tahun 2007. Semula masih di gedung di Mugas, setelah pengambilalihan SMA Diponegoro. Kemudian pada 2016 SMA Nasima bisa menempati gedung baru di Jalan Yos Sudarso 17, Arteri Utara Semarang. (bp)