13 June 2024
Home / Art / Heri Dono, Tak Ingin Selesai

Heri Dono, Tak Ingin Selesai

Membuka baju di depan putri petinggi monarki Uni Emirat Arab dengan disaksikan banyak orang, hal yang mustahil dilakukan oleh siapa pun. Apalagi orang tersebut berasal dari luar kalangan keluarga kerajaan. Di sana, tidak ada tradisi orang membuka baju. Namun, kemustahilan itu tidak berlaku bagi Heri Dono, seniman kontemporer Indonesia generasi 1980-an yang dikenal dalam kancah seni kontemporer dunia hingga saat ini.

Baru-baru ini, tim redaksi Padmanews berkesempatan mewawancarai sosok spesial tersebut di kediamannya di Studio Kalahan, Jl Patukan 50 Ambarketawang, Gamping, Sleman. Di hadapan Putri Raja, Heri Dono memukau para penikmat seni dalam 2023 – Sharjah Biennial 15. Mereka menyaksikan penampilan istimewa Heri Dono di Calligraphy Square, salah satu Plaza kondang di Sharjah, Uni Emirat Arab tempat perhelatan 2023 – Sharjah Biennial 15 pada 12 Februari 2023.

Mengambil lakon “The Void War of Bharatayuddha” atau “Perang Bharatayuddha yang digagalkan”, pentas Heri Dono berlangsung 45 menit yang dibagi dalam lima episode. Setiap episode berdurasi 9 menit.

“Jadi waktu itu The Void War of Bharatayuddha atau perang Bharatayuddha yang digagalkan. Karena di India sendiri tokoh Punakawan itu tidak ada. Padahal Punakawan ini sebenarnya dewa-dewa. Seperti Semar itu kan dewa Ismoyo. Sementara yang mengerti akan terjadinya perang Bharatayuddha itu, salah satu avatarnya bernama Sri Kresna. Kresna ini sebetulnya titisan dari Dewa Wisnu. Tapi ia bukan dewa, jadi titisan saja. Punya kemampuan seperti dewa tapi hanya sebatas manusia. Sementara Semar itu, menjelma manusia dewa. Dewa yang menjelma menjadi manusia yang sangat sederhana, yang sangat digolongkan masyarakat bawah. Tapi sebetulnya dia adalah dewa. Jadi sebelum mereka berperang dengan Balakurawa ini, Semar menasehati Kresna kalau sebetulnya yang dewa adalah dirinya. Yang lebih tinggi derajatnya daripada Sri Kresna. Jadi, kenapa harus ada perang Bharatayuddha,” ungkap Heri membuka cerita yang melatarbelakangi lakon pementasannya.

Sosok pengagum seniman Wayang Ukur, Ki Sukasman ini melanjutkan, ada cerita lucu sebelum pementasan. Di negara Uni Emirat Arab tak sembarang orang bisa melakukan hal-hal yang dianggap tabu, salah satunya aksi melepas baju di hadapan keluarga kerajaan. Heri sempat diperingatkan oleh salah seorang polisi yang bertugas, jika nekad membuka baju ia akan ditangkap. Namun, Heri hanya tersenyum.

“Di kawasan Arab, tidak ada tradisi orang yang membuka baju. Namun, saya ingin memperlihatkan bahwa ada budaya-budaya di luar negara Arab, ada kebudayaan lain yang perlu saya kenalkan. Saya mengenalkan bahwa kulit manusia itu adalah pakaian juga. Seperti sebagian orang Dayak itu ditato dan menganggap bahwa kulit mereka itu adalah pakaian,” urainya.

Dalam pertunjukan “The Void War of Bharatayuddha”, Heri bertindak sebagai dalang. Pengiring musiknya, orang-orang yang ada di Sharjah, Uni Emirat Arab dan mereka berasal dari berbagai negara. Di sana, pemegang kendang dinamakan darbuka. Khaled, polisi Uni Emirat Arab yang sebelumnya akan menangkap dirinya, justru ikut bermain sebagai pemegang kendang. Menggelikan… Tapi itulah yang terjadi. Lalu, biola Arab yang disebut rebaba dimainkan oleh Adil Ahmad, juga dari Uni Emirat Arab. Sindennya Hakima, dari Maroko. Selanjutnya ada Yasin keturunan Pakistan, dan Sami orang Afghanistan yang membantu membuat wayang-wayang. Bersama mereka, Heri berlatih satu minggu sebelum pementasan.

“Jadi saya mencoba membuat wayang itu berbentuk mirip-mirip hieroglif di Mesir. Saya persiapkan sendiri semuanya. Saya latih mereka satu minggu. Saat pertunjukan, saya memakai bahasa Indonesia. Hanya saja ada dua screen di samping kiri-kanan, satu untuk tulisan Arab dan satu lagi untuk tulisan berbahasa Inggris. Ada lima episode di dalam pementasan ini. Setiap episode ada sinopsisnya. Jadi dalam pertunjukan tersebut enggak harus pakai bahasa Inggris atau bahasa Arab, dengan bahasa Indonesia saja sudah cukup,” ungkap Heri Dono.

Heri Dono di Adelaide Festival tahun 2004.

Akhir dari cerita yang dibawakan, Heri Dono ber-statement tidak perlu ada perang Bharatayuddha. Dalam pementasan tersebut saat hendak perang, tiba-tiba Semar menasihati Sri Kresna beserta kelompok Pandhawa-Kurawa agar tidak usah berperang. Lalu apa solusinya? Akhirnya mereka bermain catur saja. Pada saat bermain catur, mereka punya kesadaran kalau mereka itu sesungguhnya bersaudara.

Dalam setiap pementasan, Heri selalu membawa misi dan meleburkan segala batas. Ia berharap, pentas seni kontemporer seperti yang barusan digelar di Sharjah, Uni Emirat Arab itu bisa berdampak cukup banyak bagi publikasi kesenian Indonesia di media global. Durasi pentas seni instalasi wayang kontemporer Heri Dono tersebut hanya 45 menit, tapi berdampak pada peningkatan apresiasi seni dan kesan istimewa di benak para penonton bahwa kebudayaan Indonesia ternyata bermutu tinggi dan semua itu pasti akan berdampak positif pada kebangkitan ekonomi Indonesia.

Selalu ada filsafat

Dalam penjelajahannya di dunia seni, ketertarikan Heri Dono akan wayang sangatlah tinggi. Bahkan dia memiliki satu pedoman yang berangkat dari wayang, bahwa setiap karya seni atau lukisan harus memiliki muatan filsafat. Tanpa adanya unsur filsafat di dalam karya seni tersebut, maka karya itu hanyalah dekorasi belaka. Ia mendapatkan ilham tersebut dari pertunjukan wayang. Ada nilai pendidikan yang luar biasa didalamnya karena seni pewayangan menyertakan narasi atau filsafat mendalam. Pertunjukan wayang, walau meski sudah sering ditampilkan dengan cerita yang sama, penontonnya selalu saja membeludak karena terpesona dengan kandungan filsafatnya.

“Nah, seni yang tidak memiliki masukan spirit, filsafat, dan lain-lain, ia akan menjadi dekorasi semata. Tahun 1986, sebelum saya drop out dari perguruan tinggi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, saya bertemu dengan Pak Sukasman, seniman yang membuat Wayang Ukur. Saya bertemu beliau di kampung Mergangsan, kawasan jalan Taman Siswa, Yogyakarta. Pak Sukasman ini pernah kuliah di jurusan Reklame ASRI (Sekarang ISI – red) pada 1961 dan tinggal di Eropa selama hampir 10 tahun. Wayang-wayang yang dibuatnya itu banyak dipengaruhi oleh budaya Eropa. Karena ia mengagumi ukiran-ukiran dari Italia, Perancis dan lain-lain. Dia juga pengagum Vincent Van Gogh. Di dalam sunggingan wayangnya Pak Sukasman tidak ada ukiran tradisional didalamnya. Motif-motifnya selalu berbeda. Sementara para pembuat wayang tradisional itu biasanya membuat wayang dengan meniru dari yang sudah ada. Seperti tokoh Bima, Semar, dan lain-lain. Sementara Pak Sukasman membuat  bentuk ataupun ukuran ekspresi wayang dengan melihat dari sisi ceritanya apa. Kemudian karakter itu mempunyai gerak yang berbeda, umpamanya saja ketika mau berperang atau ketika ia sedang sedih atau apa. Jadi dia mengukur emosinya. Menunduk, mendongak. Tidak ada yang sama di setiap wayangnya. Emosi wayang-wayangnya, misalkan saja ketika membuat wayang  Petruk, Petruknya selalu berbeda dengan figur wayang Petruk yang lain, karena emosinya selalu diukur. Dia itu seorang profesor wayang dan karya seni patungnya juga sangat realistis. Di situlah saya mempelajari wayang dari Pak Sukasman. Ketika belajar membuat wayang dengan Pak Sukasman, saya membikin wayang-wayang setan, dan wayang-wayang saya itu kemudian dimainkan untuk pertunjukan Pak Sukasman,” papar Heri Dono.

Pelajaran lain yang diambil Heri Dono dari sosok Sukasman, adalah tentang kesederhanaan. Menurutnya, walaupun Sukasman dari keluarga ningrat, ia tetap menjunjung tinggi kesederhanaan. Contohnya seperti sehari-hari beliau memasak dengan menggunakan kayu bakar, naik sepeda, dan masih banyak lagi kegiatan lainnya. Kesederhanaan hidup itu ia pegang teguh sampai wafat. Sukasman peduli pada lingkungan hidup, poster-posternya berbicara tentang lingkungan hidup semua, padahal pada era itu orang tidak memahami apa pentingnya meruwat bumi ini. Maka dalam perjalanan wayang itu selalu ada gunungan yang berbentuk bumi dan dua angsa di bagian kiri dan kanannya  yang ketika disatukan menjadi membentuk simbol hati. Pelajaran-pelajaran dari Sukasman itulah yang melekat pada Heri Dono hingga saat ini. Karena baginya, dalam hidup yang benar itu hidup harus prihatin dan Sukasman adalah gurunya, guru yang dicarinya.

***

Dikenal sebagai seniman segala media, yakni melukis, mematung, membuat wayang, instalasi, dan seniman suara, Heri Dono melewati perjalanan panjang yang tidak mudah. Hampir semua negara di belahan dunia sudah pernah disinggahi. Dari benua Asia, Eropa, Afrika, Australia hingga Amerika.

 “Kali pertama saya ke luar negeri tahun 1990. Saya ke Swiss. Saya tinggal di sana selama satu tahun. Saya tinggal di sebuah rumah yatim piatu yang disebut Waisenhaus selama enam bulan, dan enam bulan berikutnya saya tinggal di rumah residensi. Di rumah yatim piatu, saya mengajari anak-anak menggambar, membuat wayang, dan lain-lain. Jadi ceritanya kenapa saya tinggal di rumah yatim piatu, karena saya tidak terkoneksi oleh institusi atau lembaga kebudayaan,” kata peraih Unesco Prize for the International Art Biennal, Shanghai, China tahun 2000.

Heri menceritakan, ada seorang etnolog Swiss yang menulis buku “Seni dan Kebudayaan Bali” yang bernama Dr. Urs Ramseyer. Heri bertemu dengan Dr. Urs Ramseyer di Bali.

“Waktu itu dia bilang kalau kamu mau berkarya seni ke Swiss, kamu bisa tinggal di rumah kakak saya yaitu di sebuah rumah yatim piatu,” ujarnya. Kakak Urs Ramseyer bernama Christian Ramseyer, yang bekerja sebagai direktur di rumah yatim piatu tersebut.

Suatu ketika saat Heri naik sepeda, ia bertemu dengan seseorang yang bekerja di Yayasan Pro Helvetia di Basel, Swiss yang bernama Dr. Cheryl Haring. Ia bekerja di yayasan tersebut untuk membantu kebudayaan. “Saat naik sepeda, saya bertemu dengan dia yang juga bersepeda. Ia memakai jas dan dasi. Jadi kalau di Swiss seorang direktur tidak perlu merasa malu naik sepeda, justru malah terhormat. Katanya, kamu tuh jangan di rumah yatim piatu,” ujarnya.

Dari situ, lalu Heri diberi residensi dan tinggal di IAAB ( International Studio and Exchange Program of the Basel ), tepatnya pada bulan ke-6. Di IAAB, Heri bertemu dengan seniman-seniman lain dari Aljazair, China, dan dari luar Eropa. Dari Indonesia, hanya dirinya satu-satunya.

Heri bercerita, sewaktu residensi di Swiss, dirinya mengalami sebuah kejadian seru atau bisa dibilang kocak.

“Jadi waktu itu pagi-pagi saya mengambil surat di kotak surat yang ada di luar. Kebetulan saat itu di Swiss sedang musim Winter ( banyak salju ). Saya hanya berkain sarung, memakai sandal jepit, terus saat mau mengambil surat yang terletak di kotak surat yang berada di luar studio dekat pinggir jalan. Kebetulan waktu itu ada polisi berpatroli dengan mobil sedan. Begitu mereka melihat saya, saya langsung dibawa masuk ke dalam mobil patroli. Mungkin polisi-polisi ini mengira orang ini aneh. Padahal waktu itu saya hanya ingin mengambil surat saya sendiri. Akhirnya saya pun diinterogasi di kantor polisi. Menurut polisi tersebut, katanya saya dicurigai akan mencuri surat dari kotak-kotak surat tersebut. Sudah itu rokok saya kan masih kretek, ini pasti ganja katanya. Mereka enggak tahu mana ganja, mana rokok. Saya lalu telepon Dr. Urs Ramseyer. Saya minta dibantu agar beliau datang segera ke kantor polisi dan bilang ke mereka : Oh itu orang Indonesia, pakai sarung itu biasa. Baru setelah dijelaskan saya kemudian dibebaskan. Mungkin mereka menganggap penampilan saya ini cukup eksotik juga, orang pakai sarung, sandal jepit di musim Winter, apalagi saat itu rambut saya digerai saat itu. Mereka sepertinya belum pernah melihat itu hahaha…dikiranya saya baru saja keluar dari permukaan bumi” ungkapnya sambil terbahak.

Di Swiss, Heri mengadakan pameran seni di Museum Etnologi, karena dirinya tidak bisa pameran di galeri-galeri seni modern maupun kontemporer. Di Swiss, pada waktu itu tahun 1990, imej Indonesia masih negara sangat miskin, tidak diketahui sama sekali letak geografisnya (bagi orang Eropa) dan terdiskriminasi sekali.

“Waktu itu saya ke Gunung Alpen, lalu ke St Moritz, tempat-tempat wisata ngetop di Swiss. Lalu ada petugas imigrasi bertanya dengan mimik mencibir dan keheranan ‘kamu kok bisa sampai di pegunungan Alpen di sini’. Saya jawab bahwa saya itu seniman yang berasal dari Indonesia dan seniman bisa kemana-mana di luar negeri. Jadi waktu itu imej tentang Indonesia kita itu miskin sekali,” tutur Heri.

Saat pameran, begitu memasuki segmen acara Artis Talk, Heri kemudian berbicara tentang polusi udara dan kemacetan lalu-lintas akibat banyaknya aktivitas kendaraan, mereka pun sontak menolak. Mereka masih menganggap orang Indonesia itu kurang memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang polusi udara dan solusinya.

“Tapi begitu mereka melihat display saya yang sangat kontemporer, mereka kemudian sangat surprise. Display lukisan wayang dengan pertunjukan gamelan,” ujarnya.

****

Jika melihat rekam jejak pendidikan Heri Dono, studinya di bangku kuliah tidak pernah ada yang selesai. Namun hebatnya, Heri bisa mengajar di perguruan-perguruan tinggi bergengsi, baik di dalam maupun di luar negeri. Salah satunya di Universitas Oxford, Inggris.

“Jadi waktu kecil saya sudah menggambar. Saya bersekolah di SD Santo Lukas Jakarta. Di sekolah saya sering disetrap, karena buku-buku saya gambari dan sering pula ditanya mau jadi apa kalau sudah besar, saya jawab mau jadi pelukis. Semua teman saya langsung tertawa. Yang lain kan ingin jadi pilot, dokter, insinyur, tentara, pramugari.. eh saya kok malah ingin jadi pelukis. Padahal orangtua saya itu tentara, ajudan Presiden Soekarno. Tapi Bapak saya tidak pernah sekalipun menghalangi bila saya ingin menjadi seniman. Waktu itu Bung Karno main wayang juga, main musik, melukis. Jadi beliau merangkul seniman-seniman. Bapak saya tadinya khawatir kalau saya menjadi seniman, tapi tidak melarang saya kalau pilihannya ingin menjadi seorang seniman. Bapak saya sering membawakan lukisan-lukisan para maestro seni lukis ke Istana Bogor, dimana  Bung Karno mengkoleksinya,” urainya.

Tahun 1980, Heri meneruskan studi di jurusan Seni Lukis, Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia “ASRI” Yogyakarta (sekarang ISI). Pada tahun 1984 ia memutuskan non-aktif kuliah karena waktu itu menganggap pembelajaran seni lukis secara formal (akademis) sudah selesai. Dari empat tahun kuliah tentang seni lukis, dia berpendapat bahwa aktivitas melukis bisa dikerjakan di rumah, tidak harus di kampus. Heri lalu kuliah di Akademi Bahasa Asing di ABA Kebon Sirih di Jakarta selama satu tahun. Dia mempelajari bahasa Prancis dan Inggris. Lagi-lagi sebelum selesai, Heri keluar karena merasa tidak butuh ijazahnya dan yang penting sudah punya kemampuan. Heri kemudian kembali ke Jogja. Pada tahun 1987, setelah tujuh tahun menimba ilmu di ISI Yogyakarta ia menyatakan mengundurkan diri (drop out) dari kampusnya.

Setelah drop out dari ISI Yogyakarta pada 1995, Heri Dono diundang oleh museum seni di Oxford, Inggris untuk residensi seniman dan pameran tunggal.

“Jadi saya sempat jadi lecture, mengajar di Oxford University. Saya bikin kartu pos dan saya kirim ke ibu saya. Saya bilang kalau mengajar di Oxford. Ibu saya tertawa, kamu kan kuliah saja drop out masa mengajar di Oxford. Tapi ya itulah… hahaha.. Terus lucunya lagi di Oxford itu kalau makan siang kita harus memakai toga, seperti di film Harry Potter. Jadi kita makan, nanti ada nama-namanya tuh. Tempat duduknya. Terus salah satu harus cerita hari itu pengalaman yang terbaik apa secara formal,” papar Heri.

Hingga akhirnya, Heri pameran tunggal di London di INIVA (Institute of International Visual Arts) dan pameran tunggal di MOMA (Museum of Modern Art) di Oxford.

Di MOMA, kata Heri, dirinya diundang oleh David Elliot, direktur MOMA. Heri bertemu Elliot di Australia pada tahun 1993. Waktu itu, di Australia sedang ada pameran “The First Asia Pacific Triennale” di Queensland Art Gallery, Brisbane, Australia. Heri Dono memamerkan karya-karya lukisan, seni instalasi dan mementaskan performance art semacam pertunjukan wayang kulit yang disebut “The Chair”. Kemudian pertunjukan “The Chair” tersebut dipentaskan di Canberra Contemporary Art Space, Canberra, Australia. Di dalam pameran Asia Pasifik yang pertama tersebut, David Elliot bilang bahwa nanti dua tahun lagi saya undang kamu ya. Ayo silakan ke Inggris. Betul. Saya diundang ke sana pada Oktober 1995. Baru pamerannya terlaksana tahun 1996.”

Untuk menggelar pameran di MOMA pun, tidak mulus-mulus saja. Meski, Heri diundang secara langsung oleh direktur MOMA. Menurut Heri, penjaga di Oxford dan staf-stafnya itu mendiskriminasinya.

“Yang suka itu ternyata hanya direkturnya. Jadi David Elliot ini mendukung seni-seni dari Asia yang sangat lokal atau eksotik. Tapi para stafnya ini sangat Inggris dan menganggap orang Asia, khususnya orang Indonesia itu dianggap kurang kompeten. David Eliott ini aktivitasnya bersifat mobile, orangnya sering keliling ke berbagai negara selain mengurusi museum-museum. Jadi waktu dia tidak berada di MOMA, stafnya ini belagu. Di sana kalau saya minta tolong atau meminta sesuatu, bilangnya selalu enggak ada barangnya. Saya juga ditempatkan di satu garasi yang tidak ada heater-nya atau pemanas ruang dan cuma ada toilet. Garasinya juga hanya satu lapis pakai seng. Jadi akhirnya yang menjadi teman saya adalah orang-orang Inggris yang homeless- homeless. Yang duduk-duduk di pinggir jalan. Saya suruh mereka mengumpulkan kardus, karena lantainya hanya terbuat dari semen, jadi harus dilapisi, kalau tidak saya pasti kedinginan ketika tiba musim salju di bulan Oktober. Jadi akhirnya saya pun bisa beli alat pemanas udara kuno peninggalan perang dunia pertama di sebuah pasar loak. Cara kerja alat itu sangat sederhana, saya hidupkan pakai api, bukan gas dan alat itu tidak boleh jauh dari saya agar kehangatannya terasa di badan” ungkap Heri menceritakan perjuangannya selama di Inggris.

Seni Itu Harus Mengontribusi

Seni itu bisa dibeli, tapi tidak harus dijual. Kalau semua harus dijual, tidak ada lagi idealisme. Heri menuturkan, pada usia 17 tahun dirinya ingin mencari pekerjaan yang tidak bisa pensiun, tidak bisa dipecat, dan selalu sederajat dengan siapa pun. Dia ingin mencari pekerjaan yang tidak akan pernah selesai-selesai dan bekerja atas diri sendiri.

“Jadi waktu saya kuliah di ISI Yogyakarta, saya yang waktu di SMA belajar dari ilmu alam seperti Kimia, Fisika, Biologi, Matematika, saya coba terapkan science itu ke wilayah-wilayah seni. Ada teman saya yang saat berkarya seni sangat tergantung pada mood atau dari ilham yang dia dapat. Bagi saya seni itu sebagai satu pekerjaan yang mau enggak mau harus dikerjakan. Tidak harus menunggu ada mood atau wahyu. Jadi ilham itu harus dicari melalui buku atau diskusi, dimanajemeni. Dan bagi saya waktu teman-teman membuat skripsi, saya malah membuat buku harian untuk meneliti diri saya. Karena penelitian yang lebih baik adalah meneliti diri sendiri. Kita kadang-kadang enggak tahu siapa kita. Dari buku ini saya mencoba mencari diri saya dari kecil itu bagaimana, itu pengaruhnya apa,” paparnya.

Heri berpendapat seni itu sebetulnya hasil produksi ilmu pengetahuan. Jadi bukan sekadar untuk hobi atau suka-sukanya seniman. Tapi kontribusi memberi wacana lain, ketika misalnya logika dari para scientist ini mengalami kebuntuan, seniman punya ruang imajinasi yang luas yang bisa memberi peluang kepada para scientist/ilmuwan lain untuk mencari jalan kalau bisa dilakukan. Karena imajinasi itu bisa direalisasikan. Seniman itu membantu perubahan peradaban dunia. Sebelum ada televisi, seniman sudah melukis televisi.

“Jadi waktu saya kuliah tahun 80-an, saya menerapkan disiplin ketika belajar ilmu-ilmu eksakta atau ilmu pasti. Kalau saya belajar seni, itu saya mempelajari ilmu-ilmu yang tidak pasti. Bahkan dalam lukisan  untuk komposisi yang simetrik itu kadang yang artistik itu tidak harus simetrik, malah yg baik itu yang asimetrik. ilmu yang tidak pasti. Kadang-kadang dosen tidak melihat kreativitas seni itu tidak harus mengacu pada yang mereka lihat atau buat. Saya punya kesadaran tidak harus sama seperti yang lain. Saya tidak pernah berseberangan dengan kampus. Tapi di dalam ideologi penciptaan, barangkali saya berseberangan. Kalau di rumah, saya mencoba mencari kebaikan. Meskipun sesama saudara kita berbeda-beda karakter. Namun jika di kampus yang saya cari kebenaran. Makanya kalau di rumah orang tua saya, yang saya cari kebaikan. Walaupun kakak adik saya berbeda karakter, yang penting kita baik. Jadi kebenaran itu bisa juga tidak sopan. Itu  biasanya dari yang lebih senior kepada yang lebih yunior. Karena yang saya cari kebenaran. Jadi saya mencoba untuk memberi kesadaran bahwa ada kontribusi yang kalau kita berbeda itu justru menciptakan kontribusi. Karena kalau hanya ‘sama’ seperti membuang garam di laut, enggak ada kontribusinya. Berbeda itu justru mengontribusi sesuatu. Keberanian untuk berbeda akan memperkaya,” tandas seniman yang masuk dalam buku bertajuk Fresh Cream (2001) dalam kategori 100 seniman tersibuk di dunia.

Karena itu, ketika Heri diundang untuk menjadi dosen tamu di Program Pascasarjana, Institut Seni Indonesia di ISI Yogyakarta, Heri ditugaskan untuk memprovokasi dan menjaring mahasiswa menciptakan keberanian demi mengekplorasi hal-hal baru supaya bisa berkembang.

Di situ mahasiswa diminta untuk memberikan keberanian mengeksplorasi seni agar tidak terkotak. Ada seni grafis, seni lukis dan seni patung untuk dieksplor apa-apa yang perlu diklaim sebagai seni dengan keberanian untuk menawarkan estetika. Di akademisi seni harus ada perubahan pemikiran bahwa mahasiswa tidak harus selalu manut dengan dosen. Mahasiswa punya kesempatan untuk ‘melawan’ kalau pemikiran dia benar. Virus itu disebar oleh Heri Dono. “Karena kita mencari tokoh. Dan saya bilang kepada mereka bahwa riset kepada diri sendiri itu penting. Jadi riset tentang seniman siapa itu boleh, karya siapa boleh. Tapi riset terhadap diri sendiri yang akan menyelami karakter dia, karyanya dia.”

Heri menuturkan, bahkan sebetulnya dalam sebuah konferensi ekonomi di Swiss, mereka menganggap para politisi dan ekonom itu tidak lagi menjadi peran-peran utama dalam perubahan- perubahan kemajuan dunia, tapi para budayawan yang di depan. Ini menjadi peluang besar untuk melihat potensi lebih dan banyak kebudayaan. Dan pekerjaan-pekerjaan untuk membangun ekonomi dalam seni itu bukan di daerah-daerah yang sudah dikenal sebagai wilayah budaya. Karena itu, seniman-seniman muda jangan berada di satu wilayah yang sudah dikenal. Tetapi cobalah berkarya di daerah-daerah yang terisolir dan itu harus diberdayakan agar masyarakatnya tambah maju, sehingga bisa menjadi platfom untuk orang bisa belajar tentang karakter bangsanya lewat seni. (Sasy)