25 October 2021
Home / Lifestyle / Cuncun, Kolektor Ribuan Kaset dan Puluhan Mesin Game Dingdong

Cuncun, Kolektor Ribuan Kaset dan Puluhan Mesin Game Dingdong

Dijual BU (Butuh Uang): Paket Lighborn (Fanny, Harith, Granger); Skin Epik GS sma Hanabi Venom; Op? Harting Angkut; Log? Fb, Montoon. Iklan itu diuplod akun Faisal Sal di grup Jual Beli Akun Mobile Legend indonesia.

Generasi X yang lahir antara 1965 dan 1980, Generasi Y (1981-1994) tentu akan kesulitan memahami iklan Faisal Sal yang juga Joki Rank Mobile Legend itu. Meski sebagian Generasi Z (1995-2010) ada yang sudah memahami iklan tersebut.

Sebaliknya Generasi Alpha (lahir setelah 2010) akan mengernyitkan dahi ketika disodori nama-nama seperti Strikers 1945, Strikers 1945-2, Raiden Legacy, Streets of Rage Classic, Space Shooter, Horse Fighter, Mad Bullets, Kung Fu Do Fighting, Table Knights, Bubble King, dan sejenisnya.

Ya, nama-nama ”aneh” itu bagi generasi yang lahir di 1970-1990 (Generasi X dan Y) tentu tidak asing. Sebab, itu adalah nama-nama game di tahun 1990-2000 yang kemudian akrab disebut dingdong.

Permainan dingdong memang menjadi primadona sebelum kehadiran era konsol seperti Nintendo, Sega, dan Playstation. Tak jarang anak-anak di medio 80-90’an sampai rela menghabiskan uang jajan demi bermain dingdong.

Saat ini permainan klasik dingdong juga hadir untuk platform Android. Game-game ini akan membawa kita bernostalgia ke tahun 80-90’an. Jadi ingat masa-masa saat merengek minta duit sama ortu buat main dingdong.

Di salah satu sudut Kota Semarang ternyata ada penggila game dingdong. Namanya Denny Setiawan (Cun Cun). Alumnus SMP/SMA Theresiana Semarang ini memiliki puluhan ribuan game dingdong yang tersimpan di dalam ribuan kaset game dingdong di rumahnya.

Di rumahnya, di Perum Graha Padma, dia juga punya mesin game dingdong sebagaimana kita temukan dulu di Mal Ciputra, Matahari, Sri Ratu, dll.

Ada game Arcade Namco Noir dulu biasa ditemukan di pusat permainan Sega World Jepang dan pusat permainan di kota-kota besar di seluruh dunia. Ada pula Tekken Arcade Cabinet Unboxing, Street Fighter X Tekken Vita, Evolution Of Street Fighter All Series Games (1987 – 2019), bloodline, rebillion, namco, noir cabinet HD, Newlix, dll.

”Di SMP hingga SMA, setiap pulang sekolah kami main game. Seringnya sampai malam. Ya sekitar tahun 1995-2000, saya dan teman-teman biasa main di Citra Toys, Citraland (Ciputra), Happy Time Paragon, Joy Fun Tlogorejo dari SMP hingga SMA. Setelah kuliah di UKSW dan kemudian bekerja, main game-nya sempat vakum,” katanya.

Saat kuliah, suami Kiki Trilestari ini sebenarnya juga tetap nge-game. Namun beralih ke game sepakbola di PS.

Kegilaannya terhadap game dingdong mulai menjadi di tahun 2004. Dia membeli mesin game dingdong dari Bekasi Fantasia.

”Semua ori Jepang, ada Candy Super neo29 SNK, Namco Capcom, Play Station Neogeo, dll. Saya beli untuk koleksi dan main di rumah bersama teman-teman.”

Cuncun juga mengoleksi game dingdong Capcom V SNK2 Custom Madiun (rekayasa dari Madiun) yang berisi ribuan game. Dia juga mengaku punya game-game spesial.  ”Saya punya sebuah game yang sedunia hanya dimiliki 50 orang. Saya memiliki sebuah game yang tidak dimiliki kolektor lain di Indonesia,” ujarnya. 

Menurut ayah dari Patch Aurora Setiawan ini, komunitas game dingdong hingga kini tetap ada, yakni di Jakarta. ”Yang namanya nge-game itu mengasyikkan. Antara game online dan game offline sama mengasyikkan. Keduanya punya pasar sendiri-sendiri. Yang membedakan kalau game offline kan harus bertemu.”

Saking gilanya main game dingdong, mulai zaman dari Arcade masih pakai koin sega hingga kartu cashless, dan mengoleksi sendiri, tema resepsi pernikahannya adalah game Mario Bross.

”EO Mahkota hanya menjalankan ide-ide dari saya semua. Benar-benar resepsi pernikahan antimainstream. Tamunya dapat koin untuk main game dingdong,” katanya sembari tertawa.

Mau tahu berapa harga kaset game dingdong koleksi Cuncun. Di kisaran Rp 150 jutaan/kaset. Dan, Cuncun punya koleksi beberapa ribu kaset. Seandainya Cuncun butuh uang Rp 1,5 triliun, berarti dia cukup menjual seribu kasetnya.

Sayangnya tim Padmanews hanya boleh melihat koleksi Cuncun melalui layar ponselnya. Dia juga tidak ngomong koleksinya ada di mana.  ”Koleksi kaset dingdong saya nikmati sendiri. Saya pajang di dua buah ruang khusus hehehe…”

Menurut dia, sebenarnya para kolektor kaset game dingdong seperti dirinya, baik yang di Jepang, Amerika, Eropa, Asia, juga melakukan hal yang sama. Artinya mengoleksi kaset dingdong untuk diri sendiri dan keluarganya.

Ya namanya hobi atau kolektor itu memang ”sadis”. Contohnya, sebuah lukisan berumur 500 tahun yang menggambarkan Yesus Kristus terjual di balai lelang Christie’s di New York seharga 450 juta dolar (Rp 6,1 triliun) akhir 2017 silam. Pemenang lelang tidak mau disebut jati dirinya. Nah, lebih ”sadis” dari Cuncun ternyata. (Ali )