22 April 2021
Home / Our Guest / Mohamad Irwansyah ST MT, Sinergi Pembangunan Alun-alun Johar

Mohamad Irwansyah ST MT, Sinergi Pembangunan Alun-alun Johar

Alun-alun merupakan salah satu tempat ruang publik terbuka bagi berkumpulnya masyarakat. Alun-alun asli Kota Semarang sebenarnya di kawasan Pasar Johar, tepatnya di depan Masjid Agung Semarang Kauman.

Saat ini Pemerintah Kota Semarang dalam proses mengembalikan alun-alun Kota Semarang dari Lapangan Pancasila Simpang Lima ke tempat semula di Kawasan Johar. Upaya tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah mengembalikan cerita sejarah, meski tetap disesuaikan dengan perkembangan zaman dan tanpa mengurangi nilai-nilai sosial budaya yang terkandung di dalamnya.

Salah satu sosok yang berperan dalam penataan di kawasan tersebut adalah Mohamad Irwansyah ST MT, Plt Kepala Distaru Kota Semarang. “Perencanaan Kawasan Johar ini sebenarnya diawali dari terjadinya kebakaran Pasar Johar pada 2015. Kemudian Pemerintah Kota Semarang berpikir kawasan ini harus ditata supaya menjadi kawasan yang baik. Karena menurut sejarah, ini suatu kawasan lama yang masuk dalam heritage, dan Pasar Johar sendiri merupakan pasar yang berstatus cagar budaya yang dibangun oleh Ir Thomas Karsten dan terbesar di Asia Tenggara,” kata pria yang akrab disapa Irwansyah itu, saat ditemui di ruang kerjanya di Jl Pemuda No 148 Semarang.

Menurutnya, dalam proses merevitalisasi pasar yang terbakar, Wali Kota memerintahkan dinas-dinas untuk sekaligus menata kawasan agar kegiatan sosial budaya dan perkembangan ekonomi bisa terus tumbuh seiring sejalan.

“Karena itu, di sana ada beberapa kegiatan penataaan revitalisasi Pasar Johar atau eks Kanjengan yang dikembangkan menjadi pasar baru. Konsepnya tetap pasar tradisional. Alun-alun ditata, jalan-jalan, semua infrastruktur, sarana dan prasarana di Kawasan Johar ditata, sehingga menjadi kawasan yang menarik. Adapun tujuan revitalisasi ini bukan hanya bangunannya, melainkan juga fungsi keseluruhan,” ungkap pria kelahiran Cilacap, 19 April 1967 ini.

Irwansyah yang merupakan alumnus S-1 Arsitektur Universitas Katholik (Unika) Soegijapranata dan S-2 Magister Teknik Pembangunan Kota Universitas Diponegoro mengatakan,  konsep penataan Kawasan Johar ini, selain nanti pasar tradisional tetap dikembalikan ke pasar tradisional meski dengan manajemen modern, alun-alun juga dikembalikan sebagai ruang publik, ruang untuk kegiatan sosial budaya. Sebagai contoh, dulu dalam sejarahnya pernah ada semacam Semarang Fair (Pekan Raya Semarang) dan Dugderan.

Kegiatan-kegiatan tersebut rencananya akan diadakan lagi dengan tetap menjaga alun-alun. Dengan demikian, masyarakat bisa mengekspresikan kegiatan sosial budayanya, seperti berolahraga dan berkumpul mendiskusikan sesuatu yang bermanfaat di ruang publik yang hijau dan nyaman.

Konsep-konsep pengembangan alun-alun ini juga untuk memunculkan Masjid Agung Kauman yang selama ini agak tertutup. Dengan dibuka kembali, diharapkan Masjid Agung Kauman akan terlihat lagi “wajahnya” atau dari bahasa arsitek, kewibawaan masjid ini akan muncul dan pasarnya juga muncul. Jika masjidnya bisa muncul kembali, ikon yang menandakan pusat Kota Lama pun muncul, yakni ada alun-alun, ada pasar, dan ada masjid.

Menurut Irwansyah, pembangunan alun-alun Pasar Johar tidak terlepas dengan pembangunan yang lain. Seperti Pasar Johar Heritage sendiri dan Kanjengan, semua bersinergi.

Untuk pembangunan Pasar Johar Heritage ada tiga bagian, utara, tengah, dan selatan, yang diawali dari dana APBD dan saat ini ditangani APBN. Untuk eks Kanjengan yang nantinya menjadi bangunan pasar tradisional meski dengan desain baru, diawali dari anggaran APBN melalui Kementerian Perdagangan dan sekarang diteruskan oleh Kementerian PUPR.

Pembangunan alun-alun meliputi basement untuk pedagang pasar dan parkir. Pembagiannya, 3/4 untuk pasar dan 1/4 untuk parkir sepeda motor. Jalan lingkungan juga ditata. Jalan lingkungan ini khusus untuk Kawasan Johar dan Kauman. Nantinya akan dilengkapi dengan halte bus. Jadi transportasi massal juga disiapkan.

Tahun lalu (2020) yang sudah dikerjakan adalah pembangunan lapangan dan 2021 ini akan disempurnakan dengan detail-detail arsitektur, di mana material-material yang belum terpasang bisa segera diselesaikan. Selanjutnya pengerjaan saluran atau drainase-drainase di lingkungan kawasan ini juga segera diselesaikan, supaya tidak ada genangan lagi di halaman.

“Kita lengkapi jalan-jalan tersebut dengan granit bakar, termasuk di Jl Kauman atau di depan Masjid Agung Kauman. Kita akan menatanya, memperbaiki, dan memperkuat. Semua material yang digunakan adalah granit bakar supaya berkesan ini menjadi suatu kawasan yang menyatu, meskipun secara fungsi tetap sebagai jalan. Dan ini merupakan konsep yang diharapkan Pak Wali Kota, yaitu supaya ada event-event tertentu, mungkin Hari Raya atau shalat Ied, jalan bisa ditutup dan shalat Ied bisa menggunakan halaman masjid, jalan, dan alun-alun itu sendiri,” paparnya. 

Untuk alun-alun menggunakan rumput asli agar lebih alami, nyaman, dan natural. Kemudian di halaman samping kanan-kiri dilengkapi dengan pelataran, supaya air bisa meresap.

“Kita menggunakan material-material yang ramah lingkungan, seperti beton pori supaya air bisa meresap, paving porus, juga banyak penghijauannya. Di sana juga ada shelter-shelter untuk mendukung penduduk. Karena di sana banyak kegiatan, seperti shalat maka shelter-shelter bisa digunakan untuk berjualan barang-barang yang mendukung seperti mukena, sajadah, tasbih, sarung, kopyah, dan sebagainya,” kata Irwansyah.

Para pedagang tersebut tidak menetap di situ. Jadi kalau sudah selesai, shelter kembali bersih. Dengan demikian, tidak hanya sosial budayanya yang diolah dan dibangun, tetapi ekonomi kreatifnya juga tumbuh. Karena pengembangan-pengembangan ini salah satunya untuk membangun konektivitas ekonomi dan budaya di Kawasan Kota Lama Pasar Johar.

Butuh Pengelolaan Bersama

Pemerintah Kota Semarang telah mengembalikan cerita sejarah. Tentu ini semua dibutuhkan dukungan, tanggung jawab, dan tugas bersama oleh semua pihak untuk merawat dan menjaganya. Sebab, usaha merevitalisasi  Kota Lama haruslah  menjadi proyek bersama, baik pemerintah, pelaku bisnis maupun masyarakat umum.

Pemerintah telah mengakomodasi semua pembangunan ini, baik saat membuat DED kawasan maupun bangunan. Pemerintah sudah mendengarkan, menampung, dan mendiskusikan dengan pelaku-pelaku yang terkait, baik masyarakat setempat maupun para pedagang. Jadi, yang perlu dijaga adalah apa yang sudah diakomodasi di satu kawasan ini jangan ada tambahan lagi. Jika ada yang lain yang hendak masuk, pemerintah pasti akan memikirkan ke tempat lain.

Sebagai contoh, kapasitas jumlah pedagang tentu harus disesuaikan. Karena suatu kawasan itu tetap memiliki kapasitas. Jika dipaksakan atau melebihi kapasitas, kawasan ini menjadi suatu kawasan yang tidak baik. Terutama untuk pasar, pasti tidak akan efektif lagi, perputaran uangnya juga menjadi tidak baik, dan kumuh. Jika sudah kumuh, perawatan semakin susah dan mahal.

Kemudian dukungan masyarakat, khususnya para pengunjung yaitu bagaimana rasa memiliki dan menjaga kawasan ini. “Caranya sangat mudah, cukup tidak membuang sampah sembarangan, tidak corat-coret, dan tidak merusak,” tegas Irwansyah.

Untuk para pelaku bisnis atau pengusaha, lanjutnya, bisa mengucurkan dana-dana CSR untuk perawatan dan pengelolaan di alun-alun dan Kawasan Pasar Johar.  

Benang Merah Sejarah

Ruang terbuka yang dikenal dengan nama alun-alun biasanya terdapat di halaman perkantoran pemerintahan. Sejarah telah memperlihatkan bahwa alun-alun di ruang terbuka dengan tanah lapang yang berukuran maksimal. Dari ruang terbuka yang ada pada suatu kota, membuktikan bahwa tempat tersebut serbaguna. Bahkan seringkali dipergunakan masyarakat untuk mengelola kehidupan, baik budaya dengan upacara-upacaranya, perdagangan sebagai tempat menggelar pasar barang konsumsi atau tempat pameran seni.

 Demikian pula tujuan dari pengembalian alun-alun dari Lapangan Simpang Lima ke Kawasan Pasar Johar Kota Semarang. Alun-alun ini tergolong berbeda dibandingkan dengan daerah lainnya. Ini karena Kota Semarang dalam sejarah perkembangannya banyak dipengaruhi oleh sejumlah bangsa asing yang kemudian menempati area di sekeliling lokasi tersebut yang saling bersebelahan.

Mereka adalah orang-orang Belanda yang tinggal di sekitar kawasan Kota Lama, orang-orang keturunan Tionghoa di kawasan Pecinan, dan orang-orang Arab yang kemudian mendirikan Kampung Arab. Keturunan dari ketiganya kemudian banyak yang berakulturasi dengan masyarakat sekitar dan memutuskan menjadi bagian dari Kota Semarang.

 Persoalannya kemudian, alun-alun menjadi hilang dan digantikan bangunan pasar karena ketidakmampuan yang kuat dari pemerintah pada waktu itu dalam melakukan pengelolaan konsep bangunan di kawasan tersebut. Selain mengembalikan sejarah, alun-alun bisa dikatakan menjadi sebuah kompromi jalan tengah untuk menyatukan masyarakat Kota Semarang yang majemuk.

Alun-alun asli Kota Semarang sebenarnya adalah di kawasan Pasar Johar. Tepatnya di depan Masjid Agung Semarang Kauman. Memang pada 1969, atas usulan Presiden Soekarno, alun- alun dipindahkan ke Simpanglima. Alasan pemindahan adalah Kauman yang kala itu merupakan kegiatan perbelanjaan bagi kawasan Pasar Johar menjadi terlalu padat, sehingga memerlukan perluasan akibat penataan yang kurang di wilayah tersebut.

Karena itulah, selama ini banyak warga yang mengira alun-alun Kota Semarang adalah Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, karena di lokasi asli alun-alun di dekat Pasar Johar itu berdiri los pedagang dan wujud alun-alun sudah benar-benar lenyap.

Sekarang, Pemerintah Kota Semarang mencoba menghidupkan lagi alun-alun asli Kota Semarang yang lenyap tersebut dengan memadukan kawasan menjadi heritage dan modern. Heritage, di mana Pasar Johar di sebelahnya direvitalisasi pascakebakaran dengan bentuk seperti aslinya.

Sementara alun-alun dibangun di lahan seluas 9,184 hektare. Bila berlangsung maksimal,  alun-alun di Pasar Johar tidak lagi sekadar menjadi ruang publik terbuka. Alun-alun akan menjadi fasilitas penunjang yang memberikan bantuan bagi aktivitas pasar, masjid ataupun ruang terbuka hijau.

Rencananya, Alun-alun Pasar Johar Kota Semarang akan diresmikan pada 2022 yang akan datang. (Sasy)