22 April 2021
Home / Top News / Meski Pandemi, Sam Poo Kong Tetap Dikunjungi

Meski Pandemi, Sam Poo Kong Tetap Dikunjungi

Salah satu ikon Kota Semarang sekaligus destinasi yang layak dikunjungi wisatawan adalah Klenteng Agung Sam Poo Kong. Di saat pandemi yang belum jelas kapan usainya ini, Sam Poo Kong yang terletak di Jl Simongan No 129, Kelurahan Bongsari, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah, itu tetap menjadi daya tarik para wisatawan.

Bahkan, saat tim PadmaNews datang berkunjung, di tempat parkir salah satu objek wisata unggulan Kota Semarang itu nongkrong mobil dengan plat nomor CD (Corps Diplomatique). Menandakan ada orang kedutaan dari negara sahabat yang berkunjung ke Sam Poo Kong. 

”Ya, meski pandemi, Sam Poo Kong tetap dikujungi wisatawan. Kebanyakan wisatawan lokal, dari sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Surabaya, bahkan luar Pulau Jawa. Mungkin mereka sedang ada acara di Semarang kemudian berkunjung ke tempat-tempat wisata, termasuk Sam Poo Kong,” kata Chandra Budi Atmaja (65), Ketua Yayasan Klenteng Agung Sam Poo Kong, kepada tim PadmaNews, Senin (8/2/2021).

Chandra menambahkan, pihaknya tetap mewajibkan para pengunjung mematuhi protokol kesehatan. Mulai dari mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

”Kami memiliki satpam yang memantau para pengunjung agar tidak berkerumun atau selalu menjaga jarak. Para petugas lain juga menunjukkan sejumlah tempat cuci tangan yang dilengkapi sabun agar tangan para pengunjung tetap bersih setiap saat.”

Yunnan, Tiongkok

Keberadaan Klenteng Besar Sam Poo Kong sudah menarik wisatawan manca negara dan wisatawan Nusantara (wisman dan wisnu) sejak dulu. Bagi etnis Tionghoa, baik yang tinggal di Tiongkok (China) maupun yang tersebar di seluruh dunia, mengunjungi Klenteng Besar Sam Poo Kong Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, adalah sama dengan ”tilik” leluhur.

Sebab, Laksamana Ceng Ho (Zheng He Admiral) berasal dari Kunyang, Yunnan, Tiongkok. Bagi wisatawan manca negara maupun dalam negeri, tentu keberadaan Klenteng Agung Sam Poo Kong tetap memilik daya tarik sejarah yang tinggi.

Cheng Ho adalah Duta Perdamaian. Dia memimpin armada yang terdiri atas puluhan kapal besar nan mewah mengunjungi tempat-tempat di seluruh penjuru dunia. Hal itu terjadi pada Dinasti Ming, masa Kekaisaran Yong Le. Saat itu Laksamana Cheng Ho memimpin armada muhibah mengunjungi negara-negara di seberang lautan sebagai Duta Perdamaian.

Cheng Ho lahir di Kunyang 1371 dan wafat 1435 (sebagian sejarawan meyakini Cheng Ho dimakamkan di Kota Semarang, Ibu Kota Jawa Tengah, Indonesia). Pada 1405, pelayaran muhibah pertama kali dilakukan. Cheng Ho memimpin 62 kapal megah berangkat dari Pelabuhan Luijiagang, Suzhou, berlayar menuju negeri Champa, kemudian Pulau Sumatera, mampir di Palembang, dilanjutkan ke Pulau Jawa, Srilanka, dan Kalikut (India Barat).

Dalam 7 kali pelayaran besar, Laksama Cheng Ho memimpin rombongan puluhan kapal mewah nan besar, telah mengunjungi Selat Hormuz, Teluk Parsi, Aden, Afrika, Modagishu, Burana (Somalia), dan Malindi (Kenya).

Menurut Gavin Menzies dalam bukunya ”1421 The Year China Discovered The World” sejumlah kapal dari armada di bawah pimpinan Hong Bao telah mencapai benua Amerika tahun 1421. Gavin yang bernama lengkap Rowan Gavin Paton Menzies adalah seorang penulis (sejarawan/peneliti) asal Inggris. Dia adalah seorang pensiunan komandan kapal selam (sub-marine) Inggris berpangkat pensiunan letnan. Selama hidupnya  dia menulis buku-buku yang mempromosikan klaim bahwa orang Cina berlayar ke Amerika sebelum Columbus.

Gavin lahir di London, Inggris, 14 Agustus 1937 dan meninggal 12 April 2020 dalam usia 83 tahun. 

Dalam buku tersebut Gavin menyatakan bahwa Laksamana Cheng Ho meninggal tahun 1435 dalam perjalanan dari Kalikut. Kemudian jenazahnya dibuang di laut. Namun teori Gavin tidak sinkron dengan sejumlah sejarawan yang menyatakan bahwa Laksamana Cheng Ho meninggal di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.

Beruntung pada 2005 wartawan PadmaNews sempat bertemu di Marina Bay, Singapura saat ”Peringatan 600 Tahun Perjalanan Muhibah Zheng He Admiral di Asia.” Dalam sebuah wawancara yang cukup ”gayeng” Gavin menyatakan bahwa rombongan kapal yang dipimpin Laksamana Cheng Ho memang tidak mampir ke Singapura, namun mereka melewati pesisir Singapura dalam perjalanan menuju Pulau Sumatera.

Gavin juga mengatakan bahwa saat armada yang terdiri atas puluhan kapal yang dipimpin Laksamana Cheng Ho mendekati Benua Australia, sebagian besar kapal yang termasuk dalam armadanya hancur berkeping-keping dan terdampar di pantai negeri Koala tersebut karena dihantam badai tsunami.

Imlek 2572 Kongzili

Tahun Baru China atau Imlek 2572 Kongzili yang bertepatan pada hari Jumat (12/2/2021) memang tidak ada perayaan khusus di klenteng itu. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di kompleks klenteng itu selalu ada pertunjukan yang diinisiasi pihak pengelola.

”Tahun ini kami tidak mengadakan kegiatan apa pun yang bersifat perayaan dan mengumpulkan masyarakat. Sebab masih pandemi Covid-19. Selain itu kami juga sedang dalam Pembatasan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat (PPKM) se Jawa dan Bali hingga 22 Februari 2021,” katanya.

Namun Chandra tidak melarang warga masyarakat yang sembahyangan di dalam klenteng menjelang atau saat Imlek. Baik di pagi, siang, maupun sore. ”Kami memang persilakan warga yang ingin sembahyangan memperingati Imlek, namun tetap mematuhi protokol kesehatan,” tegasnya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, setiap memeringati Tahun Baru China atau Imlek, berbagai komunitas kebudayaan Tionghoa dan kebudayaan Jawa turut meramaikan prosesi budaya arak-arakan Sam Poo dari Klenteng Tay Kak Sie Gang Lombok menuju Klenteng Agung Sam Poo Kong di Gedung Batu Semarang.

Ratusan warga masyarakat dan wisatawan memenuhi jalan-jalan rute arak-arakan Sam Poo. Prosesi budaya arak-arakan Sam Poo sendiri dilaksanakan memperingati kedatangan Laksamana Cheng Ho di Kota Semarang.

Prosesi budaya yang tiap tahun dilaksanakan dipusatkan di dua lokasi, yaitu Klenteng Tay Kak Sie dan Klenteng Agung Sam Poo Kong. Kedua tempat tersebut saling berkaitan dan merupakan tempat bersejarah bagi Laksamana Cheng Ho.

Tak hanya kesenian Barongsai, Liong, dan Joli, yang memeriahkan arak-arakan, beberapa kesenian yang ada di Jawa Tengah turut hadir dalam prosesi.

Wali Kota Hendrar Prihadi

Bahkan pada pada arak-arakan Sam Poo beberapa tahun lalu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi ikut mengangkat joli Kongco Sam Poo Tay Djie (Cheng Ho) di Klenteng Sam Poo Kong.

Kongco Sam Poo Tay Djie adalah joli simbol dari Laksamana Cheng Ho, yang juga merupakan dewa dagang. Rangkaian prosesi budaya tersebut biasanya diawali doa, pagelaran seni budaya, dan pesta kembang api di Klenteng Sam Poo Kong dan Tay Kak Sie.

Setelah itu prosesi puncak yaitu arak-arakan Kongco Sam Poo Tay Djie. Biasanya diawali pagi hari dengan rute dari Klenteng Tay Kak Sie Gang Lombok – Jalan Kranggan Timur – Jalan Depok – Jalan Pemuda – Tugu Muda – Jalan Sugijopranoto – Jalan Bojongsalaman – Jalan Simongan – hingga ke Klenteng Agung Sam Poo Kong. Sedangkan semua yang diarak akan kembali ke Tay Kak Sie pada siang hari lewat jalur yang sama. (Ali)