25 October 2021
Home / Food Story / Sate Kambing Mbak Tun Pasar Babadan Ungaran: Hanya Buka Legi dan Wage, Jangan Datang Terlalu Siang

Sate Kambing Mbak Tun Pasar Babadan Ungaran: Hanya Buka Legi dan Wage, Jangan Datang Terlalu Siang

Selama barang dagangan laku, biasanya pedagang akan berusaha melayani sepanjang hari. Bahkan, jika perlu sepanjang 7 hari tidak pernah tutup.

Namun berbeda dengan Warung Sate Mbak Tun yang berada di belakang Pasar Babadan, Kabupaten Semarang. Apa yang dijajakan di warung itu selalu ludes. Anehnya, pemilik hanya buka selama dua hari dalam seminggu dalam kalender pasaran Jawa, Wage dan Legi.

Jika berniat memanjakan lidah dengan menu berbahan dasar serba kambing, sebaiknya jangan datang siang. Sebab, biasanya, pada jam makan siang, menu favorit, yakni sate, gule sumsum, dan gulai kambing, sudah habis.

Dengan harga per porsi Rp 35.000, tim Padmanews merasakan sate, gulai, gulai sumsum, dan gongso iga kambing. Benar-benar ”maknyus” sebagaimana dikatakan Pak Bondan Winarno, waktu itu.

Ali, Aluwi, dan Lilik Alfiah, adalah tiga bersaudara putra pasangan Idrus-Miyatun yang kini mengelola rumah makan itu. ”Sejak ibu (Miyatun atau Mbak Tun) meninggal, yakni tahun 2011, kami bertiga bahu-membahu meneruskan usaha warung latengan ini,” kata Aluwi.   

Pasaran Legi dan Wage

Aluwi menuturkan, mengapa warungnya hanya buka pada pasaran Jawa Legi dan Wage.  ”Dulu, Ibu dan Bapak membuka warung pada tahun 1972. Saat itu Pasar Babadan ramai ya pada pasaran Legi dan Wage. Maka Ibu dan Bapak membuka warung ya pada saat pasaran Legi dan Wage,” katanya.

Menurut Aluwi, orang tuanya selalu melibatkan anak-anak meski masih kecil-kecil untuk ikut dalam usaha warung itu.

”Kata Ibu, kalau mau punya uang ya harus kerja. Maka kami bertiga ya dilibatkan dalam proses mulai mencari kambing yang berumur antara 3-6 bulan, menyembelih, menguliti, memotong-motong daging kambing, hingga membuat bumbu rempah.”  

Alhasil, saat ditinggal sang Ibu, Ali, Aluwi, dan Lilik bahu-membahu melanjutkan usaha latengan warung Sate Mbak Tun hingga sekarang. Bahkan pada 2017 mereka bertiga berhasil merenovasi bangunan warung itu sehingga lebih terkesan modern dan higienis.

”Sampai sekarang, segala sesuatu tentang warung ini kami bertiga yang mengelola. Misalnya mencari kambing usia 3-6 bulan di Pasar Ambarawa, Sukorejo, Limpung, dan sekitarnya. Kami memotong kambing sendiri di rumah,” ujarnya.

Di rumahnya, Jl Erlangga 8 RT 05/RW 04 Langensari, Babadan, Kabupaten Ungaran, mereka ternyata tetap melayani pelanggan. Baik yang makan di tempat, dibawa pulang, atau pesan untuk perhelatan.

”Di rumah, di luar pasaran Legi dan Wage, kami tetap melayani pelanggan. Jika setiap pasaran Legi dan Wage habis 10 ekor kambing, maka di rumah bisa habis 1-5 ekor per hari. Biasanya Jumat, Sabtu, Minggu bisa 5 ekor kambing/sehari. Terlebih lagi jika ada pesanan hajatan pernikahan dan sejenisnya.”

Tips

Menurut Ali, Aluwi, dan Lilik, kendati warungnya bertajuk “Sate Kambing”, namun juga menjual menu berbahan daging lain seperti tengkleng, gulai, gongso, iga bakar, gule sumsum, dan krengsengan. Mereka bahkan menyajikan nasi briyani.

”Semula memang hanya jual sate, kemudian berkembang sampai sekarang punya banyak menu. Salah satu yang paling banyak diburu adalah gulai sum-sum kambingnya,” kata Ali.

Menurutnya, gulai sum-sum paling digemari karena mereka memang hanya menyediakan sedikit stok tiap kali berjualan.

Agar di Legi dan Wage bisa menikmati beragam menu di Warung Mbak Tun, ada baiknya coba tips berikut ini. Yakni, jangan datang di atas pukul 12.00 dan atau pesan makanan sehari sebelumnya. Nah, silakan coba dan rasakan nikmatnya beragam menu unggulan berbahan dasar daging kambing di Warung Sate Kambing Mbak Tun belakang Pasar Babadan Ungaran. (Ali)