1 December 2021
Home / Event / Semarang 10K Sukses dan Meriah

Semarang 10K Sukses dan Meriah

Minggu (15/12/2019), sekitar pukul setengah lima pagi, kawasan sekitar Jl Pemuda Semarang tak seperti biasanya. Mendung menggelayut di langit kota Semarang, sementara di Jl Pemuda dan sekitarnya  sudah ramai oleh hiruk pikuk dan lalu lalang kendaraan menuju kantong-kantong parkir kendaraan. Sedikitnya 2 ribu orang dari berbagai penjuru wilayah merapat ke halaman Balai Kota Semarang.

Ya, mereka adalah para peserta lomba lari Semarang 10K yang mengambil start dan finish di halaman Balaikota Semarang. Sejak pagi mendung menggantung tetapi tak jua turun hujan. Tentu, cuaca adem seperti ini diharapkan para pelari karena biasanya cuaca Kota Semarang gerah dan panas.

Para paserta start pukul 06.00 dan bendera start dikibaskan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Rute yang dilalui pelari  dari Jalan Pemuda depan Balaikota – Bundaran Tugu Muda – Jalan Pandanaran – Simpang Lima – Jalan Ahmad Yani – Jalan MT Haryono-Simpang Jalan RA Kartini – Bundaran Bubakan – Jalan Ronggowarsito – Jalan Pengapon – Jalan Merak – Jalan Taman Srigunting – Jalan Cendrawasih I – Jalan Cendrawasih – Jalan Letjend Suprapto – Jembatan Berok – dan finish di Jalan Pemuda – Balaikota Semarang.

Kesempatan ikut lari Semarang 10K ini juga dimanfaatkan para peserta untuk mengekspresikan diri, salah satunya dengan pakaian yang dikenakan.  Seperti yang diperlihatkan salah satu peserta dari RG Runners. Komunitas lari asal Semarang ini

memakai jarit batik dan blangkon.

Salah satu anggota komunitas Yudi Dops mengatakan meski menggunakan jarit batik, dia mengaku tak masalah dan tak ada kendala dalam berlari menyusuri race Semarang 10 K.

“Ini juga kali pertama ini saya ikut, acaranya asyik, spot foto juga banyak. Apalagi didukung cuaca yang gak terlalu panas, jadi enjoy banget,” ujarnya usai finish di halaman Balai Kota Semarang.

Penggunaan kain jarit dipilihnya lantaran dirinya ingin menunjukkan salah satu budaya asli Indonesia yaitu batik. “Karena tadi juga lewat Kota Lama, jadi pas foto kita pakai jarit ini kan lebih banyak dapat fotonya yang bagus-bagus,” katanya.

Selain RG Runners yang tampil dengan jarit batik dan blangkonnya, terlihat pula pelari dengan mengenakan topeng singa yang merupakan ikon komunitas lari Long Run Rangers, Tamrin La Taangi.

“Kami memang sudah merencanakan ikut di Semarang 10 K ini. Karena tahun lalu gak dapet race di Kota Lama, kalau tahun ini bisa dapat dan area juga steril jadi bisa dapat foto,” katanya.

Dari pantauan di lapangan, kawasan Kota Lama menjadi spot paling menarik bagi para pelari. Di tempat ini, beberapa pelari berhenti sejenak untuk mengambil foto dengan latar belakang gedung-gedung tua. Di sepanjang rute yang dilewati juga steril dari kendaraan sehingga membuat pelari semakin nyaman.

Event ini mengusung konsep Sport and Heritage Tourism dan terbagi dalam 3 kategori. Kategori itu yakni 10K Open sebanyak 25,8%, 10K Nasional sebanyak 71,9%, dan 10K Pelajar sebanyak 2,3%. Peserta yang berasal dari luar kota Semarang sebanyak 68% dengan total pelari asing sebanyak 13 peserta.

Ajang ini juga diikuti pelari elite yang terdiri atas 18 pelari  putra dan 13 pelari putri.  Rute lari yang relatif datar, steril dari kendaraan, dan ruas jalan yang lebar juga menjadi ajang untuk memperbaiki catatan waktu/personal best pelari elite.

Peserta elit laki-laki di antaranya adalah James Karanja (Kenya), Tariku Demelash Abera (Ethiopia), Agus Prayogo (Indonesia), dan Nur Shodiq (Indonesia). Sedangkan elite perempuan di antaranya adalah Jackline Nzivo (Kenya), Isabellah Kigen (Kenya), Odekta Elvina Naibaho (Indonesia), dan Triyaningsih (Indonesia).

Penyelenggara lomba lari Budiman Tanuredjo mengungkapkan Kota Semarang memiliki modal wisata yang sangat potensial, yakni kekayaan bangunan tua dan bersejarah. Selain gedung Lawang Sewu dan Tugu Muda, kawasan Kota Lama yang makin bersinar setelah proses revitalisasi, menjadi salah satu tujuan wisata ikonik di Semarang.

 ”Dengan konsep pariwisata olahraga (sport tourism), potensi wisata itu dikombinasikan dengan event lari Semarang 10K, yang mulai berlangsung sejak 2018,” jelasnya.

Ia berharap event ini akan diakui sebagai event lari 10 K terbaik di Indonesia. ”Saya punya impian, Borobudur Marathon menjadi marathon nomor satu di Indonesia, demikian juga Semarang 10K, menjadi lomba lari nomor satu di Tanah Air,” kata dia.

Sementara itu, sukses dengan Semarang 10 K, Rencananya, Pemerintah Kota Semarang beserta Harian Kompas akan menggelar event Half Marathon 21 K.  Meski demikian, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, masih perlu kajian dalam merealisasikan half marathon tersebut. ”Nanti kita coba berdiskusi dengan Harian Kompas untuk bagaimana penyelenggaraan half marathon 21 K,” ujar Wali Kota yang akrab disapa Hendi ini dalam acara jumpa pers Semarang 10 K.

Hendi menambahkan, salah satu kajiannya adalah garis start dan finishnya. Menurutnya, jika peserta lebih dari 5.000 orang, Balai Kota Semarang tidak memungkinkan untuk start dan finishnya. ”Kalau peserta sampai 5.000 diselenggarakan di Balaikota pasti nanti overload. Lalu untuk jalurnya, Kota Semarang ini masih cukup banyak wilayah datar yang bisa dinikmati. Potensi masih ada. Kalau half marathon 21 km, kami bisa tarik ke selatan, ke wilayah pedurungan, arteri, kembali ke Kota Lama,” imbuhnya.

Sementara itu secara terpisah, juara pertama kategori all age Tariku Demelash dari Ethiopia kepada Padmanews menyatakan kepuasannya dengan penyelenggaraan lomba lari Semarang 10 K. Ia tidak ada masalah dengan track yang dipilih oleh panitia.

Ia juga senang karena bisa menikmati suasana Kota Lama dengan bangunan-bangunan kunonya. “Suka sih ikut lombanya, meskipun Semarang tidak sedingin Kota Malang,” katanya.

Namun demikian Tariku menyatakan tetap ingin ikut lagi jika di waktu mendatang diselenggarakan lagi lomba lari di Semarang. (ari/bp)