1 December 2021
Home / Food Story / Restoran Toko Oen: Cita Rasa Otentik yang Turun Temurun

Restoran Toko Oen: Cita Rasa Otentik yang Turun Temurun

Menikmati makanan Toko Oen zaman dulu akan terasa Toko Oen sekali kalau berada di Toko Oen yang asli. Karena, di Restoran Toko Oen ini tidak hanya menjual makanan, tetapi juga sejarah dan nostalgia. Orang yang berkunjung ke Toko Oen mungkin seakan-akan back to the past, kembali ke tahun 1930-an. “Kita mungkin satu-satunya yang asli dari semuanya, mulai cara penyajian, cara memasak, ingredients, serta gedung dan suasananya,” kata Yenni Megaradjasa, pemilik Toko Oen generasi ketiga.

Menurut Yenni, masakan yang disajikan di Toko Oen masih dibuat berdasarkan resep dari Oma Oen, sang pendiri dan akan terus seperti itu. Tentunya hal tersebut dilakukan untuk melestarikan dan menjaga keaslian serta mempertahankan rasa nostalgia dan kenangan dari tamu-tamu. Selain masakan, Toko Oen juga masih memiliki patisserie ( toko kue) dan es krim yang masih menggunakan resep kuno yang memiliki tekstur dan rasa berbeda dari yang lain.

Bagi yang ingin menikmati nuansa kolonial tempo doeloe, maka Toko Oen menjadi restoran yang sangat cocok untuk dikunjungi. Hal ini dikarenakan interior resto yang berada di Jl Pemuda No 52 Bangunharjo Semarang, ini tetap mempertahankan nuansa klasik kolonial yang kental dan cita rasa nostalgia Toko Oen Semarang yang legendaris.

Toko Oen yang telah berusia 85 tahun ini menyediakan berbagai macam sajian gaya kolonial  khas yang memadukan cita rasa Indonesia, China, dan Belanda dalam berbagai jenis olahan. Makanan-makanan Toko Oen dari masa ke masa adalah bistik, cookies, es krim dan  segala macam hidangan berat dan ringan lainnya tempo dulu.

Seperti yang menjadi favorit adalah es krim Toko Oen yang memiliki cita rasa unik dan berbeda dari es krim di tempat lain. Salah satunya yang mesti dicoba adalah es krim rum raisin.  Es krim dengan rasa lebih kompleks dan spesial, karena dituangi rum raisin. Selain aroma rum di es krimnya sudah terasa, masih diberi tambahan kuah rum lagi. Rasanya, ada manisnya tapi tidak terlalu manis, sedikit pahit juga karena memakai rum dan ada kismisnya. Secara keseluruhan, tiga kombinasi yang sangat pas.

Proses pembuatan es krim Toko Oen memang spesial, karena berbeda dari es krim-es krim lainnya. “Ya, jadi yang membuat es krim Toko Oen ini unik dan berbeda dari es krim di tempat lain, mungkin karena pengerjaannya. Karena resep-resep Toko Oen ini masih asli dari Italia. Zaman dulu, di mana belum ada substitute lagi, belum ada bahan-bahan kimia untuk mengembangkan. Belum ada mesin yang push udara masuk, sehingga dengan barang sedikit, jadinya banyak. Jadi kalau kita punya masih asli telur, asli susu. Bahan-bahan itu dengan pelan-pelan didinginkan dan diputar. Dan sebetulnya ini lebih dingin daripada es putar, tapi sistemnya hampir sama. Jadi bukan yang di-blow, tapi benar-benar pelan-pelan. Dan saya pikir itu mungkin satu-satunya yang membuat rasanya berbeda. Karena partikelnya menjadi lebih besar,” ungkap Yenni.

Selain es krim, camilan-camilan tempo dulu juga sangat menggugah selera, seperti roti ganjel rel, kue telur, kue kelapa, dan poffertjes, yang kesemuanya masih menggunakan resep kuno. Masing-masing makanan ini pun memiliki kekhasan tersendiri.

Roti ganjel rel misalnya, perpaduan manisnya sangat pas, teksturnya padat tapi lembut, ada taburan wijen, dan aroma kayu manis yang tajam. Lalu, roti telur yang memiliki aroma harum khas perpaduan susu, telur dan gandum. Rasa manisnya pas dan tidak membuat nek. Begitu pula dengan roti kelapa dan poffertjes. Semuanya memiliki aneka sensasi rasa sendiri-sendiri.

Beralih ke hidangan berat, perlu dicoba juga nasi goreng spesial Toko Oen. Nasi goreng yang padat dengan campuran telur, ditaburi irisan telur dadar, dan masih disertai telur mata sapi, khas makanan Eropa yang sarat dengan protein.

“Memang inilah ciri makanan Eropa Belanda. Jadi apa yang ingin kita sampaikan di menu-menu ini adalah keseluruhan dari makanan Toko Oen zaman dulu. Karena di sini memang perpaduan antara suasana dan makanan. Jadi saya belum bisa membayangkan kalau makan nasi goreng Toko Oen di mall. Tentu, rasanya enggak akan nasi goreng,” ujar ibu tiga anak tersebut sembari tertawa.

Menjaga Generasi

Toko Oen merupakan salah satu restoran tertua di Indonesia yang dikelola dan dimiliki oleh keluarga. Pada 1910, Nyonya Liem Gien Nio (Oma Oen) dan Oen Tjoen Hok (Opa Oen) membuka sebuah toko kue di Yogyakarta dengan nama Toko Oen.

Pada 1922, toko tersebut memperluas penjualannya dengan menambah restoran dan salon. Menu masakannya adalah perpaduan dari masakan Indonesia, Chinese, dan Belanda. Pada 1934, Toko Oen membuka cabang di Batavia atau Jakarta (hingga 1973) dan Malang (1934-1990). Pada 1936, cabang terakhir dibuka di Semarang di Jalan Pemuda 52 (dulu bernama Jalan Bodjong).

Toko Oen saat ini dikelola generasi ke-4, dengan masih dibantu generasi ke-3 yaitu Yenni Megaradjasa, selaku penanggung jawab.

“Jadi sebetulnya yang memulai itu oma opa saya di Jogja, sekitar tahun 1910-an. Awalnya hanya kecil, toko kue kecil, karena oma punya hobi bikin kue-kue dan dapat resep dari teman-teman di Belanda. Akhirnya toko kue itu disukai orang sampai kemudian buka restoran,” beber Yenni.

Restoran itu, menurutnya, yang anehnya karena orang kenalnya toko Oma Oen jadi Toko Oen, dan restorannya lalu dinamakan Restoran Toko Oen.  Toko Oen terus berkembang dan akhirnya buka cabang di Malang dan Semarang.

“Kalau zamannya oma itu, memang sering melayani pemerintah Belanda. Dan setelah kemerdekaan, juga menjadi catering istana.   Setelah tahun 1970-an, saudara-saudara saya banyak yang pindah ke Belanda. Jadi dijualin semua, tinggal yang di Semarang ini. Jadi yang tadinya cabang, jadi yang asli. Dan sempat kita juga membuka di Belanda, tepatnya di Kota Delf dan Den Haag. Tapi akhirnya saya kembali ke Indonesia karena ibu saya meninggal. Dan hingga saat ini, kami akan berusaha terus mengembangkan resep-resep Belanda. Karena Belanda dan Toko Oen sarat sekali dengan Belandanya,” tuturnya.

Toko Oen, kata Yenni, sebetulnya bukan sekadar tempat makan, tapi lebih ke arah satu kesatuan perpaduan antara suasana dan makanan. Hal itu yang akhirnya membuat Toko Oen menjadi unik, karena kebanyakan lainnya mengikuti tren.

Yenni menceritakan, tahun 80-an, 90-an semua gedung-gedung lama di Kota Semarang, restoran-restoran besar semua beralih harus cepat-cepatan ganti yang modern karena ada KFC masuk, McD dan segala macam.

“Hanya kami saja yang gila, karena tidak mengikuti tren. Terus saya juga bilang kalau seandainya Toko Oen dijadikan modern, punya AC, atap rendah, itu namanya bukan Toko Oen. Waktu itu kami dianggap tidak mau mengikuti zaman. Tapi itu ternyata yang bikin kami tetap survive. Karena sekarang, orang justru kepengennya kembali ke masa lalu,” tandasnya.   

Menu Andalan di Toko Oen Semarang

Toko Oen selalu menjaga citarasa dengan tetap mempertahankan standar bahan baku berkualitas dan proses memasaknya. Selain itu, inovasi penambahan menu juga dilakukan untuk meningkatkan pangsa pasar dan target market yang lebih luas. Salah satunya membuka cabang baru dengan nama Oud En Nieuw yang berlokasi di Kota Lama. Dengan citarasa varian baru kekinian dan anak muda, tanpa meninggalkan nilai otentiknya.

“Outlet Toko Oen yang baru ini memang ditargetkan untuk kalangan yang lebih muda. Kita mempunyai ikon yang benar-benar asli di Toko Oen. Sementara di Oud En Niew, kita mengembangkan resep-resep Belanda. Untuk  resep-resep Belanda yang belum jadi ikonnya Toko Oen, ditaruh di Oud En Niew. Prinsipnya, sama-sama bagaimana melestarikan yang lama, kita kenalkan ke milenial, dan besok-besok ke generasi berikutnya. Dan, sejauh ini bagaimana tingkat penerimaan mereka, sebetulnya ini baru start. Karena kita buka persis sebelum pandemi, setelah itu berhenti lama dan baru buka beberapa bulan ini. Jadi tutupnya lebih lama dari bukanya,” papar Yenni.

Adapun varian-varian di Oud En Niew, seperti es krim dengan bahan dasar yang diperbarui dengan rasa-rasa sekarang. Ada nutella, stroberi, es krim ganjel rel, dan es krim cendol.

“Zaman dulu, di Indonesia tidak ada stroberi. Adanya kelapa muda dan nanas. Tapi karena sekarang sudah ada, kita coba. Ini memang perjuangan dan sekali lagi ambil risiko seperti waktu itu. Toko Oen mau berubah atau enggak? Kita bilang enggak. Tapi sekarang Toko Oen baru, kok jadi bikin macam-macam? Itu memang kita ambil komitmen. Kita harus menciptakan sesuatu dari barang yang lama, tapi mengenalkan kembali. Mungkin nanti kalau mulai ramai, kita akan mengenalkan makanan lama Belanda. Kalau sekarang orang belum bisa menerima. Dan, harapan saya bagi generasi penerus bisnis Toko Oen, saya pengennya itu kuno, kini, nanti. Jangan lupakan yang lama, dibawa terus, dan dikenalkan ke yang nan ti-nanti. Jadi supaya nanti sekian generasi tetap Toko Oen. Paling tidak, kita melestarikan sesuatu yang memang pernah jaya di waktunya,” tutupnya. (Sasy)