24 July 2024
Home / Big Story / Bakti Olahraga Djarum Foundation Antara Fulus, Famous dan Glory

Bakti Olahraga Djarum Foundation Antara Fulus, Famous dan Glory

Yoppy Rosimin mulai menangani Djarum Foundation Bakti Olahraga pada 5 Januari 2009. Awalnya memang cuma menangani badminton. Djarum Foundation sendiri kemudian mengalami perombakan, lalu memiliki bidang bakti sosial, bakti pendidikan, bakti lingkungan, bakti budaya, dan bakti olahraga.

Atlet dari PB Djarum yaitu Eddy Hartono dan
Gunawan meraih medali emas pada perhelatan SEA Games tahun 1989 di Kuala Lumpur, Malaysia. (Sumber Foto : Buku “POR Djarum Bakti Prestasi Bagi Negara”)

Kebijakan perusahaan sudah memberi arah yang jelas bahwa tujuan Djarum Foundation itu harus dikuatkan, karena memberikan kembali nilai-nilai baik kepada masyarakat.

Di Bakti Olahraga, kini Yoppy intens menangani badminton dan sepak bola. “Sebenarnya dulu sudah punya, sampai Persiku di Liga Satu,  tetapi kemudian bubar. Nah ternyata masyarakat Kudus meminta jangan tinggalkan sepakbola. Tetap diminta membina sepakbola yang usia dini. Akhirnya kita tetap membina SSB Djarum U-15 sampai saat ini”, ucapnya kepada Tim Padmanews di Djarum Supersoccer Arena Kudus.

Tadinya yang dibina pemain putra usia 15 tahun ke bawah, untuk tetap mensuplai pemain Persiku dan klub-klub lainnya.

Sementara yang puteri juga terus mengejar ketinggalan untuk bisa meraih mimpi besar lolos Woman World Cup. Langkah awal dengan melakukan eko sistem pembinaan yang paling dasar yaitu pemassalan.

Dari event Milk Life Soccer Challenge, Juni 2023 dapat peserta 780 pemain di sesi pertama, kemudian September 2023 melonjak menjadi 2.100 di sesi kedua. Sesi ketiga di-mix cuma yang elit dan pilihan 350 atlit putri. Kemudian series perdana di bulan 2024 jadi 1.712 pemain.

 “Di sini juga ada problem kompetisi di kelompok umur 10-12. Jika yang 12 lepas berarti sudah tidak ikut kompetisi, maka mereka ini harus diwadahi”. Kemudian Yoppy membuat rencana Liga SSB U-14 Puteri di akhir April 2024 yang digelar setiap weekend.

Sementara yang umur 10 tahun bergerak ke umur 12 tahun, sehingga kemudian terjadi kekosongan. Maka dibuatlah Liga SSB U-6,7, 8 untuk mensuplai kekosongan itu.

Lilyana Natsir / Tontowi Ahmad menggigit medali kemenangan di Kejuaraan Dunia 2017 di Glasgow, Skotlandia. (Sumber Foto : Buku “Jejak Langkah Owi-Butet”)

Diungkapkannya, tahun 2015 mulai membangun ekosistem yang baik dan modern, agar kaderisasi tidak terputus. Itu sebabnya perlu selalu ada audisi umum PB Djarum untuk mempersiapkan kader selanjutnya. “Sebenarnya sudah dimulai tiga tahun sebelumnya, tetapi waktu itu masih manual. Waduh, bayangkan kita tidak boleh menolak orang yang mendaftar”.

” Pada hari H, ada yang telepon, Pak kami baru sampai Brebes kurang lima jam lagi. Ya kita tunggu. Padahal waktu itu belum ada tol. Ya sudah akhirnya kami tetap menunggu “.

Awal Mula

Mengilas balik keberadaan Djarum Foundation ini Yoppy menceritakan, pada tahun 1951 sebenarnya Djarum sudah ada bakti sosial dari perusahaan. Kemudian adanya bakti olahraga karena adanya seorang sosok anak muda penuh potensi dari Liem Swie King, yang pada tahun 1969 badminton hanya sebagai olahraga rekreasi.

Berawal dari situ, lahirlah Swie King yang merupakan atlet muda berbakat, yang meraih prestasi demi prestasi secara gemilang, menumbuhkan keinginan pemilik Djarum, Budi Hartono untuk serius mengembangkan aktivitas komunitas Kudus menjadi organisasi PB Djarum.

“Tadinya karyawan pada main badminton untuk cari keringat saja. Sampai suatu saat ada Liem Swie King muda yang moncer menurut Pak Budi Hartono. Kemudian mulai diseriusi, Liem Swie King mulai dibina intensif tahun 1971”.

Pada tahun 1974 Liem Swie King bisa menjadi juara nasional termuda dalam sejarah. Dia mengalahkan Tjun Tjun pada pertandingan di Semarang. Seterusnya King dilatih terus dan diharapkan bisa menggantikan Rudy Hartono kala itu.

Swie King kemudian masuk ke Pelatnas. “Dia dikawal terus. Latihan melawan dua orang sampai bisa mengimbangi”. Tahun 1976, 1977, 1978 mulai tampil dan menjuarai All England 1977 dan 1978.

Tahun 1976, di final All England sebenarnya Swie King dalam kondisi puncak ketika melawan Rudy Hartono. Namun Swie King kalah. Hal itu memunculkan rumor bahwa Swie King sengaja mengalah kepada Rudy Hartono.

“Saya kan kenal baik Swie King. Jadi saya tanya, dan dia menjawab yah sesuai hasil pertandingan, kalah ya kalah katanya”, tutur Yoppy.

Meski ada rumor bahwa Swie King diminta mengalah tapi hal itu tidak pernah dibuktikan. Dalam buku berjudul ‘Panggil Aku King’, pebulu tangkis yang kini berusia 68 tahun itu mengaku dimarahi oleh pemilik Djarum, Budi Hartono.

“Pak Budi merasa heran mengapa pertandingan selesai begitu cepat dan aku terlihat tidak bersemangat melawan Rudy Hartono,” kata King dalam kutipan buku itu, tentang final All England 1976.

Pada akhirnya Swie King hanya berucap, “Aku memang sangat menyesal aku tidak menjadi juara All England 1976. Padahal aku merasa di puncak prestasi dan kondisiku sangat fit. Aku sungguh menyesal tidak bermain habis-habisan sampai ‘berdarah-darah’ dalam partai final All England itu”.

Beda Pengelolaan

Dalam kesempatan itu Yoppy menjelaskan ada perbedaan antara pengelolaan badminton dengan sepakbola. Jika di badminton ada boarding atau pemain menginap, di sepakbola tidak ada. Djarum sebagai lembaga yang menggelar event yang terjadwal.

“GOR ini boleh dipakai secara free oleh SSB-SSB. Jadi event-event dijamin pasti ada. Nanti akan merambah ke beberapa kota selain Kudus, yakni Semarang, Jogja, Solo, Surabaya, Bandung, Jakarta, dan Tangerang”, katanya.

Dan tahun ini secara gradual dimulai di semua kota setahun dua kali. Di Kudus diselenggarakan empat kali. Yoppy meyakini di tiap siklus kompetisi sepakbola itu selalu akan menghasilkan pemain bagus, siapa pun dia dan dari mana pun dia.

Jonathan Christie (Sumber Foto : Badminton Photo / Yves Lacroix / Buku “Thomas Cup
Sejarah tentang Kehebatan Indonesia”)

“Jadi kalau stadion Kudus ini sepi, saya dimarahi bos. Tapi kalau ramai kayak cendol, berarti tidak sia-sia membangun stadion sebesar ini”.

Pengelolaan olahraga di Djarum, terutama badminton, ada tiga tahap, pertama secara tradisional, kemudian era Goei Po Thay, dan terakhir sekarang ini.

Mimpi Victor

Dikisahkan oleh Yoppy, pada tahun 2004, Victor Hartono memimpikan di Indonesia ini adalah king of the king-nya badminton. “Waktu itu dia baru lulus kuliah. Kemudian ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri pertandingan Thomas Cup di Istora Senayan”.

“Dia ingin menyaksikan kemenangan di depan matanya, tetapi yang terjadi sebaliknya justru kekalahan di depan matanya. Dia terpukul. Dia bilang, di benak saya tidak ada istilah kalah. Tapi itu yang terjadi”.

Victor Hartono kemudian mengumpulkan para manajer, dan memutuskan untuk membangun GOR  PB Djarum di Jati, Kudus. Tahun 2006 GOR itu rampung. Tak berhenti di situ, semua manajemen perbulutangkisan kemudian dikaji ulang dengan manajemen modern.

Keterlenaan selalu juara di tahun 1999 dan 2000 awal ternyata menjadikan kemudian prestasi melorot. Fokus hanya mengandalkan orang yang itu itu saja juga kemudian merugikan, karena lupa melakukan kaderisasi. “Dulu itu 8 besar dunia, 6 atau 7 pemain itu dari Indonesia. Kita jadi terbuai dan tidak ngurus kaderisasi”.

Tim Piala Thomas Indonesia 2020 (Sumber Foto : Badminton Photo / Yves Lacroix /
Buku “Thomas Cup Sejarah tentang Kehebatan Indonesia”)
Hastomo Arbi digendong setelah turun dari pesawat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta selepas bersama Tim Indonesia menjuarai Piala Thomas 1984 di Kuala Lumpur, Malaysia (Sumber Foto : Kompas/Kartono Ryadi / Buku “Thomas Cup Sejarah tentang Kehebatan Indonesia”)
Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin serahkan bonus untuk
Mohammad Ahsan usai juara di All England 2014. (Sumber Foto : Buku “Kiprah Ahsan – Hendra”)

Itulah sebabnya, tambah Yoppy, ada berbagai audisi. Ia menyebut audisi itu tidak hanya untuk PB Djarum, tetapi untuk semua dan kepentingan nasional. “Jadi hasil audisi tidak hanya digunakan dan diterima PB Djarum saja, tetapi juga klub yang lain. Dan yang paling penting dengan kaderisasi ini nyala api harapan atlet usia dini itu tidak pernah padam”.

Anak-anak di seluruh Indonesia akan punya mimpi ‘saya bisa masuk PB Djarum’. Dampaknya tidak hanya kepada mereka, tetapi juga kepada pecinta bulutangkis. Selain itu juga kepada industri alat alat bulutangkis.

 “Bayangkan saja, semakin banyak orang yang main, berarti omzet dari penjualan peralatan badminton juga naik. Yang berarti untung juga naik, dan sponsor akan lebih berani mensponsori aktivitas badminton, termasuk kontrak sponsor kepada pemain makin tinggi”, ucapnya.

Itulah circle yang bisa terjadi dalam bidang ini. Biasanya orang melihatnya hanya sepotong-sepotong, padahal impaknya banyak sekali.

Bagi pemain kalau sampai juara juga membawa banyak perbaikan dalam hidup. “Ada tiga hal yang sebenarnya dikejar orang. Pertama fulus, kemudian famous, dan ketiga glory. Buat kami pengurus gak perlu tampil, yang penting glory itu. Pemain biar dapat fulus dan famous”.

PB Djarum membuka diri bagi para pemain klub lain untuk belajar atau studi banding. ” Bahkan pemain luar negeri juga datang, mereka bisa temporary training, sekitar dua minggu sampai 2 bulan. Kalau yang dari luar negeri mereka harus bayar”, tutur Yoppy.

Kini di era Yoppy, Bakti Olahraga Djarum Foundation menangani cabang badminton, sepakbola Puteri, SSB, panahan dan atletik. (BP)

About Eddy