22 April 2021
Home / Education / Politeknik ATMI Surakarta: Lulusan Harus Bisa Apa, Tak Sekadar Belajar Apa

Politeknik ATMI Surakarta: Lulusan Harus Bisa Apa, Tak Sekadar Belajar Apa

Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo berdiri tahun 1968 sebagai lembaga pendidikan vokasi, mempersiapkan calon tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Sejak tahun 2011, ATMI berubah menjadi Politeknik ATMI Surakarta. “Jadi ATMI sudah bukan singkatan lagi, tetapi sudah menjadi nama,” kata Wakil Direktur IV FX Suryadi kepada Padmanews, baru baru ini. Suryadi didampingi Kaprodi Teknik Perancangan Tri Hananto Saputra.

Di bawah naungan Yayasan Karya Bakti Surakarta, Politeknik ATMI Surakarta berkembang menjadi institusi pendidikan tinggi yang mempunyai pengaruh cukup besar pada pendidikan profesional, khususnya di bidang Teknik Mesin Industri (Teknik Manufaktur).

Pendidikannya mengadopsi model pendidikan dual system dari Jerman dan Swiss, dan sejak berdiri telah menggunakan sistem pendidikan yang berbasis produksi atau PBET (Production Based Education and Training). “Swiss menginginkan ada pendidikan akademik yang memiliki kompetensi. Oleh karena itu didatangkan ahli dan peralatan dari Swiss dan Jerman,” kata Suryadi.

Ditambahkan oleh Tri Hananto, Politeknik ATMI Surakarta menggunakan PBET atau yang lebih dikenal dengan teaching factory sejak tahun 1968. PBET atau teaching factory adalah model pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman praktik seperti situasi sesungguhnya pada dunia industri atau usaha kepada peserta didik, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan dunia industri atau usaha dengan pengetahuan yang dipelajari di institusi pendidikan.

Dalam proses, teaching factory menggunakan produk (barang atau jasa) sebagai media pembelajaran yang mengacu pada standar dan prosedur yang ada di industri serta dilaksanakan dalam suasana seperti dalam industri. “Karena Politeknik ATMI merupakan Pendidikan Tinggi Vokasi, maka kurikulum disusun dengan bobot 70% praktek dan 30%,” kata Tri Hananto.

Teknis proses pembelajaran menggunakan sistem paket yang diambil pada tiap tingkat atau 2 semester. Jadi untuk Program Studi D3 terdiri dari 3 tingkat atau 6 semester. Program Studi D4 terdiri dari 4 tingkat atau 8 semester. Suasana industri sudah diterapkan dalam proses pembelajaran. Kondisi normal mahasiswa akan melaksanakan praktek selama 40 jam dalam waktu seminggu.

Proses Pembelajaran Teaching Factory Program Studi D3 dilakukan di Lab, Bengkel Politeknik ATMI dan Unit Karya yang dimiliki Yayasan Karya yaitu PT. ATMI Solo, PT. ATMI IGI dan PT ADE.

Untuk Proses Pembelajaran Teaching Factory Program Studi D4 tahun pertama sampai dengan tahun ketiga sama dengan Program Studi D3, namun untuk tahun ke empat selama 6 bulan mahasiswa magang di industri luar. Semua proses ini dilakukan untuk menjaga konsistensi link & match dengan industri.

Sesuai Kebutuhan

Suryadi menegaskan, lulusan Politeknik ATMI Surakarta selalu disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri karena pendidikan di Politeknik ATMI Surakarta membekali mahasiswa menjadi ahli madya yang trampil dan berkarakter. “Jadi para lulusan selalu ditekankan sudah bisa apa, bukan sekadar belajar apa,” tuturnya.

Dijelaskannya, untuk pendidikan tiga tahun, tahun pertama mahasiswa belajar sense of quality. “Mereka harus mengenal kualitas, tentang kerataan atau standar-standar di mekanik. Misal membuat pukul besi, awalnya dibuat bentuk kotak dulu, lalu dilanjutkan pada ukuran umum dan presisinya,” ucapnya.

Untuk mengasah feeling mahasiswa kepada kualitas, terkadang mahasiswa harus kuat mengikir dan bekerja berjam jam. “Ini sekaligus juga menyiapkan diri untuk nantinya tahan bekerja lama di industri”.

Tahun kedua mahasiswa dilatih sense of efficiency and productivity. Mereka mulai mengerjakan produk-produk industri lewat perusahan-perusahaan ATMI. “Difilter dulu mana yang cocok, baru kemudian dikerjakan oleh para mahasiswa. Di antaranya produk part otomotif, printing, hospital bed, office equipment, dll. Suasana juga diciptakan seperti kerja di perusahaan,” tuturnya.

Tahun ketiga, mahasiswa dididik untuk memiliki sense of innovation. Mereka diharapkan lebih kreatif dan inovatif. Mereka juga sudah belajar membuat mesin. Sementara tugas akhir bisa di internal dan eksternal.

Untuk yang D4, mahasiswa dididik untuk memiliki sense of management dan mereka dikirim untuk magang di perusahaan.

Menurut Suryadi, filosofi dasar yang digunakan oleh Politeknik ATMI Surakarta adalah bahwa setiap teknologi punya dua watak dasar : dikembangkan dan diterapkan. Kemudian, ciri khas pendidikan kejuruan adalah bahwa ilmu diperoleh melalui praktik. “Sehingga keunggulan sekolah terletak pada alumninya yang diakui di dunia kerja atau para penggunanya,” tuturnya.

ATMI sampai saat ini memiliki 6 program studi dengan dibagi menjadi  3 rumpun, yakni:

Rumpun Mekanik terdiri dari 2 program studi.

D3 Teknik Mesin Industri (D3 TMI), yang menghasilkan tenaga terampil (ahli madya) yang kompeten di bidang rekayasa atau proses mesin industri dengan kualifikasi level 5 (KKNI).

D4 Rekayasa Teknologi Manufaktur (D4 RTM), menghasilkan sarjana terapan yang kompeten di bidang rekayasa atau proses manufaktur berbasis pengembangan teknologi polimer dengan kualifikasi level 6 (KKNI).

Rumpun Desain/ Perancangan terdiri dari 2 program studi, yakni D3 Teknik Perancangan Mekanik dan Mesin (D3 TPM). Rumpun ini menghasilkan tenaga terampil (ahli madya) yang kompeten di bidang teknik perancangan mekanik (produk, peralatan penepat (jig fixture), peralatan penekan (punching tools), peralatan pencetak (mould & dies)  dan mesin (mesin khusus / special purposes machine) dengan kualifikasi level 5 (KKNI).

Kemudian ada D4 Perancangan Manufaktur (D4 PM). ” Ini menghasilkan sarjana terapan yang kompeten di bidang rekayasa perancangan manufaktur berbasis pengembangan teknologi polimer dengan kualifikasi level 6 (KKNI),” ucapnya.

Yang lain, tambahnya, adalah rumpun Mekatronika terdiri dari 2 program studi

D3 Teknik Mekatronika (D3 TMK). Rumpun ini menghasilkan tenaga terampil (ahli madya) yang kompeten di bidang teknik mekatronika (Kontrol proses otomasi, CNC, energi) dengan kualifikasi level 5 (KKNI)

Terakhir adalah D4 Teknologi Rekayasa Mekatronika (D4 TRMK), yang menghasilkan sarjana terapan yang kompeten di bidang teknik mekatronika (Kontrol proses otomasi, CNC, energi) berbasis Artificial Intelligence (AI) dengan kualifikasi level 6 (KKNI).

Revolusi Industri

Dijelaskan pula, Politeknik ATMI Surakarta telah mempersiapkan diri untuk menghadapi revolusi industri khususnya Revolusi Industri 4.0.

Proses yang pertama kali dilakukan oleh Politeknik ATMI yaitu melakukan sosialisasi tantangan dan kebijakan ATMI terkait revolusi industri.  Kebijakan yang diberikan yaitu membuat sistem proses kegiatan belajar mengajar, bekerja berdasarkan data yang terkoneksi, online. Semua hal ini dibuat untuk efisiensi kinerja.

Politeknik ATMI melakukan upgrade kompetensi SDM yaitu dengan pelatihan baik di dalam maupun luar negeri (Jerman, Swiss, Korea) terkait Industri 4.0 dan memberikan tugas belajar bagi dosen baik di perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri (Thailand, Korea, Swiss).

Politeknik ATMI membuat dan menggunakan sistem online yang telah dimanfaatkan oleh seluruh civitas akademik. Sistem tersebut antara lain e-learning ATMI : Sistem untuk proses pembelajaran online Politeknik ATMI Surakarta.

SIAKAD (Sistem Administrasi Akademik) : Sistem administrasi untuk proses kegiatan belajar mengajar dosen dan mahasiswa.

ABON : Absensi online untuk karyawan

ABON Mhs : Absensi online untuk mahasiswa

SIRENOV : Sistem untuk pelaksanaan Manrev dan Monev

SIRIANG : Sistem untuk pendokumentasian resiko dan peluang

SILAMON : Sistem pelaporan MONEV

SIRION : Sistem untuk pendokumentasian Kurikulum dan RPS

SINIKE: Sistem untuk pendokumentasian ketidaksesuian

SIADIN : Sistem untuk proses Audit Mutu

SIKAPEL : Sistem untuk pelaksanaan kepuasan pelanggan

Politeknik ATMI juga melakukan penambahan fasilitas pembelajaran yang mendukung Industri 4.0.  Tahun ini Politeknik ATMI Surakarta melakukan proses pembangunan Lab Robotika dan Artificial Intelligence (AI).

Politeknik ATMI juga telah membuat inovasi produk yang merupakan implementasi industri 4.0. Contoh produk yang telah dibuat yaitu Vending Machine, Smart Farming, Mesin CNC, Trainer Unit Handling System.

Sumbangsih ATMI

Politeknik ATMI Surakarta memiliki misi mendidik kaum muda supaya dapat berperan membangun industri dan pendidikan vokasi berkelanjutan. Melalu misi tersebut Politeknik ATMI memiliki semangat untuk mengobarkan api vokasi. Politeknik ATMI telah mendampingi pendirian dan pengelolaan beberapa sekolah vokasi di Indonesia. Sekolah Vokasi tersebut antara lain Politeknik Sugar Group di Lampung.

Politeknik ATMI juga bekerjasama dengan pemerintah Jerman yang difasilitasi Badan Kerja Sama Internasional Jerman (Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit GmbH atau GIZ) dalam program kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman bernama SEDTVET berkembang ke berbagai aspek.

Mulai dari pendampingan sekolah-sekolah menengah, pengembangan pusat pelatihan dan politeknik, hingga pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia. Kekuatan  kerja sama kedua lembaga salah satunya nampak dalam kunjungan Menteri Kerja sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, Dirk Niebel ke Politeknik ATMI Surakarta dan Solo Technopark pada 9 Januari 2013.

Kerja sama pendidikan tinggi vokasi juga semakin kuat dengan hadirnya Perkumpulan Pendidikan Tinggi Vokasi dan Industri Indonesia (Association of Polytechnic and Industry Indonesia) pada 1 Maret 2017

Di tahun 2013 hingga 2017, Politeknik ATMI Surakarta melalui PT. ATMI-BizDEC bekerja sama dengan Program SED-TVET mendampingi 21 institusi pendidikan vokasi (level menengah dan tinggi) di lima propinsi (Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur)

Pada tahun 2014, PT. ATMI-BizDEC bekerja sama dengan Yayasan Dena Upakara dan Yayasan Karya Bakti (Don Bosco), Wonosobo merintis pendirian dan pendampingan Pusat Pelatihan Mekanik dan Unit Produksi ADECO khusus untuk anak-anak penyandang tuna rungu di Wonosobo hingga saat ini.

Kerjasama tersebut akhirnya bermuara pada terbentuknya training center mekanik untuk anak-anak penyandang tuna rungu di bawah pengelolaan PT. PROTECDA (Productivity Training and Education Center for the Deaf Alumni).

Sementara itu, bermitra dengan Keuskupan Maumere, ATMI menginisiasi berdirinya Politeknik Cristo Re di Maumere. Karya ini menjadi upaya kontribusi ATMI bagi pengembangan Kawasan timur Indonesia.

Tiap tahun Politeknik ATMI Surakarta juga membuka pelatihan untuk guru-guru SMK, dosen maupun praktisi industri. Pelatihan meliputi proses manufacturing, perancangan maupun kontrol otomasi. (bp)