22 April 2021
Home / Food Story / Kepala Manyung Bu Fat: Kelezatan dalam Sensasi Pedas

Kepala Manyung Bu Fat: Kelezatan dalam Sensasi Pedas

Bagi penggemar kuliner yang suka masakan pedas, menu yang satu ini perlu, eh bukan hanya perlu, tetapi harus dicoba. Inilah mangut kepala manyung Bu Fat. Satu porsi kepala diguyur dengan kuah santan, ditaburi banyak cabe di atasnya. Dan, nikmatilah kelezatan manyung di antara sensasi rasa pedas.

Lupakan sendok garpu. Pakailah tangan untuk menikmatinya. Biasanya hidangan bagian kepala, banyak daging yang tersembunyi di balik tulang-tulang sehingga lebih afdol jika makan langsung dengan tangan.

Lebih mudah dan nikmat untuk mengorek daging manyung di sela sela kepala manyung yang besar itu. Lebih mudah pula menyesep serpihan tulang untuk menjangkau dagingnya. Benar benar lezzaat…

Ikan manyung ini dipilih karena gurih, apalagi dimasak dengan bumbu-bumbu bawang putih, brambang (bawang merah), cabe rawit besar, cabe hijau, salam, laos, pake santen dan kemiri,

Menurut Teguh Sutrisno, salah seorang pemilik Warung Kepala Manyung Bu Fat, resep masakan ini dibuat oleh ibunya, almarhumah Bu Fatimah. Bu Fat ini sejak tahun 1969 sudah usaha warung makan. “Waktu itu menu kepala manyung belum ada, masih nasi rames,” tutur Teguh.

Di tahun 1990-an mulai masak sayur mangut, dengan berbagai ikan seperti ikan pe, daging manyung, dan belut. Di akhir tahun 1990 mulai menyajikan mangut kepala manyung.

Pada tahun 2009, olahan kepala manyungnya berhasil menjadi juara pertama pada  Lomba Kuliner Khas Semarang. Sejak saat itu, banyak media yang meliput sehingga kepopuleran masakan ini pun meningkat drastis. Bahkan di tahun 2019 kepala manyung Bu Fat meraih juara pada Lomba Kuliner Tingkat Nasional.

Yang terakhir, keponakan Teguh yang bernama Banik Yohandani mewakili keluarga diundang ke Istana dan presentasi soal mangut kepala mayung ini. “Barangkali akan dimasukkan sebagai salah satu dalam Menu Nusantara, yang biasanya dipakai untuk menjamu tamu-tamu negara,” kata Teguh.

Sepeninggal Bu Fat pada tahun 1999, warung kemudian diteruskan oleh ketujuh anaknya. Puteri puteri Bu Fat nomor empat dan lima sudah sejak kecil ikut berbelanja dan memasak, sehingga tahu betul resepnya.

Warung yang awalnya hanya di Jalan Ariloka, Krobokan, Semarang kemudian berkembang menjadi beberapa cabang. Warung Kepala Manyung Bu Fat yang berlokasi di Jalan Ariloka mudah dijangkau bahkan  bagi konsumen yang dari luar kota.

Apalagi kawasan itu sekarang termasuk jalur ke arah Bandara Ahmad Yani. Dari jembatan Banjir Kanal, ke arah utara masuk Jalan Madukoro. Setelah PO Bus Sindoro Satriamas, ada jalan belok kiri, sekitar 300 meter sebelah kanan sudah sampai.

Cabang di Semarang di Jalan Sukun Raya, Banyumanik dan juga di Bandara Ahmad Yani. Selain itu, mereka membuka satu cabangnya di Cempaka Putih, Jakarta. Dan satu lagi cabang di Surabaya.

“Namun selama pandemi, cabang di bandara, Jakarta, dan Surabaya terpaksa tutup sementara,” kata Teguh. Diakuinya, selama pandemi penjualan turun sekitar 50 persen. Padahal biasanya sehari bisa terjual satu kuintal. Ini sekitar 100 porsi atau standar satu kg per kepala.

Menurut Teguh, harga kepala manyung bervariasi berdasarkan besar kecilnya. Antara Rp 85 ribu hingga Rp 100 ribu. Satu porsi kepala manyung sedang dihargai Rp 100 ribu. Mahal ? Tidak juga, karena porsi itu bisa dimakan bersama tiga atau empat orang. Jadi harga menjadi relatif.

Di warung makan ini ikan manyung didapat dari perairan Indramayu, Lamongan, dan Juwana. Lalu ikan diasap di sentra pengasapan ikan Demak, untuk kemudian diolah dengan bumbu ala bu Fat.

Kelezatan kepala manyung Bu Fat mengundang banyak orang mencoba, dan akhirnya balik lagi menjadi pelanggan. Kepala manyung berhasil memikat para selebriti dan pejabat.

Terbukti dari jajaran puluhan foto yang terpampang di dinding warung ini. Mulai dari pejabat pemerintahan Semarang, provinsi maupun pusat, penyanyi, dan artis nasional bergantian mengunjungi warung kepala manyung Bu Fat.

Teguh menuturkan, ketika Presiden SBY menjabat dan kunjungan kerja ke Jateng disajikan kepala manyung ini. Ternyata SBY cocok. “Sehingga setiap ada rumah tangga istana ke Semarang selalu bawa kepala manyung. Sampai empat kali,” katanya.

Tjahjo Kumolo (Menteri PAN-RB), tambah Teguh, pernah membawakan Bu Megawati kepala manyung. “Tadinya nanya ini apa? Tetapi setelah mencoba ternyata suka. Sampai sekarang sudah tiga kali Pak Tjahjo pesan. Katanya Bu Puan Maharani juga suka,” ucap Teguh. Selain mangut, ada berbagai macam hidangan lainnya sebagai pelengkap, mulai sayuran, goreng-gorengan, botok, hingga lalapan. Bagi yang tidak suka pedas juga ada banyak pilihan, seperti tumis cumi, telur ikan, sayur jipang tahu dan lainnya. (bp)