23 April 2024
Home / Art / Pupuk Daru Purnomo: Karya yang Tergugah dari Kerapuhan

Pupuk Daru Purnomo: Karya yang Tergugah dari Kerapuhan

“Potret Diri Bagai Vampire” membingkai salah satu dari perjalanan Pupuk Daru Purnomo dalam perenungan di mana dirinya mengalami beberapa cobaan hidup. Ia merenungi setiap fase yang dilalui dan menumpahkannya dalam sebuah karya. Vampire menjadi salah satu penggambaran atas apa yang pernah dialaminya.

“Vampire itu sebagai metafor atas diri saya. Pemikiran yang muncul setelah saya mengalami beberapa fase cobaan hidup sedemikian rupa dan luar biasa. Akhirnya pada suatu masa ada perenungan begini, kok tiba-tiba saya punya ide menggambar potret diri tapi wajah saya menjadi vampire. Ide yang muncul ini adalah perenungan bahwa saya berpikir vampire itu penuh keterbatasan dan hidup saya itu juga penuh dengan keterbatasan,” kata perupa yang sudah tidak asing lagi di kancah dunia seni rupa Indonesia tersebut, saat ditemui tim Padma News di salah satu kediamannya di kawasan Sidoarum, Sleman, Yogyakarta.

Pupuk merangkum semua peristiwa yang telah terjadi, lalu menuangkannya menjadi goresan-goresan yang menyimpan berjuta makna dan cerita.

“Bisa dibilang ujian hidup yang saya lalui itu bertubi-tubi, penuh dinamika. Pertama, saya mengalami gangguan telinga. Berdenging telinga dan itu tidak bisa hilang. Saya harus menyesuaikan untuk itu.

Kedua, paru-paru. Saya sudah tidak bisa menghirup sesuatu yang menyengat. Kalau ada sesuatu yang menyengat, paru-paru saya langsung bereaksi. Karena pernafasan sudah terlalu sensitif. Di sini, saya harus menyesuaikan lagi dengan keadaan sekarang. Ketiga, mata. Sehabis operasi retina, saya kalau melihat garis lurus itu, tengahnya pasti ada celah, mesti bengkok. Retina saya pernah lepas sampai titik fokus. Begitulah, tiga kali saya harus penyesuaian,” ungkap pria kelahiran Yogyakarta, 16 Juni 1964.

Bagi Pupuk, vampire adalah sumber kerapuhan. Seperti juga manusia yang memiliki banyak keterbatasan. Metafor vampire menjadi benang merah yang kuat atas dirinya.

“Saya itu orangnya pemikir dan saya membayangkan begini, hidupku kok penuh dengan dinamika ya. Begitu pula vampire. Jika dipikir, dia itu ya korban, kalau enggak minum darah ya mati, makanya dia harus minum darah. Dia juga mati kalau terkena sinar matahari. Lha sama, saya juga sudah tidak berdaya dan rapuh. Paru-paru sudah sensitif, telinga berdenging, dan pandangan mata ada keterbatasan. Saya kok hidup penuh kerapuhan, sangat rapuh. Tapi, di satu sisi saya harus tetap bertahan dan berkarya dalam kondisi ini. Nah, keterbatasan-keterbatasan itu yang saya ungkapkan lewat vampire ini,” urainya.

Pupuk melanjutkan, vampire itu sebenarnya jika ditanya kamu mau enggak jadi vampire, mungkin ia juga akan menjawab tidak mau. “Vampire itu ternyata punya banyak keterbatasan. Kalau enggak minum darah ya mati dong, padahal ia enggak kepengin. Hal-hal itu yang saya cocok-cocokkan sendiri, dan metafor yang menjadi vampire ini bagi saya adalah sumber kerapuhan. Mungkin ia juga tidak punya pilihan. Jadi vampire itu merupakan penggambaran bahwa hidup manusia itu penuh keterbatasan. Dan sebelum akhirnya pada titik perenungan ini, kerapuhan-kerapuhan ini sebenarnya pun sudah saya rasakan sedari kecil,” kata Pupuk.

Pupuk bercerita, sejak usia tiga tahun dirinya memang sudah hobi menggambar. Dia senang corat- coret. Dulu, di lantai rumahnya yang hanya bersemen hitam, dia suka mencorat-coret menggunakan kapur tulis. Setiap hari dia selalu membutuhkan kapur tulis. Pada waktu itu, ketika anak-anak seusianya bermain motor-motoran, Pupuk malah meminta ibunya kapur tulis.

“Dari umur tiga tahun, saya sudah menggambari lantai rumah yang bersemen hitam, sampai penuh. Hari ini dicoret-coret, besoknya disapu ibu. Kosong lagi, lalu digambari lagi. Jadi setiap hari seperti itu. Inilah awal kenapa saya punya passion ke seni, memang dari kecil saya sudah senang menggambar dan berimajinasi,” ungkapnya.

Pada kelanjutannya, Pupuk keterusan menggambar-gambar ilustrasi sampai SMA. Sampai dia diajukan mengikuti lomba seni dari sekolahnya dan meraih Juara 2 Ilustrasi SLTA SE-DIY.

”Saya semakin yakin, mantab, berarti saya cocok di seni. Tapi waktu itu Bapak tidak memperbolehkan. Menurutnya, melukis itu jangan untuk profesi karena nanti anak istrimu mau kamu kasih makan apa. Mungkin zaman dulu bayangan profesi seniman bagi awam itu kan tidak semuanya sukses. Informasi tentang kesuksesan seniman juga kurang terekspos oleh media massa. Beda jauh kondisinya dengan jaman sosial media seperti saat ini”

Lulus SMA, lanjut Pupuk, dirinya merantau ke Jakarta. Di sana ia berusaha melamar ke berbagai perusahaan sampai puluhan dan bahkan mungkin ratusan tapi tidak ada yang diterima. Akhirnya Pupuk hidup menggelandang di Pasar Baru dengan membikin gambar potret seperti di Malioboro.

“Saya berani menggelandang di Jakarta, karena kalau di sana tidak ada yang kenal. Kalau di Jogja mesti kan banyak yang kenal. Jadi ya sudahlah yang penting saya bisa hidup. Tahun 1984-1987 atau tiga tahun saya merantau di Jakarta. Malang melintang di Pasar Baru dan Pasar Seni Ancol sebentar. Selama tiga tahun itu saya kerja keras mengumpulkan uang untuk bisa melanjutkan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tahun 1987 saya kembali ke Jogja, lalu mendaftar kuliah di ISI dan akhirnya diterima. Dari situ saya mulai semakin mengerti kalau mau menjadi seniman itu harus begini-begitu, harus pameran, harus mempertahankan konsep, harus macam-macam. Akhirnya secara akademis saya punya bekal.”

Begitu lulus setelah tujuh tahun menimba ilmu di ISI, Pupuk langsung menggelar pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta (1995) bertajuk “Peziarahan ke Dalam Anima”. Dia memberanikan diri pameran tunggal di sana dan dari situ karyanya mulai diapresiasi orang, bahkan dikoleksi orang. Akhirnya Pupuk semakin yakin jika seni adalah jalan hidup yang harus dilewati.

“Saya jadi berpikir, dulu waktu tidak diterima di perusahaan mana pun, saya pernah begini ‘waduh saya ini kok kebangetan ya, cuma mau menjadi karyawan saja kok enggak diterima’. Tapi sekarang saya sadar bahwa jalan hidup itu kan sudah ada yang mengatur. Kamu saya lewatkan sini lho Puk. Kamu jangan lewat sana. Jelas tidak bisa. Akhirnya hikmah itu yang saya ambil. Saya bersyukur sekarang bisa seperti ini. Oh ternyata dalam hidup itu kita harus mencari jati diri dengan segenap kesungguhan. Ini bidangmu di sini. Kamu jangan ke sana, kamu enggak mungkin bisa karena kamu mau dilewatkan jalan ini,” kata Bapak dari tiga anak tersebut.

Akhirnya dengan perjalanan itu, Pupuk menjadi semakin yakin dan menyadari bahwa memang harus menjadi seniman dan menyuarakan tema-tema sosial yang berakar pada humanisme.

Pupuk mengungkapkan kenapa tertarik tema-tema dengan spirit humanisme. Kedekatannya dengan sang ibunda adalah sumber inspirasi utama. Seorang perempuan, pekerja keras, dan ibu yang mayoritas waktunya tersita untuk bekerja mencari uang demi tegaknya ekonomi keluarga. Pupuk hanya melihat ketangguhan sosok ibu. Dari situ muncul empati akan keperkasaan yang ditangkap berupa spirit. Bukan fisik orang yang sedang menggendong atau lainnya, melainkan spirit ketangguhan.

“Konsepnya wanita sebagai sumber penciptaan. Karena pada saat itu, paling akrab atau dekat dengan ingatan saya adalah setiap hari melihat ibu bekerja membanting tulang, akhirnya itu yang melekat dalam diri saya. Sampai dengan tema yang sekarang sebetulnya tidak jauh-jauh dari diri saya sendiri. Artinya, saya sakit juga jadi karya. Saat saya tidak punya pilihan kesehatan, saya juga harus tetap menghasilkan sesuatu dan meninggalkan jejak dalam kondisi apa pun,” tuturnya.

Selalu Ada Jejak

Saat telinganya mengalami gangguan berdenging mulai tahun 1994 sampai sekarang, itulah jejak dalam kerapuhannya. Pupuk sudah berobat hingga ke Singapura, diperiksa sampai di MRI yang paling canggih, tapi sumber penyakit tetap tidak diketemukan. Setelah diperiksa, tidak ada masalah. Otak dan lain-lain bersih semua, tidak ada penyumbatan. Akhirnya dokter hanya berkata bahwa bunyi ‘nging’ itu karena syaraf yang terkena.

Jadi Pupuk harus menyesuaikan dengan keadaan itu sekarang. Hanya itu, yaitu penyesuaian. Akhirnya, semua harus Pupuk terima dan tetap berkarya tanpa kendala. Karya-karya Pupuk pada masa itu, antara lain Lelaki dan Patung (2002), Ibu dan Anak yang Transparan (2002), Imajinasi Seksual (2003), dan masih banyak lagi.

Jejak berikutnya, saat paru-parunya terkena masalah sekitar tahun 1997. Kala itu, jika menghirup minyak yang untuk menggambar, Pupuk langsung merasa sesak. Ternyata paru-parunya sudah tidak bisa mencium bau/aroma yang menyengat. Solusinya, Pupuk harus menggunakan akrilik untuk melukis. Tapi dia tidak bisa kalau memakai akrilik. Hanya satu karya dengan akrilik yang dihasilkan. Akhirnya Pupuk kembali menggunakan cat minyak.

“Okelah saya tidak bisa berkarya menggunakan akrilik, karena tidak sesuai dengan harapan saya. Mau tidak mau saya tetap memakai cat minyak. Tekad saya dalam hati, Tuhan kan tahu hidup saya dari sini, masa Tuhan enggak ngasih jalan. Mau sakit, saya juga harus tetap pakai ini. Karena mau pakai yang lain juga enggak bisa,” tuturnya.

Untuk mengurangi agar bau dari cat minyak tidak menyeruak langsung ke indra penciumannya, pada saat melukis, jendela studio dibuka. Lalu di sebelahnya ada kipas angin besar yang dinyalakan.

Otomatis udara langsung kesentor keluar. Akhirnya itu membantu sampai sekarang. Bau cat minyak berkurang dan menjadi tidak masalah lagi.

Setelah fase itu dapat diatasi, tetiba terjadi gangguan pada mata. Padahal mata adalah pancaindra utama. Pupuk melihat benda menjadi dobel. Dia lalu cek ke Singapura. Di sana diperiksa dan hasilnya hanya katarak.

“Karena hanya katarak, yang menurut pengertian saya ah ini bukan katarak, saya juga masih muda. Paling katarak ini cuma buram. Akhirnya ketika ditawari mau dioperasi di sana, saya tidak mau. Saya memilih operasi di Jakarta saja. Akhirnya saya langsung dioperasi pada tahun 2012. Karena dua-duanya terkena Katarak, dokter bilang dioperasi satu dulu. Enam bulan berikutnya, satunya lagi. Jadi dua-duanya aman,” kata Pupuk.

Tapi ternyata cobaan belum selesai. Sehabis operasi katarak kedua, dokter mengatakan kalau retinanya sudah tipis, jadi harus hati-hati. Jangan mengangkat yang berat-berat.

“Tapi, habis operasi kedua saya itu enggak menyadari mengangkat patung karena berat sampai ngeden dan seketika itu retinaku lepas. Satu mata saya sudah tidak bisa melihat, sudah hitam yang separo. Waktu bangun tidur pas pagi kok sudah hitam tidak bisa melihat yang sebelah kiri. Saya lalu balik ke Jakarta lagi menemui dokter yang mengoperasi untuk dicek. Dokter berkata ‘waduh Mas ini sudah 50% lebih retinanya yang lepas. Langsung dioperasi sekarang, karena kalau menunggu lagi, nanti retinanya yang lepas tambah banyak dan untuk mengembalikannya susah,” paparnya.

Padahal, kata Pupuk, besoknya ia harus ke Italia. Pupuk pun akhirnya gagal berangkat. Operasi retina Pupuk sangat berat, satu bulan tidak bisa ke mana-mana. Dia harus tengkurap terus. Karena kalau kepalanya mendangak bisa lepas lagi retinanya. Dia juga tidak boleh naik pesawat dulu. Dua hari di RS, Pupuk pulang dengan kereta api. Dia pemulihan di rumah, istirahat total satu bulan. Italia bobor.

Dibalik Konsep

Dalam setiap karya yang diciptakan, Pupuk selalu memiliki konsep. Ia tidak sekadar membuat karya karena mengikuti tren pasar, justru jauh dari itu. Pupuk mengaku ada alasan sangat kuat, ada latar belakang dan cerita di setiap karyanya, baik melalui meditasi, perenungan-perenungan ataupun lainnya, salah satunya adalah potret vampire yang ia buat pada 2014 tersebut.

“Sebagai contoh, sebelum saya menciptakan karya vampire, ada satu masa di mana saya tidak bisa fokus berkarya karena gangguan mata yang saya alami. Melihat apa pun selalu dobel. Akhirnya, setiap hari saya hanya mengantarkan anak saya dolan ke pasar hewan membeli ikan cupang di botol. Setiap pagi kalau pas anak saya pergi ke sekolah, ikan cupang itu saya bawa ke studio. Saking judegnya, saya perhatikan terus itu ikan cupang yang goyang-goyang. Mata saya yang sudah pecah melihat, jadi semakin goyang. Nah, dari situ ada ide dari apa yang diterima mata dan itu yang saya gambar. Saya berpikir kalau apa yang saya terima mata seperti itu, kenapa tidak saya ungkapkan dengan seperti itu juga,” paparnya.

Pupuk mengakui jika sebelumnya bisa berkarya dengan menggunakan mata, lalu saat itu penglihatannya diberi gangguan, maka pada fase tersebut lah saatnya ia menggunakan kekuatan kata hati. Atau, tepatnya dia harus melukis dengan mata hati.

“Jadi memang kita jangan hanya mengandalkan mata, tapi juga mengandalkan hati. Ditambah lagi, ada banyak support dari teman-teman,” ujarnya.

Merunut apa yang sudah dialami, karya-karya Pupuk bak refleksi dari kehidupannya. Dimulai dari 2001, sebelum ia mengalami dinamika kesehatan, Pupuk berkesempatan berkeliling dunia mengunjungi museum-museum legendaris di benua Eropa. Selama 1,5 bulan, Pupuk bersama dr. Oei Hong Djien dan Nasirun keluar-masuk museum di Amerika Serikat dan Belanda. Di Amerika, mereka bertiga berkeliling negeri Paman Sam itu mulai dari Los Angeles, Las Vegas, Chicago, berakhir ke Houston.

“Saat keluar masuk museum-museum di sana, saya punya pemikiran bahwa ternyata manusia atau  kita itu sebelum kenal dengan para maestro dunia, merasa sudah sok mengerti segalanya. Tapi begitu di museum, saya menjadi kecil, merasa bodoh lagi. Makanya ada satu karya potret diri di museum, saya ibaratkan di situ ada kerbau yang sedang menonton lukisan. Saya seperti kerbau itu. Kita itu ternyata masih harus banyak belajar. Nah itu yang menjadikan kenapa karya saya selalu berkembang,” beber Pupuk yang menampilkan karya-karyanya dalam berbagai pameran dan mengemasnya dalam kumpulan buku, salah satunya Meta/Mata.

Saat berkeliling Eropa, dari Italia, Florence (Firenze), Praha, Vienna, Austria, terakhir Paris, Pupuk banyak membuat karya secara on the spot. Seperti lukisan wanita, inspirasi yang ia dapatkan dari gadis Rusia di Paris (2001). Lalu, Self Portrait In Paris (2004), Sudut Paris (2014), Effiel (2014), San Marco Malam (2013), dan masih banyak lainnya.

“Saya melukis on the spot itu sebetulnya semacam blueprint, seperti kekaguman saya terhadap Menara Eiffel. Saya tertarik dengan Menara Eiffel tidak tahu kenapa, tertarik saja. Lalu saya menggambarnya. Kemudian saya melihat Gereja Notre Dame yang interiornya sangat menawan. Akhirnya saya sket, kadang saya ambil foto dan jadi lukisan. Itu saya anggap bahwa ada satu karya saya yang benar-benar respons dari luar. Artinya, saya tertarik oleh sesuatu hal di luar, terus saya punya fantasi sendiri, oh awan di Eiffel menurut saya kok seperti itu dan di lukisan saya, awannya lalu saya bikin seperti itu,” katanya.

Pupuk mengakui, respons sesaat itulah yang menjadi salah satu inspirasi karya-karyanya yang berformat landscape / horizontal. Meski demikian, dia juga mempunyai karya-karya lain yang bertema  meditasi. Yaitu semacam perenungan saat- saat di mana dirinya sakit. Dan itu rentangnya juga panjang.

Periode-periode di mana setiap style atau lukisan yang dibuatnya memiliki alasan dan latar belakang tersendiri. Periode karya-karya berformat landscape  yang terinspirasi respons sesaat dari luar. Lalu masa-masa perenungan, di mana ada meditasi atau periode penuh pemikiran yang menghasilkan karya-karya abstrak. Dan, satu masa yang orang menganggapnya karya-karyanya adalah komersial.

“Lanscape itu saya ibaratkan sebagai refreshing. Saya seperti turis yang melihat Eiffel itu kan bagus, terus senang, ereksi, dan selesai.” ungkap suami dari Endang Werdiningsih ini.

Perjalanan Spiritual

Dari usia 45 tahun, Pupuk mengaku sudah memikirkan kematian. Dia juga tidak tahu kenapa bisa demikian.

“Kadang saya berpikir kematian, bukan karena minta mati.  Itu saya anggap hal yang baik. Karena kan lebih baik ingat mati, jadi kalau seumpama kita mau menyalahi teman kan seperti ada peringatan buat apa sih. Artinya ada impact yang baik. Sepanjang ada impact yang baik kan tidak masalah. Nah, dari situ muncul tema-tema kematian. Seperti Tuhan tidak ingin memberikan zona nyaman terus kepada saya, sehingga saya diberi cobaan-cobaan. Karena kalau tidak begitu, saya tidak akan berubah. Stagnan,” lanjut Pupuk.

Lalu, kenapa sekarang lukisan Pupuk muncul potret yang aneh-aneh dan kenapa saat pameran di Singapura justru memunculkan yang itu, sesuatu yang ternyata menjadi problem kita sebenarnya.  Itu seharusnya kita ungkapkan juga, bukan sekadar tentang Eiffel atau lainnya.

Pada bagian lain Pupuk mengisahkan, untuk biaya hidup selama kuliah di ISI selama 7 tahun, ibu memang berkirim uang tapi untuk sekadarnya, selebihnya dari ia harus kreatif mencari tambahan dengan menerima order menggambar potret. Pupuk beruntung selama menimba ilmu di ISI Yogyakarta berkesempatan menerima beasiswa supersemar selama tiga tahun.

“Jadi saya kalau pas liburan semester, pulang ke Jakarta. Ibu di Jakarta ikut adik. Ibu saya yang mencari order. Istilah kerennya kalau jaman sekarang staf marketingnya. Jadi ibu saya menawari ke tetangga-tetangga. Pelukis potret yang unik karena menjemput order yang sudah dikumpulkan dulu. Nah ketika saya liburan ke Jakarta, saya melukis potret-potret itu dan pulangnya membawa uang hasil dari pesanan tersebut untuk biaya hidup dan membayar kuliah. Jujur, hanya dengan itu. Jadi memang benar-benar yang membiayai kuliah saya dari hasil karya dan beasiswa supersemar,” kata Pupuk.

Pergulatan hidup Pupuk yang berwarna itu sungguh menghadirkan kearifan tersendiri bagi dirinya. Ia begitu bersyukur atas dinamika yang ada sehingga masih bisa konsisten menekuni profesi pelukis yang amat ia cintai sampai saat ini.

“Jujur, saya tidak punya usaha lain, selain melukis. Benar-benar tidak ada. Dan saya enjoy. Sebab Tuhan selama ini benar-benar telah memelihara kami.“(Sasy)