22 April 2021
Home / Food Story / Pangsit sebagai Hidangan Imlek

Pangsit sebagai Hidangan Imlek

Perayaan Imlek bukan perayaan kepercayaan maupun agama, melainkan sekedar kebiasaan warga Tionghoa yang berasal dari Tiongkok Utara. Dari dulu merupakan perayaan di pedesaan untuk menyambut musim semi menjelang tahun yang baru ini dan memperingatkan diri mereka sudah waktunya memulai menggarap ladang dan sawah mereka. Maka penamaannya pada umumnya disebut “Sincia”, dalam kata Tanglang orang Hokkian artinya “Hari Raya Baru”.

Imlek merupakan tahun baru budaya Tionghoa yang mulai dirayakan sejak tahun 1914 di Tiongkok, karena sejak saat itu Tiongkok menggantikan kalender lamanya yang bersifat lunisolar, untuk menganut kalender adab Barat sejak 1582, yaitu kalender Gregorian yang berdasarkan pengamatan edaran bumi pada matahari.

Demikianlah setahun di Tiongkok merayakan dua tahun baru, yang lama disebut Tahun Baru Imlek yang berarti dari dasar edaran Rembulan, dan Tahun Baru Yanglek pada tanggal 1 Januari yang berdasarkan edaran Matahari. Sejak itu kebiasaan ini dibawakan oleh perantau Tionghoa kemana saja mereka berada.

Istilah Imlek itu hanya muncul di Indonesia untuk menyingkat Tahun Baru Imlek. Sedangkan perayaan Imlek bukanlah hanya untuk kaum penganut Konghucu, itu karena Imlek bukanlah dari dasar sesuatu kepercayaan maupun keagamaan, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Konghucu maupun Buddha, sudah ada Imlek jauh sebelum kelahiran mereka.

Imlek dalam perayaannya sedikit banyak mendekati Lebaran, dengan hal-hal mudik dan mercon bumbung, dan pemberian uang lebaran atau tunjangan hari raya dalam cara masyarakat Nusantara merayakan Idul Fitri, disini berupa amplop merah yaitu angpao.

Makanan Imlek

Perayaan Tionghoa biasanya juga berkaitan dengan makanannya. Ada makanan yang disediakan untuk setiap perayaan hidup maupun upacara kematian, dan untuk Imlek kebiasaannya adalah makan dumpling.

Apa itu dumpling? Penulis Wikipedia dalam bahasa Indonesia pun juga sukar menerjemahkannya sehingga menyimpangkan cerita dan penjelasannya di sana. Dumpling ya dumpling.

Pertama-tama, kata dumpling itu bukan terjemahan dari Tionghoa yang menyebut makanan Sincia itu jiao-zi, yang di Jepang disebut gyoza. Asal muasal dumpling jiao-zi ini merupakan makanan pengobatan penyakit yang disebabkan kedinginan di Tiongkok Utara.

Ceritanya sejauh pada jaman Dinasti Han Timur di-abad ke 3 Masehi, di Tiongkok Utara ada seorang tabib ternama Zhang Zhong-jing (150-219 SM) yang sedang pulang pensiunan ke kampung halamannya. Sewaktu sudah dekat di kampungnya di kabupaten Nan-yang Henan, cuaca di sana sedang dingin – dinginnya. Dia melihat banyak orang sekampung halamannya sedang kelaparan dan kedinginan sampai daun telinga mereka membiru di sepanjang tebing Sungai Bai-he. Segera ia memelopori penduduk desanya di Dong-guan sana membangun gubug dan sedekah makanan hangat.

Sebagai seorang tabib yang berspesialisasi mengobati penyakit masuk angin, dia menyediakan makanan yang memakai resep khusus untuk badan bisa menangkis kedinginan, yaitu yang disebut sup tolak angin dengan jiao-er. Jiao-er inilah nama aslinya dumpling jiao-zi yang sudah ada di Tiongkok sana ratusan tahun sebelumnya.

Dari catatan yang terdapat di zaman Sam Kok (220-280 SM) dapat diketahui apa jiao-er itu. Makanan terbuat dari daging kambing dan rempah yang dibentuk serupa daun telinga, maka disebut jiao-er yang artinya”telinga buatan”, itu bisa mengobati radang dingin daun telinga.

Tabib Zhang Zhong-jing bersama kawan kawannya terus mengobati penyakit kedinginan dengan telinga buatan jiao-er tersebut, dengan daging kambing yang banyak lemaknya, dengan jahenya, dengan kuah panasnya, bisa membuat badan penderitanya berasa hangat setelah memakannya. Pengobatan derma ini diteruskan bagi yang membutuhkan hingga pada tengah malam Sincia.

Demikianlah seterusnya menjadikan kebiasaan rakyat Tionghoa di Utara beramai-ramai membungkus, menggodok dan memakan telinga buatan jiao-er dalam kuah pada malam Sincia. Karena waktu tengah malam Tionghoa disebut jam “ZI” sedangkan jiao-er yang terbenam dalam sup itu bagaikan bulan sabit (yan-yue jiao-zi), maka telinga buatan jiao-er sekarang disebut saja sebagai makanan bentuk bulan sabit pada tengah malam.

Jadi nama makanan ini semata-mata permainan bahasa, jiao-zi ini sebutan Tionghoa di Utara yang kemudian menjadi makanan kecil di Pelabuhan Tian-jin yang terletak di timur Beijing dan di sana disebut saja makanan kecil bian-shi. Suatu ketika bian-shi juga dibawakan orang Hakka ke Hokkian yang dengan lafal mereka menyebutnya pangsit. (Anthony Hocktong Tjio, Penggemar dan Penegak Ketepatan Sejarah)

Disadur oleh C.N.Hendarto